Selasa, 06 Mei 2014

lima Mei

Malam ini di sini di kota yang asing yang baru pernah ku kunjungi lagi setelah 6 tahun yang lalu, aku merasa tertampar, entah oleh apa. Yang jelas rasanya ada yang sakit, kecil, tapi menusuk.

Bermula dari pagi jam 5 subuh lari-lari di stasiun. Jujur walaupun aku suka sekali menonton film bollywod bukan berarti aku harus mempraktekan adegan kampungan seperti ini juga kan? Apa aku bilang tadi "lari-lari di stasiun". Iya, setelah bangun kesiangan, sebenarnya bukan kesiangan, bagaimana mungkin aku bilang jam 03:25 pagi buta itu 'kesiangan'. Itu masih terlalu pagi, tapi karna jadwal rese' yang entah kenapa harus aku patuhi ahirnya aku merasa itu terlalu siang. Tak sempat melakukan rutinitas yang hampir sebulan ini slalu kulakukan padahal sudah lima tahun lebih aku tinggalkan, menyebut nama Tuhanku dalam hening malam. Lengkaplah sudah awal pagi yang buruk itu. Merasa tak enak hati harus membangunkan Ayah yang baru saja terlelap setelah perjalanan jauhnya dari Ibukota, aku melupakan satu hal 'jadwal setan' itu. Ahirnya semua serba tak beraturan, meminta kecepatan tinggi anehnya laju mobil masih terasa lambat. Ingin mengutuk, tapi aku ingat, aku masih memilikiNya. Dan hebatnya Dia benar-benar mendengarkan doaku, setelah berlari-lari sampai kaki terasa lemas sampai juga ke dalam gerbong kereta yang gatau berapa detik kemudian langsung jalan. Dengar, Tuhanku hebat sekali, bukan?

Kemudian hal baik ternyata belum sepenuhnya berpihak padaku. Duduk di depan sepasang muda mudi yang berpacaran. Apa anehnya, Cha? Sebenernya ga ada yang aneh kalo cewe itu ga terlalu agresif sama cowonya. Oke aku akuin, aku ga ada hak buat komentar, bahkan lucunya aku malah disangka cemburu oleh temanku. Ya Tuhan, apa yang harus aku cemburui? Aku sudah kenyang dengan apa yang ku sebut 'sifat tak tahu malu' tapi demi apapun aku ga pernah melakukan tingkah seaneh cewe di depanku itu di muka umum. Ini masih di Indonesia, hellowwww masih kental dengan adat ketimuran walaupun sebenarnya hampir punah. Aku hanya risih dengan kelakuan dia, emangnya dia ga bisa sedikit saja menghargai apa yang dia kenakan saat itu 'jilbab'. Ya, satu kata yang dulu sempat kuhindari saat aku sadar aku melakukan banyak kesalahan dan dosa, untuk apa berkedok menggunakan pakaian kebesaran muslimah bila kelakuan tak jauh beda dengan setan. Aku masih menghargai jilbabku dan muslimah lain selainku walaupun banyak yang beranggapan jilbab itu kewajiban dan masalah sikap belakangan. Bagiku itu tak ada bedanya mempermalukan muslimah lain, seolah yang berjilbab lainnya pun memiliki kelakuan sama seperti mereka yang tak tahu malu itu. Oke fix, intinya aku kesal sekali hari ini karna kelakuan cewe di depanku, perjalanan yang seharusnya ku nikmati. Bah apa hebatnya dia bertingkah seperti itu? Apa maksudnya ingin menunjukkan kepadaku 'lelaki itu miliknya' ? Silahkan, ambil saja seluruhnya, aku tak pernah berniat lagi bersama dengan laki-laki model begitu yang tak bisa menghargai wanita dan menjaga harga diri wanitanya.

Lupakan soal pasangan muda mudi yang selama dua jam lebih merusak mood perjalananku. Setibanya di kota ini, yang jujur aku merasa kaget bukan karna apa-apa, tapi karna 'panas' ya! Selama aku hidup di jakarta selama apapun, aku kira aku ga pernah merasakan kota yang sumuk seperti ini sepagi itu masih jam 7:11 -_-

Menunggu teman datang, oke aku akui dia teman yang baik sekali karna mau datang menjemput aku yang notabenenya orang asing dari antah berantah bzzz membawaku pergi ke masjid Agung Jawa Tengah. Well ya, semenjak sebulan yang lalu aku memang ingin sekali datang kesini gatau alasannya apa yang jelas aku ingin sekali saja mengunjungi rumah Tuhan yang megah, setidaknya di sini aku bisa sedikit bermimpi suatu saat nanti aku akan datang ke Baitullah di negeri onta sana. Setelah sampai disana langsung menuju ke menaranya, aku lupa namanya apa. Itu hal baik pertama di hari ini, aku benar-benar suka ketinggian, melihat pemandangan di bawahnya yang menakjubkan, tak perduli angin kencang yang sepertinya tak berdamai. Kemudian di ingatkan soal hal penting yang beberapa hari lalu ingin ku katakan. Di sini mulai rusak segala hal indah yang baru saja aku rasain. Cerita-cerita itu, janji yang harus ku ucapkan. Aaargghh sebenarnya aku kesal sekali dengan yang namanya 'janji' tak pernah ada janji yang tepat kecuali 'janji matahari terbit' dan 'janji Tuhan' kan? Ahirnya dengan terpaksa aku mengucapkan janji itu, yang membuat ceritanya semakin mengalir. Yang membuat sakit di sini, entah apa. Ada perasaan bersalah, bukan karna dulu membiarkan pergi begitu saja, tapi perasaan bersalah bukannya dulu aku melepaskan orang itu untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik lagi, lebih bahagia lagi, bukan malahan semakin memburuk seperti ini. Jujur pengin nangis, tapi untuk apa? Ya perasaanku memang sudah lama hilang, tapi melihatnya memburuk seperti ini jatuh pada lubang yang tak dia sadari membuatku ikut pedih. Benar kata tante, setidaknya dulu dia pernah sangat berarti untukku hingga saat melihat dia seperti itu aku ikut terluka. Apa alasannya dulu saat dia memilih pergi? 'Ada yang harus dia capai di sana' tapi sekarang kenyataannya dia malah meninggalkannya. Ya Tuhan, semoga Engkau memberikan dia petunjuk, setidaknya agar ia tak perlu merasakan luka lebih dari yang pernah dia rasakan.

Kemudian mencari makanan. Aku mulai curiga dengan kota ini. Gara-gara tragedi beberapa waktu yang lalu hanya karna makan makanan khas Jogjakarta aku muntah-muntah sampai berkali-kali, aku menekankan pada diriku sendiri, jangan pernah menyentuh makanan yang seolah-olah satu botol kecap di masukan semua ke dalam adonan, jangan pernah. Itu bener-bener membuat mual. Dan ketakutanku terbukti, makan dua kali di sini, rasanya sungguh mengaduk-aduk isi perut, bagaimana bisa mereka makan makanan semanis ini, huh! Mana hari ini perutku mulas tapi isinya tak mau keluar. Lengkaplah sudah!

Lupakan kejadian-kejadian berikutnya yang menguras emosi. Langsung ke topik pembicaran lainnya soal obrolan lainnya. Cerita-cerita itu mengalir begitu saja, sedikit demi sedikit dan pertahananku runtuh. Aku kesal, kesal pada kenyataannya aku disadarkan lagi 'aku bukan siapa-siapa'! Tak bisa seenaknya jidat menganggap orang yang terlihat baik pada kenyataannya baik ataupun sebaliknya. Fakta-fakta itu melesat bagai meteor menghujam. Sakit (lagi) di sini ada yang sakit lagi. Bukan sakit karna perasaan yang pernah ada. Tapi karna sakit mengetahui bahwa kepercayaanku yang sebenarnya baru mulai tumbuh, 'percaya bahwa tak semua laki-laki jahat, dan tak menghargai wanita, masih ada yang baik' mulai di rontokan pondasinya. Tertampar! Wajah malaikat itu terasa menyeramkan bagiku sekarang. Aku benar-benar tak mau lagi jatuh dalam lubang yang sama. Menemukan laki-laki yang ku kira tepat tapi ternyata jauh dari kata tepat, cenderung destroyer. Seperti hidangan penutup yang sangat menyakitkan. Hari ini menu yang paling lengkap.

Dan setelah kejadian-kejadian memuakkan hari ini, satu hal yang baru ku sadari, yang paling memuakkan.

Hari ini tanggal 5 di bulan ke 5 di tahun 2014. Aku seseorang yang baru disadarkan oleh sesuatu entah apa itu merasa sangat ingin kembali ke rumah, lucu sekali. Kejadian terahir seperti ini 5 tahun yang lalu saat aku masih ingusan bersikeras ingin di rumah demi apapun, dan karna satu hal 'dia' orang itu. Dan sekarang di sini lepas kejadian 5 tahun itu berlalu, aku di sadarkan, sangat teramat di sadarkan. Apa sebenarnya motivasi aku berada di sini. Mimpi 5 tahun yang akan datang itu, kebahagiaan orangtuaku dan 'dia' orang yang sebenarnya tak pernah ku tau aku harus menyebutkan dia sebagai siapaku. Damn!

Semarang, 5 Mei 2014 23:55