From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Seketika tubuh Kinan melemas setelah membaca pesan singkat itu. Antara senang dan sedih. Senang karna Friza mengatakan dia merindukan Kinan. Sedih, karna Kinan merasa bersalah selama ini tak pernah mengabari Friza.
Ia bingung harus membalas apa. Kinan terpekur di salah satu sudut kamar.
Bayang-bayang tentang Friza mulai nampak lagi. Senyum Friza, suara Friza, tawa Friza. Kinan menggaruk rambut kepalanya yang tak gatal. Ia berfikir keras mengetik balasan untuk Friza.
Belum sempat Kinan menekan menu replay, layar handphone itu berkedip-kedip tanda panggilan masuk. Ternyata Friza yang menelepon. Gemetar jemari Kinan menekan tombol hijau di handphone itu.
"Halo, Nan."
Terdengar suara Friza dari speaker handphone. Percakapan pertama mereka setelah berbulan-bulan tanpa kabar. Hati Kinan terasa penuh sesak oleh banyak perasaan yang Kinan tak tau apa namanya.
"Nan? Hallo?" Suara Friza terdengar lagi.
"Ha.. Ha.. Hallo Za." Jawab Kinan terbata.
"Gimana kabar lo?"
"Gue baik-baik aja Za, kalo lo?"
"Gue juga baik-baik aja, Nan."
Kinan dan Friza terdiam, asik dengan fikiran masing-masing. Dari dulu mereka memang sering begini, kadang saat mereka telah membicarakan banyak hal, mereka akan terdiam. Tapi tak lama kemudian salah satu di antara mereka akan memulai pembahasan yang lain. Jadilah percakapan mereka berlanjut, sampai terkadang mereka lupa waktu.
"Nan, lo dapet salam loh dari Ipung. Dia tambah keren aja sekarang," Friza angkat bicara, memecah hening di antara mereka berdua.
"Oya? Wah.. Ipung mah emang dari kecil juga udah keren." Kinan tertawa getir. Sebenarnya dia tak ingin membahas tentang Ipung, karna yang dia rindukan adalah Friza, bukan Ipung.
"Keren gitu kenapa lo ga jadian aja sama dia?" Tanya Friza.
Kinan merasakan sesuatu yang aneh, terdengar dari intonasi Friza yang tak seperti biasanya.
"Engg.. Engga ah. Males banget gue. Hahaha." Jawab Kinan sungkan.
"Dasar lo! Hahaha"
"Yee, ngapa lo tawa gitu? Hahaha"
"Nah lo juga iye." Balas Friza tak mau kalah.
Kinan bisa membayangkan muka Friza dengan intonasi suara yang seperti itu.
"Eh, Nan. Dulu lo pernah sms gue ya? Pake nomer siapa?"
"Hah? Kapan Za?" Kinan mencoba mengingat-ingat kapan dia mengabari Friza. Sama halnya dengan yang dilakukan Kinan, Friza mencoba mengingat-ingat saat itu.
"Pas ituloh, Nan. Siang-siang kalau ga salah. Tapi handphone gue kan dibawa kaka gue semenjak lo berangkat ke asrama, abisnya gue ga ada temen smsan.hihi"
Friza memperbaiki posisi bantal di kepalanya. Lantas melanjutkan ceritanya lagi.
"Gue baru liat sms lo pas abis magrib. Sial! Gedeg banget gue pas itu sama kaka gue."
"Loh kok gitu?" Kinan menyela cerita Friza.
"Ya gimana gue ga kesel. Dia makein handphone mulu kagak diisi pulsa. Pas gue mau bales sms lo, kagak bisa. Yaudah gue terpaksa muter-muter nyari counter pulsa, Nan.."
Kinan hanya bisa tertawa geli mendengar cerita Friza. Padahal Friza menceritakannya dengan penuh emosi.
"Sabar dong Za. Buat bales sms orang cantik emang butuh kesabaran. Hahaha."
"Yee PD lo!" Maki Friza disertai tawa. "Eh, tapi emang iya perjuangan banget Nan. Giliran gue dapet pulsa, lo di telepon kagak diangkat. Kan ngeselin banget. Padahal gue kangen banget sama lo.."
Kata-kata terahir Friza nyaris tak terdengar oleh Kinan, suaranya begitu pelan. Sebenarnya Kinan mendengarnya hanya saja Ia tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Lo ngomong apa, Za?"
"Engg,,engga. Lo pake handphone siapa waktu itu, Nan?" Friza mengalihkan pembicaraan.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Kinan, kenapa Friza tak mau mengucapkan ulang kata-kata terakhirnya tadi.
"Gue pake handphone temen, Za. Mana bisa gue ngangkat telepon lo tengah malem."
"Ooo gitu, nah terus ini lo pake handphone siapa? Kok tengah malem bisa teleponan? Lo bawa handphone ya?" Selidik Friza curiga.
"Ngaco! Kagak, ini punya temen gue. Lagi ada acara di asrama jadi bebas gitu deh.."
"Emm gitu.. Eh Nan, lo tau kagak lagunya ST 12 yang baru?"
"Lagu baru? Engga Za. Emang kaya gimana?"
"Bagus tau. Gue aja sampe mewek dengernya."
"Masa? Lo lagi ga promosi kan? Hahaha."
"Enggalah. Gila aja kalo gue promosi. Bisa kaya mendadak gue. Hahaha. Tapi serius Nan. Itu lagu bener-bener bikin gue sedih."
"Ah lo mah bikin gue penasaran deh.."
"Ntar lo dengerin ya, itu ngewakilin gue banget."
"Iye ntar pasti gue dengerin."
Percakapan mereka berlanjut tanpa henti. Ada saja yang dibicarakan. Terutama soal sekolah Kinan dan soal kegiatan Kinan selama di asrama. Kinan juga menyebutkan nama teman-temannya satu persatu ke Friza. Entah apa tujuan dan maksud Kinan. Yang Kinan rasa, Friza sudah lebih dari teman, dia sahabat Kinan. Jadi tak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari Friza.
Sangkin asiknya bercerita panjang lebar. Kinan dan Friza sama-sama lupa waktu, dan lupa pulsa juga. Biasanya kalau pulsa Friza habis, gantian Kinan yang menelepon, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang berbeda, Kinan tak enak kalau harus memakai pulsa milik Ka Ilya.
Jam berdentang satu kali saat tiba-tiba sambungan telepon mereka terputus. Kinan mendengus sebal. Dia tau, pasti pulsa Friza habis.
Ditengah kekesalannya, layar handphone yang dipegang Kinan menyala. Dilihatnya ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
Nan, pulsa gue abis, pdhl gue mash kangen lo :( yaudah deh udh malem juga, tidur yuk Nan. Goodnight ya, have a nice dream, Nan :) cepet pulangnya :D
Kinan tertawa membaca pesan dari Friza. Meski ada kekecewaan yang ia rasakan, tapi tanpa membuang waktu Kinan segera membalas pesan itu, jarinya lincah menekan keypad handphone.
To : +628564224xxxx
Iya Za, gue juga :( yaudh have a nice dream too :) 20 hari lagi gue pulang! Yey! :D tunggu gue! :D
Setelah pesan terkirim. Kinan meletakkan handphone itu di sebelah kanan tubuhnya. Ada senyum tersungging di bibir Kinan. Percakapan tadi sedikit banyak mengobati kerinduannya pada Friza.
Lama kelamaan kantuk mulai menggelayut di mata Kinan, hingga tanpa sadar Kinan tertidur pulas di kamar Ka Ilya.
•••
Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Kinan masih penasaran dengan lagu yang Friza sebutkan. Setiap hari dia bertanya pada teman kelas dan teman asramany, barangkali di antara mereka ada yang tau lagu itu, tapi hasilnya nihil. Tak satupun dari teman Kinan yang tau.
"Emang kaya gimana sih Nan lagunya?" Lida, teman sebangku Kinan sampai ikut penasaran dengan lagu itu.
Kinan mengangkat bahu, tanda tak tahu.
Saat itu jam istirahat pertama, Kinan dan Lida sedang memesan makanan di kantin sekolah. Seperti biasa Kinan memesan jus alpukat penuh dengan susu coklat sedangkan Lida memesan satu gelas es jeruk.
Kinan dan Lida berteman cukup akrab. Sudah dari dulu, sejak pertama kali masuk sekolah ini, mereka selalu mendapatkan kelas yang sama, apalagi dua tahun terakhir mereka memilih untuk duduk satu bangku. Jadi wajar saja kalau Kinan sering berbagi banyak hal ke Lida seperti dia berbagi ke Usi.
"Tanya aja sama anak kelas sebelah, si Zaza. Dia kan up to date banget tuh sama lagu-lagu keluaran baru."
"Oiya!" Kinan menepuk keningnya sendiri. "Kok gue ga kepikiran gitu ya? Hehe. Thanks Da."
"Iye sama-sama, tapi lo kudu bayarin es jeruk gue ini, hahaha."
"Ngeselin lo! Haha" Kinan melempar sedotan di gelasnya ke arah Lida. Untung Lida cekatan menghindar, sehingga dia semakin senang meledek Kinan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka bergegas menuju kelas karna sebentar lagi waktu istirahat habis.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saat akan menaiki anak tangga sekolah, berhubung kelas Kinan di lantai dua, dari arah berlawanan ada Zaza dan teman kelasnya sedang menuju ke bawah.
"Tuh dia si Zaza, Nan." Celetuk Lida.
Zaza tersenyum ke arah Kinan dan Lida, mereka pun balas tersenyum.
"Abis dari kantin ya?" Tanya Zaza saat mereka hanya berjarak satu anak tangga.
"Iya." Jawab Kinan dan Lida kompak.
"Eh Za, gue mau tanya lagu sama lo dong." Kinan langsung ke inti pembicaraan.
"Lagu? Lagu apa?" Tanya Zaza heran, tumben-tumbenan Kinan nanyain tentang lagu kepada dirinya.
"Lagunya St 12 yang baru, tau?" Giliran Lida yang bertanya.
"Emm, oh iya tau. Ntar ya pulang sekolah gue kasih tau. Gue mau ke toilet dulu, kepepet, hehe."
Kinan dan Lida langsung tertawa mendengar jawaban Zaza. Kasian Zaza, lagi buru-buru ke toilet malah diajak ngerumpi.
Tanpa menunggu jawaban Kinan dan Lida, Zaza setengah berlari meninggalkan mereka berdua yang masih menertawainya.
•••
♫ kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan air mata
Kekecewaanku sungguh tak berarah
Biarkanku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah ♫
"Ini kan Nan lagunya?" Tanya Zaza setelah lagu itu selesai diputar.
Bukannya menjawab pertanyaan, Kinan malah menangis.
"Kok lo nangis?" Tanya Zaza lagi.
"Engga kok Za." Kinan mengusap pipinya yang basah. "Makasih ya, Za. Pulang yuk."
Zaza yang masih tak mengerti hanya mengekor di belakang Kinan, menuruni anak tangga satu persatu. Setelah sampai di bawah Kinan dan Zaza berpisah, karna rute mereka berbeda.
"Gue duluan ya, Nan." Pamit Zaza.
Kinan hanya menganggukkan kepala pelan. Fikirannya masih terisi penuh dengan lagu yang tadi didengarkannya.
"Pantesan aja Friza nangis. Lagunya dia banget gitu." Gumam Kinan dalam hati.
Selama perjalanan pulang, Kinan hanya menundukkan kepala, lesu. Sampai orang-orang yang melihat Kinan pun memandang aneh ke arahnya.
Saat memasuki gerbang asrama, Kinan disapa oleh kaka seniornya di asrama. Kinan yang sedang malas, hanya tersenyum simpul. Lalu bergegas menuju kamar. Kaka senior Kinan menggelengkan kepala melihat tingkah Kinan yang mulai aneh lagi.
"Brukk!!" Kinan melempar buku sekolahnya asal di atas meja belajar sesampainya ia di dalam kamar. Tanpa mengucap salam seperti biasanya.
Usi yang sedang merapikan isi lemari tersentak kaget, lantas memandang ke arah Kinan penuh tanda tanya. "Kenapa lagi itu bocah satu?" Batin Usi.
Setelah bukunya, giliran tubuh Kinan yang di hempaskan keras di atas tempat tidur. Kinan menutupi wajah dengan bantal monokuro boo kesayangannya. Terdengar suara jeritan Kinan yang tertahan bantal.
Usi yang hawatir langsung menghampiri Kinan. "Lo kenapa Nan?"
Tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara isakkan Kinan dari bawah bantal. Usi mencoba mengambil bantal dari wajah Kinan, tapi tangan Kinan langsung menepisnya.
"Kenapa sih lo? Aneh banget!" Usi mulai kesal melihat tingkah Kinan yang aneh.
"Gue abis dengerin lagu itu. Huaaaa, sedih banget gue!" Teriak Kinan sambil tetap menangis, untung saja wajah Kinan masih tertutup bantal. Kalau tidak, pasti sudah ada kaka senior yang menghampiri kamar mereka karna teriakan Kinan barusan.
"Diss, cengeng banget sih lo! Denger lagu aja sampe nangis bombay gitu." Usi mendengus sebal, lalu beranjak menuju lemari lagi.
"Eh Nan, dengerin gue ya. Ngapain lo nangis bombay gitu, emang si penyanyinya tau? Emang dia mau tanggung jawab sama aer mata lo yang udah kebuang percuma gitu? Jangan cengeng Nan. Dunia belom kiamat kok, lo masih punya kesempatan milikin Friza, jadi ngapain lo nangis?" Celoteh Usi panjang lebar.
Kinan mendesis kesal sembari melempar bantal yang dia gunakan menutupi wajahnya ke arah Usi. "Bawel lo!"
Karna tak sempat menghindar, kepala Usi menjadi sasaran empuk si bantal.
"Aduh! Sial lo, Nan!" Usi mengusap kepalanya yang sakit.
"Rasain! Weeek!"
"Eh Nan, keluar yuk beli makanan, laper gue."
"Emang di kantin kagak ada makanan?"
"Ada sih, tapi males gue gitu-gitu mulu masakannya."
"Ga bersyukur lo! Males ah. Gue mau tidur, bhaay." Kinan menelungkupkan badannya, bersiap untuk tidur.
Usi menggerutu kesal. Kinan memang terkadang sangat menyebalkan. Tapi tetep, mau semenyebalkan apa pun Kinan, Usi tetap menyayangi Kinan. Karna bagi Usi, Kinan tak hanya sekedar teman, dia sahabat bahkan saudara bagi Usi.
Setelah pekerjaannya selesai ahirnya Usi memutuskan pergi keluar sendirian, karna Kinan telah tertidur pulas.
Jumat, 18 Juli 2014
Senin, 14 Juli 2014
pentas seni
Kegiatan Kinan kembali seperti biasanya di asrama, yang berbeda adalah sikap Kinan. Teman-teman Kinan menyadari perubahan sikap Kinan. Usi yang menjadi teman paling dekat Kinan di asrama mengangkat bahu tanda tak tau, saat teman-teman yang lain menanyakan soal perubahan Kinan.
Dulu Kinan adalah sosok yang ceria. Pertama kali masuk asrama, Kinan yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, padahal teman-teman Kinan masih sering sedih ingin pulang ke rumah. Kinan memang termasuk orang yang supel, dia bisa dekat dengan siapa pun meski baru mengenal.
Tapi Kinan yang sekarang adalah Kinan yang berbeda 180 derajat dengan Kinan yang dulu. Kinan menjadi pendiam dan lebih sering terlihat murung. Kinan juga jarang menyapa teman-temannya, tak sering seperti yang dulu dia lakukan. Biasanya dimana ada Kinan disitu selalu ada keceriaan.
Sore ini usai melakukan kegiatan yang melelahkan, Usi sebagai teman dekat Kinan mencoba menanyakan alasan kenapa Kinan menjadi seperti sekarang. Dia mendekati Kinan yang sedang duduk di sudut kamar dengan tatapan kosong.
"Nan, kenapa?"
Kinan tak menjawab.
Pelan Usi menyentuh bahu Kinan. "Nan, lo ada masalah?" Tanya Usi lagi.
Kinan mengusap wajahnya. Sadar dari lamunannya. Kinan menoleh ke arah Usi.
"Eh, elo Si, gue kira siapa." Kinan tersenyum kaku.
Usi duduk di sebelah Kinan. "Lo ada masalah? Cerita dong sama gue, Nan."
Kinan memainkan jemari tangannya yang kecil.
"Gue ga ada masalah kok, Si." Kinan tidak berbohong, Kinan memang tidak ada masalah. Kalau pun iya ini mau di sebut sebagai masalah, masalah ini adalah masalah terkonyol yang pernah ada. Kinan merindukan Friza. Kinan tertunduk lesu.
"Boong kalo lo ga ada masalah perubahan lo segini drastisnya."
Kinan merasa terpojok dengan ucapan Usi. Ahirnya dia memutuskan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di rumah.
Pertemuannya dengan Friza kembali. Acara pernikahan tante Ela dan Mas Anu. Pesan-pesan singkat yang penuh cerita. Waktu yang Kinan dan Friza habiskan di percakapan lewat udara. Dan terahir tentang pertemuan terahir mereka di malam persami itu. Singkatnya Kinan merindukan Friza.
Kinan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu di samping Usi. Usi yang telah mengerti duduk permasalahan Kinan hanya bisa merangkul bahu Kinan.
"Sabar Nan.." Usi mencoba menguatkan Kinan. Bagaimana pun juga meninggalkan orang yang berarti buat kita sama beratnya dengan yang ditinggalkan, sakit.
"Gue kangen dia, Si." Kinan belum bisa mengahiri tangisannya.
Usi mengeratkan rangkulannya di bahu Kinan. Dia ikut menitikkan air mata. Usi juga pernah merasakan seperti yang Kinan rasakan, meski tak separah Kinan.
"Kinan, lo nangis?" Tiba-tiba sudah berdiri Ka Ilya di pintu kamar Kinan. Ka Ilya adalah salah satu kakak senior Kinan dan Usi. Ka Ilya langsung mendekat dan duduk di depan Kinan.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Ilya yang menghawatirkan Kinan.
Kinan mengusap air mata yang membekas di pipinya. "Gak apa-apa ka."
Ka Ilya menatap Usi, memastikan kebenarannya.
"Dia kangen temen-temennya di rumah." Usi mengusap-usap bahu Kinan. "Padahal di sini masih ada kita ya ka?" Usi meminta persetujuan Ka Ilya.
Ka Ilya tertawa. "Nan, Nan. Lo kan udah mau 3 tahun di sini. Kenapa nangisnya baru sekarang? Itu mah bukan temen kali, pacar ya?" Ka Ilya mengerlingkan matanya ke arah Kinan.
Kinan ikut tertawa. Sebelum sempat Kinan menanggapi perkataan Ka Ilya. Ka Ilya meneruskan perkataannya.
"Tenang, Nan. Kalo lo emang kangen mereka lo kan bisa cerita ke gue sama Usi, ya Si?"
Usi menganggukkan kepalanya.
"Lo masih punya kita, Nan. Tenang."
Kinan terharu melihat ketulusan Usi dan Ka Ilya. Dia sadar tak semestinya dia semenyedihkan ini, merindukan teman-temannya di rumah. Karna di sini Kinan juga memiliki teman-teman yang tak kalah baiknya dengan yang Kinan miliki di rumah. Ahirnya Kinan memeluk Ka Ilya dan Usi erat, dia merasa beruntung memiliki mereka di sini.
•••
Beberapa hari setelah kejadian itu. Kinan sedikit demi sedikit mulai ceria seperti dulu. Teman-teman Kinan ikut senang melihat Kinan yang kembali ceria. Apalagi Usi dan Ka Ilya, mereka orang yang paling senang melihat Kinan seperti dulu lagi.
Seperti yang terjadi hari ini. Sepulang sekolah Kinan dan Usi berencana pergi ke toko buku. Kinan ingin membeli buku diary. Katanya sih biar bisa corat-coret isi hatinya, berhubung hobi Kinan memang tulis menulis.
Sebelum ke toko buku Kinan berhenti di depan warung telepon.
"Kok berhenti, Nan?" Tanya Usi.
"Gue pengin telepon Friza, Si." Kinan menunjuk ke dalam warung telepon itu.
"Lo yakin setelah ini ga bakal sedih lagi?" Usi mulai menghawatirkan Kinan.
"Gue ga bakal sedih lagi kok, gue kan cuma mau denger suara dia. Lagian ntar kalo gue sedih kan gue bisa cerita sama lo, ya kan?" Kinan tersenyum meyakinkan.
Usi pasrah saja dengan keinginan Kinan. Ahirnya mereka melangkah masuk ke dalam warung telepon.
"Lo mau ikut masuk ke bilik apa engga, Si?"
"Engga deh, gue di sini aja, Nan."
"Oke, bentar ya."
Kinan melangkah masuk ke dalam bilik telepon yang sudah disediakan. Tak menunggu lama jemari Kinan sudah lincah menekan nomor telepon Friza. Kinan yang sudah hafal nomor Friza di luar kepala tak perlu lagi membuka buku catatan nomor telepon yang dia punya.
♫ kasih genggamlah tanganku, dan tatap mataku betapa aku mencintaimu, katakanlah saat ini sayang bahwa kau hanya milikku, milikku.. ♫
Terdengar RBT dari gagang telepon yang di genggam Kinan. Daridulu memang nada sambung pribadi milik Friza adalah lagu ini, karena Kinan pernah bilang ke Friza kalau dia suka lagu ini.
"Ayo dong Za, angkat dong!" Kinan mulai gelisah menunggu.
Berkali-kali di tekannya tombol recall, namun tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
Usi yang melihat kegelisan Kinan segera mendekat ke arah Kinan.
"Kenapa Nan, ga diangkat?"
Kinan meletakkan gagang telepon dengan lesu. "Iya, Si."
Terdengar helaan nafas Usi. "Yaudah kita ke toko buku dulu aja, ntar pulangnya ke sini lagi."
Mau tak mau Kinan menuruti saran Usi juga. Meski tak di pungkiri sekarang mendung menggelayut di wajahnya.
Seusai mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka bergegas kembali ke asrama. Saat melewati warung telepon yang tadi mereka masuki, Usi menghentikan langkahnya. Kinan yang berjalan di belakang Usi tak menyadari karna dia sedang asik dengan lamunannya sehingga Kinan menubruk Usi dari belakang.
"Duh! Kok berhenti, Si? Sakit kan kepala gue." Kinan menggerutu sembari memegang keningnya yang nyeri.
"Makanya kalau jalan jangan sambil ngelamun!" Balas Usi cepat. "Lo jadi telepon Friza ga?"
Kinan memandang ke dalam warung telepon, sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ga jadi, Si. Pulang aja yuk, udah ga pengin gue."
"Yakin lo?"
"Elah, ga percayaan amat sama gue." Kinan menarik lengan Usi menjauh dari warung telepon dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah apa yang difikirkan Kinan. Awalnya dia memang sangat ingin mendengar suara Friza. Tapi sepanjang perjalanan menuju toko buku, Kinan merasa tak ada gunanya dia menelepon Friza. Tak ada bedanya menelepon Friza atau tidak, karna yang ada Kinan malah semakin merindukan Friza.
•••
Kinan sedang sibuk menghias panggung di aula asrama. Malam ini akan diadakan pentas seni. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia asrama Kinan mengadakan berbagai kegiatan dan lomba. Puncaknya adalah pementasan kreasi penghuni asrama.
Berbagai macam hiasan sudah Kinan pasang di sepanjang tepian aula. Tak lupa balon hias aneka warna Kinan pasang semakin menyemarakkan kondisi panggung. Tinggal beberapa sudut lagi yang harus Kinan hias. Tapi Kinan tak sendirian mengerjakannya, ada Ka Amal teman seasrama Kinan.
"Nan, ini gimana?" Ka Amal sedang membuat hiasan bunga dari kertas origami.
"Sebentar Ka. Bentar lagi gue selese." Kinan memasang balon terahir yang dipegangnya.
Setelah rapi, Kinan bergegas menghampiri Ka Amal.
"Wuih, keren Ka! Gimana cara buatnya? Ajarin dong!" Kinan berdecak kagum.
"Ada deh.." Ka Amal tertawa jahil. "Tapi gimana? Bagus kan?" Lanjutnya.
Kinan mengacungkan dua jempolnya. Lalu mereka tertawa bersama karna ahirnya bisa menyelesaikan tugas mereka menghias panggung.
Mereka merapikan sisa-sisa potongan kertas yang banyak berserakan di sekitar panggung. Pekerjaan mereka tak boleh menyisakan sampah, mengingat acara akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Tanpa terasa sebulan terahir belakangan Kinan sibuk dengan kegiatannya di asrama dan di sekolah. Apalagi sekarang Kinan menjadi salah satu panitia peringatan HUT kemerdekaan. Tapi bukan berarti dengan kegiatannya yang menggunung Kinan sudah melupakan Friza. Dia masih sering memikirkan Friza, bahkan semakin banyak waktu Kinan yang tersita untuk memikirkan Friza. Kabar baiknya, Kinan tak murung lagi, dia sibuk menuliskan isi hatinya di diary yang dulu dia beli.
Kadang Kinan merasa sedih saat bayangan Friza terlintas. Tapi Kinan selalu menepisnya. Dia lebih senang mengingat Friza dengan senyuman daripada tangisan, meski ada saatnya juga Kinan menitikkan air matanya. Seperti sekarang ini..
Kinan menghempaskan tubuhnya di lantai loteng atas asramanya. Tempat ini sering digunakan anak-anak asrama untuk menjemur pakaian mereka, karna tempatnya yang lapang dan tak ada penutup atapnya cocok untuk mendapatkan sinar matahari. Berbeda dengan Kinan, dia sering kesini bukan untuk menjemur pakaian, tapi untuk mencari ketenangan. Suasananya yang sepi serta semilir angin yang lembut menyentuh kulit, pas sekali untuk sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kinan teringat Friza. Sudah hampir dua bulan Kinan tak mengabari Friza. Ada rindu yang menjalar di relung hatinya. Kinan memejamkan mata, sekarang dia asik dengan bayangan Friza. Dia tak peduli dengan hiruk pikuk di aula asramanya, yang Kinan rasa sekarang dia ingin menikmati rindunya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Usi dan Ka Ilya mencari-cari Kinan, karna semenjak sore hari Kinan tak menampakkan batang hidungnya. Mereka bertanya ke semua orang yang ditemui, tapi tak ada satupun yang tau keberadaan Kinan.
"Kinan, kemana sih lo?" Usi mendesis. Dia meremas jemari tangannya sendiri. Terlihat sekali raut gelisah di wajahnya.
Ka Ilya tak kalah gelisahnya dengan Usi, dia sibuk menatap sekeliling. Berharap menemukan sosok Kinan.
Dari arah belakang terdengar suara Ka Amal memanggil mereka.
"Lo berdua masih nyari Kinan?" Tanya Ka Amal setelah Ka Ilya dan Usi menghampirinya.
Mereka mengangguk pelan.
"Tuh bocahnya." Ka Ilya dan Usi langsung melihat ke arah yang ditunjukkan. Di sana ada Kinan sedang bersandar di salah satu tiang aula menikmati acara. Mereka langsung bergegas mendekati Kinan.
Tanpa basa-basi mereka langsung mencubit pipi Kinan gemas.
"Aww, aww!" Kinan mengaduh.
"Lo kemana aja sih?!" Gerutu ka Ilya.
"Iya, kemana aja lo?! Kita dari tadi nyariin tau!" Usi mengamini ucapan Ka Ilya.
Kinan terkekeh-kekeh melihat raut wajah kedua sahabatnya. Ka Ilya dan Usi mendengus sebal melihat tawa Kinan. Hampir saja pipi Kinan menjadi sasaran kegemasan mereka lagi kalau saja dia tak segera menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Gue abis dari loteng."
"Ngapain?" Sahut ka Ilya.
"Duduk doang, gue kangen Friza." Jawab Kinan lesu.
"Emang kalo lo duduk di sana tau-tau kangen lo ilang gitu?"
"Iye, emang dia bakal nyamperin lo ke loteng?" Usi ikut menimpali ucapan Ka Ilya.
"Yaa, engga juga sih." Kinan terpojok. "Seengganya gue bisa nenangin diri gue sendiri."
Mereka terdiam menatap kosong ke arah panggung acara. Tak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Kinan menghentak-hentakan kakinya ke lantai seirama dengan nada yang terdengar. Usi memilin-milin ujung pakaiannya, sedangkan Ka Ilya sama seperti Kinan.
"Ilya, ada bokap nyokap lo tuh di depan." Suara Ka Amal yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka bertiga.
Ka Ilya mengusap wajahnya yang pias.
"Oke, makasih ka." Sahut Ka Ilya. "Gue pergi dulu." Pamit Ka Ilya ke Kinan dan Usi. Mereka menganggukkan kepala kompak.
•••
Kinan gemetar mengenggam handphone ka Ilya. Tadi Ka Ilya memanggil Kinan untuk masuk ke kamar ka Ilya. Ternyata Ka Ilya memberikan handphone miliknya, karna sedang dijenguk orangtua jadi ka Ilya boleh membawa handphone.
Semula Kinan terkejut. Dia merasa tak enak kalau harus menggunakan handphone ka Ilya. Tapi ka Ilya meyakinkan Kinan untuk segera menghubungi Friza. Ahirnya Kinan tak bisa menolak tawaran Ka Ilya.
Tiga puluh menit berlalu, Kinan hanya memandangi barisan nomor Friza di layar handphone. Dia ragu-ragu menekan tombol panggil, karna waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Kinan takut menganggu Friza. Tapi kemudian Kinan mengetik sesuatu.
Send to : 08564224xxxx
Selamat tidur ya, Za. Have a nice dream :)
Kinan
Ia menekan tombol send. Setelah pesan itu terkirim, ia menghela nafas. Tak lama kemudian dilihatnya layar handphone menyala.
Ada satu pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Kinan langsung membacanya.
From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Dulu Kinan adalah sosok yang ceria. Pertama kali masuk asrama, Kinan yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, padahal teman-teman Kinan masih sering sedih ingin pulang ke rumah. Kinan memang termasuk orang yang supel, dia bisa dekat dengan siapa pun meski baru mengenal.
Tapi Kinan yang sekarang adalah Kinan yang berbeda 180 derajat dengan Kinan yang dulu. Kinan menjadi pendiam dan lebih sering terlihat murung. Kinan juga jarang menyapa teman-temannya, tak sering seperti yang dulu dia lakukan. Biasanya dimana ada Kinan disitu selalu ada keceriaan.
Sore ini usai melakukan kegiatan yang melelahkan, Usi sebagai teman dekat Kinan mencoba menanyakan alasan kenapa Kinan menjadi seperti sekarang. Dia mendekati Kinan yang sedang duduk di sudut kamar dengan tatapan kosong.
"Nan, kenapa?"
Kinan tak menjawab.
Pelan Usi menyentuh bahu Kinan. "Nan, lo ada masalah?" Tanya Usi lagi.
Kinan mengusap wajahnya. Sadar dari lamunannya. Kinan menoleh ke arah Usi.
"Eh, elo Si, gue kira siapa." Kinan tersenyum kaku.
Usi duduk di sebelah Kinan. "Lo ada masalah? Cerita dong sama gue, Nan."
Kinan memainkan jemari tangannya yang kecil.
"Gue ga ada masalah kok, Si." Kinan tidak berbohong, Kinan memang tidak ada masalah. Kalau pun iya ini mau di sebut sebagai masalah, masalah ini adalah masalah terkonyol yang pernah ada. Kinan merindukan Friza. Kinan tertunduk lesu.
"Boong kalo lo ga ada masalah perubahan lo segini drastisnya."
Kinan merasa terpojok dengan ucapan Usi. Ahirnya dia memutuskan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di rumah.
Pertemuannya dengan Friza kembali. Acara pernikahan tante Ela dan Mas Anu. Pesan-pesan singkat yang penuh cerita. Waktu yang Kinan dan Friza habiskan di percakapan lewat udara. Dan terahir tentang pertemuan terahir mereka di malam persami itu. Singkatnya Kinan merindukan Friza.
Kinan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu di samping Usi. Usi yang telah mengerti duduk permasalahan Kinan hanya bisa merangkul bahu Kinan.
"Sabar Nan.." Usi mencoba menguatkan Kinan. Bagaimana pun juga meninggalkan orang yang berarti buat kita sama beratnya dengan yang ditinggalkan, sakit.
"Gue kangen dia, Si." Kinan belum bisa mengahiri tangisannya.
Usi mengeratkan rangkulannya di bahu Kinan. Dia ikut menitikkan air mata. Usi juga pernah merasakan seperti yang Kinan rasakan, meski tak separah Kinan.
"Kinan, lo nangis?" Tiba-tiba sudah berdiri Ka Ilya di pintu kamar Kinan. Ka Ilya adalah salah satu kakak senior Kinan dan Usi. Ka Ilya langsung mendekat dan duduk di depan Kinan.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Ilya yang menghawatirkan Kinan.
Kinan mengusap air mata yang membekas di pipinya. "Gak apa-apa ka."
Ka Ilya menatap Usi, memastikan kebenarannya.
"Dia kangen temen-temennya di rumah." Usi mengusap-usap bahu Kinan. "Padahal di sini masih ada kita ya ka?" Usi meminta persetujuan Ka Ilya.
Ka Ilya tertawa. "Nan, Nan. Lo kan udah mau 3 tahun di sini. Kenapa nangisnya baru sekarang? Itu mah bukan temen kali, pacar ya?" Ka Ilya mengerlingkan matanya ke arah Kinan.
Kinan ikut tertawa. Sebelum sempat Kinan menanggapi perkataan Ka Ilya. Ka Ilya meneruskan perkataannya.
"Tenang, Nan. Kalo lo emang kangen mereka lo kan bisa cerita ke gue sama Usi, ya Si?"
Usi menganggukkan kepalanya.
"Lo masih punya kita, Nan. Tenang."
Kinan terharu melihat ketulusan Usi dan Ka Ilya. Dia sadar tak semestinya dia semenyedihkan ini, merindukan teman-temannya di rumah. Karna di sini Kinan juga memiliki teman-teman yang tak kalah baiknya dengan yang Kinan miliki di rumah. Ahirnya Kinan memeluk Ka Ilya dan Usi erat, dia merasa beruntung memiliki mereka di sini.
•••
Beberapa hari setelah kejadian itu. Kinan sedikit demi sedikit mulai ceria seperti dulu. Teman-teman Kinan ikut senang melihat Kinan yang kembali ceria. Apalagi Usi dan Ka Ilya, mereka orang yang paling senang melihat Kinan seperti dulu lagi.
Seperti yang terjadi hari ini. Sepulang sekolah Kinan dan Usi berencana pergi ke toko buku. Kinan ingin membeli buku diary. Katanya sih biar bisa corat-coret isi hatinya, berhubung hobi Kinan memang tulis menulis.
Sebelum ke toko buku Kinan berhenti di depan warung telepon.
"Kok berhenti, Nan?" Tanya Usi.
"Gue pengin telepon Friza, Si." Kinan menunjuk ke dalam warung telepon itu.
"Lo yakin setelah ini ga bakal sedih lagi?" Usi mulai menghawatirkan Kinan.
"Gue ga bakal sedih lagi kok, gue kan cuma mau denger suara dia. Lagian ntar kalo gue sedih kan gue bisa cerita sama lo, ya kan?" Kinan tersenyum meyakinkan.
Usi pasrah saja dengan keinginan Kinan. Ahirnya mereka melangkah masuk ke dalam warung telepon.
"Lo mau ikut masuk ke bilik apa engga, Si?"
"Engga deh, gue di sini aja, Nan."
"Oke, bentar ya."
Kinan melangkah masuk ke dalam bilik telepon yang sudah disediakan. Tak menunggu lama jemari Kinan sudah lincah menekan nomor telepon Friza. Kinan yang sudah hafal nomor Friza di luar kepala tak perlu lagi membuka buku catatan nomor telepon yang dia punya.
♫ kasih genggamlah tanganku, dan tatap mataku betapa aku mencintaimu, katakanlah saat ini sayang bahwa kau hanya milikku, milikku.. ♫
Terdengar RBT dari gagang telepon yang di genggam Kinan. Daridulu memang nada sambung pribadi milik Friza adalah lagu ini, karena Kinan pernah bilang ke Friza kalau dia suka lagu ini.
"Ayo dong Za, angkat dong!" Kinan mulai gelisah menunggu.
Berkali-kali di tekannya tombol recall, namun tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
Usi yang melihat kegelisan Kinan segera mendekat ke arah Kinan.
"Kenapa Nan, ga diangkat?"
Kinan meletakkan gagang telepon dengan lesu. "Iya, Si."
Terdengar helaan nafas Usi. "Yaudah kita ke toko buku dulu aja, ntar pulangnya ke sini lagi."
Mau tak mau Kinan menuruti saran Usi juga. Meski tak di pungkiri sekarang mendung menggelayut di wajahnya.
Seusai mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka bergegas kembali ke asrama. Saat melewati warung telepon yang tadi mereka masuki, Usi menghentikan langkahnya. Kinan yang berjalan di belakang Usi tak menyadari karna dia sedang asik dengan lamunannya sehingga Kinan menubruk Usi dari belakang.
"Duh! Kok berhenti, Si? Sakit kan kepala gue." Kinan menggerutu sembari memegang keningnya yang nyeri.
"Makanya kalau jalan jangan sambil ngelamun!" Balas Usi cepat. "Lo jadi telepon Friza ga?"
Kinan memandang ke dalam warung telepon, sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ga jadi, Si. Pulang aja yuk, udah ga pengin gue."
"Yakin lo?"
"Elah, ga percayaan amat sama gue." Kinan menarik lengan Usi menjauh dari warung telepon dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah apa yang difikirkan Kinan. Awalnya dia memang sangat ingin mendengar suara Friza. Tapi sepanjang perjalanan menuju toko buku, Kinan merasa tak ada gunanya dia menelepon Friza. Tak ada bedanya menelepon Friza atau tidak, karna yang ada Kinan malah semakin merindukan Friza.
•••
Kinan sedang sibuk menghias panggung di aula asrama. Malam ini akan diadakan pentas seni. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia asrama Kinan mengadakan berbagai kegiatan dan lomba. Puncaknya adalah pementasan kreasi penghuni asrama.
Berbagai macam hiasan sudah Kinan pasang di sepanjang tepian aula. Tak lupa balon hias aneka warna Kinan pasang semakin menyemarakkan kondisi panggung. Tinggal beberapa sudut lagi yang harus Kinan hias. Tapi Kinan tak sendirian mengerjakannya, ada Ka Amal teman seasrama Kinan.
"Nan, ini gimana?" Ka Amal sedang membuat hiasan bunga dari kertas origami.
"Sebentar Ka. Bentar lagi gue selese." Kinan memasang balon terahir yang dipegangnya.
Setelah rapi, Kinan bergegas menghampiri Ka Amal.
"Wuih, keren Ka! Gimana cara buatnya? Ajarin dong!" Kinan berdecak kagum.
"Ada deh.." Ka Amal tertawa jahil. "Tapi gimana? Bagus kan?" Lanjutnya.
Kinan mengacungkan dua jempolnya. Lalu mereka tertawa bersama karna ahirnya bisa menyelesaikan tugas mereka menghias panggung.
Mereka merapikan sisa-sisa potongan kertas yang banyak berserakan di sekitar panggung. Pekerjaan mereka tak boleh menyisakan sampah, mengingat acara akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Tanpa terasa sebulan terahir belakangan Kinan sibuk dengan kegiatannya di asrama dan di sekolah. Apalagi sekarang Kinan menjadi salah satu panitia peringatan HUT kemerdekaan. Tapi bukan berarti dengan kegiatannya yang menggunung Kinan sudah melupakan Friza. Dia masih sering memikirkan Friza, bahkan semakin banyak waktu Kinan yang tersita untuk memikirkan Friza. Kabar baiknya, Kinan tak murung lagi, dia sibuk menuliskan isi hatinya di diary yang dulu dia beli.
Kadang Kinan merasa sedih saat bayangan Friza terlintas. Tapi Kinan selalu menepisnya. Dia lebih senang mengingat Friza dengan senyuman daripada tangisan, meski ada saatnya juga Kinan menitikkan air matanya. Seperti sekarang ini..
Kinan menghempaskan tubuhnya di lantai loteng atas asramanya. Tempat ini sering digunakan anak-anak asrama untuk menjemur pakaian mereka, karna tempatnya yang lapang dan tak ada penutup atapnya cocok untuk mendapatkan sinar matahari. Berbeda dengan Kinan, dia sering kesini bukan untuk menjemur pakaian, tapi untuk mencari ketenangan. Suasananya yang sepi serta semilir angin yang lembut menyentuh kulit, pas sekali untuk sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kinan teringat Friza. Sudah hampir dua bulan Kinan tak mengabari Friza. Ada rindu yang menjalar di relung hatinya. Kinan memejamkan mata, sekarang dia asik dengan bayangan Friza. Dia tak peduli dengan hiruk pikuk di aula asramanya, yang Kinan rasa sekarang dia ingin menikmati rindunya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Usi dan Ka Ilya mencari-cari Kinan, karna semenjak sore hari Kinan tak menampakkan batang hidungnya. Mereka bertanya ke semua orang yang ditemui, tapi tak ada satupun yang tau keberadaan Kinan.
"Kinan, kemana sih lo?" Usi mendesis. Dia meremas jemari tangannya sendiri. Terlihat sekali raut gelisah di wajahnya.
Ka Ilya tak kalah gelisahnya dengan Usi, dia sibuk menatap sekeliling. Berharap menemukan sosok Kinan.
Dari arah belakang terdengar suara Ka Amal memanggil mereka.
"Lo berdua masih nyari Kinan?" Tanya Ka Amal setelah Ka Ilya dan Usi menghampirinya.
Mereka mengangguk pelan.
"Tuh bocahnya." Ka Ilya dan Usi langsung melihat ke arah yang ditunjukkan. Di sana ada Kinan sedang bersandar di salah satu tiang aula menikmati acara. Mereka langsung bergegas mendekati Kinan.
Tanpa basa-basi mereka langsung mencubit pipi Kinan gemas.
"Aww, aww!" Kinan mengaduh.
"Lo kemana aja sih?!" Gerutu ka Ilya.
"Iya, kemana aja lo?! Kita dari tadi nyariin tau!" Usi mengamini ucapan Ka Ilya.
Kinan terkekeh-kekeh melihat raut wajah kedua sahabatnya. Ka Ilya dan Usi mendengus sebal melihat tawa Kinan. Hampir saja pipi Kinan menjadi sasaran kegemasan mereka lagi kalau saja dia tak segera menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Gue abis dari loteng."
"Ngapain?" Sahut ka Ilya.
"Duduk doang, gue kangen Friza." Jawab Kinan lesu.
"Emang kalo lo duduk di sana tau-tau kangen lo ilang gitu?"
"Iye, emang dia bakal nyamperin lo ke loteng?" Usi ikut menimpali ucapan Ka Ilya.
"Yaa, engga juga sih." Kinan terpojok. "Seengganya gue bisa nenangin diri gue sendiri."
Mereka terdiam menatap kosong ke arah panggung acara. Tak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Kinan menghentak-hentakan kakinya ke lantai seirama dengan nada yang terdengar. Usi memilin-milin ujung pakaiannya, sedangkan Ka Ilya sama seperti Kinan.
"Ilya, ada bokap nyokap lo tuh di depan." Suara Ka Amal yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka bertiga.
Ka Ilya mengusap wajahnya yang pias.
"Oke, makasih ka." Sahut Ka Ilya. "Gue pergi dulu." Pamit Ka Ilya ke Kinan dan Usi. Mereka menganggukkan kepala kompak.
•••
Kinan gemetar mengenggam handphone ka Ilya. Tadi Ka Ilya memanggil Kinan untuk masuk ke kamar ka Ilya. Ternyata Ka Ilya memberikan handphone miliknya, karna sedang dijenguk orangtua jadi ka Ilya boleh membawa handphone.
Semula Kinan terkejut. Dia merasa tak enak kalau harus menggunakan handphone ka Ilya. Tapi ka Ilya meyakinkan Kinan untuk segera menghubungi Friza. Ahirnya Kinan tak bisa menolak tawaran Ka Ilya.
Tiga puluh menit berlalu, Kinan hanya memandangi barisan nomor Friza di layar handphone. Dia ragu-ragu menekan tombol panggil, karna waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Kinan takut menganggu Friza. Tapi kemudian Kinan mengetik sesuatu.
Send to : 08564224xxxx
Selamat tidur ya, Za. Have a nice dream :)
Kinan
Ia menekan tombol send. Setelah pesan itu terkirim, ia menghela nafas. Tak lama kemudian dilihatnya layar handphone menyala.
Ada satu pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Kinan langsung membacanya.
From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Langganan:
Postingan (Atom)