Aku tak tahu
harus menyambut kepulanganmu kembali yang kesekian kali ini dengan apa. Apakah
harus ku sambut dengan senyum, suka, duka, tangis atau tertawa? Aku ingin
tersenyum tapi aku tau disudut hati ini masih ada luka yang kamu beri sejak
kepergianmu setahun yang lalu, kepergianmu tanpa alasan, tanpa pesan terakhir
yang semestinya bisa kau jelaskan padaku. Aku ingin menangis, tapi apa yang
harus ku tangisi, kepergianmu setahun yang lalu memang ciptakan sejuta tanya
yang sampai saat ini belum kutemui jawabnya, tapi rasanya bila ku bahas saat
ini pun semuanya sudah basi, dibahaspun sudah tak ada gunanya lagi. Aku ingin
tertawa, karna pada akhirnya kamu kembali lagi padaku, masih dengan senyuman
yang sama, senyum yang dulu membuatku begitu mencinta, tapi kini tlah ternodai
oleh apa yang seharusnya tak terjadi diantara kita.
Selepas malam
tahun baru itu, ya malam tahun baru seperti biasanya yang kita lewati bersama,
dengan kembang api, dengan konvoy mengelilingi taman kota yang tentu bukan kita
saja yang ada disana, ramai, banyak orang, kamu tertawa bersamaku, aku pun
tertawa, betapa bahagianya kita. Tak ada sedikitpun tanda-tanda yang
menunjukkan kamu akan pergi meninggalkanku, sangat jauh, bahkan terlalu jauh
dari jarak yang tak ku mengerti. Kamu masih menggenggam tanganku, berdoa
bersama, menghening sejenak diantara keramaian, dan apa kamu tau doaku saat itu
? “aku ingin selalu bersamamu, menggenggam tanganmu seperti ini, tertawa
bersamamu, bahkan selalu menikmati kembang api tahun baru untuk tahun-tahun seterusnya”.
Yaa walaupun aku tak tahu apa doamu saat itu. Tapi itulah doaku, selalu
bersamamu.
Esoknya saat ku
buka mata, berharap seperti biasanya ada pesan masuk darimu meski hanya sekedar
ucapan selamat pagi, tapi faktanya tak pernah ku temui kata-kata itu lagi
darimu, bahkan untuk selamat malamku atau selamat siangku, tak pernah ku jumpai
lagi itu semua behari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan. Apa
difikiranmu aku tak akan mencarimu? Aku mencarimu; dengan susah payah dan
dengan airmata yang tertumpah. Mencarimu ke setiap sudut yang ku hafal tempat
biasa kau berada, ke teman-temanmu, bahkan dengan gila mencarimu ke setiap
pedagang asongan yang ku temui, berharap mereka pernah melihat sosokmu meski
sekilas. Tapi apa yang ku dapatkan termyata tak berbanding lurus dengan apa
yang aku usahakan. Kamu benar-benar menghilang seperti hempasan angin tak
berbekas.
Hingga pada
akhirnya langkahku mulai terhenti, terhenti untuk mencarimu. Air mataku kering,
kering hanya untuk menangisimu. Aku mulai menyerah pada keadaan, mungkin memang
saatnya kamu pergi meninggalkanku meski aku tak pernah tau alasan dibalik semua
itu. Kepergianmu yang lebih cepat dari apa yang tak pernah kubayangkan.
Sekarang, seperti hujan yang
tiba-tiba datang dimusim kemarau, kamu kembali. Kembali padaku yang tlah
gersang tandus, kehilangan banyak daun dan bunga. Aku benar-benar tak tahu
harus bagaimana menyikapi kembalinya kamu ke dalam kehidupanku. Aku mulai lelah
setelah berharap sekian lama, menanti hadirmu, menanti kamu semangatku. Satu
tahun bukan waktu yang singkat untuk setia menanti kepergian seseorang yang
berarti. Bukan waktu yang bisa dihitung dengan jari untuk mencari dan terus
mencari jawaban dari sejuta pertanyaan yang berkecamuk. Dan sekarang kamu
kembali, apa yang harus aku lakukan beri tahu aku, aku mohon.
Aku pernah
membanggakanmu di antara mereka karna kamu adalah orang terbaik yang pernah aku
temui, menemaniku slalu saat lelah sedih ataupun sukaku, kamu slalu ada. Tapi
saat kamu memilih pergi saat itu, aku tak mengerti apa yang harus aku katakan
pada mereka ? apa aku masih harus membanggakanmu di depan mereka padahal kamu
tlah tancapkan luka yang aku tak pernah tau dimana aku harus mencari obatnya.
Ahirnya mereka memakiku, mengejekku karna ahirnya aku kehilangan kamu juga,
orang yang aku banggakan. Kamu tau bagaimana rasanya ? aku benar-benar terluka.
Lalu kini kamu kembali, dengan mudahnya seperi tak pernah berbuat salah, aku
harus bilang apa untuk ini ?
Kamu menang,
bila menyakitiku adalah sebuah kesenangan, kamu menang, karna telah membuatku;
orang yang sangat mencintai jatuh terlalu dalam tanpa aku tau jalan untuk
menepi. Aku akui kamu hebat, karna telah tertawa di atas tangisanku. Kamu boleh
berbahagia sekarang karna kini aku mulai mengerti bagaimana cara melupakanmu, pelan
tapi pasti, aku telah melupakanmu. Selamat yah, semoga kamu bahagia tanpa aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar