Jumat, 10 Januari 2014

seharusnya tak perlu kembali



Aku tak tahu harus menyambut kepulanganmu kembali yang kesekian kali ini dengan apa. Apakah harus ku sambut dengan senyum, suka, duka, tangis atau tertawa? Aku ingin tersenyum tapi aku tau disudut hati ini masih ada luka yang kamu beri sejak kepergianmu setahun yang lalu, kepergianmu tanpa alasan, tanpa pesan terakhir yang semestinya bisa kau jelaskan padaku. Aku ingin menangis, tapi apa yang harus ku tangisi, kepergianmu setahun yang lalu memang ciptakan sejuta tanya yang sampai saat ini belum kutemui jawabnya, tapi rasanya bila ku bahas saat ini pun semuanya sudah basi, dibahaspun sudah tak ada gunanya lagi. Aku ingin tertawa, karna pada akhirnya kamu kembali lagi padaku, masih dengan senyuman yang sama, senyum yang dulu membuatku begitu mencinta, tapi kini tlah ternodai oleh apa yang seharusnya tak terjadi diantara kita.
Selepas malam tahun baru itu, ya malam tahun baru seperti biasanya yang kita lewati bersama, dengan kembang api, dengan konvoy mengelilingi taman kota yang tentu bukan kita saja yang ada disana, ramai, banyak orang, kamu tertawa bersamaku, aku pun tertawa, betapa bahagianya kita. Tak ada sedikitpun tanda-tanda yang menunjukkan kamu akan pergi meninggalkanku, sangat jauh, bahkan terlalu jauh dari jarak yang tak ku mengerti. Kamu masih menggenggam tanganku, berdoa bersama, menghening sejenak diantara keramaian, dan apa kamu tau doaku saat itu ? “aku ingin selalu bersamamu, menggenggam tanganmu seperti ini, tertawa bersamamu, bahkan selalu menikmati kembang api tahun baru untuk tahun-tahun seterusnya”. Yaa walaupun aku tak tahu apa doamu saat itu. Tapi itulah doaku, selalu bersamamu.
Esoknya saat ku buka mata, berharap seperti biasanya ada pesan masuk darimu meski hanya sekedar ucapan selamat pagi, tapi faktanya tak pernah ku temui kata-kata itu lagi darimu, bahkan untuk selamat malamku atau selamat siangku, tak pernah ku jumpai lagi itu semua behari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Apa difikiranmu aku tak akan mencarimu? Aku mencarimu; dengan susah payah dan dengan airmata yang tertumpah. Mencarimu ke setiap sudut yang ku hafal tempat biasa kau berada, ke teman-temanmu, bahkan dengan gila mencarimu ke setiap pedagang asongan yang ku temui, berharap mereka pernah melihat sosokmu meski sekilas. Tapi apa yang ku dapatkan termyata tak berbanding lurus dengan apa yang aku usahakan. Kamu benar-benar menghilang seperti hempasan angin tak berbekas.
Hingga pada akhirnya langkahku mulai terhenti, terhenti untuk mencarimu. Air mataku kering, kering hanya untuk menangisimu. Aku mulai menyerah pada keadaan, mungkin memang saatnya kamu pergi meninggalkanku meski aku tak pernah tau alasan dibalik semua itu. Kepergianmu yang lebih cepat dari apa yang tak pernah kubayangkan.
Sekarang, seperti hujan yang tiba-tiba datang dimusim kemarau, kamu kembali. Kembali padaku yang tlah gersang tandus, kehilangan banyak daun dan bunga. Aku benar-benar tak tahu harus bagaimana menyikapi kembalinya kamu ke dalam kehidupanku. Aku mulai lelah setelah berharap sekian lama, menanti hadirmu, menanti kamu semangatku. Satu tahun bukan waktu yang singkat untuk setia menanti kepergian seseorang yang berarti. Bukan waktu yang bisa dihitung dengan jari untuk mencari dan terus mencari jawaban dari sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Dan sekarang kamu kembali, apa yang harus aku lakukan beri tahu aku, aku mohon.
Aku pernah membanggakanmu di antara mereka karna kamu adalah orang terbaik yang pernah aku temui, menemaniku slalu saat lelah sedih ataupun sukaku, kamu slalu ada. Tapi saat kamu memilih pergi saat itu, aku tak mengerti apa yang harus aku katakan pada mereka ? apa aku masih harus membanggakanmu di depan mereka padahal kamu tlah tancapkan luka yang aku tak pernah tau dimana aku harus mencari obatnya. Ahirnya mereka memakiku, mengejekku karna ahirnya aku kehilangan kamu juga, orang yang aku banggakan. Kamu tau bagaimana rasanya ? aku benar-benar terluka. Lalu kini kamu kembali, dengan mudahnya seperi tak pernah berbuat salah, aku harus bilang apa untuk ini ?
Kamu menang, bila menyakitiku adalah sebuah kesenangan, kamu menang, karna telah membuatku; orang yang sangat mencintai jatuh terlalu dalam tanpa aku tau jalan untuk menepi. Aku akui kamu hebat, karna telah tertawa di atas tangisanku. Kamu boleh berbahagia sekarang karna kini aku mulai mengerti bagaimana cara melupakanmu, pelan tapi pasti, aku telah melupakanmu. Selamat yah, semoga kamu bahagia tanpa aku.

Tidak ada komentar: