Kegiatan Kinan kembali seperti biasanya di asrama, yang berbeda adalah sikap Kinan. Teman-teman Kinan menyadari perubahan sikap Kinan. Usi yang menjadi teman paling dekat Kinan di asrama mengangkat bahu tanda tak tau, saat teman-teman yang lain menanyakan soal perubahan Kinan.
Dulu Kinan adalah sosok yang ceria. Pertama kali masuk asrama, Kinan yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, padahal teman-teman Kinan masih sering sedih ingin pulang ke rumah. Kinan memang termasuk orang yang supel, dia bisa dekat dengan siapa pun meski baru mengenal.
Tapi Kinan yang sekarang adalah Kinan yang berbeda 180 derajat dengan Kinan yang dulu. Kinan menjadi pendiam dan lebih sering terlihat murung. Kinan juga jarang menyapa teman-temannya, tak sering seperti yang dulu dia lakukan. Biasanya dimana ada Kinan disitu selalu ada keceriaan.
Sore ini usai melakukan kegiatan yang melelahkan, Usi sebagai teman dekat Kinan mencoba menanyakan alasan kenapa Kinan menjadi seperti sekarang. Dia mendekati Kinan yang sedang duduk di sudut kamar dengan tatapan kosong.
"Nan, kenapa?"
Kinan tak menjawab.
Pelan Usi menyentuh bahu Kinan. "Nan, lo ada masalah?" Tanya Usi lagi.
Kinan mengusap wajahnya. Sadar dari lamunannya. Kinan menoleh ke arah Usi.
"Eh, elo Si, gue kira siapa." Kinan tersenyum kaku.
Usi duduk di sebelah Kinan. "Lo ada masalah? Cerita dong sama gue, Nan."
Kinan memainkan jemari tangannya yang kecil.
"Gue ga ada masalah kok, Si." Kinan tidak berbohong, Kinan memang tidak ada masalah. Kalau pun iya ini mau di sebut sebagai masalah, masalah ini adalah masalah terkonyol yang pernah ada. Kinan merindukan Friza. Kinan tertunduk lesu.
"Boong kalo lo ga ada masalah perubahan lo segini drastisnya."
Kinan merasa terpojok dengan ucapan Usi. Ahirnya dia memutuskan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di rumah.
Pertemuannya dengan Friza kembali. Acara pernikahan tante Ela dan Mas Anu. Pesan-pesan singkat yang penuh cerita. Waktu yang Kinan dan Friza habiskan di percakapan lewat udara. Dan terahir tentang pertemuan terahir mereka di malam persami itu. Singkatnya Kinan merindukan Friza.
Kinan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu di samping Usi. Usi yang telah mengerti duduk permasalahan Kinan hanya bisa merangkul bahu Kinan.
"Sabar Nan.." Usi mencoba menguatkan Kinan. Bagaimana pun juga meninggalkan orang yang berarti buat kita sama beratnya dengan yang ditinggalkan, sakit.
"Gue kangen dia, Si." Kinan belum bisa mengahiri tangisannya.
Usi mengeratkan rangkulannya di bahu Kinan. Dia ikut menitikkan air mata. Usi juga pernah merasakan seperti yang Kinan rasakan, meski tak separah Kinan.
"Kinan, lo nangis?" Tiba-tiba sudah berdiri Ka Ilya di pintu kamar Kinan. Ka Ilya adalah salah satu kakak senior Kinan dan Usi. Ka Ilya langsung mendekat dan duduk di depan Kinan.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Ilya yang menghawatirkan Kinan.
Kinan mengusap air mata yang membekas di pipinya. "Gak apa-apa ka."
Ka Ilya menatap Usi, memastikan kebenarannya.
"Dia kangen temen-temennya di rumah." Usi mengusap-usap bahu Kinan. "Padahal di sini masih ada kita ya ka?" Usi meminta persetujuan Ka Ilya.
Ka Ilya tertawa. "Nan, Nan. Lo kan udah mau 3 tahun di sini. Kenapa nangisnya baru sekarang? Itu mah bukan temen kali, pacar ya?" Ka Ilya mengerlingkan matanya ke arah Kinan.
Kinan ikut tertawa. Sebelum sempat Kinan menanggapi perkataan Ka Ilya. Ka Ilya meneruskan perkataannya.
"Tenang, Nan. Kalo lo emang kangen mereka lo kan bisa cerita ke gue sama Usi, ya Si?"
Usi menganggukkan kepalanya.
"Lo masih punya kita, Nan. Tenang."
Kinan terharu melihat ketulusan Usi dan Ka Ilya. Dia sadar tak semestinya dia semenyedihkan ini, merindukan teman-temannya di rumah. Karna di sini Kinan juga memiliki teman-teman yang tak kalah baiknya dengan yang Kinan miliki di rumah. Ahirnya Kinan memeluk Ka Ilya dan Usi erat, dia merasa beruntung memiliki mereka di sini.
•••
Beberapa hari setelah kejadian itu. Kinan sedikit demi sedikit mulai ceria seperti dulu. Teman-teman Kinan ikut senang melihat Kinan yang kembali ceria. Apalagi Usi dan Ka Ilya, mereka orang yang paling senang melihat Kinan seperti dulu lagi.
Seperti yang terjadi hari ini. Sepulang sekolah Kinan dan Usi berencana pergi ke toko buku. Kinan ingin membeli buku diary. Katanya sih biar bisa corat-coret isi hatinya, berhubung hobi Kinan memang tulis menulis.
Sebelum ke toko buku Kinan berhenti di depan warung telepon.
"Kok berhenti, Nan?" Tanya Usi.
"Gue pengin telepon Friza, Si." Kinan menunjuk ke dalam warung telepon itu.
"Lo yakin setelah ini ga bakal sedih lagi?" Usi mulai menghawatirkan Kinan.
"Gue ga bakal sedih lagi kok, gue kan cuma mau denger suara dia. Lagian ntar kalo gue sedih kan gue bisa cerita sama lo, ya kan?" Kinan tersenyum meyakinkan.
Usi pasrah saja dengan keinginan Kinan. Ahirnya mereka melangkah masuk ke dalam warung telepon.
"Lo mau ikut masuk ke bilik apa engga, Si?"
"Engga deh, gue di sini aja, Nan."
"Oke, bentar ya."
Kinan melangkah masuk ke dalam bilik telepon yang sudah disediakan. Tak menunggu lama jemari Kinan sudah lincah menekan nomor telepon Friza. Kinan yang sudah hafal nomor Friza di luar kepala tak perlu lagi membuka buku catatan nomor telepon yang dia punya.
♫ kasih genggamlah tanganku, dan tatap mataku betapa aku mencintaimu, katakanlah saat ini sayang bahwa kau hanya milikku, milikku.. ♫
Terdengar RBT dari gagang telepon yang di genggam Kinan. Daridulu memang nada sambung pribadi milik Friza adalah lagu ini, karena Kinan pernah bilang ke Friza kalau dia suka lagu ini.
"Ayo dong Za, angkat dong!" Kinan mulai gelisah menunggu.
Berkali-kali di tekannya tombol recall, namun tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
Usi yang melihat kegelisan Kinan segera mendekat ke arah Kinan.
"Kenapa Nan, ga diangkat?"
Kinan meletakkan gagang telepon dengan lesu. "Iya, Si."
Terdengar helaan nafas Usi. "Yaudah kita ke toko buku dulu aja, ntar pulangnya ke sini lagi."
Mau tak mau Kinan menuruti saran Usi juga. Meski tak di pungkiri sekarang mendung menggelayut di wajahnya.
Seusai mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka bergegas kembali ke asrama. Saat melewati warung telepon yang tadi mereka masuki, Usi menghentikan langkahnya. Kinan yang berjalan di belakang Usi tak menyadari karna dia sedang asik dengan lamunannya sehingga Kinan menubruk Usi dari belakang.
"Duh! Kok berhenti, Si? Sakit kan kepala gue." Kinan menggerutu sembari memegang keningnya yang nyeri.
"Makanya kalau jalan jangan sambil ngelamun!" Balas Usi cepat. "Lo jadi telepon Friza ga?"
Kinan memandang ke dalam warung telepon, sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ga jadi, Si. Pulang aja yuk, udah ga pengin gue."
"Yakin lo?"
"Elah, ga percayaan amat sama gue." Kinan menarik lengan Usi menjauh dari warung telepon dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah apa yang difikirkan Kinan. Awalnya dia memang sangat ingin mendengar suara Friza. Tapi sepanjang perjalanan menuju toko buku, Kinan merasa tak ada gunanya dia menelepon Friza. Tak ada bedanya menelepon Friza atau tidak, karna yang ada Kinan malah semakin merindukan Friza.
•••
Kinan sedang sibuk menghias panggung di aula asrama. Malam ini akan diadakan pentas seni. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia asrama Kinan mengadakan berbagai kegiatan dan lomba. Puncaknya adalah pementasan kreasi penghuni asrama.
Berbagai macam hiasan sudah Kinan pasang di sepanjang tepian aula. Tak lupa balon hias aneka warna Kinan pasang semakin menyemarakkan kondisi panggung. Tinggal beberapa sudut lagi yang harus Kinan hias. Tapi Kinan tak sendirian mengerjakannya, ada Ka Amal teman seasrama Kinan.
"Nan, ini gimana?" Ka Amal sedang membuat hiasan bunga dari kertas origami.
"Sebentar Ka. Bentar lagi gue selese." Kinan memasang balon terahir yang dipegangnya.
Setelah rapi, Kinan bergegas menghampiri Ka Amal.
"Wuih, keren Ka! Gimana cara buatnya? Ajarin dong!" Kinan berdecak kagum.
"Ada deh.." Ka Amal tertawa jahil. "Tapi gimana? Bagus kan?" Lanjutnya.
Kinan mengacungkan dua jempolnya. Lalu mereka tertawa bersama karna ahirnya bisa menyelesaikan tugas mereka menghias panggung.
Mereka merapikan sisa-sisa potongan kertas yang banyak berserakan di sekitar panggung. Pekerjaan mereka tak boleh menyisakan sampah, mengingat acara akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Tanpa terasa sebulan terahir belakangan Kinan sibuk dengan kegiatannya di asrama dan di sekolah. Apalagi sekarang Kinan menjadi salah satu panitia peringatan HUT kemerdekaan. Tapi bukan berarti dengan kegiatannya yang menggunung Kinan sudah melupakan Friza. Dia masih sering memikirkan Friza, bahkan semakin banyak waktu Kinan yang tersita untuk memikirkan Friza. Kabar baiknya, Kinan tak murung lagi, dia sibuk menuliskan isi hatinya di diary yang dulu dia beli.
Kadang Kinan merasa sedih saat bayangan Friza terlintas. Tapi Kinan selalu menepisnya. Dia lebih senang mengingat Friza dengan senyuman daripada tangisan, meski ada saatnya juga Kinan menitikkan air matanya. Seperti sekarang ini..
Kinan menghempaskan tubuhnya di lantai loteng atas asramanya. Tempat ini sering digunakan anak-anak asrama untuk menjemur pakaian mereka, karna tempatnya yang lapang dan tak ada penutup atapnya cocok untuk mendapatkan sinar matahari. Berbeda dengan Kinan, dia sering kesini bukan untuk menjemur pakaian, tapi untuk mencari ketenangan. Suasananya yang sepi serta semilir angin yang lembut menyentuh kulit, pas sekali untuk sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kinan teringat Friza. Sudah hampir dua bulan Kinan tak mengabari Friza. Ada rindu yang menjalar di relung hatinya. Kinan memejamkan mata, sekarang dia asik dengan bayangan Friza. Dia tak peduli dengan hiruk pikuk di aula asramanya, yang Kinan rasa sekarang dia ingin menikmati rindunya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Usi dan Ka Ilya mencari-cari Kinan, karna semenjak sore hari Kinan tak menampakkan batang hidungnya. Mereka bertanya ke semua orang yang ditemui, tapi tak ada satupun yang tau keberadaan Kinan.
"Kinan, kemana sih lo?" Usi mendesis. Dia meremas jemari tangannya sendiri. Terlihat sekali raut gelisah di wajahnya.
Ka Ilya tak kalah gelisahnya dengan Usi, dia sibuk menatap sekeliling. Berharap menemukan sosok Kinan.
Dari arah belakang terdengar suara Ka Amal memanggil mereka.
"Lo berdua masih nyari Kinan?" Tanya Ka Amal setelah Ka Ilya dan Usi menghampirinya.
Mereka mengangguk pelan.
"Tuh bocahnya." Ka Ilya dan Usi langsung melihat ke arah yang ditunjukkan. Di sana ada Kinan sedang bersandar di salah satu tiang aula menikmati acara. Mereka langsung bergegas mendekati Kinan.
Tanpa basa-basi mereka langsung mencubit pipi Kinan gemas.
"Aww, aww!" Kinan mengaduh.
"Lo kemana aja sih?!" Gerutu ka Ilya.
"Iya, kemana aja lo?! Kita dari tadi nyariin tau!" Usi mengamini ucapan Ka Ilya.
Kinan terkekeh-kekeh melihat raut wajah kedua sahabatnya. Ka Ilya dan Usi mendengus sebal melihat tawa Kinan. Hampir saja pipi Kinan menjadi sasaran kegemasan mereka lagi kalau saja dia tak segera menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Gue abis dari loteng."
"Ngapain?" Sahut ka Ilya.
"Duduk doang, gue kangen Friza." Jawab Kinan lesu.
"Emang kalo lo duduk di sana tau-tau kangen lo ilang gitu?"
"Iye, emang dia bakal nyamperin lo ke loteng?" Usi ikut menimpali ucapan Ka Ilya.
"Yaa, engga juga sih." Kinan terpojok. "Seengganya gue bisa nenangin diri gue sendiri."
Mereka terdiam menatap kosong ke arah panggung acara. Tak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Kinan menghentak-hentakan kakinya ke lantai seirama dengan nada yang terdengar. Usi memilin-milin ujung pakaiannya, sedangkan Ka Ilya sama seperti Kinan.
"Ilya, ada bokap nyokap lo tuh di depan." Suara Ka Amal yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka bertiga.
Ka Ilya mengusap wajahnya yang pias.
"Oke, makasih ka." Sahut Ka Ilya. "Gue pergi dulu." Pamit Ka Ilya ke Kinan dan Usi. Mereka menganggukkan kepala kompak.
•••
Kinan gemetar mengenggam handphone ka Ilya. Tadi Ka Ilya memanggil Kinan untuk masuk ke kamar ka Ilya. Ternyata Ka Ilya memberikan handphone miliknya, karna sedang dijenguk orangtua jadi ka Ilya boleh membawa handphone.
Semula Kinan terkejut. Dia merasa tak enak kalau harus menggunakan handphone ka Ilya. Tapi ka Ilya meyakinkan Kinan untuk segera menghubungi Friza. Ahirnya Kinan tak bisa menolak tawaran Ka Ilya.
Tiga puluh menit berlalu, Kinan hanya memandangi barisan nomor Friza di layar handphone. Dia ragu-ragu menekan tombol panggil, karna waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Kinan takut menganggu Friza. Tapi kemudian Kinan mengetik sesuatu.
Send to : 08564224xxxx
Selamat tidur ya, Za. Have a nice dream :)
Kinan
Ia menekan tombol send. Setelah pesan itu terkirim, ia menghela nafas. Tak lama kemudian dilihatnya layar handphone menyala.
Ada satu pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Kinan langsung membacanya.
From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..