Minggu, 29 Juni 2014

sahabat? (3)

Jl. Merpati nomor 17. Kinan duduk di salah satu halte taman kota. Di sebelah kiri Kinan ada satu anak perempuan sebaya Kinan yang sepertinya juga sama sedang menunggu bis antar kota lewat.

Jam menunjukkan pukul 16:00. Kinan mulai resah. Tak henti-hentinya dia menoleh ke ujung tikungan jalan di depannya berharap ada bis yang datang. Hari ini Kinan berencana pulang ke rumah. Selain musim liburan, beberapa hari lagi Tante Ela akan mengadakan resepsi pernikahan dengan Mas Anu. Praktis Kinan harus pulang, karna Kinan yang akan mengisi acara tantenya tersebut.


Perempuan di sebelah Kinan sibuk memainkan handphone di tangannya. Sedangkan Kinan sibuk memilin-milin ujung bajunya. Kinan tidak membawa handphone, karna di asrama Kinan tidak diperbolehkan membawa barang elektronik, termasuk handphone. Handphone Kinan di titipkan ke mamahnya, jadi Kinan hanya menggunakan saat ia di rumah.

Bis yang di tunggu-tunggu Kinan ahirnya datang juga. Kinan langsung naik ke atas bis sembari melempar senyum ke arah perempuan yang duduk di kursi sebelahnya, ternyata tujuan mereka berbeda.

Sesampainya di rumah setelah bertemu dengan keluarganya Kinan langsung mengecek handphone yang sudah lama tidak di aktifkan. Terpaksa Kinan harus mengganti nomor teleponnya lagi, ternyata masa aktif kartunya sudah habis.

"Nan." Terdengar mamah Kinan memanggil dari lantai bawah.

"Ya, Mah."

"Dicariin tante Ela, katanya seragam buat kamu udah ada. Tinggal dicari yang pas sama kamu yang mana."

Kinan hanya menganggukkan kepala kemudian bergegas menuju rumah tante Ela. Di rumah tante Ela mulai terlihat kesibukkan. Ada yang sibuk memasang dekorasi pelaminan. Ada yang sibuk memasak. Ada juga yang sibuk bercanda seperti Rosa, April, dan Nabil, mereka ini saudara sepupu Kinan.

Kinan berniat menghampiri mereka. Tapi Tante Lula malah menyuruh Kinan segera menemui tante Ela. Ahirnya Kinan urung nimbrung dengan obrolan saudaranya, malah sibuk mencari tantenya.

Tante Ela sumringah melihat kedatangan Kinan. Dipanggilnya Kinan untuk mencoba satu persatu seragam yang ada. Kinan tak pernah ribet soal style, malah Tante Ela yang sibuk memilih seragam mana yang lebih pantas untuk Kinan.

Setelah semua urusannya selesai di rumah Tante Ela, Kinan memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Usai berpamitan ke keluarga besarnya, Kinan langsung mengendarai sepeda motornya.

Diperjalanan pulang, Kinan bertemu dengan Ipung, teman sekolah dasarnya. Ipung meminta nomor handphone Kinan. Ahirnya Kinan berikan nomor handphone barunya ke Ipung. Tak lama berbincang-bincang, Kinan pamit pulang ke rumah. Ipung melambaikan tangannya ke arah Kinan, Kinan membalas sembari lalu.

•••

Acara pernikahan yang di tunggu tiba.

Kinan sudah siap di posisinya. Mencoba membaca ulang teks yang harus dibacakannya nanti. Namun kegiatannya terhenti saat rombongan keluarga Mas Anu datang. Dilihatnya Friza di antara mereka. Kinan terpaku, kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas diingatannya, tapi kali ini Friza sama sekali tak melirik ke arah Kinan. Kinan yang merasa sedikit kecewa memilih fokus kembali ke teks yang harus dia baca.

Sekarang tiba saatnya pengantin dibawa ke rumah mempelai pria. Itu berarti Kinan akan ikut rombongan ke rumah Mas Anu. Rosa, saudara Kinan mengamit lengan Kinan. Mereka berjalan beriringan di belakang Tante Ela dan Mas Anu.

Rumah Mas Anu tak kalah ramainya dengan Rumah Tante Ela. Kinan dan Rosa sampai bingung sendiri akan duduk dimana.

Mereka berdua berbisik pelan saat mereka melihat Friza berdiri di jendela 25 derajat di depan mereka berlawanan arah jarum jam.

"Eh Nan. Itu adiknya Mas Anu ya?" Bisik Rosa ditelinga Kinan.

Kinan mengangguk pelan.

"Manis ya. Lo ga naksir sama dia?" Lanjut Rosa lagi.

Kinan melotot mendengar pertanyaan Rosa. Rosa memang belum tau kalau selama ini Kinan menjadi pengagum rahasia Friza. Yang tau masalah ini baru Kinan dan Dina.

Rosa terkekeh melihat ekspresi Kinan. Sampai ahirnya dia bilang ke Kinan..

"Nan, adiknya Mas Anu ngeliatin lo terus tau daritadi. Namanya siapa sih? Suka kali dia sama lo."

Kinan mau tak mau melihat ke arah Friza juga. Benar saja, Friza langsung salah tingkah saat Kinan balik melihatnya. Pipinya bersemu merah mirip buah jambu. Kinan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya diperhatikan Friza dia tertawa tertahan melihat wajah Friza yang tertangkap basah sedang mencuri pandang dirinya.

"Bener kan kata gue." Rosa tertawa pelan.

Kinan mencubit paha Rosa asal, yang dicubit hanya bisa meringis kesakitan.

Hari ini kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Kinan dan Friza sama-sama sibuk mencari celah untuk memandang satu sama lain.

Saat Kinan sadar Friza memperhatikannya, Friza langsung membuang muka seolah tak melihat Kinan. Begitu pun sebaliknya.

Rosa yang melihat kelakuan mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Sambil bergumam, "lo beneran naksir dia baru tau rasa, Nan."

•••

Drrtt.. Drrtt..
From : 08564224xxxx
-Nan, ini gue ipung, gue mau telepon boleh?

Belum sempat Kinan membalas. Nada dering tanda panggilan masuk berbunyi.

Hampir setengah jam mereka bercanda lewat udara. Sampai ahirnya sambungan telepon terputus Kinan berfikir Ipung kehabisan pulsanya.

Mulai hari itu Kinan sering bertukar pesan singkat dengan Ipung, tapi waktunya hanya singkat karna Ipung sering tiba-tiba menghilang tak membalas pesannya.

Hari ini sudah dua hari Ipung tak mengirimkan pesan. Saat Kinan mengecek handphonenya seusai mandi. Ada satu pesan masuk.

From : +628564224xxxx
-kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang akan ku bawa dia terbang damai bersama bintang :)

Kinan mengernyitkan dahinya. Bingung dengan pesan yang dia baca barusan. Dia langsung mengetik balasan.

Send to : +628564224xxxx
-maksudnya pung?

Drrtt.. Drrtt..
Hp Kinan bergetar lagi.

From : +628564224xxxx
-maaf mba, Ipungnya udah pulang. Ini Friza yang punya hp.

Kinan tertegun sebentar.

"Friza? Jadi selama ini Ipung pake hpnya Friza" gumam Kinan.

Awalnya Kinan ragu membalas pesan Friza, tapi lama kelamaan malah dia asik sibuk smsan dengan Friza.

Pucuk di cinta ulam pun tiba, kata Kinan. Sekarang setiap hari dari pagi hingga menjelang tidur Kinan selalu berbalas-balasan pesan dengan Friza. Bahkan tak jarang Friza meneleponnya. Percakapan mereka diudara bisa memakan waktu berjam-jam, sampai telinga Kinan memanas. Kinan tak menghiraukannya, yang jelas sekarang dia sedang bahagia.

•••

"Za, gue mau ngomong sesuatu.."

Kinan menggantungkan ucapannya. Kinan sedang bertelepon ria dengan Friza.

"Ngomong apa?" Terdengar suara Friza penuh tanda tanya.

Kinan menutup lubang hidungnya agar tidak tertawa. Sengaja Kinan mengerjai Friza.

"Gue.. Gue.." Muka Kinan memerah semerah tomat akibat menahan tawa.

"Gue apa?" Friza benar-benar penasaran dengan apa yang akan diucapkan Kinan.

"Sebenernya gue.. Gue bener-bener.."

"Bener-bener apa, Nan?" Friza sudah tak sabar. Dia sungguh ingin tau kelanjutannya.

"Gue.. Gue.. Gue bener-bener ga bisa nahan ketawa. Hahahahaha."

Tawa Kinan menggema di udara.

Friza yang semula mendengarkan dengan seksama langsung terkejut saat mendengar tawa Kinan yang sangat keras, hingga tanpa sadar handphone di tangannya ikut terlempar.

Sedangkan Kinan masih tertawa terpingkal-pingkal, Friza menggerutu kesal.

Friza kira Kinan akan mengatakan suatu hal yang penting. Hatinya sampai berdetak tak beraturan. Friza kira setelah kedekatannya selama ini dengan Kinan, Kinan akan mengatakan soal perasaannya. Eh ternyata hanya gurauan yang membuat telinganya penging.

"Sial lo, Nan!" Maki Friza.

Kinan masih terus tertawa sampai menitikkan air mata.

"Emang lo kira gue mau ngomong apa? Hahahha." Kinan masih saja tertawa.

Friza enggan melanjutkan ucapannya, dia terlanjur kesal. Apalagi di tertawakan Kinan sebegitu kencangnya.

•••

"Jadi lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mencorat-coret kertas di depannya.

Kinan sedang membantu Dina mempersiapkan acara persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah Dina. Dina adalah anggota OSIS, salah satu organisasi yang paling tidak Kinan sukai.

Membuat dekorasi panggung salah satu keahlian Kinan. Jadilah Dina meminta bantuan Kinan untuk membantunya menghias panggung yang akan digunakan besok malam.

"Gimana? Udah keren belom?" Kinan memagut hasil dekorasinya. Sebenarnya sudah lumayan bagus, tapi Kinan ingin minta pendapat Dina si empunya hajat.

Dina ikut memperhatikan hasil dekorasi Kinan. Setelah mengamatinya, Dina merasa dekorasi Kinan sangat keren.

"Keren banget."

"Thankyou, Nan." Dina memeluk Kinan.

"Your welcome." Kinan membalas pelukan Dina.

"Tadi lo tanya apa, Din?"

"Lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mengulangi pertanyaannya lagi.

Kinan tertawa kecil, diambilnya satu kertas di depan Dina. Di corat coretnya asal.

"Gue ga ngerti Din. Dibilang deket gue ga pernah ketemu sama dia, terahir ketemu pas nikahan tante gue. Dibilang ga deket setiap hari gue smsan teleponan sama dia. Gimana dong?" Kinan mengerlingkan matanya genit ke arah Dina.

Dina yang melihat ekspresi Kinan langsung mencari sesuatu yang bisa di lempar. "Centil lo!" Maki Dina.

Kinan hanya tertawa.

"Lo kapan berangkat lagi ke asramanya?"

"Lusa." Kinan menjawab dengan lesu. Jujur dia belum ingin kembali. Dia tak ingin meninggalkan Friza. "Loh kok jadi Friza?" Batin Kinan.

"Terus Friza?" Tanya Dina lagi.

Kinan memejamkan mata. "Gue gatau. Lagian lo tau kan dia temen deketnya Ipung, pasti dia ga mungkin suka sama gue.." Ucap Kinan pasrah.

Bukan rahasia lagi di antara Kinan dan Dina kalau sedari dulu Ipung memang menyukai Kinan. Tapi Kinan memang hanya menganggap Ipung sebatas teman, tak lebih.

Mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Kinan melihat di lapangan basket Ipung sedang tersenyum kepadanya. Sore ini memang jadwal latihan rutin Ipung dan teman-temannya. Bukannya membalas senyum Ipung, Kinan malah menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa berat meninggalkan Friza.

Drrtt.. Drrtt..

Handphone Kinan bergetar dua kali. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Usi, teman sekamarnya di asrama. Yang kedua seperti biasa, dari Friza. Dibukanya pesan Friza.

From : Friza
-Nan, kata Ipung lo lusa berangkat ya?

Tadi setelah selesai membantu Dina. Ipung menghampiri Kinan, mereka ngobrol sebentar sebelum ahirnya Kinan pamit pulang karna mentari senja sudah hampir tenggelam.

Kinan membalasnya tak seperti biasanya, tak ada semangat.

Send to : Friza
-iyaa :(

Drrtt.. Drrtt..
From : Friza
-yah kok cepet banget? :( ga ada yang nemenin gue smsan lagi dong :(

Kinan menahan napas, sengaja agar butiran bening tak meleleh di pipinya.

Friza pernah mengatakan ke Kinan kalau selama ini baru pertama kali Friza dekat dengan perempuan. Baru bersama Kinan, Friza bisa membicarakan banyak hal, darimulai hal-hal penting sampai hal-hal yang konyol. Dari mulai bicara serius sampai bercanda diluar batas.

Baru pertama kali Friza bertemu dengan perempuan yang bisa membuat dia tertawa lepas, yang membuat dia tak merasa malu. Karna daridulu Friza memang termasuk orang yang pemalu dan tak banyak bicara, tapi bersama Kinan sama sekali tak terlihat sifat pemalu dan pendiam Friza.

Dada Kinan terasa sesak. Dia benar-benar tak ingin meninggalkan Friza. Selama satu bulan terahir Kinan dan Friza sudah seperti sahabat dekat, tak ada yang Kinan sembunyikan dari Friza begitu juga sebaliknya, kecuali perasaan mereka masing-masing.

Kinan memutuskan untuk menelepon Friza. Seperti biasa banyak hal yang mereka bicarakan, sampai keduanya tak lagi memerdulikan waktu dan pulsa. Mereka hanya tak ingin kehilangan momen-momen seperti ini. Mereka baru mengahiri perbincangan di telepon saat kokok ayam jantan terdengar bersahutan.

•••

"Mah, Kinan pamit ya." Kinan memandang bayangannya di dalam cermin, setelah dikira cukup dia bergegas pergi.

"Pulangnya jangan kemaleman, Nan. Inget besok kamu berangkat."

Kinan mengangguk, tak lupa mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim.

Diluar teman-temannya sudah menunggu. Ada Vika, Nindy, sama Riska. Mereka ini teman-teman Kinan waktu sekolah dasar. Rumah mereka berdekatan jadi diputuskan mereka akan pergi bersama ke acar persami berhubung Dina menjadi panitia ahirnya Kinan ikut gerombolan mereka.

Selama perjalan mereka bercerita banyak hal. Biasalah kalau perempuan sudah kumpul ya ada saja yang diperbincangkan.

Jarak sekolah Dina tinggal beberapa meter lagi, tapi jantung Kinan sudah berdegup kencang, bukan karna takut panggung hasil dekorannya jelek melainkan di depannya berjalan ada Ipung dan teman-temannya termasuk Friza sedang duduk memegang gitar. Kinan gemetar, rasanya tulang belulangnya rontok satu persatu melihat Friza, laki-laki yang membuat Kinan mengaguminya dari dulu.

Teman-teman Kinan tak ada yang menyadari perubahan diri Kinan. Mereka tetap santai berjalan acuh tak acuh hendak melewati gerombolan Ipung.

Saat Kinan melewati mereka terdengar suara Ipung memanggil Kinan.

"Nan! Nan!"

Terpaksa Kinan berhenti, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kinan tak berani menampakkan wajahnya, dia malu setengah mati dengan Friza. Sedangkan Friza pun seolah tak memperdulikan kedatangan Kinan, meski tanpa sepengetahuan Kinan jantung Friza berdetak lebih cepat dari biasanya.

"Kenapa lo nunduk gitu? Jerawatan?" Tanya Ipung heran.

Kinan mendengus. Kalau saja di depannya tak ada Friza sudah dia pukul si Ipung. Tapi Kinan tak berani bergerak.

Ipung mengamati Kinan seksama. Dia belom pernah melihat Kinan sepemalu ini.

Sebelum keadaan semakin buruk Kinan memutuskan menyusul teman-temannya untuk bertemu Dina.

Dina sedang sibuk mengurus jalannya acara. Ketika dia melihat Kinan, langsung dipanggil Kinan agar mendekat ke arahnya.

"Lo ke sini sama siapa aja?" Tanya Dina.

Kinan menunjukkan jarinya ke arah teman-temannya.

"Oooh.." Dina memanggut-manggutkan kepalanya. "Eh, tadi kayanya gue ngeliat Ipung sama Friza deh. Tapi sekarang gatau dimana mereka."

Kinan melengos.

"Tadi gue abis ketemu mereka, sial! Gue grogi setengah mati di depan Friza." Kinan menggerutu menahan malu.

"Hahahaha, seorang Kinan grogi. Hahaha."

Kinan langsung memukul bahu Dina pelan. Dina malah semakin tertawa keras.

"Din, acara udah mau dimulai. Gimana udah pada siap belom?" Salah satu teman Dina mendekat ke arah Kinan dan Dina. Setau Kinan teman Dina ini namanya Via, mereka pernah sekelas waktu SD sebelum ahirnya Via pindah ke SD tetangga.

"Udah kok, mereka juga udah pada ngumpul di sini." Dina mengawasi para pengisi acara. "Eh Nan, gue pamit bentar ya. Lo nikmatin dulu deh acaranya, ntar gue balik lagi." Dina pamit pergi bersama Via. Kinan hanya membalas dengan senyum kemudian kembali ke gerombolannya.

Teman-teman Kinan dan Kinan asik menikmati acara. Mereka sibuk mengomentari penampilan para pengisi acara. Tiba-tiba dari belakang Kinan ditarik oleh seseorang. Kinan terkejut karna Kinan merasa tak mengenali orang itu.

Sebelum Kinan bertanya orang itu sudah memperkenalkan dirinya.

"Gue Eki temennya Friza, lo Kinan kan? Dia nungguin lo tuh di gerbang depan."

Belum habis rasa kaget Kinan, sekarang Kinan malah dikejutkan dengan perkataan Eki.

"Udah lo percaya aja sama gue, gue ga boong kok." Eki melihat keraguan di mata Kinan.

Tanpa menjawab Kinan mengekor langkah Eki dari belakang.

Benar saja di depan gerbang Kinan melihat Friza sedang berdiri bersender pada salah satu tembok pagar, memakai kaos biru langit dan celana jins 3/4. Poninya yang agak panjang tertiup angin malam, semakin membuat kesan manis di wajahnya yang sudah manis. Jantung Kinan berdegup teramat kencang, bagaimanapun juga ini pertama kalinya Kinan akan mengobrol langsung dengan Friza.

"Ini kan cewe yang lo maksud?" Eki menunjuk ke arah Kinan saat mereka sampai di dekat Friza.

Friza menoleh ke arah Kinan dengan raut muka terkejut. Eki memilih pergi sambil tertawa kencang. Ternyata Eki mengerjai mereka berdua. Sudah terlanjur maju tak bisa mundur lagi.

Selama beberapa menit hanya hening yang terdengar. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, lagipula mereka tak tau harus memulai dari mana.

Menit-menit berlalu, Kinan mulai terlihat resah. Friza yang menyadari gelagat Kinan, mengulurkan tangannya ke Kinan. Kinan tak langsung menyambutnya, dia terpukau dengan senyum manis yang Friza berikan padanya.

"Jadi, kita mau diem-dieman terus?" Friza memulai percakapan.

Kinan tersipu malu. Dia tertawa kecil. "Abis gue bingung mau ngomong apaan." Kinan jujur.

"Sama, gue juga bingung. Haha."

Mereka tertawa lepas bersama. Ternyata Friza benar-benar pemalu. Saat bertemu mereka tak seramai saat di telepon. Hanya pembicaraan ringan yang terjadi di antara Kinan dan Friza.

Selama itu juga Friza tak melepaskan genggamannya di tangan Kinan, membuat Kinan semakin salah tingkah. Tapi genggaman tangan itu membuat Kinan merasa nyaman dan ada kehangatan yang menyelimutinya meski udara malam itu cukup dingin.

"Besok jadi berangkat?" Friza menundukkan wajahnya melihat ke guratan-guratan tanah yang Kinan buat.

"Jadi.."

Friza menahan nafasnya, berat.

"Sama siapa berangkatnya? Hati-hati ya, di betah-betah lo jangan pulang terus." Friza tertawa renyah.

Kinan memandang wajah Friza, dan ikut tertawa. "Gue bahkan penginnya di rumah terus biar bisa ngeliat wajah lo, Za." Batin Kinan.

Sekarang Friza menatap hamparan bintang di atas kepalanya. "Langitnya cerah, Nan. Banyak bintang. Liat deh!"

"Iya, keren." Kinan menengadahkan kepalanya ke atas seperti yang Friza lakukan.

"Lo jangan ngelupain gue ya, Nan. Karna sejauh apapun kita terpisah, kita tetep memandang langit yang sama, kan?" Ada kegetiran di nada suara Friza.

Kinan mengangguk lemah. "Iya, gue ga bakal ngelupain lo kok. Lo juga jangan ngelupain gue ya. Kita kan sahabat, hehe." Kinan membalas tak kalah getirnya.

"Janji?" Friza menjulurkan jari kelingkingnya, Kinan membalas sebagai tanda perjanjian.

Mereka saling melempar senyum penuh arti.

Kamis, 26 Juni 2014

soal pertemuan.. (2)

Tanpa terasa hampir dua tahun berlalu sejak pertama kali Kinan mengagumi Friza. Kini Kinan sudah beranjak remaja, mulai masuk ke sekolah menengah pertama. Tapi sejauh ini tak ada yang berubah, Kinan masih mengagumi Friza tanpa berani mengatakannya langsung ke Friza.

Sore ini seperti biasa Kinan dan Dina pergi ke pematang sawah di belakang komplek rumah mereka. Mereka asik dengan fikiran masing-masing. Lusa, Kinan akan pergi ke asrama di kota seberang.

Hanya suara semilir angin yang membelai lembut rambut panjang mereka. Terlihat mata Dina yang berkaca-kaca, dia tak menyangka akan kehilangan Kinan secepat ini. Rasanya ingin menangis saja, tapi Dina bersikeras tak ingin menangis di depan Kinan. Kinan pun sama seperti Dina, terdiam, masih tak percaya harus pergi lusa.

"Lo yakin Nan mau pergi?" Lirih Dina bertanya, nyaris tak terdengar.

Kinan menganggukkan kepala pelan.

"Lo mau ninggalin gue?" Dina hampir menangis, bulir bening telah mengumpul disudut matanya.

"Ntar gue juga balik lagi kok Din.." Kinan menjawab tak kalah lirih.

Dina menghela nafas.

"Gue ga ada temen main dong, Nan.."

"Kan masih ada Lusi sama Ema." Kinan menoleh ke arah Dina. Melihat sahabatnya hampir menangis, Kinan ikut sedih.

"Tapi ga ada yang sebaik lo!" Suara Dina mengeras.

Kinan terenyak. Dia sadar betul selama ini dia dan Dina sangat akrab, mengalahkan saudara, kemana-mana berdua. Bahkan dengan Lusi dan Ema, mereka ga ada apa-apanya dibanding Dina dan Kinan.

"Gue janji bakal sering ngirim surat ke lo kalau gue udah sampe sana."

Dina tersenyum mendengar perkataan Kinan, tapi kemudian dia teringat sesuatu.

"Eh Nan. Friza gimana?"

"Friza.." Kinan ragu-ragu menjawab. Lagipula apanya yang bagaimana. Toh selama hampir dua tahun ini ga pernah ada apa-apa di antara Kinan dan Friza. Malah mungkin Friza gatau Kinan suka dia atau lebih parahnya Friza ga kenal Kinan!

Kinan menggelengkan kepala.

Selama hampir dua tahun terahir yang Kinan lakukan hanya mengamati Friza dari jauh. Menghawatirkan bila sesuatu yang buruk terjadi padanya atau ikut senang bila sesuatu yang baik terjadi padanya. Sebatas itu, tak pernah lebih. Kinan juga belum bisa memastikan kalau perasaan yang Kinan rasakan saat ini ke Friza adalah cinta. Kinan belum tau..

"Ah, gue gatau Din." Kinan menerawang ke hamparan padi di depannya. Senyum Friza, tawa kecil Friza, langkah kaki Friza, rambut tertiup angin miliknya terbayang sudah. Tiba-tiba Kinan takut kehilangan, tapi entah apa..

"Lo yakin gak mau ngomong soal perasaan lo ke dia?"

Kinan tak bergeming.

Dina merapikan poni yang mulai menutupi matanya. "Apa lo ga takut kehilangan dia, Nan? Yaa.. Walaupun selama ini juga lo ga pernah memiliki dia."

"Itu masalahnya Din, gue ga pernah memiliki dia.."

"Loh? Kok jadi gitu? Gimana lo bisa milikin dia kalo lo ga pernah ngomongin perasaan lo ke dia?" Dina menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya sahabatnya bisa bicara seaneh tadi.

"Eh Nan, dengerin gue ya." Diguncangnya bahu Kinan. "Lo mau pergi ke asrama dan gatau pulangnya kapan, lo bayangin ga selama apa lo di sana, apa yang bakal lo lakuin kalo nanti pas lo pulang tau-tau Friza udah punya cewe di sini? Lo bakal ngerasain apa?"

Terbayang sudah ucapan Dina. Kinan melihat Friza bersama wanita lain, bercanda bersama. Wanita itu bisa membuat Friza tertawa lepas, bercerita banyak hal, menghayalkan masa depan. Fikiran Kinan kacau, di dalam hatinya ada yang sakit. Seakan memaksanya untuk teriak sekeras yang dia bisa. Tapi Kinan malah hanya terdiam di sini. Egonya lebih tinggi dari perasaannya ke Friza.

"Ogah ah, Din. Gue ga mungkin nyatain perasaan gue ke dia." Kinan berdiri dari duduknya. "Pulang yuk udah mau malem nih." Ajaknya ke Dina.

"Payah lo!" Dina menguntit Kinan dari belakang.

Selama perjalan pulang tak dipungkiri, Kinan masih memikirkan kata-kata Dina.

Apa dia siap kehilangan Friza padahal belum sempat memiliki?

Apa dia bisa melihat Friza bersama wanita lain padahal dua tahun ini dia slalu memikirkan Friza?

Apa dia bisa melupakan Friza padahal hatinya sangat mengingkan Friza ada di sampingnya?

Kinan tak henti-hentinya bertanya sampai sesak merajai hatinya sendiri.

•••

Bulan berganti bulan, sudah enam bulan lamanya Kinan berada di asrama dan tak pernah pulang ke kota asalnya. Dia dan Dina sering kirim mengirim surat. Kinan menceritakan banyak hal soal kehidupannya di asrama, Dina pun sama menceritakan ke adaannya di rumah.

Saat masuk sekolah menengah pertama Dina lagi-lagi mendapatkan sekolah yang sama dengan Friza, bahkan satu kelas kembali. Di bulan-bulan pertama Dina masih rajin menceritakan soal Friza, perubahan yang terjadi di diri Friza dari hal terkecil sampai terbesar. Awalnya Kinan tertarik, tapi lama kelamaan Kinan jengah sendiri melihat perubahan Friza yang drastis. Semula Friza adalah laki-laki pendiam yang tak banyak bicara berubah menjadi anak nakal yang jarang sekolah.

Lagipula sekarang di kota barunya Kinan menemukan banyak teman baru hingga pelan tapi pasti Kinan mulai melupakan Friza. Kinan jarang memikirkan dia, hanya sesekali pada momen tertentu Kinan teringat tapi langsung ditepisnya fikiran itu. Walaupun di asrama juga Kinan tak pernah melirik laki-laki lain, padahal banyak yang jauh lebih tampan dari Friza.

Sampai suatu hari di pertengahan bulan April. Kinan kelas dua SMP. Tante Ela akan bertunangan dengan Mas Anu. Mamah menyuruh Kinan untuk pulang ke rumah. Di sinilah pertemuan tak terduga itu terjadi, membangkitkan perasaan Kinan yang hampir dikuburnya dalam-dalam.

Saat Kinan sedang sibuk membantu mamahnya merapikan makanan yang akan di sajikan, tiba-tiba tante Ela memanggilnya.

"Kinan, sini deh tante kenalin sama adeknya Mas Anu."

Kinan menghampiri tantenya.

Namun, langkahnya terhenti. Terpaku dia memandang sosok di depannya. Ada yang membuncah lagi, jantung Kinan berdetak keras tak beraturan.

"Eh malah diem aja ini anak satu. Sini, Nan!"

Buyar sudah lamunan Kinan. Agak terseret langkah Kinan mendekat ke arah Tante, Mas Anu, dan adik Mas Anu berdiri. Semakin dekat, semakin tak menentu perasaan di hatinya.

"Kayanya kalian seumuran ya.." Bergantian Mas Anu melihat ke arah Kinan dan Friza.

"Emang iya, kan dulu juga udah pernah bilang ke kamu Mas." Tante Ela dengan wajah sumringah menarik lengan Kinan agar semakin mendekat.

Friza tak berkedip melihat Kinan. Dia terkejut melihat Kinan, sama terkejutnya dengan Kinan.

"Friza.." Friza menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.

"Ki.. Ki.." Lidah Kinan Kelu, sekujur tubuhnya membeku, tak kuasa menyambut uluran tangan Friza.

"Kinan." Tante Ela yang melengkapinya. "Kok grogi gitu sih, Nan? Naksir ya sama Friza" Tante Ela tersenyum jahil ke arah Kinan.

Kinan langsung tersipu malu, begitu juga dengan Friza. Pipi mereka bersemu merah. Tapi kejadian itu ga berlangsung lama karena acara akan segera dimulai.

Kacau sudah usaha Kinan melupakan Friza. Pertemuan itu berhasil membangkitkan perasaan lama. Di sela-sela acara Kinan sibuk mencuri-curi pandang ke arah Friza, bahkan sesekali kepergok Friza yang juga ikut mencuri pandang ke arah Kinan. Kalau sudah ketahuan begitu, Kinan hanya tersenyum malu menyadari Friza sadar sedari tadi diperhatikan Kinan. Friza pun ikut tertawa melihat muka kepiting rebus Kinan.

Sepulang dari acara itu, bayangan Friza semakin merajai alam bawah sadar Kinan. Kinan tertawa sendiri teringat kejadian curi-curi pandang. Teringat tertawanya Friza. Teringat senyum manisnya. Teringat muka serius yang lebih tepat dikatakan muka idiot.

Gagal lah sudah niat move on Kinan..

Rabu, 25 Juni 2014

namanya Friza (1)

"Nan, liat deh cowo itu! Liat! Manis banget ga sih? Dia satu sekolahan loh sama gue, namanya Friza!" Dengan girang Dina mengguncang bahu Kinan. Tapi Kinan acuh tak acuh dengan omongan Dina. "Ayo dong, Nan. Liat dulu bentar, pasti naksir deh!" Lanjut Dina lagi.

"Yang mana?" Sahut Kinan.

Dina langsung menunjukkan jarinya ke satu arah, dengan malas Kinan menuruti petunjuk Dina, sejurus kemudian dilihatnya anak laki-laki seumuran mereka sedang asik bermain layangan juga sama seperti Kinan.

"Iya, dia manis."

"Ih, kok lo cuek gitu sih nanggepinnya!" Dina menggerutu, bibirnya yang tipis maju beberapa centi mirip ikan lohan.

"Lah, terus gue harus jawab apa?" Kinan sibuk menarik ulur senar layangannya. "Gara-gara lo nih gue hampir kehilangan layangan gue." Lanjut Kinan yang masih sibuk menarik ulur senar layangan. "Daripada lo ngeliatin cowo itu terus, mending lo bantuin gue ngerapihin senar layangan gue deh."

Ahirnya dengan masih menggerutu Dina membantu Kinan merapikan senar layangannya.

Sore ini seperti biasanya Kinan dan Dina bermain layangan di pematang sawah dekat rumah mereka. Kinan dan Dina bersahabat sangat akrab, meski mereka berasal dari sekolah dasar yang berbeda tapi setiap pulang sekolah atau saat liburan mereka pasti main bersama seperti sekarang ini. Mereka baru akan pulang saat matahari tinggal sepenggalah di ufuk barat.

•••

"Kinan pulang Mah.." Kinan melangkah masuk ke dalam rumah saat adiknya Aman sedang asik memainkan robot-robotan yang baru seminggu lalu ayah belikan. "Mamah dimana dek?" Tanya Kinan.

"Ada di dapur, katanya tante Ela mau main jadi mamah sibuk masak." Jawab Aman tanpa sedikitpun menoleh ke arah Kinan.

"Tante Ela?" Kinan mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan mamah sibuk masak cuma karna Tante Ela mau main, biasanya juga engga. Kinan simpan dulu rasa penasarannya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.

Seusai mandi Kinan menghampiri mamah di dapur. Dilihatnya meja makan penuh berisi makanan di atasnya. "Hmmm, makan besar nih mah." Ujar Kinan sambil mengambil sepotong tempe.

"Eh, Kinan. Tante Ela mau main sama mas Anu katanya, ga enak kan kalo mamah ga nyiapin makanan." Mamah mencoba menjelaskan ke Kinan.

"Oh gitu.." Kinan melanjutkan kunyahan tempenya kembali.

Selang beberapa menit kemudian Kinan memilih pergi ke rumah Dina untuk bermain bersama.

"Pulangnya jangan kemaleman, Nan." Seru mamah.

"Iya, Mah. Kinan pergi."

•••

Keesokkan harinya sepulang sekolah Kinan langsung menuju rumah Tante Ela, sesuai pesan tantenya semalam. Saat memasuki ruang tamu, Kinan melihat tantenya sedang membuat bingkisan, entah bingkisan apa.

Menyadari kedatangan Kinan, tante Ela memanggil Kinan untuk segera mendekat dan membantu.

"Kado buat siapa, Tante?"

"Buat Mas Anu. Ntar Kinan yang nganterin ya.." Jawab tante Ela.

"Hah? Kinan kan ga tahu rumahnya Mas Anu." Kinan keberatan dengan permintaan tantenya.

"Ayolah Kinan, deket kok. Depan gang situ."

Ahirnya Kinan menyetujui permintaan tante Ela dan menuju rumah Mas Anu.

Sepi, kesan pertama yang Kinan dapatkan saat memasuki halaman rumah Mas Anu. Ragu-ragu Kinan melangkah, tak henti-hentinya Kinan memandang ke sekitar barangkali ada salah satu penghuni rumah yang ia temui, tapi hasilnya nihil. Ahirnya Kinan mengetuk pintu utama rumah Mas Anu.

Pelan Kinan mengetuk daun pintu. Sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap hening. Kinan hampir putus asa dan memilih pergi, namun sebelum Kinan melangkah pergi tirai jendela rumah Mas Anu terbuka. Dilihatnya bocah laki-laki seumuran dengan Kinan mencoba membukakan pintu untuk Kinan.

"Cari siapa?" Tanya bocah itu.

Kinan terkesiap, terbata-bata menjawab pertanyaan.

"Mmmm.. Mmmm.. Mas Anunya ada?"

"Mas Anunya lagi pergi."

"Yaudah, nitip ini aja deh buat Mas Anu dari Tante Ela."

Bocah itu ragu-ragu menerima bingkisan dari Kinan, tapi tak lupa mengucapkan terimakasih. Kinan mengangguk kemudian melangkah pulang.

"Bukannya itu cowo yang kemarin gue liat di sawah sama Dina ya." Kinan menggumam pelan.

Sedangkan bocah itu masih saja memandangi Kinan hingga tubuh Kinan menghilang di ujung gang.

¤¤¤

2 tahun kemudian..

Kinan sedang asik memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya depan sekolahnya saat Vika teman sebangku di kelas menghampirinya.

"Woi! Ngelamun aja lo, cepet tua baru tau rasa!"

Kinan tertawa kecil mendengar lelucon sahabatnya.

"Ngapain sih lo duduk disini?" Kinan menggeser duduknya agar Vika bisa duduk di sampingnya. "Masih penasaran sama cowo minggu lalu?"

Kinan tersenyum kecil, teringat kejadian minggu lalu. Saat itu Kinan sedang mengikuti lomba upacara yang diadakan di sekolahnya. Kinan cukup familiar di sekolah-sekolah di daerahnya, itu membuat banyak murid laki-laki menyukai Kinan, selain pintar Kinan juga lumayan cantik. Tapi ada satu orang laki-laki yang Kinan lihat acuh tak acuh terhadap dirinya, ketika teman-temannya asik menggoda Kinan dia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum kecil melihat kelakuan teman-temannya. Kinan terpesona langsung di menit dan tempat itu juga, rasa penasarannya membucah, sepertinya ada yang berbeda dari laki-laki itu, tapi Kinan tak tau apa.

"Ebuset, malah ngelamun ditanyain."

Kinan tersentak. Sadar dengan pertanyaan Vika. Dengan senyum jahil Kinan menjawab, "Iya, gue lagi nungguin dia lewat hahahaha."

"Nah, emang lo tau dia mau lewat?" Vika penasaran.

"Tau, dia kan satu sekolahan sama Dina temen rumah gue. Hari ini Dina olahraga di lapangan pasti lewat sini kan." Kinan senyam senyum sendiri membayangkan senyum laki-laki itu.

Vika hanya ber-Ooo ria dan ikut memandangi lalu lalang orang di depan mereka.

Beberapa menit kemudian..

"Eh itu dia!" Vika sumringah memandang ke arah barisan teman-teman Dina yang sedang berjalan menuju lapangan.

Kinan langsung memandangi ke arah mereka, tersenyum kecil. Seperti biasa dilihatnya teman-teman lelaki Dina teriak-teriak memanggil nama Kinan tapi laki-laki itu masih seperti minggu lalu hanya tersenyum simpul, Kinan semakin terpesona. Kinan juga melihat Dina. Terlihat Dina yang sedang tertawa, menertawai perubahan rona pipi Kinan yang bersemu merah. Dina tau Kinan naksir temannya, tapi dia belum tau siapa. Sepulang sekolah Ia akan menanyakannya langsung pada Kinan, tanpa perantara.

•••

♫ Aku berbagi untuk sahabat, kita berbagi untuk sahabat, kita bisa bila bersama.. ♫

Lirih terdengar suara Audi feat nindy, penyanyi yang duet bersama setelah audisi oleh salah satu produk kecantikan. Kinan sedang asik mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan wali kelasnya tadi pagi di sekolah.

"Kinaaaaaan!"

"Kinaaaaannn!"

"Kinaaaaaannnn!"

"Ya Tuhan, berisik banget sih itu bocah satu, tinggal naik ke atas aja pake tereak segala berasa di hutan." Kinan melempar pensil ke atas buku.

"Iyaa Din, lo naik aja sini. Gue lagi ngerjain PR." Kinan membalas teriakan Dina.

Tak lama kemudian dilihatnya muka kucel Dina berdiri di depan pintu kamarnya. Kinan terbahak melihat kondisi sahabatnya.

"Kenapa lo? Abis kena badai di luar?" Seloroh Kinan.

"Sial lo!" Dina melempar bantal ke arah Kinan. Kinan masih terbahak. "Gue abis berantem sama Kak Abel." Dina manyun semanyun-manyunnya menceritakan keributannya dengan kakak perempuannya.

Seusai bercerita panjang lebar, Dina teringat tujuan utamanya datang ke rumah Kinan. "Lo naksir temen gue ya, Nan?"

Kinan tersipu mendengarnya.

Sekarang gantian Dina yang tertawa keras. "Nyaelah lo, Nan. Hahahaha. Sama siapa? Ari atau Zidan bocah pindahan dari Bandung?"

Kinan melotot mendengar pertanyaan Dina. Mana mungkin Kinan melirik dua bocah yang walaupun fisiknya di atas rata-rata tapi tengilnya kagak nahan. No way! Fikir Kinan.

"Bukan mereka.."

"Nah, terus siapa?" Dina terkejut. Rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun.

Kinan tersipu malu, mengingat lagi dua kali pertemuan mereka. Eh bukan pertemuan, tapi curi-curi pandang yang Kinan lakukan ke sosok itu.

"Gue ga tau namanya, Din." Ucap Kinan pelan.

"Ya Tuhan, lo kagak tau namanya?!" Dina menepuk jidatnya sendiri. Lalu, "Bentar, coba lo sebutin ciri-ciri dia, gue pasti kenal."

Kinan mencoba mengingat ciri-cirinya, rambut cepak, tatapan mata tajam, senyum manis, dan alis mata yang tebal mirip semut berbaris, tinggi Kinan mungkin sedaun telinganya.

Dina berfikir keras mencoba mencari teman satu kelasnya yang memiliki ciri seperti yang Kinan sebutkan. "Oh gue tau!" Seru Dina girang. Kinan hampir tersentak dari tempat duduknya. Tapi si Dina hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.

"Namanya, Friza! Iya Friza Andromeda!" Dina berseru lagi, senang. Seolah menemukan jawaban soal teka-teki yang paling sulit.

Kinan berfikir sebentar, mencoba mengingat-ingat. "Kayanya gue ga asing deh sama nama itu.."

"Yaelah lo, Nan. Gimana ga asing. Andromeda kan nama keluarga dia. Tante lo masih pacaran sama Mas Anu, kan?"

"Ya Tuhan!" Kinan menepuk jidatnya sendiri. "Pantesan aja gue ga asing sama itu bocah! Hahaha" Kinan tertawa terpingkal-pingkal.

Mulai hari itu setiap hari yang Kinan lakukan adalah mencari tau segala hal tentang Friza. Tiada hari tanpa berita soal Friza. Sampai Dina merasa bosan sendiri menceritakan soal kegiatan Friza di sekolahan.

Dina menceritakan secara detail tentang Friza. Friza yang jarang masuk sekolah karna sakit. Friza yang hemat suara, ternyata cowo idaman Kinan termasuk cowo yang pendiam. Pantas saja Kinan penasaran setengah mati. Setiap kelas Dina ada jadwal olahraga di lapangan, Kinan orang pertama yang akan menunggu mereka lewat di depan sekolahan Kinan.
Hanya itu yang bisa Kinan lakukan.

Pernah suatu hari Dina bertanya pada Kinan, mengapa Kinan tidak langsung berterus terang pada Friza bahwa dia menyukainya. Kinan hanya tertawa menanggapinya, mana mungkin Kinan yang memulai mengajak Friza bicara, sedangkan Friza adalah orang tercuek yang pernah dia temui. Kata Kinan, dia menikmati proses ini, mengagumi dari jarak jauh lagipula usia mereka masih terlalu dini untuk sebuah kata 'cinta'. Kinan juga ga yakin apakah perasaan yang Kinan rasa saat ini beneran cinta atau sekedar rasa kagum. Yang jelas Kinan merasa senang setiap kali Dina menceritakan segala hal tentang Friza.

"Ah cinta, masa iya anak kelas 5 SD sudah jatuh cinta? Entahlah.." Kinan tertawa dalam hati menertawai kekonyolan dirinya sendiri.

Senin, 02 Juni 2014

SBMPTN

TATA TERTIB PESERTA UJIAN TERTULIS SBMPTN 2014



A.    SEBELUM UJIAN DIMULAI

1.     Peserta ujian harus sudah mengetahui RUANG UJIAN dan LOKASI UJIAN sehari sebelum ujian berlangsung.
2.     Peserta harus membawa :
  • KARTU TANDA PESERTA SBMPTN 2014 yang diperoleh pada saat menuntaskan pendaftaran online dihttp://pendaftaran.sbmptn.or.id
  • Fotokopi ijazah SMA/SMK/MA/MAK atau yang setara dan sudah dilegalisasi. Untuk lulusan tahun 2014 sekurang-kurangnya harus membawa Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) dari Kepala Sekolah yang dilengkapi dengan pasfoto berwarna terbaru peserta dan harus dibubuhi cap sekolah>
  • Pensil hitam 2B secukupnya
  • Rautan pensil
  • Karet penghapus yang bersih dan lunak
  • Ballpoint hitam
3.     Peserta harus berpakaian rapi dan menggunakan sepatu (tidak diperbolehkan menggunakan T-Shirt/ Kaos Oblong).
4.     Peserta harus datang ke LOKASI UJIAN paling lambat 30 menit sebelum ujian dimulai.
5.     Peserta tidak diperkenankan masuk ruang ujian sebelum ada tanda untuk memasuki ruang ujian.
6.     Peserta harus duduk di tempat yang sudah diberi nomor ujian, tidak diperbolehkan menempati tempat duduk lain.
7.     Peserta meletakkan KARTU TANDA PESERTA dengan pasfoto menghadap ke atas.
8.     Peserta tidak diperbolehkan membawa daftar logaritma, segala jenis kalkulator, kertas, buku maupun catatan lain pada waktu memasuki ruang ujian.
9.     Peserta tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi. Semua alat komunikasi dimatikan dan disimpan di dalam tas.
10. Tas atau barang bawaan lainnya di letakkan di depan kelas atau ruang ujian.
11. Peserta yang kehilangan KARTU TANDA PESERTA harus segera melaporkan diri kepada Pengawas Ujian.

B.    SELAMA UJIAN BERLANGSUNG

1.     Peserta tidak diperkenankan membuka naskah soal ujian (NSU) sebelum diberi tanda oleh Pengawas Ujian.
2.     Setelah tanda ujian dimulai, pertama peserta harus memeriksa lembar naskah ujian dengan seksama untuk melihat kelengkapan lembar NSU. Apabila ditemukan lembar naskah yang tidak lengkap segera minta diganti dengan NSU yang baru.
3.     Peserta harus memeriksa kondisi Lembar Jawaban Ujian (LJU).
4.     Peserta mengisi Lembar Jawaban Ujian dengan pensil 2B.
5.     Menandatangani pernyataan yang ada di LJU dengan menggunakan bolpoin.
6.     Selama ujian berlangsung peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruang ujian, kecuali seizin pengawas ujian.
7.     Apabila peserta telah selesai mengerjakan ujian sebelum waktu ujian berakhir, maka peserta harus tetap duduk di tempat sampai waktu ujian berakhir.
8.     Peserta tidak diperbolehkan saling meminjam alat tulis, berbicara,menggunakan catatan, serta melakukan kecurangan dalam bentuk apapun.



C.    SETELAH UJIAN SELESAI

1.     Peserta harus memeriksa dan memastikan NAMA, NOMOR PESERTA, TANGGAL LAHIR, KODE NSU yang ada pada LJU sudah diisi dan dihitami dengan benar serta sudah ditandatangani.
2.     Peserta tidak diperbolehkan meneruskan pekerjaan serta tetap duduk di tempat pada saat bel tanda waktu ujian berakhir berbunyi.
3.     Peserta baru boleh meninggalkan tempat setelah diberi tanda oleh Pengawas Ujian.

D.    SANKSI

Setiap pelanggaran terhadap TATA TERTIB ini akan mengakibatkan peserta ujian tidak diikutsertakan dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru.