Dear mantan, apa kamu telah bahagia sekarang ? Baiklah semoga iya kebahagiaan telah menyelimutimu sekarang. Tapi bolehkah sekarang aku sedikit jujur padamu, entah untuk apa yang jelas rasanya aku ingin jujur sejujur-jujurnya, sengaja ku tulis dalam catatan tak berguna ini, karna ku yakin kamu tak akan pernah membacanya dan tak akan pernah tau apa yang sedang aku bicarakan sekarang.
Apa kamu telah benar-benar menemukan kebahagiaanmu sekarang ini ? Kalo iya beritahu aku, agar aku dapat merasakan kebahagiaanmu juga. Aku tak mengerti hampir dua bulan setelah ucapan perpisahan darimu, yang nadanya masih terngiang ditelingaku, berati bulan ini seharusnya anniversary satu tahun kita ya, yang detailnya sudah kita rencanakan akan bagaimana tapi memang takdir yang menentukan segalanya. Jujur kemarin entah sejak kapan aku telah mulai menyerah mencintai kamu, menyerah menyimpan harapan setinggi langit tentang kita. Aku mulai mengiklaskan dan membiarkanmu pergi, tanpa membiarkanmu untuk kembali lagi. Aku mulai mengerti memang sudah seharusnya semua tentang kita tertutup rapat dalam lembaran kenangan, tak ada harapan dan tak ada masa depan, semua hanya kisah usang yang tak perlu dibahas dan tak perlu diceritakan lagi dan lagi.
Tapi aku juga tak pernah tau mengapa saat aku mulai yakin dan melepasmu pergi, secara tiba-tiba namamu tertulis lagi dalam pesan masuk di bbmku, kamu mau apa sayang ? Tak bisakah kamu memberi sedikit waktu dan jeda untuk hatiku ? Iya aku mengerti, aku masih ingat permintaanmu sebelum kamu pergi, kamu minta aku untuk tetap menjadi temanmu kan ? Memintaku agar aku tak berubah padamu ? Iya aku mengerti, tapi bukankah aku pun meminta beri sedikit waktu untukku terutama hatiku, bukan untuk melupakanmu yang pernah ku cintai sepenuh hati, bukan, tetapi hanya untuk melepaskan rasaku, melepaskan hatiku yang terlalu bergantung padamu, hanya itu.
Apa kamu tak ingat ? Atau memang tak pernah mencoba mengingatnya ? Kemarin-kemarin aku telah mencobanya, menjadi temanmu seperti biasa, seperti dahulu tapi yang ada kamu mengacuhkanku, seolah aku ini hanya pengganggu ketenangan hidupmu, padahal saat itu aku masih mencintaimu, ya, aku masih mencintaimu meski dalam diam. Memperhatikanmu dari jauh. Tapi kamu, kamu seperti benar-benar tak mengharapkan ada aku lagi dalam hidupmu, sampai saat terahir kali aku menghawatirkanmu, kamu malah memakiku dengan ucapan kasarmu, apa kamu fikir aku tak berhati, sayang ? Aku memiliki hati, bukan baja, ada saatnya hatiku merasa terluka tersakiti, dan lelah. Aku memang mencintaimu, ya ! Aku tak munafik seperti katamu yang mengatakan aku munafik ! Tapi sepertinya sudah seharusnya aku lebih menyayangi diriku sendiri daripada menyayangi orang yang menyakitiku, aku menyerah sayang, menyerah melakukan semuanya dalam diamku.
Entah disana kamu merasakan apa tidak, aku mulai tak perduli lagi dengan apa yang kamu lakukan dan segala yang terjadi denganmu, yang aku tau kamu telah memilih jalanmu sendiri dan kamu harus bahagia, aku mulai tak menghiraukan panggilan rinduku untuk namamu, aku mulai mengacuhkanmu. Tapi saat aku berhasil merelakanmu, mengiklaskanmu, kamu lagi-lagi datang, ah sayang, sungguh aku tak ingin memakimu, untuk apa kamu datang lagi bila hanya ingin menyakitiku ? Ketika aku berusaha welcome dan menyambut baik kedatanganmu tapi kamu malah mengacuhkanku lagi dan lagi bahkan tak jarang memakiku, kamu tak sadar ? Ucapanmu itu seperti belati yang menyayat perasaan yang dulunya begitu tulus menyayangimu, kamu tak sadar sayang ?
Apalagi yang terjadi hari ini, sungguh, sebenarnya aku sudah benar-benar tak perduli dengan ada atau tidaknya dirimu, semuanya tak berarti apa-apa. Tapi kamu tak tahukan posisi aku ? Ya, kamu memang tak tau dan tak pernah tau, karna yang terpenting adalah egomu, kepuasan hatimu, iya kan ?
Baiklah sayang, bila menyakitiku adalah kebahagiaan untukmu, kamu menang. Bila menjatuhkanku pada lubang yang tak ku ketahui dalamnya suatu kepuasan untukmu, kamu menang. Bila air mataku yang menetes ini mampu membuatmu tertawa sekeras yang kamu bisa sampai sakit perutmu, ku akui kamu menang :) tertawalah sayang, bahagialah, jemput semuanya untukmu :) aku tak apa, serius, aku senang bila sakitku ternyata alasanmu mendapatkan kebahagiaan, apa kali ini kamu akan mengatakan aku munafik lagi ? Silahkan, aku tak akan pernah melarangnya, lakukanlah sepuasmu, teruslah menyakitiku sampai kamu muak :) karna aku akan tetap seperti ini, membiarkanmu bahagia dengan caramu, meski merelakan diriku. Tapi sayang, nanti, bila tiba saatnya kamu mulai muak menyakitiku, tolong, jangan pernah ingatkanku soal caramu membahagiakanku ya ? Aku tak ingin mengingatnya lagi, sungguh, karna sepertinya mengingat caramu menyakitiku lebih indah daripada mengingat caramu membahagiakanku haha LOL!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar