Jl. Merpati nomor 17. Kinan duduk di salah satu halte taman kota. Di sebelah kiri Kinan ada satu anak perempuan sebaya Kinan yang sepertinya juga sama sedang menunggu bis antar kota lewat.
Jam menunjukkan pukul 16:00. Kinan mulai resah. Tak henti-hentinya dia menoleh ke ujung tikungan jalan di depannya berharap ada bis yang datang. Hari ini Kinan berencana pulang ke rumah. Selain musim liburan, beberapa hari lagi Tante Ela akan mengadakan resepsi pernikahan dengan Mas Anu. Praktis Kinan harus pulang, karna Kinan yang akan mengisi acara tantenya tersebut.
Perempuan di sebelah Kinan sibuk memainkan handphone di tangannya. Sedangkan Kinan sibuk memilin-milin ujung bajunya. Kinan tidak membawa handphone, karna di asrama Kinan tidak diperbolehkan membawa barang elektronik, termasuk handphone. Handphone Kinan di titipkan ke mamahnya, jadi Kinan hanya menggunakan saat ia di rumah.
Bis yang di tunggu-tunggu Kinan ahirnya datang juga. Kinan langsung naik ke atas bis sembari melempar senyum ke arah perempuan yang duduk di kursi sebelahnya, ternyata tujuan mereka berbeda.
Sesampainya di rumah setelah bertemu dengan keluarganya Kinan langsung mengecek handphone yang sudah lama tidak di aktifkan. Terpaksa Kinan harus mengganti nomor teleponnya lagi, ternyata masa aktif kartunya sudah habis.
"Nan." Terdengar mamah Kinan memanggil dari lantai bawah.
"Ya, Mah."
"Dicariin tante Ela, katanya seragam buat kamu udah ada. Tinggal dicari yang pas sama kamu yang mana."
Kinan hanya menganggukkan kepala kemudian bergegas menuju rumah tante Ela. Di rumah tante Ela mulai terlihat kesibukkan. Ada yang sibuk memasang dekorasi pelaminan. Ada yang sibuk memasak. Ada juga yang sibuk bercanda seperti Rosa, April, dan Nabil, mereka ini saudara sepupu Kinan.
Kinan berniat menghampiri mereka. Tapi Tante Lula malah menyuruh Kinan segera menemui tante Ela. Ahirnya Kinan urung nimbrung dengan obrolan saudaranya, malah sibuk mencari tantenya.
Tante Ela sumringah melihat kedatangan Kinan. Dipanggilnya Kinan untuk mencoba satu persatu seragam yang ada. Kinan tak pernah ribet soal style, malah Tante Ela yang sibuk memilih seragam mana yang lebih pantas untuk Kinan.
Setelah semua urusannya selesai di rumah Tante Ela, Kinan memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Usai berpamitan ke keluarga besarnya, Kinan langsung mengendarai sepeda motornya.
Diperjalanan pulang, Kinan bertemu dengan Ipung, teman sekolah dasarnya. Ipung meminta nomor handphone Kinan. Ahirnya Kinan berikan nomor handphone barunya ke Ipung. Tak lama berbincang-bincang, Kinan pamit pulang ke rumah. Ipung melambaikan tangannya ke arah Kinan, Kinan membalas sembari lalu.
•••
Acara pernikahan yang di tunggu tiba.
Kinan sudah siap di posisinya. Mencoba membaca ulang teks yang harus dibacakannya nanti. Namun kegiatannya terhenti saat rombongan keluarga Mas Anu datang. Dilihatnya Friza di antara mereka. Kinan terpaku, kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas diingatannya, tapi kali ini Friza sama sekali tak melirik ke arah Kinan. Kinan yang merasa sedikit kecewa memilih fokus kembali ke teks yang harus dia baca.
Sekarang tiba saatnya pengantin dibawa ke rumah mempelai pria. Itu berarti Kinan akan ikut rombongan ke rumah Mas Anu. Rosa, saudara Kinan mengamit lengan Kinan. Mereka berjalan beriringan di belakang Tante Ela dan Mas Anu.
Rumah Mas Anu tak kalah ramainya dengan Rumah Tante Ela. Kinan dan Rosa sampai bingung sendiri akan duduk dimana.
Mereka berdua berbisik pelan saat mereka melihat Friza berdiri di jendela 25 derajat di depan mereka berlawanan arah jarum jam.
"Eh Nan. Itu adiknya Mas Anu ya?" Bisik Rosa ditelinga Kinan.
Kinan mengangguk pelan.
"Manis ya. Lo ga naksir sama dia?" Lanjut Rosa lagi.
Kinan melotot mendengar pertanyaan Rosa. Rosa memang belum tau kalau selama ini Kinan menjadi pengagum rahasia Friza. Yang tau masalah ini baru Kinan dan Dina.
Rosa terkekeh melihat ekspresi Kinan. Sampai ahirnya dia bilang ke Kinan..
"Nan, adiknya Mas Anu ngeliatin lo terus tau daritadi. Namanya siapa sih? Suka kali dia sama lo."
Kinan mau tak mau melihat ke arah Friza juga. Benar saja, Friza langsung salah tingkah saat Kinan balik melihatnya. Pipinya bersemu merah mirip buah jambu. Kinan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya diperhatikan Friza dia tertawa tertahan melihat wajah Friza yang tertangkap basah sedang mencuri pandang dirinya.
"Bener kan kata gue." Rosa tertawa pelan.
Kinan mencubit paha Rosa asal, yang dicubit hanya bisa meringis kesakitan.
Hari ini kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Kinan dan Friza sama-sama sibuk mencari celah untuk memandang satu sama lain.
Saat Kinan sadar Friza memperhatikannya, Friza langsung membuang muka seolah tak melihat Kinan. Begitu pun sebaliknya.
Rosa yang melihat kelakuan mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Sambil bergumam, "lo beneran naksir dia baru tau rasa, Nan."
•••
Drrtt.. Drrtt..
From : 08564224xxxx
-Nan, ini gue ipung, gue mau telepon boleh?
Belum sempat Kinan membalas. Nada dering tanda panggilan masuk berbunyi.
Hampir setengah jam mereka bercanda lewat udara. Sampai ahirnya sambungan telepon terputus Kinan berfikir Ipung kehabisan pulsanya.
Mulai hari itu Kinan sering bertukar pesan singkat dengan Ipung, tapi waktunya hanya singkat karna Ipung sering tiba-tiba menghilang tak membalas pesannya.
Hari ini sudah dua hari Ipung tak mengirimkan pesan. Saat Kinan mengecek handphonenya seusai mandi. Ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
-kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang akan ku bawa dia terbang damai bersama bintang :)
Kinan mengernyitkan dahinya. Bingung dengan pesan yang dia baca barusan. Dia langsung mengetik balasan.
Send to : +628564224xxxx
-maksudnya pung?
Drrtt.. Drrtt..
Hp Kinan bergetar lagi.
From : +628564224xxxx
-maaf mba, Ipungnya udah pulang. Ini Friza yang punya hp.
Kinan tertegun sebentar.
"Friza? Jadi selama ini Ipung pake hpnya Friza" gumam Kinan.
Awalnya Kinan ragu membalas pesan Friza, tapi lama kelamaan malah dia asik sibuk smsan dengan Friza.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, kata Kinan. Sekarang setiap hari dari pagi hingga menjelang tidur Kinan selalu berbalas-balasan pesan dengan Friza. Bahkan tak jarang Friza meneleponnya. Percakapan mereka diudara bisa memakan waktu berjam-jam, sampai telinga Kinan memanas. Kinan tak menghiraukannya, yang jelas sekarang dia sedang bahagia.
•••
"Za, gue mau ngomong sesuatu.."
Kinan menggantungkan ucapannya. Kinan sedang bertelepon ria dengan Friza.
"Ngomong apa?" Terdengar suara Friza penuh tanda tanya.
Kinan menutup lubang hidungnya agar tidak tertawa. Sengaja Kinan mengerjai Friza.
"Gue.. Gue.." Muka Kinan memerah semerah tomat akibat menahan tawa.
"Gue apa?" Friza benar-benar penasaran dengan apa yang akan diucapkan Kinan.
"Sebenernya gue.. Gue bener-bener.."
"Bener-bener apa, Nan?" Friza sudah tak sabar. Dia sungguh ingin tau kelanjutannya.
"Gue.. Gue.. Gue bener-bener ga bisa nahan ketawa. Hahahahaha."
Tawa Kinan menggema di udara.
Friza yang semula mendengarkan dengan seksama langsung terkejut saat mendengar tawa Kinan yang sangat keras, hingga tanpa sadar handphone di tangannya ikut terlempar.
Sedangkan Kinan masih tertawa terpingkal-pingkal, Friza menggerutu kesal.
Friza kira Kinan akan mengatakan suatu hal yang penting. Hatinya sampai berdetak tak beraturan. Friza kira setelah kedekatannya selama ini dengan Kinan, Kinan akan mengatakan soal perasaannya. Eh ternyata hanya gurauan yang membuat telinganya penging.
"Sial lo, Nan!" Maki Friza.
Kinan masih terus tertawa sampai menitikkan air mata.
"Emang lo kira gue mau ngomong apa? Hahahha." Kinan masih saja tertawa.
Friza enggan melanjutkan ucapannya, dia terlanjur kesal. Apalagi di tertawakan Kinan sebegitu kencangnya.
•••
"Jadi lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mencorat-coret kertas di depannya.
Kinan sedang membantu Dina mempersiapkan acara persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah Dina. Dina adalah anggota OSIS, salah satu organisasi yang paling tidak Kinan sukai.
Membuat dekorasi panggung salah satu keahlian Kinan. Jadilah Dina meminta bantuan Kinan untuk membantunya menghias panggung yang akan digunakan besok malam.
"Gimana? Udah keren belom?" Kinan memagut hasil dekorasinya. Sebenarnya sudah lumayan bagus, tapi Kinan ingin minta pendapat Dina si empunya hajat.
Dina ikut memperhatikan hasil dekorasi Kinan. Setelah mengamatinya, Dina merasa dekorasi Kinan sangat keren.
"Keren banget."
"Thankyou, Nan." Dina memeluk Kinan.
"Your welcome." Kinan membalas pelukan Dina.
"Tadi lo tanya apa, Din?"
"Lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mengulangi pertanyaannya lagi.
Kinan tertawa kecil, diambilnya satu kertas di depan Dina. Di corat coretnya asal.
"Gue ga ngerti Din. Dibilang deket gue ga pernah ketemu sama dia, terahir ketemu pas nikahan tante gue. Dibilang ga deket setiap hari gue smsan teleponan sama dia. Gimana dong?" Kinan mengerlingkan matanya genit ke arah Dina.
Dina yang melihat ekspresi Kinan langsung mencari sesuatu yang bisa di lempar. "Centil lo!" Maki Dina.
Kinan hanya tertawa.
"Lo kapan berangkat lagi ke asramanya?"
"Lusa." Kinan menjawab dengan lesu. Jujur dia belum ingin kembali. Dia tak ingin meninggalkan Friza. "Loh kok jadi Friza?" Batin Kinan.
"Terus Friza?" Tanya Dina lagi.
Kinan memejamkan mata. "Gue gatau. Lagian lo tau kan dia temen deketnya Ipung, pasti dia ga mungkin suka sama gue.." Ucap Kinan pasrah.
Bukan rahasia lagi di antara Kinan dan Dina kalau sedari dulu Ipung memang menyukai Kinan. Tapi Kinan memang hanya menganggap Ipung sebatas teman, tak lebih.
Mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Kinan melihat di lapangan basket Ipung sedang tersenyum kepadanya. Sore ini memang jadwal latihan rutin Ipung dan teman-temannya. Bukannya membalas senyum Ipung, Kinan malah menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa berat meninggalkan Friza.
Drrtt.. Drrtt..
Handphone Kinan bergetar dua kali. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Usi, teman sekamarnya di asrama. Yang kedua seperti biasa, dari Friza. Dibukanya pesan Friza.
From : Friza
-Nan, kata Ipung lo lusa berangkat ya?
Tadi setelah selesai membantu Dina. Ipung menghampiri Kinan, mereka ngobrol sebentar sebelum ahirnya Kinan pamit pulang karna mentari senja sudah hampir tenggelam.
Kinan membalasnya tak seperti biasanya, tak ada semangat.
Send to : Friza
-iyaa :(
Drrtt.. Drrtt..
From : Friza
-yah kok cepet banget? :( ga ada yang nemenin gue smsan lagi dong :(
Kinan menahan napas, sengaja agar butiran bening tak meleleh di pipinya.
Friza pernah mengatakan ke Kinan kalau selama ini baru pertama kali Friza dekat dengan perempuan. Baru bersama Kinan, Friza bisa membicarakan banyak hal, darimulai hal-hal penting sampai hal-hal yang konyol. Dari mulai bicara serius sampai bercanda diluar batas.
Baru pertama kali Friza bertemu dengan perempuan yang bisa membuat dia tertawa lepas, yang membuat dia tak merasa malu. Karna daridulu Friza memang termasuk orang yang pemalu dan tak banyak bicara, tapi bersama Kinan sama sekali tak terlihat sifat pemalu dan pendiam Friza.
Dada Kinan terasa sesak. Dia benar-benar tak ingin meninggalkan Friza. Selama satu bulan terahir Kinan dan Friza sudah seperti sahabat dekat, tak ada yang Kinan sembunyikan dari Friza begitu juga sebaliknya, kecuali perasaan mereka masing-masing.
Kinan memutuskan untuk menelepon Friza. Seperti biasa banyak hal yang mereka bicarakan, sampai keduanya tak lagi memerdulikan waktu dan pulsa. Mereka hanya tak ingin kehilangan momen-momen seperti ini. Mereka baru mengahiri perbincangan di telepon saat kokok ayam jantan terdengar bersahutan.
•••
"Mah, Kinan pamit ya." Kinan memandang bayangannya di dalam cermin, setelah dikira cukup dia bergegas pergi.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan. Inget besok kamu berangkat."
Kinan mengangguk, tak lupa mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim.
Diluar teman-temannya sudah menunggu. Ada Vika, Nindy, sama Riska. Mereka ini teman-teman Kinan waktu sekolah dasar. Rumah mereka berdekatan jadi diputuskan mereka akan pergi bersama ke acar persami berhubung Dina menjadi panitia ahirnya Kinan ikut gerombolan mereka.
Selama perjalan mereka bercerita banyak hal. Biasalah kalau perempuan sudah kumpul ya ada saja yang diperbincangkan.
Jarak sekolah Dina tinggal beberapa meter lagi, tapi jantung Kinan sudah berdegup kencang, bukan karna takut panggung hasil dekorannya jelek melainkan di depannya berjalan ada Ipung dan teman-temannya termasuk Friza sedang duduk memegang gitar. Kinan gemetar, rasanya tulang belulangnya rontok satu persatu melihat Friza, laki-laki yang membuat Kinan mengaguminya dari dulu.
Teman-teman Kinan tak ada yang menyadari perubahan diri Kinan. Mereka tetap santai berjalan acuh tak acuh hendak melewati gerombolan Ipung.
Saat Kinan melewati mereka terdengar suara Ipung memanggil Kinan.
"Nan! Nan!"
Terpaksa Kinan berhenti, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kinan tak berani menampakkan wajahnya, dia malu setengah mati dengan Friza. Sedangkan Friza pun seolah tak memperdulikan kedatangan Kinan, meski tanpa sepengetahuan Kinan jantung Friza berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa lo nunduk gitu? Jerawatan?" Tanya Ipung heran.
Kinan mendengus. Kalau saja di depannya tak ada Friza sudah dia pukul si Ipung. Tapi Kinan tak berani bergerak.
Ipung mengamati Kinan seksama. Dia belom pernah melihat Kinan sepemalu ini.
Sebelum keadaan semakin buruk Kinan memutuskan menyusul teman-temannya untuk bertemu Dina.
Dina sedang sibuk mengurus jalannya acara. Ketika dia melihat Kinan, langsung dipanggil Kinan agar mendekat ke arahnya.
"Lo ke sini sama siapa aja?" Tanya Dina.
Kinan menunjukkan jarinya ke arah teman-temannya.
"Oooh.." Dina memanggut-manggutkan kepalanya. "Eh, tadi kayanya gue ngeliat Ipung sama Friza deh. Tapi sekarang gatau dimana mereka."
Kinan melengos.
"Tadi gue abis ketemu mereka, sial! Gue grogi setengah mati di depan Friza." Kinan menggerutu menahan malu.
"Hahahaha, seorang Kinan grogi. Hahaha."
Kinan langsung memukul bahu Dina pelan. Dina malah semakin tertawa keras.
"Din, acara udah mau dimulai. Gimana udah pada siap belom?" Salah satu teman Dina mendekat ke arah Kinan dan Dina. Setau Kinan teman Dina ini namanya Via, mereka pernah sekelas waktu SD sebelum ahirnya Via pindah ke SD tetangga.
"Udah kok, mereka juga udah pada ngumpul di sini." Dina mengawasi para pengisi acara. "Eh Nan, gue pamit bentar ya. Lo nikmatin dulu deh acaranya, ntar gue balik lagi." Dina pamit pergi bersama Via. Kinan hanya membalas dengan senyum kemudian kembali ke gerombolannya.
Teman-teman Kinan dan Kinan asik menikmati acara. Mereka sibuk mengomentari penampilan para pengisi acara. Tiba-tiba dari belakang Kinan ditarik oleh seseorang. Kinan terkejut karna Kinan merasa tak mengenali orang itu.
Sebelum Kinan bertanya orang itu sudah memperkenalkan dirinya.
"Gue Eki temennya Friza, lo Kinan kan? Dia nungguin lo tuh di gerbang depan."
Belum habis rasa kaget Kinan, sekarang Kinan malah dikejutkan dengan perkataan Eki.
"Udah lo percaya aja sama gue, gue ga boong kok." Eki melihat keraguan di mata Kinan.
Tanpa menjawab Kinan mengekor langkah Eki dari belakang.
Benar saja di depan gerbang Kinan melihat Friza sedang berdiri bersender pada salah satu tembok pagar, memakai kaos biru langit dan celana jins 3/4. Poninya yang agak panjang tertiup angin malam, semakin membuat kesan manis di wajahnya yang sudah manis. Jantung Kinan berdegup teramat kencang, bagaimanapun juga ini pertama kalinya Kinan akan mengobrol langsung dengan Friza.
"Ini kan cewe yang lo maksud?" Eki menunjuk ke arah Kinan saat mereka sampai di dekat Friza.
Friza menoleh ke arah Kinan dengan raut muka terkejut. Eki memilih pergi sambil tertawa kencang. Ternyata Eki mengerjai mereka berdua. Sudah terlanjur maju tak bisa mundur lagi.
Selama beberapa menit hanya hening yang terdengar. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, lagipula mereka tak tau harus memulai dari mana.
Menit-menit berlalu, Kinan mulai terlihat resah. Friza yang menyadari gelagat Kinan, mengulurkan tangannya ke Kinan. Kinan tak langsung menyambutnya, dia terpukau dengan senyum manis yang Friza berikan padanya.
"Jadi, kita mau diem-dieman terus?" Friza memulai percakapan.
Kinan tersipu malu. Dia tertawa kecil. "Abis gue bingung mau ngomong apaan." Kinan jujur.
"Sama, gue juga bingung. Haha."
Mereka tertawa lepas bersama. Ternyata Friza benar-benar pemalu. Saat bertemu mereka tak seramai saat di telepon. Hanya pembicaraan ringan yang terjadi di antara Kinan dan Friza.
Selama itu juga Friza tak melepaskan genggamannya di tangan Kinan, membuat Kinan semakin salah tingkah. Tapi genggaman tangan itu membuat Kinan merasa nyaman dan ada kehangatan yang menyelimutinya meski udara malam itu cukup dingin.
"Besok jadi berangkat?" Friza menundukkan wajahnya melihat ke guratan-guratan tanah yang Kinan buat.
"Jadi.."
Friza menahan nafasnya, berat.
"Sama siapa berangkatnya? Hati-hati ya, di betah-betah lo jangan pulang terus." Friza tertawa renyah.
Kinan memandang wajah Friza, dan ikut tertawa. "Gue bahkan penginnya di rumah terus biar bisa ngeliat wajah lo, Za." Batin Kinan.
Sekarang Friza menatap hamparan bintang di atas kepalanya. "Langitnya cerah, Nan. Banyak bintang. Liat deh!"
"Iya, keren." Kinan menengadahkan kepalanya ke atas seperti yang Friza lakukan.
"Lo jangan ngelupain gue ya, Nan. Karna sejauh apapun kita terpisah, kita tetep memandang langit yang sama, kan?" Ada kegetiran di nada suara Friza.
Kinan mengangguk lemah. "Iya, gue ga bakal ngelupain lo kok. Lo juga jangan ngelupain gue ya. Kita kan sahabat, hehe." Kinan membalas tak kalah getirnya.
"Janji?" Friza menjulurkan jari kelingkingnya, Kinan membalas sebagai tanda perjanjian.
Mereka saling melempar senyum penuh arti.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar