Merasa tak perlu mencarimu tapi disudut hati yang lain bersikeras semestinya aku menghubungimu saat rasaku seperti sekarang. Tapi ini apa? Bukankah ini hanya hal konyol yang telah berkali-kali aku lakukan? Jelek benar, iya benar! Tak seharusnya aku terkurung dalam perasaan yang hanya menahanku, mengatakan aku mampu berlalu tapi hatiku tidak, hatiku masih tertinggal di sini, dalam lembaran kisah usang yang ceritanya saja hampir terlupa oleh dunia. Aku tlah sering mencobanya, karna semuanya pasti tau betapa sering aku mencoba menempati hati yang lain berharap bisa mencintai yang baru dan melupakan ceritaku dulu bersamamu, namun faktanya semua hanya seperti bomerang, aku lepaskan tapi malah menyerangku kembali, lagi dan lagi.
Semuanya ga lucu ketika aku merasa nyaman dengan yang baru tapi langsung rapuh saat sesuatu mengingatkan aku tentang kamu, rasanya sesak, ada yang tertusuk dalam tubuhku, mimpi-mimpi semu yang ku rangkai selama tujuh tahun mencintai dan dua tahun berusaha pergi.
Ya, aku mengerti, memang tak selamanya mimpi itu tentang kamu, tapi tak pernah jauh karna kamu. Dalam kurun waktu tujuh tahun itu aku mencintai sepenuh hati meski terkadang terselip benci, bermimpi setinggi langit tentang masa depanku bersamamu, karna aku yakin my first love will be my last love, mengesalkan ya? Kenapa aku harus berfikiran sejauh itu saat umurku masih belum genap mencapai tujuh belas tahun? Tapi faktanya memang begitu, semua tentangmu terasa menyenangkan dalam ingatanku, bahkan cara kamu menyakitikupun membuatku tersenyum terselip rindu.
Dan saat aku benar-benar merasa lelah mencintai dan mengharapkan orang yang tak ku ketahui bagaimana perasaanya untukku, well ya aku akui disini aku bodoh, aku mengaku sebagai orang yang paling mengerti tentang kamu tapi tak pernah mampu mengenali perasaan yang kamu miliki untukku, aku meragukanmu hanya karna kamu tak menguatkanku seperti tiga tahun yang kita lewati! Ahirnya saat itu aku memilih menyerah mempertahankanmu, tanpa ku sadari keputusanku untuk menyerah malah semakin membuatku terpuruk, aku tak mampu merasakan apa itu cinta, bagaimana indahnya dicintai, bagaimana menyenangkannya mencintai, bahkan untuk rasa sayangpun tak ada! Semuanya kebas, aku mati rasa! Semua yang terjadi hanya kepura-puraan yang semestinya tak pernah aku lakukan. Dan setelah itu banyak cerita yang kualami, dalam kurun waktu dua tahun, ku kira kemarin saat bersama dia kekasihku yang terahir aku telah mampu melupakan sosokmu yang namanya coba ku kubur dalam-dalam, tapi kenyataannya setelah sosok ini pergi aku malah kembali, ya k e m b a l i pada hatimu. Dua tahun yang sia-sia :)
Mimpi itu harapan itu seperti perlahan menusukku, ya aku memang mengatakan aku telah mampu berlalu, tak pernah mencoba stay pada sesuatu yang ku sebut "masa lalu", aku memang meninggalkannya, mencoba mencari dan menjalani cerita hidupku yang baru dengan atau tanpa dirimu, tapi satu hal yang tak pernah ku sadari ternyata hatiku tak mampu pergi, dirimu hanya seperti tanah kelahiran yang membuatku rindu ingin kembali, walaupun aku tau, tau sekali hafal dengan perangai ini, semuanya takkan pernah kembali! Meski aku harus meminjam mesin waktu, semua tak akan kembali.
Lalu aku harus menyalahkan siapa? Hatiku yang terlalu rapuh apa kenangan yang membisikkan rindu? Tak mungkin kan aku hidup dalam kenangan dan impian semu terus menerus? Tapi hatiku tuli tak mendengarkan teriakan-teriakan mereka yang memintaku untuk pergi dalam zona nyaman yang kini hanya sebuah kenangan.
Aku marah, marah pada mereka yang menghakimiku seolah-olah aku terdakwa di sini, apa mereka tak melihat selama ini aku telah mencobanya bahkan sampai aku lelah dan bosan mencoba. Mereka memakiku, sepertinya aku hina sekali karna masih memiliki mimpi yang dua tahun ini ku abaikan dan ku biarkan pergi. Mereka tak tahu, atau memang tak pernah berusaha untuk tahu, aku telah MENCOBANYA, tak jarang aku memaki diriku sendiri, karna aku tau tak semestinya aku seperti ini lagi dan lagi.
Tapi setidaknya kini aku tak merajuk lagi padamu, tak merengek lagi soal rinduku karnamu, aku lebih memilih menutup semuanya rapat-rapat. Biar hanya aku yang tau, kamu tak perlu tau, karna mencintai kamu dengan cara ini membuatku merasa nyaman, setidaknya aku tak membebani seseorang dengan perasaan yang ku sebut, "cinta".
Tidak ada komentar:
Posting Komentar