Tiga minggu setelah kepergianmu, aku masih stuck di sini, terdiam, tanpa aku tau harus melakukan apa, aku tak pernah benar-benar bisa melupakanmu setelah permintaanmu tiga minggu yang lalu, yang aku lakukan sekarang hanya membebaskanmu dari lingkaran hidupku yang sepertinya terlalu menyakitimu.
Tiga minggu setelah kepergianmu aku masih disini, menatapmu dari kejauhan, mendoakanmu dalam diam dan mengenangmu dalam ingatan. Hanya itu yang bisa kulakukan karna aku yakin kali ini aku tak akan melukaimu lagi. Mencintaimu dalam kebisuan, tanpa perlu kamu tahu dan mendengar betapa seringnya hati ini menyerukan aku menyayangimu. Tanpa perlu kamu tau betapa orang-orang disekelilingku bosan memakiku karna aku masih menyayangimu padahal kamu tlah jauh meninggalkanku.
Tiga minggu setelah kepergianmu, masih di sini aku menyebut namamu dengan lirih, masih dengan panggilan sayang yang dulu slalu kuucapkan tanpa harus membebani sosokmu lagi dengan status kita. Dan kamu tak perlu tau, aku menahan egoku sendiri untuk tak memanggilmu di nyataku saat aku merindukanmu. Aku hampir merengek padamu seperti yang dulu-dulu itu karna faktanya hari ini setelah tiga minggu kepergianmu aku masih mencintaimu, menyimpan deretan kenangan-kenangan yang telah kamu buat meski lama-kelamaan semua itu seperti tombak yang menusukku satu persatu.
Tiga minggu setelah kepergianmu, aku masih di sini, menggenggam hatiku yang yang pernah ku titipkan padamu tapi tak pernah lagi menggenggam hatimu yang sempat kamu titipkan padaku. Aku masih di sini setelah berpura-pura tegar melepaskanmu dan ahirnya aku benar-benar terluka saat merindukanmu.
Tiga minggu setelah kepergianmu, aku masih belum bisa melupakanmu atau membencimu seperti maumu meski disudut hati yang lain aku belum bisa mengerti dengan perubahanmu yang teramat drastis padaku.
Di sini setelah tiga minggu kepergianmu, aku, masih menunggumu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar