Minggu, 13 April 2014

pergi

Bener-bener lagi membunuh hati sendiri. Lagi menikamnya berulang-ulang tiap kerinduan itu muncul. Sial! Aku harap setelah ini aku tak terlalu membenci rasa yang ku sebut cinta dan rindu. Semoga, aku harap o:)

Tepat seminggu setelah pesan tak berbalas itu, tepat satu minggu setelah harapan yang muncul ke permukaan kembali menguap tanpa kepastian. Aku tak lagi bisa membedakan siapa yang salah antara kamu dan aku. Kamu yang terlalu senang memberi harapan semu, seolah-olah aku bisa mendapatkan kita kembali seperti dulu, dan aku yang memiliki mimpi terlalu tinggi, mengharapkanmu.

Kamu tak lihat kan bagaimana kondisiku saat ini? Ya kamu tak akan pernah melihat, bagaimana mau melihat menoleh ke arahku saja seakan enggan. Aku terluka. Di sini ada yang rapuh, hatiku. Benar, aku mengakuinya sekarang. Ternyata hatiku tak pernah bisa sekuat baja bila itu tentangmu, selalu rapuh, tak pernah berubah sedari dulu slalu seperti itu.

Seharusnya kamu tak perlu memberi asa bila memang rasa itu tak pernah ada dalam hatimu, seharusnya tak perlu membuatku semakin bermimpi bila nyatanya kamu memikirkanku pun tidak. Aku bodoh memang. Masih memujamu saat kamu tlah jauh meninggalkanku. Aku bodoh, selalu menganggap senyum dan tatapan mata indahmu untukku itu ku sebut cinta. Aku bodoh.

Sedari dulu aku tak bisa membedakan sikapmu untukku, sorot tajam matamu yang menusuk itu, senyum simpulmu yang penuh misteri. Aku tak pernah bisa membedakannya. Yang aku rasa hanya cinta, kerinduan yang slalu muncul tiap semua itu tak ada. Aku tak tau apa kamu membenciku apa kamu mencintaiku atau apa kamu tak ingin mengenalku, aku tak bisa membedakannya. Cintaku untukmu membuatku buta, bahkan tak peka pada diriku sendiri padahal bila dengan yang lainnya sekali pandang saja aku bisa memahaminya.

Aku tak ingin lagi bertanya bagaimana perasaanmu untukku. Tak pernah lagi. Aku hanya ingin benar-benar pergi dari situasi ini, dalam kehidupan yang slalu merindukanmu. Kamu tak tau kan rasanya menghujam sekali setiap kerinduan itu muncul aku malah menikam hatiku terus menerus. Seolah memaki diri, aku tak perlu seperti itu. Merindukan orang yang tak merindukanku.

Hujan membawa kenangan itu kembali padaku saat ini. Apa kamu puas? Merajai hatiku lebih dari separuh umurku? Ini sudah terlalu lama, boy! Bayangkan, aku sudah menyia-nyiakan separuh usiaku hanya demi namamu. Memikirkanmu sekaligus berulang kali membunuh hatiku. Seakan aku ini bodoh, tak bisa berfikir. Untuk apa mencintai bila hanya menyakiti diri sendiri.

Apa kamu ingin bertanya "apa aku lelah?" Ayolah, tanyakan kalimat itu padaku sekarang. Aku akan menjawabnya dengan mantap dan kencang. "Ya aku lelah! Aku lelah tapi tak pernah bisa berhenti!" Ya Tuhan, lihat sendiri kan bagaimana idiotnya mahluk yang mencintaimu ini boy? Sudah tau lelah tapi tak bisa berhenti.

Aku benar-benar lelah. Ingin menangis saja, tapi aku tau semuanya lebih sia-sia kalau sekarang aku menangis. Percuma. Tak merubah apapun, begitu juga dengan hatiku. Bolehkan aku istirahat sekarang? Istirahat dari kegiatan mematikan hatiku sendiri. Kamu tak tau bagaimana lelahnya aku sekarang ini. Mungkin kamu memang telah pergi. Jadi ada baiknya bila kini aku yang harus memilih pergi juga, sepertimu :)

Tidak ada komentar: