Kamis, 26 Juni 2014

soal pertemuan.. (2)

Tanpa terasa hampir dua tahun berlalu sejak pertama kali Kinan mengagumi Friza. Kini Kinan sudah beranjak remaja, mulai masuk ke sekolah menengah pertama. Tapi sejauh ini tak ada yang berubah, Kinan masih mengagumi Friza tanpa berani mengatakannya langsung ke Friza.

Sore ini seperti biasa Kinan dan Dina pergi ke pematang sawah di belakang komplek rumah mereka. Mereka asik dengan fikiran masing-masing. Lusa, Kinan akan pergi ke asrama di kota seberang.

Hanya suara semilir angin yang membelai lembut rambut panjang mereka. Terlihat mata Dina yang berkaca-kaca, dia tak menyangka akan kehilangan Kinan secepat ini. Rasanya ingin menangis saja, tapi Dina bersikeras tak ingin menangis di depan Kinan. Kinan pun sama seperti Dina, terdiam, masih tak percaya harus pergi lusa.

"Lo yakin Nan mau pergi?" Lirih Dina bertanya, nyaris tak terdengar.

Kinan menganggukkan kepala pelan.

"Lo mau ninggalin gue?" Dina hampir menangis, bulir bening telah mengumpul disudut matanya.

"Ntar gue juga balik lagi kok Din.." Kinan menjawab tak kalah lirih.

Dina menghela nafas.

"Gue ga ada temen main dong, Nan.."

"Kan masih ada Lusi sama Ema." Kinan menoleh ke arah Dina. Melihat sahabatnya hampir menangis, Kinan ikut sedih.

"Tapi ga ada yang sebaik lo!" Suara Dina mengeras.

Kinan terenyak. Dia sadar betul selama ini dia dan Dina sangat akrab, mengalahkan saudara, kemana-mana berdua. Bahkan dengan Lusi dan Ema, mereka ga ada apa-apanya dibanding Dina dan Kinan.

"Gue janji bakal sering ngirim surat ke lo kalau gue udah sampe sana."

Dina tersenyum mendengar perkataan Kinan, tapi kemudian dia teringat sesuatu.

"Eh Nan. Friza gimana?"

"Friza.." Kinan ragu-ragu menjawab. Lagipula apanya yang bagaimana. Toh selama hampir dua tahun ini ga pernah ada apa-apa di antara Kinan dan Friza. Malah mungkin Friza gatau Kinan suka dia atau lebih parahnya Friza ga kenal Kinan!

Kinan menggelengkan kepala.

Selama hampir dua tahun terahir yang Kinan lakukan hanya mengamati Friza dari jauh. Menghawatirkan bila sesuatu yang buruk terjadi padanya atau ikut senang bila sesuatu yang baik terjadi padanya. Sebatas itu, tak pernah lebih. Kinan juga belum bisa memastikan kalau perasaan yang Kinan rasakan saat ini ke Friza adalah cinta. Kinan belum tau..

"Ah, gue gatau Din." Kinan menerawang ke hamparan padi di depannya. Senyum Friza, tawa kecil Friza, langkah kaki Friza, rambut tertiup angin miliknya terbayang sudah. Tiba-tiba Kinan takut kehilangan, tapi entah apa..

"Lo yakin gak mau ngomong soal perasaan lo ke dia?"

Kinan tak bergeming.

Dina merapikan poni yang mulai menutupi matanya. "Apa lo ga takut kehilangan dia, Nan? Yaa.. Walaupun selama ini juga lo ga pernah memiliki dia."

"Itu masalahnya Din, gue ga pernah memiliki dia.."

"Loh? Kok jadi gitu? Gimana lo bisa milikin dia kalo lo ga pernah ngomongin perasaan lo ke dia?" Dina menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya sahabatnya bisa bicara seaneh tadi.

"Eh Nan, dengerin gue ya." Diguncangnya bahu Kinan. "Lo mau pergi ke asrama dan gatau pulangnya kapan, lo bayangin ga selama apa lo di sana, apa yang bakal lo lakuin kalo nanti pas lo pulang tau-tau Friza udah punya cewe di sini? Lo bakal ngerasain apa?"

Terbayang sudah ucapan Dina. Kinan melihat Friza bersama wanita lain, bercanda bersama. Wanita itu bisa membuat Friza tertawa lepas, bercerita banyak hal, menghayalkan masa depan. Fikiran Kinan kacau, di dalam hatinya ada yang sakit. Seakan memaksanya untuk teriak sekeras yang dia bisa. Tapi Kinan malah hanya terdiam di sini. Egonya lebih tinggi dari perasaannya ke Friza.

"Ogah ah, Din. Gue ga mungkin nyatain perasaan gue ke dia." Kinan berdiri dari duduknya. "Pulang yuk udah mau malem nih." Ajaknya ke Dina.

"Payah lo!" Dina menguntit Kinan dari belakang.

Selama perjalan pulang tak dipungkiri, Kinan masih memikirkan kata-kata Dina.

Apa dia siap kehilangan Friza padahal belum sempat memiliki?

Apa dia bisa melihat Friza bersama wanita lain padahal dua tahun ini dia slalu memikirkan Friza?

Apa dia bisa melupakan Friza padahal hatinya sangat mengingkan Friza ada di sampingnya?

Kinan tak henti-hentinya bertanya sampai sesak merajai hatinya sendiri.

•••

Bulan berganti bulan, sudah enam bulan lamanya Kinan berada di asrama dan tak pernah pulang ke kota asalnya. Dia dan Dina sering kirim mengirim surat. Kinan menceritakan banyak hal soal kehidupannya di asrama, Dina pun sama menceritakan ke adaannya di rumah.

Saat masuk sekolah menengah pertama Dina lagi-lagi mendapatkan sekolah yang sama dengan Friza, bahkan satu kelas kembali. Di bulan-bulan pertama Dina masih rajin menceritakan soal Friza, perubahan yang terjadi di diri Friza dari hal terkecil sampai terbesar. Awalnya Kinan tertarik, tapi lama kelamaan Kinan jengah sendiri melihat perubahan Friza yang drastis. Semula Friza adalah laki-laki pendiam yang tak banyak bicara berubah menjadi anak nakal yang jarang sekolah.

Lagipula sekarang di kota barunya Kinan menemukan banyak teman baru hingga pelan tapi pasti Kinan mulai melupakan Friza. Kinan jarang memikirkan dia, hanya sesekali pada momen tertentu Kinan teringat tapi langsung ditepisnya fikiran itu. Walaupun di asrama juga Kinan tak pernah melirik laki-laki lain, padahal banyak yang jauh lebih tampan dari Friza.

Sampai suatu hari di pertengahan bulan April. Kinan kelas dua SMP. Tante Ela akan bertunangan dengan Mas Anu. Mamah menyuruh Kinan untuk pulang ke rumah. Di sinilah pertemuan tak terduga itu terjadi, membangkitkan perasaan Kinan yang hampir dikuburnya dalam-dalam.

Saat Kinan sedang sibuk membantu mamahnya merapikan makanan yang akan di sajikan, tiba-tiba tante Ela memanggilnya.

"Kinan, sini deh tante kenalin sama adeknya Mas Anu."

Kinan menghampiri tantenya.

Namun, langkahnya terhenti. Terpaku dia memandang sosok di depannya. Ada yang membuncah lagi, jantung Kinan berdetak keras tak beraturan.

"Eh malah diem aja ini anak satu. Sini, Nan!"

Buyar sudah lamunan Kinan. Agak terseret langkah Kinan mendekat ke arah Tante, Mas Anu, dan adik Mas Anu berdiri. Semakin dekat, semakin tak menentu perasaan di hatinya.

"Kayanya kalian seumuran ya.." Bergantian Mas Anu melihat ke arah Kinan dan Friza.

"Emang iya, kan dulu juga udah pernah bilang ke kamu Mas." Tante Ela dengan wajah sumringah menarik lengan Kinan agar semakin mendekat.

Friza tak berkedip melihat Kinan. Dia terkejut melihat Kinan, sama terkejutnya dengan Kinan.

"Friza.." Friza menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.

"Ki.. Ki.." Lidah Kinan Kelu, sekujur tubuhnya membeku, tak kuasa menyambut uluran tangan Friza.

"Kinan." Tante Ela yang melengkapinya. "Kok grogi gitu sih, Nan? Naksir ya sama Friza" Tante Ela tersenyum jahil ke arah Kinan.

Kinan langsung tersipu malu, begitu juga dengan Friza. Pipi mereka bersemu merah. Tapi kejadian itu ga berlangsung lama karena acara akan segera dimulai.

Kacau sudah usaha Kinan melupakan Friza. Pertemuan itu berhasil membangkitkan perasaan lama. Di sela-sela acara Kinan sibuk mencuri-curi pandang ke arah Friza, bahkan sesekali kepergok Friza yang juga ikut mencuri pandang ke arah Kinan. Kalau sudah ketahuan begitu, Kinan hanya tersenyum malu menyadari Friza sadar sedari tadi diperhatikan Kinan. Friza pun ikut tertawa melihat muka kepiting rebus Kinan.

Sepulang dari acara itu, bayangan Friza semakin merajai alam bawah sadar Kinan. Kinan tertawa sendiri teringat kejadian curi-curi pandang. Teringat tertawanya Friza. Teringat senyum manisnya. Teringat muka serius yang lebih tepat dikatakan muka idiot.

Gagal lah sudah niat move on Kinan..

Tidak ada komentar: