"Nan, liat deh cowo itu! Liat! Manis banget ga sih? Dia satu sekolahan loh sama gue, namanya Friza!" Dengan girang Dina mengguncang bahu Kinan. Tapi Kinan acuh tak acuh dengan omongan Dina. "Ayo dong, Nan. Liat dulu bentar, pasti naksir deh!" Lanjut Dina lagi.
"Yang mana?" Sahut Kinan.
Dina langsung menunjukkan jarinya ke satu arah, dengan malas Kinan menuruti petunjuk Dina, sejurus kemudian dilihatnya anak laki-laki seumuran mereka sedang asik bermain layangan juga sama seperti Kinan.
"Iya, dia manis."
"Ih, kok lo cuek gitu sih nanggepinnya!" Dina menggerutu, bibirnya yang tipis maju beberapa centi mirip ikan lohan.
"Lah, terus gue harus jawab apa?" Kinan sibuk menarik ulur senar layangannya. "Gara-gara lo nih gue hampir kehilangan layangan gue." Lanjut Kinan yang masih sibuk menarik ulur senar layangan. "Daripada lo ngeliatin cowo itu terus, mending lo bantuin gue ngerapihin senar layangan gue deh."
Ahirnya dengan masih menggerutu Dina membantu Kinan merapikan senar layangannya.
Sore ini seperti biasanya Kinan dan Dina bermain layangan di pematang sawah dekat rumah mereka. Kinan dan Dina bersahabat sangat akrab, meski mereka berasal dari sekolah dasar yang berbeda tapi setiap pulang sekolah atau saat liburan mereka pasti main bersama seperti sekarang ini. Mereka baru akan pulang saat matahari tinggal sepenggalah di ufuk barat.
•••
"Kinan pulang Mah.." Kinan melangkah masuk ke dalam rumah saat adiknya Aman sedang asik memainkan robot-robotan yang baru seminggu lalu ayah belikan. "Mamah dimana dek?" Tanya Kinan.
"Ada di dapur, katanya tante Ela mau main jadi mamah sibuk masak." Jawab Aman tanpa sedikitpun menoleh ke arah Kinan.
"Tante Ela?" Kinan mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan mamah sibuk masak cuma karna Tante Ela mau main, biasanya juga engga. Kinan simpan dulu rasa penasarannya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Seusai mandi Kinan menghampiri mamah di dapur. Dilihatnya meja makan penuh berisi makanan di atasnya. "Hmmm, makan besar nih mah." Ujar Kinan sambil mengambil sepotong tempe.
"Eh, Kinan. Tante Ela mau main sama mas Anu katanya, ga enak kan kalo mamah ga nyiapin makanan." Mamah mencoba menjelaskan ke Kinan.
"Oh gitu.." Kinan melanjutkan kunyahan tempenya kembali.
Selang beberapa menit kemudian Kinan memilih pergi ke rumah Dina untuk bermain bersama.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan." Seru mamah.
"Iya, Mah. Kinan pergi."
•••
Keesokkan harinya sepulang sekolah Kinan langsung menuju rumah Tante Ela, sesuai pesan tantenya semalam. Saat memasuki ruang tamu, Kinan melihat tantenya sedang membuat bingkisan, entah bingkisan apa.
Menyadari kedatangan Kinan, tante Ela memanggil Kinan untuk segera mendekat dan membantu.
"Kado buat siapa, Tante?"
"Buat Mas Anu. Ntar Kinan yang nganterin ya.." Jawab tante Ela.
"Hah? Kinan kan ga tahu rumahnya Mas Anu." Kinan keberatan dengan permintaan tantenya.
"Ayolah Kinan, deket kok. Depan gang situ."
Ahirnya Kinan menyetujui permintaan tante Ela dan menuju rumah Mas Anu.
Sepi, kesan pertama yang Kinan dapatkan saat memasuki halaman rumah Mas Anu. Ragu-ragu Kinan melangkah, tak henti-hentinya Kinan memandang ke sekitar barangkali ada salah satu penghuni rumah yang ia temui, tapi hasilnya nihil. Ahirnya Kinan mengetuk pintu utama rumah Mas Anu.
Pelan Kinan mengetuk daun pintu. Sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap hening. Kinan hampir putus asa dan memilih pergi, namun sebelum Kinan melangkah pergi tirai jendela rumah Mas Anu terbuka. Dilihatnya bocah laki-laki seumuran dengan Kinan mencoba membukakan pintu untuk Kinan.
"Cari siapa?" Tanya bocah itu.
Kinan terkesiap, terbata-bata menjawab pertanyaan.
"Mmmm.. Mmmm.. Mas Anunya ada?"
"Mas Anunya lagi pergi."
"Yaudah, nitip ini aja deh buat Mas Anu dari Tante Ela."
Bocah itu ragu-ragu menerima bingkisan dari Kinan, tapi tak lupa mengucapkan terimakasih. Kinan mengangguk kemudian melangkah pulang.
"Bukannya itu cowo yang kemarin gue liat di sawah sama Dina ya." Kinan menggumam pelan.
Sedangkan bocah itu masih saja memandangi Kinan hingga tubuh Kinan menghilang di ujung gang.
¤¤¤
2 tahun kemudian..
Kinan sedang asik memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya depan sekolahnya saat Vika teman sebangku di kelas menghampirinya.
"Woi! Ngelamun aja lo, cepet tua baru tau rasa!"
Kinan tertawa kecil mendengar lelucon sahabatnya.
"Ngapain sih lo duduk disini?" Kinan menggeser duduknya agar Vika bisa duduk di sampingnya. "Masih penasaran sama cowo minggu lalu?"
Kinan tersenyum kecil, teringat kejadian minggu lalu. Saat itu Kinan sedang mengikuti lomba upacara yang diadakan di sekolahnya. Kinan cukup familiar di sekolah-sekolah di daerahnya, itu membuat banyak murid laki-laki menyukai Kinan, selain pintar Kinan juga lumayan cantik. Tapi ada satu orang laki-laki yang Kinan lihat acuh tak acuh terhadap dirinya, ketika teman-temannya asik menggoda Kinan dia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum kecil melihat kelakuan teman-temannya. Kinan terpesona langsung di menit dan tempat itu juga, rasa penasarannya membucah, sepertinya ada yang berbeda dari laki-laki itu, tapi Kinan tak tau apa.
"Ebuset, malah ngelamun ditanyain."
Kinan tersentak. Sadar dengan pertanyaan Vika. Dengan senyum jahil Kinan menjawab, "Iya, gue lagi nungguin dia lewat hahahaha."
"Nah, emang lo tau dia mau lewat?" Vika penasaran.
"Tau, dia kan satu sekolahan sama Dina temen rumah gue. Hari ini Dina olahraga di lapangan pasti lewat sini kan." Kinan senyam senyum sendiri membayangkan senyum laki-laki itu.
Vika hanya ber-Ooo ria dan ikut memandangi lalu lalang orang di depan mereka.
Beberapa menit kemudian..
"Eh itu dia!" Vika sumringah memandang ke arah barisan teman-teman Dina yang sedang berjalan menuju lapangan.
Kinan langsung memandangi ke arah mereka, tersenyum kecil. Seperti biasa dilihatnya teman-teman lelaki Dina teriak-teriak memanggil nama Kinan tapi laki-laki itu masih seperti minggu lalu hanya tersenyum simpul, Kinan semakin terpesona. Kinan juga melihat Dina. Terlihat Dina yang sedang tertawa, menertawai perubahan rona pipi Kinan yang bersemu merah. Dina tau Kinan naksir temannya, tapi dia belum tau siapa. Sepulang sekolah Ia akan menanyakannya langsung pada Kinan, tanpa perantara.
•••
♫ Aku berbagi untuk sahabat, kita berbagi untuk sahabat, kita bisa bila bersama.. ♫
Lirih terdengar suara Audi feat nindy, penyanyi yang duet bersama setelah audisi oleh salah satu produk kecantikan. Kinan sedang asik mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan wali kelasnya tadi pagi di sekolah.
"Kinaaaaaan!"
"Kinaaaaannn!"
"Kinaaaaaannnn!"
"Ya Tuhan, berisik banget sih itu bocah satu, tinggal naik ke atas aja pake tereak segala berasa di hutan." Kinan melempar pensil ke atas buku.
"Iyaa Din, lo naik aja sini. Gue lagi ngerjain PR." Kinan membalas teriakan Dina.
Tak lama kemudian dilihatnya muka kucel Dina berdiri di depan pintu kamarnya. Kinan terbahak melihat kondisi sahabatnya.
"Kenapa lo? Abis kena badai di luar?" Seloroh Kinan.
"Sial lo!" Dina melempar bantal ke arah Kinan. Kinan masih terbahak. "Gue abis berantem sama Kak Abel." Dina manyun semanyun-manyunnya menceritakan keributannya dengan kakak perempuannya.
Seusai bercerita panjang lebar, Dina teringat tujuan utamanya datang ke rumah Kinan. "Lo naksir temen gue ya, Nan?"
Kinan tersipu mendengarnya.
Sekarang gantian Dina yang tertawa keras. "Nyaelah lo, Nan. Hahahaha. Sama siapa? Ari atau Zidan bocah pindahan dari Bandung?"
Kinan melotot mendengar pertanyaan Dina. Mana mungkin Kinan melirik dua bocah yang walaupun fisiknya di atas rata-rata tapi tengilnya kagak nahan. No way! Fikir Kinan.
"Bukan mereka.."
"Nah, terus siapa?" Dina terkejut. Rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun.
Kinan tersipu malu, mengingat lagi dua kali pertemuan mereka. Eh bukan pertemuan, tapi curi-curi pandang yang Kinan lakukan ke sosok itu.
"Gue ga tau namanya, Din." Ucap Kinan pelan.
"Ya Tuhan, lo kagak tau namanya?!" Dina menepuk jidatnya sendiri. Lalu, "Bentar, coba lo sebutin ciri-ciri dia, gue pasti kenal."
Kinan mencoba mengingat ciri-cirinya, rambut cepak, tatapan mata tajam, senyum manis, dan alis mata yang tebal mirip semut berbaris, tinggi Kinan mungkin sedaun telinganya.
Dina berfikir keras mencoba mencari teman satu kelasnya yang memiliki ciri seperti yang Kinan sebutkan. "Oh gue tau!" Seru Dina girang. Kinan hampir tersentak dari tempat duduknya. Tapi si Dina hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.
"Namanya, Friza! Iya Friza Andromeda!" Dina berseru lagi, senang. Seolah menemukan jawaban soal teka-teki yang paling sulit.
Kinan berfikir sebentar, mencoba mengingat-ingat. "Kayanya gue ga asing deh sama nama itu.."
"Yaelah lo, Nan. Gimana ga asing. Andromeda kan nama keluarga dia. Tante lo masih pacaran sama Mas Anu, kan?"
"Ya Tuhan!" Kinan menepuk jidatnya sendiri. "Pantesan aja gue ga asing sama itu bocah! Hahaha" Kinan tertawa terpingkal-pingkal.
Mulai hari itu setiap hari yang Kinan lakukan adalah mencari tau segala hal tentang Friza. Tiada hari tanpa berita soal Friza. Sampai Dina merasa bosan sendiri menceritakan soal kegiatan Friza di sekolahan.
Dina menceritakan secara detail tentang Friza. Friza yang jarang masuk sekolah karna sakit. Friza yang hemat suara, ternyata cowo idaman Kinan termasuk cowo yang pendiam. Pantas saja Kinan penasaran setengah mati. Setiap kelas Dina ada jadwal olahraga di lapangan, Kinan orang pertama yang akan menunggu mereka lewat di depan sekolahan Kinan.
Hanya itu yang bisa Kinan lakukan.
Pernah suatu hari Dina bertanya pada Kinan, mengapa Kinan tidak langsung berterus terang pada Friza bahwa dia menyukainya. Kinan hanya tertawa menanggapinya, mana mungkin Kinan yang memulai mengajak Friza bicara, sedangkan Friza adalah orang tercuek yang pernah dia temui. Kata Kinan, dia menikmati proses ini, mengagumi dari jarak jauh lagipula usia mereka masih terlalu dini untuk sebuah kata 'cinta'. Kinan juga ga yakin apakah perasaan yang Kinan rasa saat ini beneran cinta atau sekedar rasa kagum. Yang jelas Kinan merasa senang setiap kali Dina menceritakan segala hal tentang Friza.
"Ah cinta, masa iya anak kelas 5 SD sudah jatuh cinta? Entahlah.." Kinan tertawa dalam hati menertawai kekonyolan dirinya sendiri.