Selasa, 04 Maret 2014
020314
Tolong, saya sedang rapuh tentang anda. Bisakan anda memberikan saya jeda? sebentar saja, saya tak akan pergi, saya hanya butuh waktu untuk mengerti, menerima kenyataan bahwa harapan saya yang dari dulu ada itu tak berarti apa-apa, karna faktanya saya tidak memiliki dan tidak akan pernah memiliki kesempatan tentang anda.
never
Jangan baca catatan ini, ini hanya tentang orang bodoh yang terlalu banyak bermimpi untuk sebuah kesempatan yang tidak dan tak akan pernah menjadi nyata.
Tuhan, saya tidak pernah merasa lebih buruk dari ini, oh tidak bukannya tidak pernah, yang tepat adalah saya lupa kapan terahir kali saya seburuk sekarang, kacau. Saya merasa menjadi orang yang tak berguna untuk hati saya sendiri. Melakukan kesalahan kecil yang semestinya tak kulakukan. Saya tidak menyesal Tuhan, saya hanya kecewa, seharusnya saya tak perlu seperti itu bila kenyataannya sekarang malah membuat saya seperti ini.
Ini tak pernah membuat saya merasa lebih baik dari kemarin, kemarin saya hanya berharap, berharap saya memiliki kesempatan. Menyimpan harapan itu dalam hati rapat-rapat, tak perlu semuanya tau. Namun Tuhan, ternyata hati saya tak bisa berdusta, hati saya tak cukup kuat untuk menyimpan, saya terbiasa jujur dan mengungkapkan apa yang saya rasakan, salahkah saya Tuhan?
Kemarin saya menceritakan kepada seorang teman, 'apa yang harus saya lakukan saat saya menyukai seseorang?' Dia menjawab, seharusnya saya mengungkapkannya. Dia benar kan, memang sudah semestinya saya mengungkapkan, tapi saya takut Tuhan, takut saya akan tersakiti dengan kejujuran saya sendiri. Dan faktanya ketakutan saya benar adanya, sekarang saya tersakiti dengan kejujuran saya sendiri, benar-benar tersakiti.
Awalnya sedikit iseng mengatakan padanya, ya seperti yang pernah terjadi 6 tahun silam, tapi sialnya kali ini saya tak bisa menahannya. Saya mengungkapkannya, tanpa menimbang apa yang akan terjadi kemudian. Lalu Tuhan, saya tak tahu ini disebut jawaban dari ungkapan saya atau bukan, yang jelas setelah dia mengatakannya saya mengerti. Saya tidak memiliki kesempatan itu Tuhan, tidak dan tak akan pernah :')
Saya mengutuk diri saya sendiri, seharusnya saya sadar diri, harusnya saya mengerti tak perlu berharap tinggi pada apa yang belum tentu takdirmu. Seharusnya saya tahu, saya tak pernah memiliki kesempatan itu. Tapi saya tak pernah tahu dan tak pernah mengerti Tuhan, salahkah saya? Saya hanya menjalani apa yang ada difikiran saya, bukan bermaksud menyakiti diri sendiri dengan mengetahui kenyataan ini.
Sekarang beri tahu saya, saya harus bagaimana Tuhan? Hati saya remuk tak berbentuk loh ini, sulit dijelaskan betapa terlukanya perasaan saya sekarang, di dalam sini benar-benar tertusuk. Tertusuk mimpi dan harapan bodoh yang saya buat sendiri hahahahaha
Tuhan, saya tidak pernah merasa lebih buruk dari ini, oh tidak bukannya tidak pernah, yang tepat adalah saya lupa kapan terahir kali saya seburuk sekarang, kacau. Saya merasa menjadi orang yang tak berguna untuk hati saya sendiri. Melakukan kesalahan kecil yang semestinya tak kulakukan. Saya tidak menyesal Tuhan, saya hanya kecewa, seharusnya saya tak perlu seperti itu bila kenyataannya sekarang malah membuat saya seperti ini.
Ini tak pernah membuat saya merasa lebih baik dari kemarin, kemarin saya hanya berharap, berharap saya memiliki kesempatan. Menyimpan harapan itu dalam hati rapat-rapat, tak perlu semuanya tau. Namun Tuhan, ternyata hati saya tak bisa berdusta, hati saya tak cukup kuat untuk menyimpan, saya terbiasa jujur dan mengungkapkan apa yang saya rasakan, salahkah saya Tuhan?
Kemarin saya menceritakan kepada seorang teman, 'apa yang harus saya lakukan saat saya menyukai seseorang?' Dia menjawab, seharusnya saya mengungkapkannya. Dia benar kan, memang sudah semestinya saya mengungkapkan, tapi saya takut Tuhan, takut saya akan tersakiti dengan kejujuran saya sendiri. Dan faktanya ketakutan saya benar adanya, sekarang saya tersakiti dengan kejujuran saya sendiri, benar-benar tersakiti.
Awalnya sedikit iseng mengatakan padanya, ya seperti yang pernah terjadi 6 tahun silam, tapi sialnya kali ini saya tak bisa menahannya. Saya mengungkapkannya, tanpa menimbang apa yang akan terjadi kemudian. Lalu Tuhan, saya tak tahu ini disebut jawaban dari ungkapan saya atau bukan, yang jelas setelah dia mengatakannya saya mengerti. Saya tidak memiliki kesempatan itu Tuhan, tidak dan tak akan pernah :')
Saya mengutuk diri saya sendiri, seharusnya saya sadar diri, harusnya saya mengerti tak perlu berharap tinggi pada apa yang belum tentu takdirmu. Seharusnya saya tahu, saya tak pernah memiliki kesempatan itu. Tapi saya tak pernah tahu dan tak pernah mengerti Tuhan, salahkah saya? Saya hanya menjalani apa yang ada difikiran saya, bukan bermaksud menyakiti diri sendiri dengan mengetahui kenyataan ini.
Sekarang beri tahu saya, saya harus bagaimana Tuhan? Hati saya remuk tak berbentuk loh ini, sulit dijelaskan betapa terlukanya perasaan saya sekarang, di dalam sini benar-benar tertusuk. Tertusuk mimpi dan harapan bodoh yang saya buat sendiri hahahahaha
Langganan:
Postingan (Atom)