Jumat, 10 Januari 2014

coretan usang



Kamu mau apa ? mau apa lagi kamu dateng d hidupnya aku ? aku udah tenang dan teramat tenang, tanpa kamu J tanpa kamu yang pernah nyakitin aku :D
Aku udah tenang, gak usah dateng lagi wis ya tulung kalo kamu dateng Cuma mau nyakitin aku lagi, sekali lagi hati aku bukan pelabuhan hati dan hidupmu, demi apapun aku gak mau deket kamu lagi, gak mau berharap lagi, cukup sekali aja aku ngrasa sakit, aku gak peduli kamu mau mohon mau nangis demi aku ato apapun, aku gak akan peduli lagi ! :)
Aku udah merasa cukup dengan semuanya, tanpa kamu juga aku masih bisa tersenyum dan tertawa kan ? tanpa kamu aku masih bisa :) mau kamu ngilang dari hidupnya aku juga gak papa, aku gak akan nyari kemanapun kamu, dimanapun kamu, aku gak akan nyari kamu, gak akan mau masuk ke hidup kamu lagi, aku gak mau :)
Kita udah punya kehidupan masing-masing, dan aku gak mau bahas apapun yang terjadi kemarin apalagi dulu :) semuanya udah aku buang jauh dari ingatan dan hidupnya aku, jadi jangan pernah nyuruh aku apalagi maksa aku buat inget semuanya lagi, semuanya udah mati d hidup aku, gak ada nama kamu, apa lagi kenangan tentang kamu di hidup, mimpi dan harapannya aku, kamu hanya teman gak lebih, kamu hanya bayangan yang sama sekali gak pengen aku liat apa lagi aku sentuh, kamu gak lebih dari apapun sungguh.
Kalo kamu mau pergi yaudah pergi aja, aku gak bakal nahan kamu, apalagi mohon sama kamu biar kamu tetap tinggal, bukane aku udah pernah cerita sama kamu dulu ?aku gak akan pernah memohon seseorang buat tetep tinggal sama aku kalo dia emang udah niat jauhin aku, yang ada aku malah balik jauhin dia, malah lebih jauh :)
Aku harap kamu bahagia, bahagia dengan keputusan kamu dulu J apapun yang udah jadi keputusan dulu gak bisa di tarik ulang, udah terjadi dan aku udah bisa nerima semuanya, bahkan nglupainnya :)
I never want to love you, like I do yesterday :)

16:12
26 Februari 2012




seharusnya tak perlu kembali



Aku tak tahu harus menyambut kepulanganmu kembali yang kesekian kali ini dengan apa. Apakah harus ku sambut dengan senyum, suka, duka, tangis atau tertawa? Aku ingin tersenyum tapi aku tau disudut hati ini masih ada luka yang kamu beri sejak kepergianmu setahun yang lalu, kepergianmu tanpa alasan, tanpa pesan terakhir yang semestinya bisa kau jelaskan padaku. Aku ingin menangis, tapi apa yang harus ku tangisi, kepergianmu setahun yang lalu memang ciptakan sejuta tanya yang sampai saat ini belum kutemui jawabnya, tapi rasanya bila ku bahas saat ini pun semuanya sudah basi, dibahaspun sudah tak ada gunanya lagi. Aku ingin tertawa, karna pada akhirnya kamu kembali lagi padaku, masih dengan senyuman yang sama, senyum yang dulu membuatku begitu mencinta, tapi kini tlah ternodai oleh apa yang seharusnya tak terjadi diantara kita.
Selepas malam tahun baru itu, ya malam tahun baru seperti biasanya yang kita lewati bersama, dengan kembang api, dengan konvoy mengelilingi taman kota yang tentu bukan kita saja yang ada disana, ramai, banyak orang, kamu tertawa bersamaku, aku pun tertawa, betapa bahagianya kita. Tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan kamu akan pergi meninggalkanku, sangat jauh, bahkan terlalu jauh dari jarak yang tak ku mengerti. Kamu masih menggenggam tanganku, berdoa bersama, menghening sejenak diantara keramaian, dan apa kamu tau doaku saat itu ? “aku ingin selalu bersamamu, menggenggam tanganmu seperti ini, tertawa bersamamu, bahkan selalu menikmati kembang api tahun baru untuk tahun-tahun seterusnya”. Yaa walaupun aku tak tahu apa doamu saat itu. Tapi itulah doaku, selalu bersamamu.
Esoknya saat ku buka mata, berharap seperti biasanya ada pesan masuk darimu meski hanya sekedar ucapan selamat pagi, tapi faktanya tak pernah ku temui kata-kata itu lagi darimu, bahkan untuk selamat malamku atau selamat siangku, tak pernah ku jumpai lagi itu semua behari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Apa difikiranmu aku tak akan mencarimu? Aku mencarimu; dengan susah payah dan dengan airmata yang tertumpah. Mencarimu ke setiap sudut yang ku hafal tempat biasa kau berada, ke teman-temanmu, bahkan dengan gila mencarimu ke setiap pedagang asongan yang ku temui, berharap mereka pernah melihat sosokmu meski sekilas. Tapi apa yang ku dapatkan termyata tak berbanding lurus dengan apa yang aku usahakan. Kamu benar-benar menghilang seperti hempasan angin tak berbekas.
Hingga pada akhirnya langkahku mulai terhenti, terhenti untuk mencarimu. Air mataku kering, kering hanya untuk menangisimu. Aku mulai menyerah pada keadaan, mungkin memang saatnya kamu pergi meninggalkanku meski aku tak pernah tau alasan dibalik semua itu. Kepergianmu yang lebih cepat dari apa yang tak pernah kubayangkan.
Sekarang, seperti hujan yang tiba-tiba datang dimusim kemarau, kamu kembali. Kembali padaku yang tlah gersang tandus, kehilangan banyak daun dan bunga. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menyikapi kembalinya kamu ke dalam kehidupanku. Aku mulai lelah setelah berharap sekian lama, menanti hadirmu, menanti kamu semangatku. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk setia menanti kepergian seseorang yang berarti. Bukan waktu yang bisa dihitung dengan jari untuk mencari dan terus mencari jawaban dari sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Dan sekarang kamu kembali, apa yang harus aku lakukan beri tahu aku, aku mohon.
Aku pernah membanggakanmu di antara mereka karna kamu adalah orang terbaik yang pernah aku temui, menemaniku slalu saat lelah sedih ataupun sukaku, kamu slalu ada. Tapi saat kamu memilih pergi saat itu, aku tak mengerti apa yang harus aku katakan pada mereka ? apa aku masih harus membanggakanmu di depan mereka padahal kamu tlah tancapkan luka yang aku tak pernah tau dimana aku harus mencari obatnya. Ahirnya mereka memakiku, mengejekku karna ahirnya aku kehilangan kamu juga, orang yang aku banggakan. Kamu tau bagaimana rasanya ? aku benar-benar terluka. Lalu kini kamu kembali, dengan mudahnya seperi tak pernah berbuat salah, aku harus bilang apa untuk ini ?
Kamu menang, bila menyakitiku adalah sebuah kesenangan, kamu menang, karna telah membuatku; orang yang sangat mencintai jatuh terlalu dalam tanpa aku tau jalan untuk menepi. Aku akui kamu hebat, karna telah tertawa di atas tangisanku. Kamu boleh berbahagia sekarang karna kini aku mulai mengerti bagaimana cara melupakanmu, pelan tapi pasti, aku telah melupakanmu. Selamat yah, semoga kamu bahagia tanpa aku.

jujur :')



Jujur, aku ingin menyerah sekarang, melepaskan semuanya dengan mudahnya tanpa berfikir panjang, tanpa perlu memikirkan apa yang tlah terlewati dan apa yang akan terjadi nanti, aku ingin melakukannya, sangat! Tapi saat ini terjadi, bukan lagi bagaimana aku harus melepaskan, ini semua tentang apa yang sudah terlalu banyak dikorbankan dan diperjuangkan. Tentang bagaimana aku mempertahankannya, karna sungguh tak pernah mudah bertahan dalam keadaan seperti ini, aku tersiksa.
Maaf, aku kira aku kuat, mampu melewati semuanya dengan baik-baik saja, mengobatinya sendiri tanpa kamu; orang yang seharusnya slalu ada di sini bersamaku apalagi saat aku sedang terluka seperti ini. Aku benar-benar butuh kamu. Setidaknya kamu bisa memberikanku semangat seperti yang dulu-dulu itu, satu hal yang sering kamu lakukan untukku. Tapi semakin aku berharap, aku sadar semua ini hanya akan semakin melukaiku, mengharapkan orang yang tak mengharapkanku. Aku tak pernah tau kalau kehilanganmu rasanya akan semenyiksa ini.
Kamu tau, aku ingin sekali berhenti, berhenti dari semuanya, dari segala hal yang mengingatkanku akan kamu, tentang harapan dan semua mimpi kita, aku benar-benar ingin berhenti dan lekas mengahiri lalu melupakan semuanya. Tapi kamu juga tau kan, semua ini sudah terlalu lama bila harus dilupakan sekarang, entah berapa coretan yang kamu buat dalam catatan hidupku, sebagian atau mungkin menutupi semuanya, aaaaaaa.
Aku gatau harus gimana sekarang, terus melangkah maju juga udah kamu larang, kamu memintaku berhenti. Tapi kalo aku harus mundur, aku udah melangkah terlalu jauh, tanpa aku tau harus mundur dari bagian yang mana. Kamu nyiksa aku :’) kamu jahat :’) harusnya kamu ga usah buat aku percaya sama semuanya, harusnya kamu ga biarin aku mimpi terlalu tinggi, harusnya kamu ga usah ngasih harapan yang malah buat aku jatuh tanpa aku tau kalo sakit yang bakal aku rasain sesakit ini.
Dulu aku percaya semuanya karna aku yakin di hatimu benar-benar ada aku, di mimpimu ada nama aku, karna aku yakin selama kamu mencintaiku dan aku mencintaimu kita akan tetap bertahan dan saling mempertahankan seburuk apapun keadaan kita. Dulu aku begitu mempercayai semuanya, meski kadang harus menutup luka yang kamu buat dan mungkin ga kamu sadari. Dulu, dulu, dulu aaaaa!
Sekarang aku harus gimana ? :’) memperdulikanmu pun sepertinya menjadi beban bagimu, memperhatikanmu pun seperti membuatmu semakin jengah padaku. Sekarang aku harus bagaimana ? apa kamu ingin aku benar-benar merelakannya ? melepaskan semuanya dan melupakan semuanya ? kalo memang iya, baiklah, aku akan melakukannya, seperti biasa, menuruti segala inginmu, perlahan ya :)) kalo aku belum bisa sekarang maaf, tapi aku selalu nyoba, dan semoga nanti bisa, aamiin

Tegal, 2 Januari 2013 23:00

pilihan tersulit tapi 'harus' :)



Menipu diri sendiri kadang menjadi pilihan terahir yang paling tepat untuk dilakukan daripada harus melihat orang yang kita sayang merasa terluka atau tersakiti terus-terusan. Terlihat bodoh ya? Aku mengerti, ini tak benar, akan ada yang tersakiti; dan paling pasti itu aku, si penipu diri sendiri. Tapi bukan tanpa alasan aku melakukan ini semua, memang banyak hal yang sulit dimengerti di dunia ini, namun yang saat ini aku pilih, aku mengerti, ada saatnya untuk merelakan orang yang kita sayang, bukankah cinta memang tak harus saling memiliki ? :)
Aku membebaskan dia, orang yang ku sayang. Biarkan dia mencari jalannya sendiri. cinta memang sulit dijelaskan dengan kata-kata. Jujur, aku memang ingin menahannya, berharap dia akan slalu di sini bersamaku, seburuk apapun kondisi ku nanti. Tapi balik lagi, ga semua yang di inginkan bisa tercapai, karna ini hidup bukan sekedar dongeng penuh kebahagiaan. Ada saatnya terjatuh, terluka dan terhempas.
Mungkin ini terlihat sangat aneh, ketika aku mengatakan pada semua orang yang aku kenal bahwa aku sangat menyayanginya dan berharap dia jadi satu-satunya yang terahir dalam hidup tapi pada ahirnya aku hanya membiarkannya pergi begitu saja. Iya terlihat sangat aneh bila itu hanya dilihat dari satu sudut pandang saja. Cinta tak butuh penjelasan, udah sering denger kalimat itu kan ? yang terjadi sekarang ini ya seperti itulah sebelas dua belas :D
Mempertahankan dia selalu, selelah apapun aku selama ini, berharap lebih padanya, apa ini tak cukup ku sebut dengan ‘cinta’? menyayanginya, memberikan segala hal yang dia inginkan, menuruti semua apa yang dia mau meski kadang tak sejalan dengan inginku, apa itu belum cukup menjadi bukti? Dan sekarang saat dia ingin pergi, aku mengiyakannya, menuruti keinginannya untuk melepasnya pergi, apa itu terlihat bodoh ? bukan, ini bukan suatu kebodohan, tapi ini apa yang ku sebut ‘cinta’.
Iya memang, aku terlihat bodoh, mau saja ditinggalkan setelah sekian lama bersabar dalam penantian, rela menunggu dan sering diabaikan padahal ujung-ujungnya juga menjadi yang tersakiti. tak bisakah kalian lihat, inilah ketulusan dari cinta itu sendiri. Melepaskan tak semudah saat mengucapkan “goodbye”, tak pernah semudah itu. Tapi memilih menahan orang yang kita sayang untuk selalu bersama kita padahal dia udah ga menginginkan hal yang sama itu bukan pilihan yang bijak. Aku menyayanginya, pasti. Aku tak ingin melihat dia orang yang ku sayang tersiksa dalam keadaan ini, meski alasan yang dia katakan saat memilih pergi tidak masuk akal setelah sekian lama kami sama-sama bertahan dalam hubungan yang seperti ini. Aku akan membiarkannya, merelakan dia memilih apa yang dia mau, menuruti segala hal yang menurutnya baik untuk dirinya sendiri, mengerti dengan kebahagiaan yang ingin dia dapatkan di sana, karna aku tau kebahagiaan dia bukan selalu bersamaku.
Aah, aku ingin menarik nafas dengan lega sekarang, karna pada ahirnya aku tau, kali ini aku benar-benar bisa mengerti arti dari cinta itu sendiri, cinta yang awalnya rumit untuk difahami. Aku bersyukur di ahir jalan ceritaku bersamanya aku menyadari aku benar-benar menyayanginya, cinta yang ku miliki untuknya bukan lagi sekedar cinta monyet yang mementingkan ego sendiri. Aku tau sekarang, ini bukan sebuah kalimat gombal yang mudah diucapkan dulu saat aku masih terlalu kekanakkan mengenai ‘cinta’. Aku menyayanginya. Menyayangi orang yang ku relakan pergi, menyayangi orang yang ku relakan dirinya meraih mimpinya sendiri, menyayangi orang yang ku relakan menjalani hidupnya tanpa aku sebagai bagian dalam cerita  hidupnya.
“Maaf ya, aku tak pernah bisa menjadi yang terbaik, bahkan aku tak bisa menyebutkan satu alasan saja mengapa aku begitu menyayangimu seperti ini saat kamu tanyakan hal ini padaku. Maaf bila bersamaku hanya menyisakan luka. Maaf, aku tak pernah bisa ada disisimu saat kamu butuh bahu untuk bersandar saat kamu lelah menjalani hidupmu. Maaf, aku ga pernah bisa jadi apa yang kamu mau walaupun aku slalu mencobanya. Maaf, maaf, maafin aku :) semoga kamu selalu menemukan kebahagiaanmu yang tak pernah kamu temukan saat bersamaku, aamiin”
Itu tadi kalimat terahir yang pengin aku ucapin ke dia tapi sampai saat ini belum bisa aku ucapin karna lagi-lagi, lebih baik aku menipu diri sendiri daripada membebani dia dengan semua yang ku rasakan. Aaaa sudahlah, ini terahir kali aku mengatakan tentang ini, tentang betapa aku mencintainya dan sangkin cintanya aku membiarkan dia pergi menyisakan kenangan yang entah kapan akan ikut pergi juga.
Inget ya, aku sayang kamu, love ({})

Tegal, 1 Januari 2014