From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Seketika tubuh Kinan melemas setelah membaca pesan singkat itu. Antara senang dan sedih. Senang karna Friza mengatakan dia merindukan Kinan. Sedih, karna Kinan merasa bersalah selama ini tak pernah mengabari Friza.
Ia bingung harus membalas apa. Kinan terpekur di salah satu sudut kamar.
Bayang-bayang tentang Friza mulai nampak lagi. Senyum Friza, suara Friza, tawa Friza. Kinan menggaruk rambut kepalanya yang tak gatal. Ia berfikir keras mengetik balasan untuk Friza.
Belum sempat Kinan menekan menu replay, layar handphone itu berkedip-kedip tanda panggilan masuk. Ternyata Friza yang menelepon. Gemetar jemari Kinan menekan tombol hijau di handphone itu.
"Halo, Nan."
Terdengar suara Friza dari speaker handphone. Percakapan pertama mereka setelah berbulan-bulan tanpa kabar. Hati Kinan terasa penuh sesak oleh banyak perasaan yang Kinan tak tau apa namanya.
"Nan? Hallo?" Suara Friza terdengar lagi.
"Ha.. Ha.. Hallo Za." Jawab Kinan terbata.
"Gimana kabar lo?"
"Gue baik-baik aja Za, kalo lo?"
"Gue juga baik-baik aja, Nan."
Kinan dan Friza terdiam, asik dengan fikiran masing-masing. Dari dulu mereka memang sering begini, kadang saat mereka telah membicarakan banyak hal, mereka akan terdiam. Tapi tak lama kemudian salah satu di antara mereka akan memulai pembahasan yang lain. Jadilah percakapan mereka berlanjut, sampai terkadang mereka lupa waktu.
"Nan, lo dapet salam loh dari Ipung. Dia tambah keren aja sekarang," Friza angkat bicara, memecah hening di antara mereka berdua.
"Oya? Wah.. Ipung mah emang dari kecil juga udah keren." Kinan tertawa getir. Sebenarnya dia tak ingin membahas tentang Ipung, karna yang dia rindukan adalah Friza, bukan Ipung.
"Keren gitu kenapa lo ga jadian aja sama dia?" Tanya Friza.
Kinan merasakan sesuatu yang aneh, terdengar dari intonasi Friza yang tak seperti biasanya.
"Engg.. Engga ah. Males banget gue. Hahaha." Jawab Kinan sungkan.
"Dasar lo! Hahaha"
"Yee, ngapa lo tawa gitu? Hahaha"
"Nah lo juga iye." Balas Friza tak mau kalah.
Kinan bisa membayangkan muka Friza dengan intonasi suara yang seperti itu.
"Eh, Nan. Dulu lo pernah sms gue ya? Pake nomer siapa?"
"Hah? Kapan Za?" Kinan mencoba mengingat-ingat kapan dia mengabari Friza. Sama halnya dengan yang dilakukan Kinan, Friza mencoba mengingat-ingat saat itu.
"Pas ituloh, Nan. Siang-siang kalau ga salah. Tapi handphone gue kan dibawa kaka gue semenjak lo berangkat ke asrama, abisnya gue ga ada temen smsan.hihi"
Friza memperbaiki posisi bantal di kepalanya. Lantas melanjutkan ceritanya lagi.
"Gue baru liat sms lo pas abis magrib. Sial! Gedeg banget gue pas itu sama kaka gue."
"Loh kok gitu?" Kinan menyela cerita Friza.
"Ya gimana gue ga kesel. Dia makein handphone mulu kagak diisi pulsa. Pas gue mau bales sms lo, kagak bisa. Yaudah gue terpaksa muter-muter nyari counter pulsa, Nan.."
Kinan hanya bisa tertawa geli mendengar cerita Friza. Padahal Friza menceritakannya dengan penuh emosi.
"Sabar dong Za. Buat bales sms orang cantik emang butuh kesabaran. Hahaha."
"Yee PD lo!" Maki Friza disertai tawa. "Eh, tapi emang iya perjuangan banget Nan. Giliran gue dapet pulsa, lo di telepon kagak diangkat. Kan ngeselin banget. Padahal gue kangen banget sama lo.."
Kata-kata terahir Friza nyaris tak terdengar oleh Kinan, suaranya begitu pelan. Sebenarnya Kinan mendengarnya hanya saja Ia tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Lo ngomong apa, Za?"
"Engg,,engga. Lo pake handphone siapa waktu itu, Nan?" Friza mengalihkan pembicaraan.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Kinan, kenapa Friza tak mau mengucapkan ulang kata-kata terakhirnya tadi.
"Gue pake handphone temen, Za. Mana bisa gue ngangkat telepon lo tengah malem."
"Ooo gitu, nah terus ini lo pake handphone siapa? Kok tengah malem bisa teleponan? Lo bawa handphone ya?" Selidik Friza curiga.
"Ngaco! Kagak, ini punya temen gue. Lagi ada acara di asrama jadi bebas gitu deh.."
"Emm gitu.. Eh Nan, lo tau kagak lagunya ST 12 yang baru?"
"Lagu baru? Engga Za. Emang kaya gimana?"
"Bagus tau. Gue aja sampe mewek dengernya."
"Masa? Lo lagi ga promosi kan? Hahaha."
"Enggalah. Gila aja kalo gue promosi. Bisa kaya mendadak gue. Hahaha. Tapi serius Nan. Itu lagu bener-bener bikin gue sedih."
"Ah lo mah bikin gue penasaran deh.."
"Ntar lo dengerin ya, itu ngewakilin gue banget."
"Iye ntar pasti gue dengerin."
Percakapan mereka berlanjut tanpa henti. Ada saja yang dibicarakan. Terutama soal sekolah Kinan dan soal kegiatan Kinan selama di asrama. Kinan juga menyebutkan nama teman-temannya satu persatu ke Friza. Entah apa tujuan dan maksud Kinan. Yang Kinan rasa, Friza sudah lebih dari teman, dia sahabat Kinan. Jadi tak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari Friza.
Sangkin asiknya bercerita panjang lebar. Kinan dan Friza sama-sama lupa waktu, dan lupa pulsa juga. Biasanya kalau pulsa Friza habis, gantian Kinan yang menelepon, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang berbeda, Kinan tak enak kalau harus memakai pulsa milik Ka Ilya.
Jam berdentang satu kali saat tiba-tiba sambungan telepon mereka terputus. Kinan mendengus sebal. Dia tau, pasti pulsa Friza habis.
Ditengah kekesalannya, layar handphone yang dipegang Kinan menyala. Dilihatnya ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
Nan, pulsa gue abis, pdhl gue mash kangen lo :( yaudah deh udh malem juga, tidur yuk Nan. Goodnight ya, have a nice dream, Nan :) cepet pulangnya :D
Kinan tertawa membaca pesan dari Friza. Meski ada kekecewaan yang ia rasakan, tapi tanpa membuang waktu Kinan segera membalas pesan itu, jarinya lincah menekan keypad handphone.
To : +628564224xxxx
Iya Za, gue juga :( yaudh have a nice dream too :) 20 hari lagi gue pulang! Yey! :D tunggu gue! :D
Setelah pesan terkirim. Kinan meletakkan handphone itu di sebelah kanan tubuhnya. Ada senyum tersungging di bibir Kinan. Percakapan tadi sedikit banyak mengobati kerinduannya pada Friza.
Lama kelamaan kantuk mulai menggelayut di mata Kinan, hingga tanpa sadar Kinan tertidur pulas di kamar Ka Ilya.
•••
Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Kinan masih penasaran dengan lagu yang Friza sebutkan. Setiap hari dia bertanya pada teman kelas dan teman asramany, barangkali di antara mereka ada yang tau lagu itu, tapi hasilnya nihil. Tak satupun dari teman Kinan yang tau.
"Emang kaya gimana sih Nan lagunya?" Lida, teman sebangku Kinan sampai ikut penasaran dengan lagu itu.
Kinan mengangkat bahu, tanda tak tahu.
Saat itu jam istirahat pertama, Kinan dan Lida sedang memesan makanan di kantin sekolah. Seperti biasa Kinan memesan jus alpukat penuh dengan susu coklat sedangkan Lida memesan satu gelas es jeruk.
Kinan dan Lida berteman cukup akrab. Sudah dari dulu, sejak pertama kali masuk sekolah ini, mereka selalu mendapatkan kelas yang sama, apalagi dua tahun terakhir mereka memilih untuk duduk satu bangku. Jadi wajar saja kalau Kinan sering berbagi banyak hal ke Lida seperti dia berbagi ke Usi.
"Tanya aja sama anak kelas sebelah, si Zaza. Dia kan up to date banget tuh sama lagu-lagu keluaran baru."
"Oiya!" Kinan menepuk keningnya sendiri. "Kok gue ga kepikiran gitu ya? Hehe. Thanks Da."
"Iye sama-sama, tapi lo kudu bayarin es jeruk gue ini, hahaha."
"Ngeselin lo! Haha" Kinan melempar sedotan di gelasnya ke arah Lida. Untung Lida cekatan menghindar, sehingga dia semakin senang meledek Kinan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka bergegas menuju kelas karna sebentar lagi waktu istirahat habis.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saat akan menaiki anak tangga sekolah, berhubung kelas Kinan di lantai dua, dari arah berlawanan ada Zaza dan teman kelasnya sedang menuju ke bawah.
"Tuh dia si Zaza, Nan." Celetuk Lida.
Zaza tersenyum ke arah Kinan dan Lida, mereka pun balas tersenyum.
"Abis dari kantin ya?" Tanya Zaza saat mereka hanya berjarak satu anak tangga.
"Iya." Jawab Kinan dan Lida kompak.
"Eh Za, gue mau tanya lagu sama lo dong." Kinan langsung ke inti pembicaraan.
"Lagu? Lagu apa?" Tanya Zaza heran, tumben-tumbenan Kinan nanyain tentang lagu kepada dirinya.
"Lagunya St 12 yang baru, tau?" Giliran Lida yang bertanya.
"Emm, oh iya tau. Ntar ya pulang sekolah gue kasih tau. Gue mau ke toilet dulu, kepepet, hehe."
Kinan dan Lida langsung tertawa mendengar jawaban Zaza. Kasian Zaza, lagi buru-buru ke toilet malah diajak ngerumpi.
Tanpa menunggu jawaban Kinan dan Lida, Zaza setengah berlari meninggalkan mereka berdua yang masih menertawainya.
•••
♫ kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan air mata
Kekecewaanku sungguh tak berarah
Biarkanku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah ♫
"Ini kan Nan lagunya?" Tanya Zaza setelah lagu itu selesai diputar.
Bukannya menjawab pertanyaan, Kinan malah menangis.
"Kok lo nangis?" Tanya Zaza lagi.
"Engga kok Za." Kinan mengusap pipinya yang basah. "Makasih ya, Za. Pulang yuk."
Zaza yang masih tak mengerti hanya mengekor di belakang Kinan, menuruni anak tangga satu persatu. Setelah sampai di bawah Kinan dan Zaza berpisah, karna rute mereka berbeda.
"Gue duluan ya, Nan." Pamit Zaza.
Kinan hanya menganggukkan kepala pelan. Fikirannya masih terisi penuh dengan lagu yang tadi didengarkannya.
"Pantesan aja Friza nangis. Lagunya dia banget gitu." Gumam Kinan dalam hati.
Selama perjalanan pulang, Kinan hanya menundukkan kepala, lesu. Sampai orang-orang yang melihat Kinan pun memandang aneh ke arahnya.
Saat memasuki gerbang asrama, Kinan disapa oleh kaka seniornya di asrama. Kinan yang sedang malas, hanya tersenyum simpul. Lalu bergegas menuju kamar. Kaka senior Kinan menggelengkan kepala melihat tingkah Kinan yang mulai aneh lagi.
"Brukk!!" Kinan melempar buku sekolahnya asal di atas meja belajar sesampainya ia di dalam kamar. Tanpa mengucap salam seperti biasanya.
Usi yang sedang merapikan isi lemari tersentak kaget, lantas memandang ke arah Kinan penuh tanda tanya. "Kenapa lagi itu bocah satu?" Batin Usi.
Setelah bukunya, giliran tubuh Kinan yang di hempaskan keras di atas tempat tidur. Kinan menutupi wajah dengan bantal monokuro boo kesayangannya. Terdengar suara jeritan Kinan yang tertahan bantal.
Usi yang hawatir langsung menghampiri Kinan. "Lo kenapa Nan?"
Tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara isakkan Kinan dari bawah bantal. Usi mencoba mengambil bantal dari wajah Kinan, tapi tangan Kinan langsung menepisnya.
"Kenapa sih lo? Aneh banget!" Usi mulai kesal melihat tingkah Kinan yang aneh.
"Gue abis dengerin lagu itu. Huaaaa, sedih banget gue!" Teriak Kinan sambil tetap menangis, untung saja wajah Kinan masih tertutup bantal. Kalau tidak, pasti sudah ada kaka senior yang menghampiri kamar mereka karna teriakan Kinan barusan.
"Diss, cengeng banget sih lo! Denger lagu aja sampe nangis bombay gitu." Usi mendengus sebal, lalu beranjak menuju lemari lagi.
"Eh Nan, dengerin gue ya. Ngapain lo nangis bombay gitu, emang si penyanyinya tau? Emang dia mau tanggung jawab sama aer mata lo yang udah kebuang percuma gitu? Jangan cengeng Nan. Dunia belom kiamat kok, lo masih punya kesempatan milikin Friza, jadi ngapain lo nangis?" Celoteh Usi panjang lebar.
Kinan mendesis kesal sembari melempar bantal yang dia gunakan menutupi wajahnya ke arah Usi. "Bawel lo!"
Karna tak sempat menghindar, kepala Usi menjadi sasaran empuk si bantal.
"Aduh! Sial lo, Nan!" Usi mengusap kepalanya yang sakit.
"Rasain! Weeek!"
"Eh Nan, keluar yuk beli makanan, laper gue."
"Emang di kantin kagak ada makanan?"
"Ada sih, tapi males gue gitu-gitu mulu masakannya."
"Ga bersyukur lo! Males ah. Gue mau tidur, bhaay." Kinan menelungkupkan badannya, bersiap untuk tidur.
Usi menggerutu kesal. Kinan memang terkadang sangat menyebalkan. Tapi tetep, mau semenyebalkan apa pun Kinan, Usi tetap menyayangi Kinan. Karna bagi Usi, Kinan tak hanya sekedar teman, dia sahabat bahkan saudara bagi Usi.
Setelah pekerjaannya selesai ahirnya Usi memutuskan pergi keluar sendirian, karna Kinan telah tertidur pulas.
Jumat, 18 Juli 2014
Senin, 14 Juli 2014
pentas seni
Kegiatan Kinan kembali seperti biasanya di asrama, yang berbeda adalah sikap Kinan. Teman-teman Kinan menyadari perubahan sikap Kinan. Usi yang menjadi teman paling dekat Kinan di asrama mengangkat bahu tanda tak tau, saat teman-teman yang lain menanyakan soal perubahan Kinan.
Dulu Kinan adalah sosok yang ceria. Pertama kali masuk asrama, Kinan yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, padahal teman-teman Kinan masih sering sedih ingin pulang ke rumah. Kinan memang termasuk orang yang supel, dia bisa dekat dengan siapa pun meski baru mengenal.
Tapi Kinan yang sekarang adalah Kinan yang berbeda 180 derajat dengan Kinan yang dulu. Kinan menjadi pendiam dan lebih sering terlihat murung. Kinan juga jarang menyapa teman-temannya, tak sering seperti yang dulu dia lakukan. Biasanya dimana ada Kinan disitu selalu ada keceriaan.
Sore ini usai melakukan kegiatan yang melelahkan, Usi sebagai teman dekat Kinan mencoba menanyakan alasan kenapa Kinan menjadi seperti sekarang. Dia mendekati Kinan yang sedang duduk di sudut kamar dengan tatapan kosong.
"Nan, kenapa?"
Kinan tak menjawab.
Pelan Usi menyentuh bahu Kinan. "Nan, lo ada masalah?" Tanya Usi lagi.
Kinan mengusap wajahnya. Sadar dari lamunannya. Kinan menoleh ke arah Usi.
"Eh, elo Si, gue kira siapa." Kinan tersenyum kaku.
Usi duduk di sebelah Kinan. "Lo ada masalah? Cerita dong sama gue, Nan."
Kinan memainkan jemari tangannya yang kecil.
"Gue ga ada masalah kok, Si." Kinan tidak berbohong, Kinan memang tidak ada masalah. Kalau pun iya ini mau di sebut sebagai masalah, masalah ini adalah masalah terkonyol yang pernah ada. Kinan merindukan Friza. Kinan tertunduk lesu.
"Boong kalo lo ga ada masalah perubahan lo segini drastisnya."
Kinan merasa terpojok dengan ucapan Usi. Ahirnya dia memutuskan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di rumah.
Pertemuannya dengan Friza kembali. Acara pernikahan tante Ela dan Mas Anu. Pesan-pesan singkat yang penuh cerita. Waktu yang Kinan dan Friza habiskan di percakapan lewat udara. Dan terahir tentang pertemuan terahir mereka di malam persami itu. Singkatnya Kinan merindukan Friza.
Kinan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu di samping Usi. Usi yang telah mengerti duduk permasalahan Kinan hanya bisa merangkul bahu Kinan.
"Sabar Nan.." Usi mencoba menguatkan Kinan. Bagaimana pun juga meninggalkan orang yang berarti buat kita sama beratnya dengan yang ditinggalkan, sakit.
"Gue kangen dia, Si." Kinan belum bisa mengahiri tangisannya.
Usi mengeratkan rangkulannya di bahu Kinan. Dia ikut menitikkan air mata. Usi juga pernah merasakan seperti yang Kinan rasakan, meski tak separah Kinan.
"Kinan, lo nangis?" Tiba-tiba sudah berdiri Ka Ilya di pintu kamar Kinan. Ka Ilya adalah salah satu kakak senior Kinan dan Usi. Ka Ilya langsung mendekat dan duduk di depan Kinan.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Ilya yang menghawatirkan Kinan.
Kinan mengusap air mata yang membekas di pipinya. "Gak apa-apa ka."
Ka Ilya menatap Usi, memastikan kebenarannya.
"Dia kangen temen-temennya di rumah." Usi mengusap-usap bahu Kinan. "Padahal di sini masih ada kita ya ka?" Usi meminta persetujuan Ka Ilya.
Ka Ilya tertawa. "Nan, Nan. Lo kan udah mau 3 tahun di sini. Kenapa nangisnya baru sekarang? Itu mah bukan temen kali, pacar ya?" Ka Ilya mengerlingkan matanya ke arah Kinan.
Kinan ikut tertawa. Sebelum sempat Kinan menanggapi perkataan Ka Ilya. Ka Ilya meneruskan perkataannya.
"Tenang, Nan. Kalo lo emang kangen mereka lo kan bisa cerita ke gue sama Usi, ya Si?"
Usi menganggukkan kepalanya.
"Lo masih punya kita, Nan. Tenang."
Kinan terharu melihat ketulusan Usi dan Ka Ilya. Dia sadar tak semestinya dia semenyedihkan ini, merindukan teman-temannya di rumah. Karna di sini Kinan juga memiliki teman-teman yang tak kalah baiknya dengan yang Kinan miliki di rumah. Ahirnya Kinan memeluk Ka Ilya dan Usi erat, dia merasa beruntung memiliki mereka di sini.
•••
Beberapa hari setelah kejadian itu. Kinan sedikit demi sedikit mulai ceria seperti dulu. Teman-teman Kinan ikut senang melihat Kinan yang kembali ceria. Apalagi Usi dan Ka Ilya, mereka orang yang paling senang melihat Kinan seperti dulu lagi.
Seperti yang terjadi hari ini. Sepulang sekolah Kinan dan Usi berencana pergi ke toko buku. Kinan ingin membeli buku diary. Katanya sih biar bisa corat-coret isi hatinya, berhubung hobi Kinan memang tulis menulis.
Sebelum ke toko buku Kinan berhenti di depan warung telepon.
"Kok berhenti, Nan?" Tanya Usi.
"Gue pengin telepon Friza, Si." Kinan menunjuk ke dalam warung telepon itu.
"Lo yakin setelah ini ga bakal sedih lagi?" Usi mulai menghawatirkan Kinan.
"Gue ga bakal sedih lagi kok, gue kan cuma mau denger suara dia. Lagian ntar kalo gue sedih kan gue bisa cerita sama lo, ya kan?" Kinan tersenyum meyakinkan.
Usi pasrah saja dengan keinginan Kinan. Ahirnya mereka melangkah masuk ke dalam warung telepon.
"Lo mau ikut masuk ke bilik apa engga, Si?"
"Engga deh, gue di sini aja, Nan."
"Oke, bentar ya."
Kinan melangkah masuk ke dalam bilik telepon yang sudah disediakan. Tak menunggu lama jemari Kinan sudah lincah menekan nomor telepon Friza. Kinan yang sudah hafal nomor Friza di luar kepala tak perlu lagi membuka buku catatan nomor telepon yang dia punya.
♫ kasih genggamlah tanganku, dan tatap mataku betapa aku mencintaimu, katakanlah saat ini sayang bahwa kau hanya milikku, milikku.. ♫
Terdengar RBT dari gagang telepon yang di genggam Kinan. Daridulu memang nada sambung pribadi milik Friza adalah lagu ini, karena Kinan pernah bilang ke Friza kalau dia suka lagu ini.
"Ayo dong Za, angkat dong!" Kinan mulai gelisah menunggu.
Berkali-kali di tekannya tombol recall, namun tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
Usi yang melihat kegelisan Kinan segera mendekat ke arah Kinan.
"Kenapa Nan, ga diangkat?"
Kinan meletakkan gagang telepon dengan lesu. "Iya, Si."
Terdengar helaan nafas Usi. "Yaudah kita ke toko buku dulu aja, ntar pulangnya ke sini lagi."
Mau tak mau Kinan menuruti saran Usi juga. Meski tak di pungkiri sekarang mendung menggelayut di wajahnya.
Seusai mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka bergegas kembali ke asrama. Saat melewati warung telepon yang tadi mereka masuki, Usi menghentikan langkahnya. Kinan yang berjalan di belakang Usi tak menyadari karna dia sedang asik dengan lamunannya sehingga Kinan menubruk Usi dari belakang.
"Duh! Kok berhenti, Si? Sakit kan kepala gue." Kinan menggerutu sembari memegang keningnya yang nyeri.
"Makanya kalau jalan jangan sambil ngelamun!" Balas Usi cepat. "Lo jadi telepon Friza ga?"
Kinan memandang ke dalam warung telepon, sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ga jadi, Si. Pulang aja yuk, udah ga pengin gue."
"Yakin lo?"
"Elah, ga percayaan amat sama gue." Kinan menarik lengan Usi menjauh dari warung telepon dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah apa yang difikirkan Kinan. Awalnya dia memang sangat ingin mendengar suara Friza. Tapi sepanjang perjalanan menuju toko buku, Kinan merasa tak ada gunanya dia menelepon Friza. Tak ada bedanya menelepon Friza atau tidak, karna yang ada Kinan malah semakin merindukan Friza.
•••
Kinan sedang sibuk menghias panggung di aula asrama. Malam ini akan diadakan pentas seni. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia asrama Kinan mengadakan berbagai kegiatan dan lomba. Puncaknya adalah pementasan kreasi penghuni asrama.
Berbagai macam hiasan sudah Kinan pasang di sepanjang tepian aula. Tak lupa balon hias aneka warna Kinan pasang semakin menyemarakkan kondisi panggung. Tinggal beberapa sudut lagi yang harus Kinan hias. Tapi Kinan tak sendirian mengerjakannya, ada Ka Amal teman seasrama Kinan.
"Nan, ini gimana?" Ka Amal sedang membuat hiasan bunga dari kertas origami.
"Sebentar Ka. Bentar lagi gue selese." Kinan memasang balon terahir yang dipegangnya.
Setelah rapi, Kinan bergegas menghampiri Ka Amal.
"Wuih, keren Ka! Gimana cara buatnya? Ajarin dong!" Kinan berdecak kagum.
"Ada deh.." Ka Amal tertawa jahil. "Tapi gimana? Bagus kan?" Lanjutnya.
Kinan mengacungkan dua jempolnya. Lalu mereka tertawa bersama karna ahirnya bisa menyelesaikan tugas mereka menghias panggung.
Mereka merapikan sisa-sisa potongan kertas yang banyak berserakan di sekitar panggung. Pekerjaan mereka tak boleh menyisakan sampah, mengingat acara akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Tanpa terasa sebulan terahir belakangan Kinan sibuk dengan kegiatannya di asrama dan di sekolah. Apalagi sekarang Kinan menjadi salah satu panitia peringatan HUT kemerdekaan. Tapi bukan berarti dengan kegiatannya yang menggunung Kinan sudah melupakan Friza. Dia masih sering memikirkan Friza, bahkan semakin banyak waktu Kinan yang tersita untuk memikirkan Friza. Kabar baiknya, Kinan tak murung lagi, dia sibuk menuliskan isi hatinya di diary yang dulu dia beli.
Kadang Kinan merasa sedih saat bayangan Friza terlintas. Tapi Kinan selalu menepisnya. Dia lebih senang mengingat Friza dengan senyuman daripada tangisan, meski ada saatnya juga Kinan menitikkan air matanya. Seperti sekarang ini..
Kinan menghempaskan tubuhnya di lantai loteng atas asramanya. Tempat ini sering digunakan anak-anak asrama untuk menjemur pakaian mereka, karna tempatnya yang lapang dan tak ada penutup atapnya cocok untuk mendapatkan sinar matahari. Berbeda dengan Kinan, dia sering kesini bukan untuk menjemur pakaian, tapi untuk mencari ketenangan. Suasananya yang sepi serta semilir angin yang lembut menyentuh kulit, pas sekali untuk sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kinan teringat Friza. Sudah hampir dua bulan Kinan tak mengabari Friza. Ada rindu yang menjalar di relung hatinya. Kinan memejamkan mata, sekarang dia asik dengan bayangan Friza. Dia tak peduli dengan hiruk pikuk di aula asramanya, yang Kinan rasa sekarang dia ingin menikmati rindunya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Usi dan Ka Ilya mencari-cari Kinan, karna semenjak sore hari Kinan tak menampakkan batang hidungnya. Mereka bertanya ke semua orang yang ditemui, tapi tak ada satupun yang tau keberadaan Kinan.
"Kinan, kemana sih lo?" Usi mendesis. Dia meremas jemari tangannya sendiri. Terlihat sekali raut gelisah di wajahnya.
Ka Ilya tak kalah gelisahnya dengan Usi, dia sibuk menatap sekeliling. Berharap menemukan sosok Kinan.
Dari arah belakang terdengar suara Ka Amal memanggil mereka.
"Lo berdua masih nyari Kinan?" Tanya Ka Amal setelah Ka Ilya dan Usi menghampirinya.
Mereka mengangguk pelan.
"Tuh bocahnya." Ka Ilya dan Usi langsung melihat ke arah yang ditunjukkan. Di sana ada Kinan sedang bersandar di salah satu tiang aula menikmati acara. Mereka langsung bergegas mendekati Kinan.
Tanpa basa-basi mereka langsung mencubit pipi Kinan gemas.
"Aww, aww!" Kinan mengaduh.
"Lo kemana aja sih?!" Gerutu ka Ilya.
"Iya, kemana aja lo?! Kita dari tadi nyariin tau!" Usi mengamini ucapan Ka Ilya.
Kinan terkekeh-kekeh melihat raut wajah kedua sahabatnya. Ka Ilya dan Usi mendengus sebal melihat tawa Kinan. Hampir saja pipi Kinan menjadi sasaran kegemasan mereka lagi kalau saja dia tak segera menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Gue abis dari loteng."
"Ngapain?" Sahut ka Ilya.
"Duduk doang, gue kangen Friza." Jawab Kinan lesu.
"Emang kalo lo duduk di sana tau-tau kangen lo ilang gitu?"
"Iye, emang dia bakal nyamperin lo ke loteng?" Usi ikut menimpali ucapan Ka Ilya.
"Yaa, engga juga sih." Kinan terpojok. "Seengganya gue bisa nenangin diri gue sendiri."
Mereka terdiam menatap kosong ke arah panggung acara. Tak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Kinan menghentak-hentakan kakinya ke lantai seirama dengan nada yang terdengar. Usi memilin-milin ujung pakaiannya, sedangkan Ka Ilya sama seperti Kinan.
"Ilya, ada bokap nyokap lo tuh di depan." Suara Ka Amal yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka bertiga.
Ka Ilya mengusap wajahnya yang pias.
"Oke, makasih ka." Sahut Ka Ilya. "Gue pergi dulu." Pamit Ka Ilya ke Kinan dan Usi. Mereka menganggukkan kepala kompak.
•••
Kinan gemetar mengenggam handphone ka Ilya. Tadi Ka Ilya memanggil Kinan untuk masuk ke kamar ka Ilya. Ternyata Ka Ilya memberikan handphone miliknya, karna sedang dijenguk orangtua jadi ka Ilya boleh membawa handphone.
Semula Kinan terkejut. Dia merasa tak enak kalau harus menggunakan handphone ka Ilya. Tapi ka Ilya meyakinkan Kinan untuk segera menghubungi Friza. Ahirnya Kinan tak bisa menolak tawaran Ka Ilya.
Tiga puluh menit berlalu, Kinan hanya memandangi barisan nomor Friza di layar handphone. Dia ragu-ragu menekan tombol panggil, karna waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Kinan takut menganggu Friza. Tapi kemudian Kinan mengetik sesuatu.
Send to : 08564224xxxx
Selamat tidur ya, Za. Have a nice dream :)
Kinan
Ia menekan tombol send. Setelah pesan itu terkirim, ia menghela nafas. Tak lama kemudian dilihatnya layar handphone menyala.
Ada satu pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Kinan langsung membacanya.
From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Dulu Kinan adalah sosok yang ceria. Pertama kali masuk asrama, Kinan yang paling mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, padahal teman-teman Kinan masih sering sedih ingin pulang ke rumah. Kinan memang termasuk orang yang supel, dia bisa dekat dengan siapa pun meski baru mengenal.
Tapi Kinan yang sekarang adalah Kinan yang berbeda 180 derajat dengan Kinan yang dulu. Kinan menjadi pendiam dan lebih sering terlihat murung. Kinan juga jarang menyapa teman-temannya, tak sering seperti yang dulu dia lakukan. Biasanya dimana ada Kinan disitu selalu ada keceriaan.
Sore ini usai melakukan kegiatan yang melelahkan, Usi sebagai teman dekat Kinan mencoba menanyakan alasan kenapa Kinan menjadi seperti sekarang. Dia mendekati Kinan yang sedang duduk di sudut kamar dengan tatapan kosong.
"Nan, kenapa?"
Kinan tak menjawab.
Pelan Usi menyentuh bahu Kinan. "Nan, lo ada masalah?" Tanya Usi lagi.
Kinan mengusap wajahnya. Sadar dari lamunannya. Kinan menoleh ke arah Usi.
"Eh, elo Si, gue kira siapa." Kinan tersenyum kaku.
Usi duduk di sebelah Kinan. "Lo ada masalah? Cerita dong sama gue, Nan."
Kinan memainkan jemari tangannya yang kecil.
"Gue ga ada masalah kok, Si." Kinan tidak berbohong, Kinan memang tidak ada masalah. Kalau pun iya ini mau di sebut sebagai masalah, masalah ini adalah masalah terkonyol yang pernah ada. Kinan merindukan Friza. Kinan tertunduk lesu.
"Boong kalo lo ga ada masalah perubahan lo segini drastisnya."
Kinan merasa terpojok dengan ucapan Usi. Ahirnya dia memutuskan menceritakan kejadian yang dialaminya sewaktu di rumah.
Pertemuannya dengan Friza kembali. Acara pernikahan tante Ela dan Mas Anu. Pesan-pesan singkat yang penuh cerita. Waktu yang Kinan dan Friza habiskan di percakapan lewat udara. Dan terahir tentang pertemuan terahir mereka di malam persami itu. Singkatnya Kinan merindukan Friza.
Kinan tak bisa lagi menahan air matanya. Dia menangis tersedu-sedu di samping Usi. Usi yang telah mengerti duduk permasalahan Kinan hanya bisa merangkul bahu Kinan.
"Sabar Nan.." Usi mencoba menguatkan Kinan. Bagaimana pun juga meninggalkan orang yang berarti buat kita sama beratnya dengan yang ditinggalkan, sakit.
"Gue kangen dia, Si." Kinan belum bisa mengahiri tangisannya.
Usi mengeratkan rangkulannya di bahu Kinan. Dia ikut menitikkan air mata. Usi juga pernah merasakan seperti yang Kinan rasakan, meski tak separah Kinan.
"Kinan, lo nangis?" Tiba-tiba sudah berdiri Ka Ilya di pintu kamar Kinan. Ka Ilya adalah salah satu kakak senior Kinan dan Usi. Ka Ilya langsung mendekat dan duduk di depan Kinan.
"Lo kenapa?" Tanya Ka Ilya yang menghawatirkan Kinan.
Kinan mengusap air mata yang membekas di pipinya. "Gak apa-apa ka."
Ka Ilya menatap Usi, memastikan kebenarannya.
"Dia kangen temen-temennya di rumah." Usi mengusap-usap bahu Kinan. "Padahal di sini masih ada kita ya ka?" Usi meminta persetujuan Ka Ilya.
Ka Ilya tertawa. "Nan, Nan. Lo kan udah mau 3 tahun di sini. Kenapa nangisnya baru sekarang? Itu mah bukan temen kali, pacar ya?" Ka Ilya mengerlingkan matanya ke arah Kinan.
Kinan ikut tertawa. Sebelum sempat Kinan menanggapi perkataan Ka Ilya. Ka Ilya meneruskan perkataannya.
"Tenang, Nan. Kalo lo emang kangen mereka lo kan bisa cerita ke gue sama Usi, ya Si?"
Usi menganggukkan kepalanya.
"Lo masih punya kita, Nan. Tenang."
Kinan terharu melihat ketulusan Usi dan Ka Ilya. Dia sadar tak semestinya dia semenyedihkan ini, merindukan teman-temannya di rumah. Karna di sini Kinan juga memiliki teman-teman yang tak kalah baiknya dengan yang Kinan miliki di rumah. Ahirnya Kinan memeluk Ka Ilya dan Usi erat, dia merasa beruntung memiliki mereka di sini.
•••
Beberapa hari setelah kejadian itu. Kinan sedikit demi sedikit mulai ceria seperti dulu. Teman-teman Kinan ikut senang melihat Kinan yang kembali ceria. Apalagi Usi dan Ka Ilya, mereka orang yang paling senang melihat Kinan seperti dulu lagi.
Seperti yang terjadi hari ini. Sepulang sekolah Kinan dan Usi berencana pergi ke toko buku. Kinan ingin membeli buku diary. Katanya sih biar bisa corat-coret isi hatinya, berhubung hobi Kinan memang tulis menulis.
Sebelum ke toko buku Kinan berhenti di depan warung telepon.
"Kok berhenti, Nan?" Tanya Usi.
"Gue pengin telepon Friza, Si." Kinan menunjuk ke dalam warung telepon itu.
"Lo yakin setelah ini ga bakal sedih lagi?" Usi mulai menghawatirkan Kinan.
"Gue ga bakal sedih lagi kok, gue kan cuma mau denger suara dia. Lagian ntar kalo gue sedih kan gue bisa cerita sama lo, ya kan?" Kinan tersenyum meyakinkan.
Usi pasrah saja dengan keinginan Kinan. Ahirnya mereka melangkah masuk ke dalam warung telepon.
"Lo mau ikut masuk ke bilik apa engga, Si?"
"Engga deh, gue di sini aja, Nan."
"Oke, bentar ya."
Kinan melangkah masuk ke dalam bilik telepon yang sudah disediakan. Tak menunggu lama jemari Kinan sudah lincah menekan nomor telepon Friza. Kinan yang sudah hafal nomor Friza di luar kepala tak perlu lagi membuka buku catatan nomor telepon yang dia punya.
♫ kasih genggamlah tanganku, dan tatap mataku betapa aku mencintaimu, katakanlah saat ini sayang bahwa kau hanya milikku, milikku.. ♫
Terdengar RBT dari gagang telepon yang di genggam Kinan. Daridulu memang nada sambung pribadi milik Friza adalah lagu ini, karena Kinan pernah bilang ke Friza kalau dia suka lagu ini.
"Ayo dong Za, angkat dong!" Kinan mulai gelisah menunggu.
Berkali-kali di tekannya tombol recall, namun tetap tak ada jawaban dari seberang sana.
Usi yang melihat kegelisan Kinan segera mendekat ke arah Kinan.
"Kenapa Nan, ga diangkat?"
Kinan meletakkan gagang telepon dengan lesu. "Iya, Si."
Terdengar helaan nafas Usi. "Yaudah kita ke toko buku dulu aja, ntar pulangnya ke sini lagi."
Mau tak mau Kinan menuruti saran Usi juga. Meski tak di pungkiri sekarang mendung menggelayut di wajahnya.
Seusai mendapatkan apa yang mereka cari. Mereka bergegas kembali ke asrama. Saat melewati warung telepon yang tadi mereka masuki, Usi menghentikan langkahnya. Kinan yang berjalan di belakang Usi tak menyadari karna dia sedang asik dengan lamunannya sehingga Kinan menubruk Usi dari belakang.
"Duh! Kok berhenti, Si? Sakit kan kepala gue." Kinan menggerutu sembari memegang keningnya yang nyeri.
"Makanya kalau jalan jangan sambil ngelamun!" Balas Usi cepat. "Lo jadi telepon Friza ga?"
Kinan memandang ke dalam warung telepon, sejurus kemudian dia menggelengkan kepalanya.
"Ga jadi, Si. Pulang aja yuk, udah ga pengin gue."
"Yakin lo?"
"Elah, ga percayaan amat sama gue." Kinan menarik lengan Usi menjauh dari warung telepon dan melanjutkan perjalanannya kembali.
Entah apa yang difikirkan Kinan. Awalnya dia memang sangat ingin mendengar suara Friza. Tapi sepanjang perjalanan menuju toko buku, Kinan merasa tak ada gunanya dia menelepon Friza. Tak ada bedanya menelepon Friza atau tidak, karna yang ada Kinan malah semakin merindukan Friza.
•••
Kinan sedang sibuk menghias panggung di aula asrama. Malam ini akan diadakan pentas seni. Seperti tahun-tahun sebelumnya, saat hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia asrama Kinan mengadakan berbagai kegiatan dan lomba. Puncaknya adalah pementasan kreasi penghuni asrama.
Berbagai macam hiasan sudah Kinan pasang di sepanjang tepian aula. Tak lupa balon hias aneka warna Kinan pasang semakin menyemarakkan kondisi panggung. Tinggal beberapa sudut lagi yang harus Kinan hias. Tapi Kinan tak sendirian mengerjakannya, ada Ka Amal teman seasrama Kinan.
"Nan, ini gimana?" Ka Amal sedang membuat hiasan bunga dari kertas origami.
"Sebentar Ka. Bentar lagi gue selese." Kinan memasang balon terahir yang dipegangnya.
Setelah rapi, Kinan bergegas menghampiri Ka Amal.
"Wuih, keren Ka! Gimana cara buatnya? Ajarin dong!" Kinan berdecak kagum.
"Ada deh.." Ka Amal tertawa jahil. "Tapi gimana? Bagus kan?" Lanjutnya.
Kinan mengacungkan dua jempolnya. Lalu mereka tertawa bersama karna ahirnya bisa menyelesaikan tugas mereka menghias panggung.
Mereka merapikan sisa-sisa potongan kertas yang banyak berserakan di sekitar panggung. Pekerjaan mereka tak boleh menyisakan sampah, mengingat acara akan dilaksanakan beberapa jam lagi.
Tanpa terasa sebulan terahir belakangan Kinan sibuk dengan kegiatannya di asrama dan di sekolah. Apalagi sekarang Kinan menjadi salah satu panitia peringatan HUT kemerdekaan. Tapi bukan berarti dengan kegiatannya yang menggunung Kinan sudah melupakan Friza. Dia masih sering memikirkan Friza, bahkan semakin banyak waktu Kinan yang tersita untuk memikirkan Friza. Kabar baiknya, Kinan tak murung lagi, dia sibuk menuliskan isi hatinya di diary yang dulu dia beli.
Kadang Kinan merasa sedih saat bayangan Friza terlintas. Tapi Kinan selalu menepisnya. Dia lebih senang mengingat Friza dengan senyuman daripada tangisan, meski ada saatnya juga Kinan menitikkan air matanya. Seperti sekarang ini..
Kinan menghempaskan tubuhnya di lantai loteng atas asramanya. Tempat ini sering digunakan anak-anak asrama untuk menjemur pakaian mereka, karna tempatnya yang lapang dan tak ada penutup atapnya cocok untuk mendapatkan sinar matahari. Berbeda dengan Kinan, dia sering kesini bukan untuk menjemur pakaian, tapi untuk mencari ketenangan. Suasananya yang sepi serta semilir angin yang lembut menyentuh kulit, pas sekali untuk sekedar melepas lelah.
Tiba-tiba Kinan teringat Friza. Sudah hampir dua bulan Kinan tak mengabari Friza. Ada rindu yang menjalar di relung hatinya. Kinan memejamkan mata, sekarang dia asik dengan bayangan Friza. Dia tak peduli dengan hiruk pikuk di aula asramanya, yang Kinan rasa sekarang dia ingin menikmati rindunya sendiri.
Sedangkan di tempat lain, Usi dan Ka Ilya mencari-cari Kinan, karna semenjak sore hari Kinan tak menampakkan batang hidungnya. Mereka bertanya ke semua orang yang ditemui, tapi tak ada satupun yang tau keberadaan Kinan.
"Kinan, kemana sih lo?" Usi mendesis. Dia meremas jemari tangannya sendiri. Terlihat sekali raut gelisah di wajahnya.
Ka Ilya tak kalah gelisahnya dengan Usi, dia sibuk menatap sekeliling. Berharap menemukan sosok Kinan.
Dari arah belakang terdengar suara Ka Amal memanggil mereka.
"Lo berdua masih nyari Kinan?" Tanya Ka Amal setelah Ka Ilya dan Usi menghampirinya.
Mereka mengangguk pelan.
"Tuh bocahnya." Ka Ilya dan Usi langsung melihat ke arah yang ditunjukkan. Di sana ada Kinan sedang bersandar di salah satu tiang aula menikmati acara. Mereka langsung bergegas mendekati Kinan.
Tanpa basa-basi mereka langsung mencubit pipi Kinan gemas.
"Aww, aww!" Kinan mengaduh.
"Lo kemana aja sih?!" Gerutu ka Ilya.
"Iya, kemana aja lo?! Kita dari tadi nyariin tau!" Usi mengamini ucapan Ka Ilya.
Kinan terkekeh-kekeh melihat raut wajah kedua sahabatnya. Ka Ilya dan Usi mendengus sebal melihat tawa Kinan. Hampir saja pipi Kinan menjadi sasaran kegemasan mereka lagi kalau saja dia tak segera menutupi wajahnya dengan tangannya sendiri.
"Gue abis dari loteng."
"Ngapain?" Sahut ka Ilya.
"Duduk doang, gue kangen Friza." Jawab Kinan lesu.
"Emang kalo lo duduk di sana tau-tau kangen lo ilang gitu?"
"Iye, emang dia bakal nyamperin lo ke loteng?" Usi ikut menimpali ucapan Ka Ilya.
"Yaa, engga juga sih." Kinan terpojok. "Seengganya gue bisa nenangin diri gue sendiri."
Mereka terdiam menatap kosong ke arah panggung acara. Tak ada yang berniat memulai percakapan kembali. Kinan menghentak-hentakan kakinya ke lantai seirama dengan nada yang terdengar. Usi memilin-milin ujung pakaiannya, sedangkan Ka Ilya sama seperti Kinan.
"Ilya, ada bokap nyokap lo tuh di depan." Suara Ka Amal yang tiba-tiba datang mengejutkan mereka bertiga.
Ka Ilya mengusap wajahnya yang pias.
"Oke, makasih ka." Sahut Ka Ilya. "Gue pergi dulu." Pamit Ka Ilya ke Kinan dan Usi. Mereka menganggukkan kepala kompak.
•••
Kinan gemetar mengenggam handphone ka Ilya. Tadi Ka Ilya memanggil Kinan untuk masuk ke kamar ka Ilya. Ternyata Ka Ilya memberikan handphone miliknya, karna sedang dijenguk orangtua jadi ka Ilya boleh membawa handphone.
Semula Kinan terkejut. Dia merasa tak enak kalau harus menggunakan handphone ka Ilya. Tapi ka Ilya meyakinkan Kinan untuk segera menghubungi Friza. Ahirnya Kinan tak bisa menolak tawaran Ka Ilya.
Tiga puluh menit berlalu, Kinan hanya memandangi barisan nomor Friza di layar handphone. Dia ragu-ragu menekan tombol panggil, karna waktu yang sudah menunjukkan pukul sebelas malam, Kinan takut menganggu Friza. Tapi kemudian Kinan mengetik sesuatu.
Send to : 08564224xxxx
Selamat tidur ya, Za. Have a nice dream :)
Kinan
Ia menekan tombol send. Setelah pesan itu terkirim, ia menghela nafas. Tak lama kemudian dilihatnya layar handphone menyala.
Ada satu pesan masuk. Tanpa membuang-buang waktu Kinan langsung membacanya.
From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Minggu, 29 Juni 2014
sahabat? (3)
Jl. Merpati nomor 17. Kinan duduk di salah satu halte taman kota. Di sebelah kiri Kinan ada satu anak perempuan sebaya Kinan yang sepertinya juga sama sedang menunggu bis antar kota lewat.
Jam menunjukkan pukul 16:00. Kinan mulai resah. Tak henti-hentinya dia menoleh ke ujung tikungan jalan di depannya berharap ada bis yang datang. Hari ini Kinan berencana pulang ke rumah. Selain musim liburan, beberapa hari lagi Tante Ela akan mengadakan resepsi pernikahan dengan Mas Anu. Praktis Kinan harus pulang, karna Kinan yang akan mengisi acara tantenya tersebut.
Perempuan di sebelah Kinan sibuk memainkan handphone di tangannya. Sedangkan Kinan sibuk memilin-milin ujung bajunya. Kinan tidak membawa handphone, karna di asrama Kinan tidak diperbolehkan membawa barang elektronik, termasuk handphone. Handphone Kinan di titipkan ke mamahnya, jadi Kinan hanya menggunakan saat ia di rumah.
Bis yang di tunggu-tunggu Kinan ahirnya datang juga. Kinan langsung naik ke atas bis sembari melempar senyum ke arah perempuan yang duduk di kursi sebelahnya, ternyata tujuan mereka berbeda.
Sesampainya di rumah setelah bertemu dengan keluarganya Kinan langsung mengecek handphone yang sudah lama tidak di aktifkan. Terpaksa Kinan harus mengganti nomor teleponnya lagi, ternyata masa aktif kartunya sudah habis.
"Nan." Terdengar mamah Kinan memanggil dari lantai bawah.
"Ya, Mah."
"Dicariin tante Ela, katanya seragam buat kamu udah ada. Tinggal dicari yang pas sama kamu yang mana."
Kinan hanya menganggukkan kepala kemudian bergegas menuju rumah tante Ela. Di rumah tante Ela mulai terlihat kesibukkan. Ada yang sibuk memasang dekorasi pelaminan. Ada yang sibuk memasak. Ada juga yang sibuk bercanda seperti Rosa, April, dan Nabil, mereka ini saudara sepupu Kinan.
Kinan berniat menghampiri mereka. Tapi Tante Lula malah menyuruh Kinan segera menemui tante Ela. Ahirnya Kinan urung nimbrung dengan obrolan saudaranya, malah sibuk mencari tantenya.
Tante Ela sumringah melihat kedatangan Kinan. Dipanggilnya Kinan untuk mencoba satu persatu seragam yang ada. Kinan tak pernah ribet soal style, malah Tante Ela yang sibuk memilih seragam mana yang lebih pantas untuk Kinan.
Setelah semua urusannya selesai di rumah Tante Ela, Kinan memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Usai berpamitan ke keluarga besarnya, Kinan langsung mengendarai sepeda motornya.
Diperjalanan pulang, Kinan bertemu dengan Ipung, teman sekolah dasarnya. Ipung meminta nomor handphone Kinan. Ahirnya Kinan berikan nomor handphone barunya ke Ipung. Tak lama berbincang-bincang, Kinan pamit pulang ke rumah. Ipung melambaikan tangannya ke arah Kinan, Kinan membalas sembari lalu.
•••
Acara pernikahan yang di tunggu tiba.
Kinan sudah siap di posisinya. Mencoba membaca ulang teks yang harus dibacakannya nanti. Namun kegiatannya terhenti saat rombongan keluarga Mas Anu datang. Dilihatnya Friza di antara mereka. Kinan terpaku, kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas diingatannya, tapi kali ini Friza sama sekali tak melirik ke arah Kinan. Kinan yang merasa sedikit kecewa memilih fokus kembali ke teks yang harus dia baca.
Sekarang tiba saatnya pengantin dibawa ke rumah mempelai pria. Itu berarti Kinan akan ikut rombongan ke rumah Mas Anu. Rosa, saudara Kinan mengamit lengan Kinan. Mereka berjalan beriringan di belakang Tante Ela dan Mas Anu.
Rumah Mas Anu tak kalah ramainya dengan Rumah Tante Ela. Kinan dan Rosa sampai bingung sendiri akan duduk dimana.
Mereka berdua berbisik pelan saat mereka melihat Friza berdiri di jendela 25 derajat di depan mereka berlawanan arah jarum jam.
"Eh Nan. Itu adiknya Mas Anu ya?" Bisik Rosa ditelinga Kinan.
Kinan mengangguk pelan.
"Manis ya. Lo ga naksir sama dia?" Lanjut Rosa lagi.
Kinan melotot mendengar pertanyaan Rosa. Rosa memang belum tau kalau selama ini Kinan menjadi pengagum rahasia Friza. Yang tau masalah ini baru Kinan dan Dina.
Rosa terkekeh melihat ekspresi Kinan. Sampai ahirnya dia bilang ke Kinan..
"Nan, adiknya Mas Anu ngeliatin lo terus tau daritadi. Namanya siapa sih? Suka kali dia sama lo."
Kinan mau tak mau melihat ke arah Friza juga. Benar saja, Friza langsung salah tingkah saat Kinan balik melihatnya. Pipinya bersemu merah mirip buah jambu. Kinan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya diperhatikan Friza dia tertawa tertahan melihat wajah Friza yang tertangkap basah sedang mencuri pandang dirinya.
"Bener kan kata gue." Rosa tertawa pelan.
Kinan mencubit paha Rosa asal, yang dicubit hanya bisa meringis kesakitan.
Hari ini kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Kinan dan Friza sama-sama sibuk mencari celah untuk memandang satu sama lain.
Saat Kinan sadar Friza memperhatikannya, Friza langsung membuang muka seolah tak melihat Kinan. Begitu pun sebaliknya.
Rosa yang melihat kelakuan mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Sambil bergumam, "lo beneran naksir dia baru tau rasa, Nan."
•••
Drrtt.. Drrtt..
From : 08564224xxxx
-Nan, ini gue ipung, gue mau telepon boleh?
Belum sempat Kinan membalas. Nada dering tanda panggilan masuk berbunyi.
Hampir setengah jam mereka bercanda lewat udara. Sampai ahirnya sambungan telepon terputus Kinan berfikir Ipung kehabisan pulsanya.
Mulai hari itu Kinan sering bertukar pesan singkat dengan Ipung, tapi waktunya hanya singkat karna Ipung sering tiba-tiba menghilang tak membalas pesannya.
Hari ini sudah dua hari Ipung tak mengirimkan pesan. Saat Kinan mengecek handphonenya seusai mandi. Ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
-kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang akan ku bawa dia terbang damai bersama bintang :)
Kinan mengernyitkan dahinya. Bingung dengan pesan yang dia baca barusan. Dia langsung mengetik balasan.
Send to : +628564224xxxx
-maksudnya pung?
Drrtt.. Drrtt..
Hp Kinan bergetar lagi.
From : +628564224xxxx
-maaf mba, Ipungnya udah pulang. Ini Friza yang punya hp.
Kinan tertegun sebentar.
"Friza? Jadi selama ini Ipung pake hpnya Friza" gumam Kinan.
Awalnya Kinan ragu membalas pesan Friza, tapi lama kelamaan malah dia asik sibuk smsan dengan Friza.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, kata Kinan. Sekarang setiap hari dari pagi hingga menjelang tidur Kinan selalu berbalas-balasan pesan dengan Friza. Bahkan tak jarang Friza meneleponnya. Percakapan mereka diudara bisa memakan waktu berjam-jam, sampai telinga Kinan memanas. Kinan tak menghiraukannya, yang jelas sekarang dia sedang bahagia.
•••
"Za, gue mau ngomong sesuatu.."
Kinan menggantungkan ucapannya. Kinan sedang bertelepon ria dengan Friza.
"Ngomong apa?" Terdengar suara Friza penuh tanda tanya.
Kinan menutup lubang hidungnya agar tidak tertawa. Sengaja Kinan mengerjai Friza.
"Gue.. Gue.." Muka Kinan memerah semerah tomat akibat menahan tawa.
"Gue apa?" Friza benar-benar penasaran dengan apa yang akan diucapkan Kinan.
"Sebenernya gue.. Gue bener-bener.."
"Bener-bener apa, Nan?" Friza sudah tak sabar. Dia sungguh ingin tau kelanjutannya.
"Gue.. Gue.. Gue bener-bener ga bisa nahan ketawa. Hahahahaha."
Tawa Kinan menggema di udara.
Friza yang semula mendengarkan dengan seksama langsung terkejut saat mendengar tawa Kinan yang sangat keras, hingga tanpa sadar handphone di tangannya ikut terlempar.
Sedangkan Kinan masih tertawa terpingkal-pingkal, Friza menggerutu kesal.
Friza kira Kinan akan mengatakan suatu hal yang penting. Hatinya sampai berdetak tak beraturan. Friza kira setelah kedekatannya selama ini dengan Kinan, Kinan akan mengatakan soal perasaannya. Eh ternyata hanya gurauan yang membuat telinganya penging.
"Sial lo, Nan!" Maki Friza.
Kinan masih terus tertawa sampai menitikkan air mata.
"Emang lo kira gue mau ngomong apa? Hahahha." Kinan masih saja tertawa.
Friza enggan melanjutkan ucapannya, dia terlanjur kesal. Apalagi di tertawakan Kinan sebegitu kencangnya.
•••
"Jadi lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mencorat-coret kertas di depannya.
Kinan sedang membantu Dina mempersiapkan acara persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah Dina. Dina adalah anggota OSIS, salah satu organisasi yang paling tidak Kinan sukai.
Membuat dekorasi panggung salah satu keahlian Kinan. Jadilah Dina meminta bantuan Kinan untuk membantunya menghias panggung yang akan digunakan besok malam.
"Gimana? Udah keren belom?" Kinan memagut hasil dekorasinya. Sebenarnya sudah lumayan bagus, tapi Kinan ingin minta pendapat Dina si empunya hajat.
Dina ikut memperhatikan hasil dekorasi Kinan. Setelah mengamatinya, Dina merasa dekorasi Kinan sangat keren.
"Keren banget."
"Thankyou, Nan." Dina memeluk Kinan.
"Your welcome." Kinan membalas pelukan Dina.
"Tadi lo tanya apa, Din?"
"Lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mengulangi pertanyaannya lagi.
Kinan tertawa kecil, diambilnya satu kertas di depan Dina. Di corat coretnya asal.
"Gue ga ngerti Din. Dibilang deket gue ga pernah ketemu sama dia, terahir ketemu pas nikahan tante gue. Dibilang ga deket setiap hari gue smsan teleponan sama dia. Gimana dong?" Kinan mengerlingkan matanya genit ke arah Dina.
Dina yang melihat ekspresi Kinan langsung mencari sesuatu yang bisa di lempar. "Centil lo!" Maki Dina.
Kinan hanya tertawa.
"Lo kapan berangkat lagi ke asramanya?"
"Lusa." Kinan menjawab dengan lesu. Jujur dia belum ingin kembali. Dia tak ingin meninggalkan Friza. "Loh kok jadi Friza?" Batin Kinan.
"Terus Friza?" Tanya Dina lagi.
Kinan memejamkan mata. "Gue gatau. Lagian lo tau kan dia temen deketnya Ipung, pasti dia ga mungkin suka sama gue.." Ucap Kinan pasrah.
Bukan rahasia lagi di antara Kinan dan Dina kalau sedari dulu Ipung memang menyukai Kinan. Tapi Kinan memang hanya menganggap Ipung sebatas teman, tak lebih.
Mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Kinan melihat di lapangan basket Ipung sedang tersenyum kepadanya. Sore ini memang jadwal latihan rutin Ipung dan teman-temannya. Bukannya membalas senyum Ipung, Kinan malah menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa berat meninggalkan Friza.
Drrtt.. Drrtt..
Handphone Kinan bergetar dua kali. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Usi, teman sekamarnya di asrama. Yang kedua seperti biasa, dari Friza. Dibukanya pesan Friza.
From : Friza
-Nan, kata Ipung lo lusa berangkat ya?
Tadi setelah selesai membantu Dina. Ipung menghampiri Kinan, mereka ngobrol sebentar sebelum ahirnya Kinan pamit pulang karna mentari senja sudah hampir tenggelam.
Kinan membalasnya tak seperti biasanya, tak ada semangat.
Send to : Friza
-iyaa :(
Drrtt.. Drrtt..
From : Friza
-yah kok cepet banget? :( ga ada yang nemenin gue smsan lagi dong :(
Kinan menahan napas, sengaja agar butiran bening tak meleleh di pipinya.
Friza pernah mengatakan ke Kinan kalau selama ini baru pertama kali Friza dekat dengan perempuan. Baru bersama Kinan, Friza bisa membicarakan banyak hal, darimulai hal-hal penting sampai hal-hal yang konyol. Dari mulai bicara serius sampai bercanda diluar batas.
Baru pertama kali Friza bertemu dengan perempuan yang bisa membuat dia tertawa lepas, yang membuat dia tak merasa malu. Karna daridulu Friza memang termasuk orang yang pemalu dan tak banyak bicara, tapi bersama Kinan sama sekali tak terlihat sifat pemalu dan pendiam Friza.
Dada Kinan terasa sesak. Dia benar-benar tak ingin meninggalkan Friza. Selama satu bulan terahir Kinan dan Friza sudah seperti sahabat dekat, tak ada yang Kinan sembunyikan dari Friza begitu juga sebaliknya, kecuali perasaan mereka masing-masing.
Kinan memutuskan untuk menelepon Friza. Seperti biasa banyak hal yang mereka bicarakan, sampai keduanya tak lagi memerdulikan waktu dan pulsa. Mereka hanya tak ingin kehilangan momen-momen seperti ini. Mereka baru mengahiri perbincangan di telepon saat kokok ayam jantan terdengar bersahutan.
•••
"Mah, Kinan pamit ya." Kinan memandang bayangannya di dalam cermin, setelah dikira cukup dia bergegas pergi.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan. Inget besok kamu berangkat."
Kinan mengangguk, tak lupa mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim.
Diluar teman-temannya sudah menunggu. Ada Vika, Nindy, sama Riska. Mereka ini teman-teman Kinan waktu sekolah dasar. Rumah mereka berdekatan jadi diputuskan mereka akan pergi bersama ke acar persami berhubung Dina menjadi panitia ahirnya Kinan ikut gerombolan mereka.
Selama perjalan mereka bercerita banyak hal. Biasalah kalau perempuan sudah kumpul ya ada saja yang diperbincangkan.
Jarak sekolah Dina tinggal beberapa meter lagi, tapi jantung Kinan sudah berdegup kencang, bukan karna takut panggung hasil dekorannya jelek melainkan di depannya berjalan ada Ipung dan teman-temannya termasuk Friza sedang duduk memegang gitar. Kinan gemetar, rasanya tulang belulangnya rontok satu persatu melihat Friza, laki-laki yang membuat Kinan mengaguminya dari dulu.
Teman-teman Kinan tak ada yang menyadari perubahan diri Kinan. Mereka tetap santai berjalan acuh tak acuh hendak melewati gerombolan Ipung.
Saat Kinan melewati mereka terdengar suara Ipung memanggil Kinan.
"Nan! Nan!"
Terpaksa Kinan berhenti, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kinan tak berani menampakkan wajahnya, dia malu setengah mati dengan Friza. Sedangkan Friza pun seolah tak memperdulikan kedatangan Kinan, meski tanpa sepengetahuan Kinan jantung Friza berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa lo nunduk gitu? Jerawatan?" Tanya Ipung heran.
Kinan mendengus. Kalau saja di depannya tak ada Friza sudah dia pukul si Ipung. Tapi Kinan tak berani bergerak.
Ipung mengamati Kinan seksama. Dia belom pernah melihat Kinan sepemalu ini.
Sebelum keadaan semakin buruk Kinan memutuskan menyusul teman-temannya untuk bertemu Dina.
Dina sedang sibuk mengurus jalannya acara. Ketika dia melihat Kinan, langsung dipanggil Kinan agar mendekat ke arahnya.
"Lo ke sini sama siapa aja?" Tanya Dina.
Kinan menunjukkan jarinya ke arah teman-temannya.
"Oooh.." Dina memanggut-manggutkan kepalanya. "Eh, tadi kayanya gue ngeliat Ipung sama Friza deh. Tapi sekarang gatau dimana mereka."
Kinan melengos.
"Tadi gue abis ketemu mereka, sial! Gue grogi setengah mati di depan Friza." Kinan menggerutu menahan malu.
"Hahahaha, seorang Kinan grogi. Hahaha."
Kinan langsung memukul bahu Dina pelan. Dina malah semakin tertawa keras.
"Din, acara udah mau dimulai. Gimana udah pada siap belom?" Salah satu teman Dina mendekat ke arah Kinan dan Dina. Setau Kinan teman Dina ini namanya Via, mereka pernah sekelas waktu SD sebelum ahirnya Via pindah ke SD tetangga.
"Udah kok, mereka juga udah pada ngumpul di sini." Dina mengawasi para pengisi acara. "Eh Nan, gue pamit bentar ya. Lo nikmatin dulu deh acaranya, ntar gue balik lagi." Dina pamit pergi bersama Via. Kinan hanya membalas dengan senyum kemudian kembali ke gerombolannya.
Teman-teman Kinan dan Kinan asik menikmati acara. Mereka sibuk mengomentari penampilan para pengisi acara. Tiba-tiba dari belakang Kinan ditarik oleh seseorang. Kinan terkejut karna Kinan merasa tak mengenali orang itu.
Sebelum Kinan bertanya orang itu sudah memperkenalkan dirinya.
"Gue Eki temennya Friza, lo Kinan kan? Dia nungguin lo tuh di gerbang depan."
Belum habis rasa kaget Kinan, sekarang Kinan malah dikejutkan dengan perkataan Eki.
"Udah lo percaya aja sama gue, gue ga boong kok." Eki melihat keraguan di mata Kinan.
Tanpa menjawab Kinan mengekor langkah Eki dari belakang.
Benar saja di depan gerbang Kinan melihat Friza sedang berdiri bersender pada salah satu tembok pagar, memakai kaos biru langit dan celana jins 3/4. Poninya yang agak panjang tertiup angin malam, semakin membuat kesan manis di wajahnya yang sudah manis. Jantung Kinan berdegup teramat kencang, bagaimanapun juga ini pertama kalinya Kinan akan mengobrol langsung dengan Friza.
"Ini kan cewe yang lo maksud?" Eki menunjuk ke arah Kinan saat mereka sampai di dekat Friza.
Friza menoleh ke arah Kinan dengan raut muka terkejut. Eki memilih pergi sambil tertawa kencang. Ternyata Eki mengerjai mereka berdua. Sudah terlanjur maju tak bisa mundur lagi.
Selama beberapa menit hanya hening yang terdengar. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, lagipula mereka tak tau harus memulai dari mana.
Menit-menit berlalu, Kinan mulai terlihat resah. Friza yang menyadari gelagat Kinan, mengulurkan tangannya ke Kinan. Kinan tak langsung menyambutnya, dia terpukau dengan senyum manis yang Friza berikan padanya.
"Jadi, kita mau diem-dieman terus?" Friza memulai percakapan.
Kinan tersipu malu. Dia tertawa kecil. "Abis gue bingung mau ngomong apaan." Kinan jujur.
"Sama, gue juga bingung. Haha."
Mereka tertawa lepas bersama. Ternyata Friza benar-benar pemalu. Saat bertemu mereka tak seramai saat di telepon. Hanya pembicaraan ringan yang terjadi di antara Kinan dan Friza.
Selama itu juga Friza tak melepaskan genggamannya di tangan Kinan, membuat Kinan semakin salah tingkah. Tapi genggaman tangan itu membuat Kinan merasa nyaman dan ada kehangatan yang menyelimutinya meski udara malam itu cukup dingin.
"Besok jadi berangkat?" Friza menundukkan wajahnya melihat ke guratan-guratan tanah yang Kinan buat.
"Jadi.."
Friza menahan nafasnya, berat.
"Sama siapa berangkatnya? Hati-hati ya, di betah-betah lo jangan pulang terus." Friza tertawa renyah.
Kinan memandang wajah Friza, dan ikut tertawa. "Gue bahkan penginnya di rumah terus biar bisa ngeliat wajah lo, Za." Batin Kinan.
Sekarang Friza menatap hamparan bintang di atas kepalanya. "Langitnya cerah, Nan. Banyak bintang. Liat deh!"
"Iya, keren." Kinan menengadahkan kepalanya ke atas seperti yang Friza lakukan.
"Lo jangan ngelupain gue ya, Nan. Karna sejauh apapun kita terpisah, kita tetep memandang langit yang sama, kan?" Ada kegetiran di nada suara Friza.
Kinan mengangguk lemah. "Iya, gue ga bakal ngelupain lo kok. Lo juga jangan ngelupain gue ya. Kita kan sahabat, hehe." Kinan membalas tak kalah getirnya.
"Janji?" Friza menjulurkan jari kelingkingnya, Kinan membalas sebagai tanda perjanjian.
Mereka saling melempar senyum penuh arti.
Jam menunjukkan pukul 16:00. Kinan mulai resah. Tak henti-hentinya dia menoleh ke ujung tikungan jalan di depannya berharap ada bis yang datang. Hari ini Kinan berencana pulang ke rumah. Selain musim liburan, beberapa hari lagi Tante Ela akan mengadakan resepsi pernikahan dengan Mas Anu. Praktis Kinan harus pulang, karna Kinan yang akan mengisi acara tantenya tersebut.
Perempuan di sebelah Kinan sibuk memainkan handphone di tangannya. Sedangkan Kinan sibuk memilin-milin ujung bajunya. Kinan tidak membawa handphone, karna di asrama Kinan tidak diperbolehkan membawa barang elektronik, termasuk handphone. Handphone Kinan di titipkan ke mamahnya, jadi Kinan hanya menggunakan saat ia di rumah.
Bis yang di tunggu-tunggu Kinan ahirnya datang juga. Kinan langsung naik ke atas bis sembari melempar senyum ke arah perempuan yang duduk di kursi sebelahnya, ternyata tujuan mereka berbeda.
Sesampainya di rumah setelah bertemu dengan keluarganya Kinan langsung mengecek handphone yang sudah lama tidak di aktifkan. Terpaksa Kinan harus mengganti nomor teleponnya lagi, ternyata masa aktif kartunya sudah habis.
"Nan." Terdengar mamah Kinan memanggil dari lantai bawah.
"Ya, Mah."
"Dicariin tante Ela, katanya seragam buat kamu udah ada. Tinggal dicari yang pas sama kamu yang mana."
Kinan hanya menganggukkan kepala kemudian bergegas menuju rumah tante Ela. Di rumah tante Ela mulai terlihat kesibukkan. Ada yang sibuk memasang dekorasi pelaminan. Ada yang sibuk memasak. Ada juga yang sibuk bercanda seperti Rosa, April, dan Nabil, mereka ini saudara sepupu Kinan.
Kinan berniat menghampiri mereka. Tapi Tante Lula malah menyuruh Kinan segera menemui tante Ela. Ahirnya Kinan urung nimbrung dengan obrolan saudaranya, malah sibuk mencari tantenya.
Tante Ela sumringah melihat kedatangan Kinan. Dipanggilnya Kinan untuk mencoba satu persatu seragam yang ada. Kinan tak pernah ribet soal style, malah Tante Ela yang sibuk memilih seragam mana yang lebih pantas untuk Kinan.
Setelah semua urusannya selesai di rumah Tante Ela, Kinan memutuskan pulang ke rumahnya sendiri. Usai berpamitan ke keluarga besarnya, Kinan langsung mengendarai sepeda motornya.
Diperjalanan pulang, Kinan bertemu dengan Ipung, teman sekolah dasarnya. Ipung meminta nomor handphone Kinan. Ahirnya Kinan berikan nomor handphone barunya ke Ipung. Tak lama berbincang-bincang, Kinan pamit pulang ke rumah. Ipung melambaikan tangannya ke arah Kinan, Kinan membalas sembari lalu.
•••
Acara pernikahan yang di tunggu tiba.
Kinan sudah siap di posisinya. Mencoba membaca ulang teks yang harus dibacakannya nanti. Namun kegiatannya terhenti saat rombongan keluarga Mas Anu datang. Dilihatnya Friza di antara mereka. Kinan terpaku, kejadian beberapa bulan yang lalu masih membekas diingatannya, tapi kali ini Friza sama sekali tak melirik ke arah Kinan. Kinan yang merasa sedikit kecewa memilih fokus kembali ke teks yang harus dia baca.
Sekarang tiba saatnya pengantin dibawa ke rumah mempelai pria. Itu berarti Kinan akan ikut rombongan ke rumah Mas Anu. Rosa, saudara Kinan mengamit lengan Kinan. Mereka berjalan beriringan di belakang Tante Ela dan Mas Anu.
Rumah Mas Anu tak kalah ramainya dengan Rumah Tante Ela. Kinan dan Rosa sampai bingung sendiri akan duduk dimana.
Mereka berdua berbisik pelan saat mereka melihat Friza berdiri di jendela 25 derajat di depan mereka berlawanan arah jarum jam.
"Eh Nan. Itu adiknya Mas Anu ya?" Bisik Rosa ditelinga Kinan.
Kinan mengangguk pelan.
"Manis ya. Lo ga naksir sama dia?" Lanjut Rosa lagi.
Kinan melotot mendengar pertanyaan Rosa. Rosa memang belum tau kalau selama ini Kinan menjadi pengagum rahasia Friza. Yang tau masalah ini baru Kinan dan Dina.
Rosa terkekeh melihat ekspresi Kinan. Sampai ahirnya dia bilang ke Kinan..
"Nan, adiknya Mas Anu ngeliatin lo terus tau daritadi. Namanya siapa sih? Suka kali dia sama lo."
Kinan mau tak mau melihat ke arah Friza juga. Benar saja, Friza langsung salah tingkah saat Kinan balik melihatnya. Pipinya bersemu merah mirip buah jambu. Kinan tak bisa menyembunyikan rasa senangnya diperhatikan Friza dia tertawa tertahan melihat wajah Friza yang tertangkap basah sedang mencuri pandang dirinya.
"Bener kan kata gue." Rosa tertawa pelan.
Kinan mencubit paha Rosa asal, yang dicubit hanya bisa meringis kesakitan.
Hari ini kejadian beberapa bulan yang lalu terulang lagi. Kinan dan Friza sama-sama sibuk mencari celah untuk memandang satu sama lain.
Saat Kinan sadar Friza memperhatikannya, Friza langsung membuang muka seolah tak melihat Kinan. Begitu pun sebaliknya.
Rosa yang melihat kelakuan mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya. Sambil bergumam, "lo beneran naksir dia baru tau rasa, Nan."
•••
Drrtt.. Drrtt..
From : 08564224xxxx
-Nan, ini gue ipung, gue mau telepon boleh?
Belum sempat Kinan membalas. Nada dering tanda panggilan masuk berbunyi.
Hampir setengah jam mereka bercanda lewat udara. Sampai ahirnya sambungan telepon terputus Kinan berfikir Ipung kehabisan pulsanya.
Mulai hari itu Kinan sering bertukar pesan singkat dengan Ipung, tapi waktunya hanya singkat karna Ipung sering tiba-tiba menghilang tak membalas pesannya.
Hari ini sudah dua hari Ipung tak mengirimkan pesan. Saat Kinan mengecek handphonenya seusai mandi. Ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
-kekasih yang dulu hilang kini dia telah kembali pulang akan ku bawa dia terbang damai bersama bintang :)
Kinan mengernyitkan dahinya. Bingung dengan pesan yang dia baca barusan. Dia langsung mengetik balasan.
Send to : +628564224xxxx
-maksudnya pung?
Drrtt.. Drrtt..
Hp Kinan bergetar lagi.
From : +628564224xxxx
-maaf mba, Ipungnya udah pulang. Ini Friza yang punya hp.
Kinan tertegun sebentar.
"Friza? Jadi selama ini Ipung pake hpnya Friza" gumam Kinan.
Awalnya Kinan ragu membalas pesan Friza, tapi lama kelamaan malah dia asik sibuk smsan dengan Friza.
Pucuk di cinta ulam pun tiba, kata Kinan. Sekarang setiap hari dari pagi hingga menjelang tidur Kinan selalu berbalas-balasan pesan dengan Friza. Bahkan tak jarang Friza meneleponnya. Percakapan mereka diudara bisa memakan waktu berjam-jam, sampai telinga Kinan memanas. Kinan tak menghiraukannya, yang jelas sekarang dia sedang bahagia.
•••
"Za, gue mau ngomong sesuatu.."
Kinan menggantungkan ucapannya. Kinan sedang bertelepon ria dengan Friza.
"Ngomong apa?" Terdengar suara Friza penuh tanda tanya.
Kinan menutup lubang hidungnya agar tidak tertawa. Sengaja Kinan mengerjai Friza.
"Gue.. Gue.." Muka Kinan memerah semerah tomat akibat menahan tawa.
"Gue apa?" Friza benar-benar penasaran dengan apa yang akan diucapkan Kinan.
"Sebenernya gue.. Gue bener-bener.."
"Bener-bener apa, Nan?" Friza sudah tak sabar. Dia sungguh ingin tau kelanjutannya.
"Gue.. Gue.. Gue bener-bener ga bisa nahan ketawa. Hahahahaha."
Tawa Kinan menggema di udara.
Friza yang semula mendengarkan dengan seksama langsung terkejut saat mendengar tawa Kinan yang sangat keras, hingga tanpa sadar handphone di tangannya ikut terlempar.
Sedangkan Kinan masih tertawa terpingkal-pingkal, Friza menggerutu kesal.
Friza kira Kinan akan mengatakan suatu hal yang penting. Hatinya sampai berdetak tak beraturan. Friza kira setelah kedekatannya selama ini dengan Kinan, Kinan akan mengatakan soal perasaannya. Eh ternyata hanya gurauan yang membuat telinganya penging.
"Sial lo, Nan!" Maki Friza.
Kinan masih terus tertawa sampai menitikkan air mata.
"Emang lo kira gue mau ngomong apa? Hahahha." Kinan masih saja tertawa.
Friza enggan melanjutkan ucapannya, dia terlanjur kesal. Apalagi di tertawakan Kinan sebegitu kencangnya.
•••
"Jadi lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mencorat-coret kertas di depannya.
Kinan sedang membantu Dina mempersiapkan acara persami (perkemahan sabtu minggu) di sekolah Dina. Dina adalah anggota OSIS, salah satu organisasi yang paling tidak Kinan sukai.
Membuat dekorasi panggung salah satu keahlian Kinan. Jadilah Dina meminta bantuan Kinan untuk membantunya menghias panggung yang akan digunakan besok malam.
"Gimana? Udah keren belom?" Kinan memagut hasil dekorasinya. Sebenarnya sudah lumayan bagus, tapi Kinan ingin minta pendapat Dina si empunya hajat.
Dina ikut memperhatikan hasil dekorasi Kinan. Setelah mengamatinya, Dina merasa dekorasi Kinan sangat keren.
"Keren banget."
"Thankyou, Nan." Dina memeluk Kinan.
"Your welcome." Kinan membalas pelukan Dina.
"Tadi lo tanya apa, Din?"
"Lo sekarang udah deket sama Friza?" Dina mengulangi pertanyaannya lagi.
Kinan tertawa kecil, diambilnya satu kertas di depan Dina. Di corat coretnya asal.
"Gue ga ngerti Din. Dibilang deket gue ga pernah ketemu sama dia, terahir ketemu pas nikahan tante gue. Dibilang ga deket setiap hari gue smsan teleponan sama dia. Gimana dong?" Kinan mengerlingkan matanya genit ke arah Dina.
Dina yang melihat ekspresi Kinan langsung mencari sesuatu yang bisa di lempar. "Centil lo!" Maki Dina.
Kinan hanya tertawa.
"Lo kapan berangkat lagi ke asramanya?"
"Lusa." Kinan menjawab dengan lesu. Jujur dia belum ingin kembali. Dia tak ingin meninggalkan Friza. "Loh kok jadi Friza?" Batin Kinan.
"Terus Friza?" Tanya Dina lagi.
Kinan memejamkan mata. "Gue gatau. Lagian lo tau kan dia temen deketnya Ipung, pasti dia ga mungkin suka sama gue.." Ucap Kinan pasrah.
Bukan rahasia lagi di antara Kinan dan Dina kalau sedari dulu Ipung memang menyukai Kinan. Tapi Kinan memang hanya menganggap Ipung sebatas teman, tak lebih.
Mereka sama-sama terdiam, sibuk dengan fikiran masing-masing. Kinan melihat di lapangan basket Ipung sedang tersenyum kepadanya. Sore ini memang jadwal latihan rutin Ipung dan teman-temannya. Bukannya membalas senyum Ipung, Kinan malah menundukkan kepalanya. Dia benar-benar merasa berat meninggalkan Friza.
Drrtt.. Drrtt..
Handphone Kinan bergetar dua kali. Dilihatnya ada dua pesan masuk. Yang pertama dari Usi, teman sekamarnya di asrama. Yang kedua seperti biasa, dari Friza. Dibukanya pesan Friza.
From : Friza
-Nan, kata Ipung lo lusa berangkat ya?
Tadi setelah selesai membantu Dina. Ipung menghampiri Kinan, mereka ngobrol sebentar sebelum ahirnya Kinan pamit pulang karna mentari senja sudah hampir tenggelam.
Kinan membalasnya tak seperti biasanya, tak ada semangat.
Send to : Friza
-iyaa :(
Drrtt.. Drrtt..
From : Friza
-yah kok cepet banget? :( ga ada yang nemenin gue smsan lagi dong :(
Kinan menahan napas, sengaja agar butiran bening tak meleleh di pipinya.
Friza pernah mengatakan ke Kinan kalau selama ini baru pertama kali Friza dekat dengan perempuan. Baru bersama Kinan, Friza bisa membicarakan banyak hal, darimulai hal-hal penting sampai hal-hal yang konyol. Dari mulai bicara serius sampai bercanda diluar batas.
Baru pertama kali Friza bertemu dengan perempuan yang bisa membuat dia tertawa lepas, yang membuat dia tak merasa malu. Karna daridulu Friza memang termasuk orang yang pemalu dan tak banyak bicara, tapi bersama Kinan sama sekali tak terlihat sifat pemalu dan pendiam Friza.
Dada Kinan terasa sesak. Dia benar-benar tak ingin meninggalkan Friza. Selama satu bulan terahir Kinan dan Friza sudah seperti sahabat dekat, tak ada yang Kinan sembunyikan dari Friza begitu juga sebaliknya, kecuali perasaan mereka masing-masing.
Kinan memutuskan untuk menelepon Friza. Seperti biasa banyak hal yang mereka bicarakan, sampai keduanya tak lagi memerdulikan waktu dan pulsa. Mereka hanya tak ingin kehilangan momen-momen seperti ini. Mereka baru mengahiri perbincangan di telepon saat kokok ayam jantan terdengar bersahutan.
•••
"Mah, Kinan pamit ya." Kinan memandang bayangannya di dalam cermin, setelah dikira cukup dia bergegas pergi.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan. Inget besok kamu berangkat."
Kinan mengangguk, tak lupa mencium punggung tangan mamahnya dengan takzim.
Diluar teman-temannya sudah menunggu. Ada Vika, Nindy, sama Riska. Mereka ini teman-teman Kinan waktu sekolah dasar. Rumah mereka berdekatan jadi diputuskan mereka akan pergi bersama ke acar persami berhubung Dina menjadi panitia ahirnya Kinan ikut gerombolan mereka.
Selama perjalan mereka bercerita banyak hal. Biasalah kalau perempuan sudah kumpul ya ada saja yang diperbincangkan.
Jarak sekolah Dina tinggal beberapa meter lagi, tapi jantung Kinan sudah berdegup kencang, bukan karna takut panggung hasil dekorannya jelek melainkan di depannya berjalan ada Ipung dan teman-temannya termasuk Friza sedang duduk memegang gitar. Kinan gemetar, rasanya tulang belulangnya rontok satu persatu melihat Friza, laki-laki yang membuat Kinan mengaguminya dari dulu.
Teman-teman Kinan tak ada yang menyadari perubahan diri Kinan. Mereka tetap santai berjalan acuh tak acuh hendak melewati gerombolan Ipung.
Saat Kinan melewati mereka terdengar suara Ipung memanggil Kinan.
"Nan! Nan!"
Terpaksa Kinan berhenti, dia menundukkan kepalanya dalam-dalam. Kinan tak berani menampakkan wajahnya, dia malu setengah mati dengan Friza. Sedangkan Friza pun seolah tak memperdulikan kedatangan Kinan, meski tanpa sepengetahuan Kinan jantung Friza berdetak lebih cepat dari biasanya.
"Kenapa lo nunduk gitu? Jerawatan?" Tanya Ipung heran.
Kinan mendengus. Kalau saja di depannya tak ada Friza sudah dia pukul si Ipung. Tapi Kinan tak berani bergerak.
Ipung mengamati Kinan seksama. Dia belom pernah melihat Kinan sepemalu ini.
Sebelum keadaan semakin buruk Kinan memutuskan menyusul teman-temannya untuk bertemu Dina.
Dina sedang sibuk mengurus jalannya acara. Ketika dia melihat Kinan, langsung dipanggil Kinan agar mendekat ke arahnya.
"Lo ke sini sama siapa aja?" Tanya Dina.
Kinan menunjukkan jarinya ke arah teman-temannya.
"Oooh.." Dina memanggut-manggutkan kepalanya. "Eh, tadi kayanya gue ngeliat Ipung sama Friza deh. Tapi sekarang gatau dimana mereka."
Kinan melengos.
"Tadi gue abis ketemu mereka, sial! Gue grogi setengah mati di depan Friza." Kinan menggerutu menahan malu.
"Hahahaha, seorang Kinan grogi. Hahaha."
Kinan langsung memukul bahu Dina pelan. Dina malah semakin tertawa keras.
"Din, acara udah mau dimulai. Gimana udah pada siap belom?" Salah satu teman Dina mendekat ke arah Kinan dan Dina. Setau Kinan teman Dina ini namanya Via, mereka pernah sekelas waktu SD sebelum ahirnya Via pindah ke SD tetangga.
"Udah kok, mereka juga udah pada ngumpul di sini." Dina mengawasi para pengisi acara. "Eh Nan, gue pamit bentar ya. Lo nikmatin dulu deh acaranya, ntar gue balik lagi." Dina pamit pergi bersama Via. Kinan hanya membalas dengan senyum kemudian kembali ke gerombolannya.
Teman-teman Kinan dan Kinan asik menikmati acara. Mereka sibuk mengomentari penampilan para pengisi acara. Tiba-tiba dari belakang Kinan ditarik oleh seseorang. Kinan terkejut karna Kinan merasa tak mengenali orang itu.
Sebelum Kinan bertanya orang itu sudah memperkenalkan dirinya.
"Gue Eki temennya Friza, lo Kinan kan? Dia nungguin lo tuh di gerbang depan."
Belum habis rasa kaget Kinan, sekarang Kinan malah dikejutkan dengan perkataan Eki.
"Udah lo percaya aja sama gue, gue ga boong kok." Eki melihat keraguan di mata Kinan.
Tanpa menjawab Kinan mengekor langkah Eki dari belakang.
Benar saja di depan gerbang Kinan melihat Friza sedang berdiri bersender pada salah satu tembok pagar, memakai kaos biru langit dan celana jins 3/4. Poninya yang agak panjang tertiup angin malam, semakin membuat kesan manis di wajahnya yang sudah manis. Jantung Kinan berdegup teramat kencang, bagaimanapun juga ini pertama kalinya Kinan akan mengobrol langsung dengan Friza.
"Ini kan cewe yang lo maksud?" Eki menunjuk ke arah Kinan saat mereka sampai di dekat Friza.
Friza menoleh ke arah Kinan dengan raut muka terkejut. Eki memilih pergi sambil tertawa kencang. Ternyata Eki mengerjai mereka berdua. Sudah terlanjur maju tak bisa mundur lagi.
Selama beberapa menit hanya hening yang terdengar. Mereka sibuk dengan fikiran masing-masing, lagipula mereka tak tau harus memulai dari mana.
Menit-menit berlalu, Kinan mulai terlihat resah. Friza yang menyadari gelagat Kinan, mengulurkan tangannya ke Kinan. Kinan tak langsung menyambutnya, dia terpukau dengan senyum manis yang Friza berikan padanya.
"Jadi, kita mau diem-dieman terus?" Friza memulai percakapan.
Kinan tersipu malu. Dia tertawa kecil. "Abis gue bingung mau ngomong apaan." Kinan jujur.
"Sama, gue juga bingung. Haha."
Mereka tertawa lepas bersama. Ternyata Friza benar-benar pemalu. Saat bertemu mereka tak seramai saat di telepon. Hanya pembicaraan ringan yang terjadi di antara Kinan dan Friza.
Selama itu juga Friza tak melepaskan genggamannya di tangan Kinan, membuat Kinan semakin salah tingkah. Tapi genggaman tangan itu membuat Kinan merasa nyaman dan ada kehangatan yang menyelimutinya meski udara malam itu cukup dingin.
"Besok jadi berangkat?" Friza menundukkan wajahnya melihat ke guratan-guratan tanah yang Kinan buat.
"Jadi.."
Friza menahan nafasnya, berat.
"Sama siapa berangkatnya? Hati-hati ya, di betah-betah lo jangan pulang terus." Friza tertawa renyah.
Kinan memandang wajah Friza, dan ikut tertawa. "Gue bahkan penginnya di rumah terus biar bisa ngeliat wajah lo, Za." Batin Kinan.
Sekarang Friza menatap hamparan bintang di atas kepalanya. "Langitnya cerah, Nan. Banyak bintang. Liat deh!"
"Iya, keren." Kinan menengadahkan kepalanya ke atas seperti yang Friza lakukan.
"Lo jangan ngelupain gue ya, Nan. Karna sejauh apapun kita terpisah, kita tetep memandang langit yang sama, kan?" Ada kegetiran di nada suara Friza.
Kinan mengangguk lemah. "Iya, gue ga bakal ngelupain lo kok. Lo juga jangan ngelupain gue ya. Kita kan sahabat, hehe." Kinan membalas tak kalah getirnya.
"Janji?" Friza menjulurkan jari kelingkingnya, Kinan membalas sebagai tanda perjanjian.
Mereka saling melempar senyum penuh arti.
Kamis, 26 Juni 2014
soal pertemuan.. (2)
Tanpa terasa hampir dua tahun berlalu sejak pertama kali Kinan mengagumi Friza. Kini Kinan sudah beranjak remaja, mulai masuk ke sekolah menengah pertama. Tapi sejauh ini tak ada yang berubah, Kinan masih mengagumi Friza tanpa berani mengatakannya langsung ke Friza.
Sore ini seperti biasa Kinan dan Dina pergi ke pematang sawah di belakang komplek rumah mereka. Mereka asik dengan fikiran masing-masing. Lusa, Kinan akan pergi ke asrama di kota seberang.
Hanya suara semilir angin yang membelai lembut rambut panjang mereka. Terlihat mata Dina yang berkaca-kaca, dia tak menyangka akan kehilangan Kinan secepat ini. Rasanya ingin menangis saja, tapi Dina bersikeras tak ingin menangis di depan Kinan. Kinan pun sama seperti Dina, terdiam, masih tak percaya harus pergi lusa.
"Lo yakin Nan mau pergi?" Lirih Dina bertanya, nyaris tak terdengar.
Kinan menganggukkan kepala pelan.
"Lo mau ninggalin gue?" Dina hampir menangis, bulir bening telah mengumpul disudut matanya.
"Ntar gue juga balik lagi kok Din.." Kinan menjawab tak kalah lirih.
Dina menghela nafas.
"Gue ga ada temen main dong, Nan.."
"Kan masih ada Lusi sama Ema." Kinan menoleh ke arah Dina. Melihat sahabatnya hampir menangis, Kinan ikut sedih.
"Tapi ga ada yang sebaik lo!" Suara Dina mengeras.
Kinan terenyak. Dia sadar betul selama ini dia dan Dina sangat akrab, mengalahkan saudara, kemana-mana berdua. Bahkan dengan Lusi dan Ema, mereka ga ada apa-apanya dibanding Dina dan Kinan.
"Gue janji bakal sering ngirim surat ke lo kalau gue udah sampe sana."
Dina tersenyum mendengar perkataan Kinan, tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Eh Nan. Friza gimana?"
"Friza.." Kinan ragu-ragu menjawab. Lagipula apanya yang bagaimana. Toh selama hampir dua tahun ini ga pernah ada apa-apa di antara Kinan dan Friza. Malah mungkin Friza gatau Kinan suka dia atau lebih parahnya Friza ga kenal Kinan!
Kinan menggelengkan kepala.
Selama hampir dua tahun terahir yang Kinan lakukan hanya mengamati Friza dari jauh. Menghawatirkan bila sesuatu yang buruk terjadi padanya atau ikut senang bila sesuatu yang baik terjadi padanya. Sebatas itu, tak pernah lebih. Kinan juga belum bisa memastikan kalau perasaan yang Kinan rasakan saat ini ke Friza adalah cinta. Kinan belum tau..
"Ah, gue gatau Din." Kinan menerawang ke hamparan padi di depannya. Senyum Friza, tawa kecil Friza, langkah kaki Friza, rambut tertiup angin miliknya terbayang sudah. Tiba-tiba Kinan takut kehilangan, tapi entah apa..
"Lo yakin gak mau ngomong soal perasaan lo ke dia?"
Kinan tak bergeming.
Dina merapikan poni yang mulai menutupi matanya. "Apa lo ga takut kehilangan dia, Nan? Yaa.. Walaupun selama ini juga lo ga pernah memiliki dia."
"Itu masalahnya Din, gue ga pernah memiliki dia.."
"Loh? Kok jadi gitu? Gimana lo bisa milikin dia kalo lo ga pernah ngomongin perasaan lo ke dia?" Dina menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya sahabatnya bisa bicara seaneh tadi.
"Eh Nan, dengerin gue ya." Diguncangnya bahu Kinan. "Lo mau pergi ke asrama dan gatau pulangnya kapan, lo bayangin ga selama apa lo di sana, apa yang bakal lo lakuin kalo nanti pas lo pulang tau-tau Friza udah punya cewe di sini? Lo bakal ngerasain apa?"
Terbayang sudah ucapan Dina. Kinan melihat Friza bersama wanita lain, bercanda bersama. Wanita itu bisa membuat Friza tertawa lepas, bercerita banyak hal, menghayalkan masa depan. Fikiran Kinan kacau, di dalam hatinya ada yang sakit. Seakan memaksanya untuk teriak sekeras yang dia bisa. Tapi Kinan malah hanya terdiam di sini. Egonya lebih tinggi dari perasaannya ke Friza.
"Ogah ah, Din. Gue ga mungkin nyatain perasaan gue ke dia." Kinan berdiri dari duduknya. "Pulang yuk udah mau malem nih." Ajaknya ke Dina.
"Payah lo!" Dina menguntit Kinan dari belakang.
Selama perjalan pulang tak dipungkiri, Kinan masih memikirkan kata-kata Dina.
Apa dia siap kehilangan Friza padahal belum sempat memiliki?
Apa dia bisa melihat Friza bersama wanita lain padahal dua tahun ini dia slalu memikirkan Friza?
Apa dia bisa melupakan Friza padahal hatinya sangat mengingkan Friza ada di sampingnya?
Kinan tak henti-hentinya bertanya sampai sesak merajai hatinya sendiri.
•••
Bulan berganti bulan, sudah enam bulan lamanya Kinan berada di asrama dan tak pernah pulang ke kota asalnya. Dia dan Dina sering kirim mengirim surat. Kinan menceritakan banyak hal soal kehidupannya di asrama, Dina pun sama menceritakan ke adaannya di rumah.
Saat masuk sekolah menengah pertama Dina lagi-lagi mendapatkan sekolah yang sama dengan Friza, bahkan satu kelas kembali. Di bulan-bulan pertama Dina masih rajin menceritakan soal Friza, perubahan yang terjadi di diri Friza dari hal terkecil sampai terbesar. Awalnya Kinan tertarik, tapi lama kelamaan Kinan jengah sendiri melihat perubahan Friza yang drastis. Semula Friza adalah laki-laki pendiam yang tak banyak bicara berubah menjadi anak nakal yang jarang sekolah.
Lagipula sekarang di kota barunya Kinan menemukan banyak teman baru hingga pelan tapi pasti Kinan mulai melupakan Friza. Kinan jarang memikirkan dia, hanya sesekali pada momen tertentu Kinan teringat tapi langsung ditepisnya fikiran itu. Walaupun di asrama juga Kinan tak pernah melirik laki-laki lain, padahal banyak yang jauh lebih tampan dari Friza.
Sampai suatu hari di pertengahan bulan April. Kinan kelas dua SMP. Tante Ela akan bertunangan dengan Mas Anu. Mamah menyuruh Kinan untuk pulang ke rumah. Di sinilah pertemuan tak terduga itu terjadi, membangkitkan perasaan Kinan yang hampir dikuburnya dalam-dalam.
Saat Kinan sedang sibuk membantu mamahnya merapikan makanan yang akan di sajikan, tiba-tiba tante Ela memanggilnya.
"Kinan, sini deh tante kenalin sama adeknya Mas Anu."
Kinan menghampiri tantenya.
Namun, langkahnya terhenti. Terpaku dia memandang sosok di depannya. Ada yang membuncah lagi, jantung Kinan berdetak keras tak beraturan.
"Eh malah diem aja ini anak satu. Sini, Nan!"
Buyar sudah lamunan Kinan. Agak terseret langkah Kinan mendekat ke arah Tante, Mas Anu, dan adik Mas Anu berdiri. Semakin dekat, semakin tak menentu perasaan di hatinya.
"Kayanya kalian seumuran ya.." Bergantian Mas Anu melihat ke arah Kinan dan Friza.
"Emang iya, kan dulu juga udah pernah bilang ke kamu Mas." Tante Ela dengan wajah sumringah menarik lengan Kinan agar semakin mendekat.
Friza tak berkedip melihat Kinan. Dia terkejut melihat Kinan, sama terkejutnya dengan Kinan.
"Friza.." Friza menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Ki.. Ki.." Lidah Kinan Kelu, sekujur tubuhnya membeku, tak kuasa menyambut uluran tangan Friza.
"Kinan." Tante Ela yang melengkapinya. "Kok grogi gitu sih, Nan? Naksir ya sama Friza" Tante Ela tersenyum jahil ke arah Kinan.
Kinan langsung tersipu malu, begitu juga dengan Friza. Pipi mereka bersemu merah. Tapi kejadian itu ga berlangsung lama karena acara akan segera dimulai.
Kacau sudah usaha Kinan melupakan Friza. Pertemuan itu berhasil membangkitkan perasaan lama. Di sela-sela acara Kinan sibuk mencuri-curi pandang ke arah Friza, bahkan sesekali kepergok Friza yang juga ikut mencuri pandang ke arah Kinan. Kalau sudah ketahuan begitu, Kinan hanya tersenyum malu menyadari Friza sadar sedari tadi diperhatikan Kinan. Friza pun ikut tertawa melihat muka kepiting rebus Kinan.
Sepulang dari acara itu, bayangan Friza semakin merajai alam bawah sadar Kinan. Kinan tertawa sendiri teringat kejadian curi-curi pandang. Teringat tertawanya Friza. Teringat senyum manisnya. Teringat muka serius yang lebih tepat dikatakan muka idiot.
Gagal lah sudah niat move on Kinan..
Sore ini seperti biasa Kinan dan Dina pergi ke pematang sawah di belakang komplek rumah mereka. Mereka asik dengan fikiran masing-masing. Lusa, Kinan akan pergi ke asrama di kota seberang.
Hanya suara semilir angin yang membelai lembut rambut panjang mereka. Terlihat mata Dina yang berkaca-kaca, dia tak menyangka akan kehilangan Kinan secepat ini. Rasanya ingin menangis saja, tapi Dina bersikeras tak ingin menangis di depan Kinan. Kinan pun sama seperti Dina, terdiam, masih tak percaya harus pergi lusa.
"Lo yakin Nan mau pergi?" Lirih Dina bertanya, nyaris tak terdengar.
Kinan menganggukkan kepala pelan.
"Lo mau ninggalin gue?" Dina hampir menangis, bulir bening telah mengumpul disudut matanya.
"Ntar gue juga balik lagi kok Din.." Kinan menjawab tak kalah lirih.
Dina menghela nafas.
"Gue ga ada temen main dong, Nan.."
"Kan masih ada Lusi sama Ema." Kinan menoleh ke arah Dina. Melihat sahabatnya hampir menangis, Kinan ikut sedih.
"Tapi ga ada yang sebaik lo!" Suara Dina mengeras.
Kinan terenyak. Dia sadar betul selama ini dia dan Dina sangat akrab, mengalahkan saudara, kemana-mana berdua. Bahkan dengan Lusi dan Ema, mereka ga ada apa-apanya dibanding Dina dan Kinan.
"Gue janji bakal sering ngirim surat ke lo kalau gue udah sampe sana."
Dina tersenyum mendengar perkataan Kinan, tapi kemudian dia teringat sesuatu.
"Eh Nan. Friza gimana?"
"Friza.." Kinan ragu-ragu menjawab. Lagipula apanya yang bagaimana. Toh selama hampir dua tahun ini ga pernah ada apa-apa di antara Kinan dan Friza. Malah mungkin Friza gatau Kinan suka dia atau lebih parahnya Friza ga kenal Kinan!
Kinan menggelengkan kepala.
Selama hampir dua tahun terahir yang Kinan lakukan hanya mengamati Friza dari jauh. Menghawatirkan bila sesuatu yang buruk terjadi padanya atau ikut senang bila sesuatu yang baik terjadi padanya. Sebatas itu, tak pernah lebih. Kinan juga belum bisa memastikan kalau perasaan yang Kinan rasakan saat ini ke Friza adalah cinta. Kinan belum tau..
"Ah, gue gatau Din." Kinan menerawang ke hamparan padi di depannya. Senyum Friza, tawa kecil Friza, langkah kaki Friza, rambut tertiup angin miliknya terbayang sudah. Tiba-tiba Kinan takut kehilangan, tapi entah apa..
"Lo yakin gak mau ngomong soal perasaan lo ke dia?"
Kinan tak bergeming.
Dina merapikan poni yang mulai menutupi matanya. "Apa lo ga takut kehilangan dia, Nan? Yaa.. Walaupun selama ini juga lo ga pernah memiliki dia."
"Itu masalahnya Din, gue ga pernah memiliki dia.."
"Loh? Kok jadi gitu? Gimana lo bisa milikin dia kalo lo ga pernah ngomongin perasaan lo ke dia?" Dina menggeleng-gelengkan kepala, tak percaya sahabatnya bisa bicara seaneh tadi.
"Eh Nan, dengerin gue ya." Diguncangnya bahu Kinan. "Lo mau pergi ke asrama dan gatau pulangnya kapan, lo bayangin ga selama apa lo di sana, apa yang bakal lo lakuin kalo nanti pas lo pulang tau-tau Friza udah punya cewe di sini? Lo bakal ngerasain apa?"
Terbayang sudah ucapan Dina. Kinan melihat Friza bersama wanita lain, bercanda bersama. Wanita itu bisa membuat Friza tertawa lepas, bercerita banyak hal, menghayalkan masa depan. Fikiran Kinan kacau, di dalam hatinya ada yang sakit. Seakan memaksanya untuk teriak sekeras yang dia bisa. Tapi Kinan malah hanya terdiam di sini. Egonya lebih tinggi dari perasaannya ke Friza.
"Ogah ah, Din. Gue ga mungkin nyatain perasaan gue ke dia." Kinan berdiri dari duduknya. "Pulang yuk udah mau malem nih." Ajaknya ke Dina.
"Payah lo!" Dina menguntit Kinan dari belakang.
Selama perjalan pulang tak dipungkiri, Kinan masih memikirkan kata-kata Dina.
Apa dia siap kehilangan Friza padahal belum sempat memiliki?
Apa dia bisa melihat Friza bersama wanita lain padahal dua tahun ini dia slalu memikirkan Friza?
Apa dia bisa melupakan Friza padahal hatinya sangat mengingkan Friza ada di sampingnya?
Kinan tak henti-hentinya bertanya sampai sesak merajai hatinya sendiri.
•••
Bulan berganti bulan, sudah enam bulan lamanya Kinan berada di asrama dan tak pernah pulang ke kota asalnya. Dia dan Dina sering kirim mengirim surat. Kinan menceritakan banyak hal soal kehidupannya di asrama, Dina pun sama menceritakan ke adaannya di rumah.
Saat masuk sekolah menengah pertama Dina lagi-lagi mendapatkan sekolah yang sama dengan Friza, bahkan satu kelas kembali. Di bulan-bulan pertama Dina masih rajin menceritakan soal Friza, perubahan yang terjadi di diri Friza dari hal terkecil sampai terbesar. Awalnya Kinan tertarik, tapi lama kelamaan Kinan jengah sendiri melihat perubahan Friza yang drastis. Semula Friza adalah laki-laki pendiam yang tak banyak bicara berubah menjadi anak nakal yang jarang sekolah.
Lagipula sekarang di kota barunya Kinan menemukan banyak teman baru hingga pelan tapi pasti Kinan mulai melupakan Friza. Kinan jarang memikirkan dia, hanya sesekali pada momen tertentu Kinan teringat tapi langsung ditepisnya fikiran itu. Walaupun di asrama juga Kinan tak pernah melirik laki-laki lain, padahal banyak yang jauh lebih tampan dari Friza.
Sampai suatu hari di pertengahan bulan April. Kinan kelas dua SMP. Tante Ela akan bertunangan dengan Mas Anu. Mamah menyuruh Kinan untuk pulang ke rumah. Di sinilah pertemuan tak terduga itu terjadi, membangkitkan perasaan Kinan yang hampir dikuburnya dalam-dalam.
Saat Kinan sedang sibuk membantu mamahnya merapikan makanan yang akan di sajikan, tiba-tiba tante Ela memanggilnya.
"Kinan, sini deh tante kenalin sama adeknya Mas Anu."
Kinan menghampiri tantenya.
Namun, langkahnya terhenti. Terpaku dia memandang sosok di depannya. Ada yang membuncah lagi, jantung Kinan berdetak keras tak beraturan.
"Eh malah diem aja ini anak satu. Sini, Nan!"
Buyar sudah lamunan Kinan. Agak terseret langkah Kinan mendekat ke arah Tante, Mas Anu, dan adik Mas Anu berdiri. Semakin dekat, semakin tak menentu perasaan di hatinya.
"Kayanya kalian seumuran ya.." Bergantian Mas Anu melihat ke arah Kinan dan Friza.
"Emang iya, kan dulu juga udah pernah bilang ke kamu Mas." Tante Ela dengan wajah sumringah menarik lengan Kinan agar semakin mendekat.
Friza tak berkedip melihat Kinan. Dia terkejut melihat Kinan, sama terkejutnya dengan Kinan.
"Friza.." Friza menjulurkan tangannya memperkenalkan diri.
"Ki.. Ki.." Lidah Kinan Kelu, sekujur tubuhnya membeku, tak kuasa menyambut uluran tangan Friza.
"Kinan." Tante Ela yang melengkapinya. "Kok grogi gitu sih, Nan? Naksir ya sama Friza" Tante Ela tersenyum jahil ke arah Kinan.
Kinan langsung tersipu malu, begitu juga dengan Friza. Pipi mereka bersemu merah. Tapi kejadian itu ga berlangsung lama karena acara akan segera dimulai.
Kacau sudah usaha Kinan melupakan Friza. Pertemuan itu berhasil membangkitkan perasaan lama. Di sela-sela acara Kinan sibuk mencuri-curi pandang ke arah Friza, bahkan sesekali kepergok Friza yang juga ikut mencuri pandang ke arah Kinan. Kalau sudah ketahuan begitu, Kinan hanya tersenyum malu menyadari Friza sadar sedari tadi diperhatikan Kinan. Friza pun ikut tertawa melihat muka kepiting rebus Kinan.
Sepulang dari acara itu, bayangan Friza semakin merajai alam bawah sadar Kinan. Kinan tertawa sendiri teringat kejadian curi-curi pandang. Teringat tertawanya Friza. Teringat senyum manisnya. Teringat muka serius yang lebih tepat dikatakan muka idiot.
Gagal lah sudah niat move on Kinan..
Rabu, 25 Juni 2014
namanya Friza (1)
"Nan, liat deh cowo itu! Liat! Manis banget ga sih? Dia satu sekolahan loh sama gue, namanya Friza!" Dengan girang Dina mengguncang bahu Kinan. Tapi Kinan acuh tak acuh dengan omongan Dina. "Ayo dong, Nan. Liat dulu bentar, pasti naksir deh!" Lanjut Dina lagi.
"Yang mana?" Sahut Kinan.
Dina langsung menunjukkan jarinya ke satu arah, dengan malas Kinan menuruti petunjuk Dina, sejurus kemudian dilihatnya anak laki-laki seumuran mereka sedang asik bermain layangan juga sama seperti Kinan.
"Iya, dia manis."
"Ih, kok lo cuek gitu sih nanggepinnya!" Dina menggerutu, bibirnya yang tipis maju beberapa centi mirip ikan lohan.
"Lah, terus gue harus jawab apa?" Kinan sibuk menarik ulur senar layangannya. "Gara-gara lo nih gue hampir kehilangan layangan gue." Lanjut Kinan yang masih sibuk menarik ulur senar layangan. "Daripada lo ngeliatin cowo itu terus, mending lo bantuin gue ngerapihin senar layangan gue deh."
Ahirnya dengan masih menggerutu Dina membantu Kinan merapikan senar layangannya.
Sore ini seperti biasanya Kinan dan Dina bermain layangan di pematang sawah dekat rumah mereka. Kinan dan Dina bersahabat sangat akrab, meski mereka berasal dari sekolah dasar yang berbeda tapi setiap pulang sekolah atau saat liburan mereka pasti main bersama seperti sekarang ini. Mereka baru akan pulang saat matahari tinggal sepenggalah di ufuk barat.
•••
"Kinan pulang Mah.." Kinan melangkah masuk ke dalam rumah saat adiknya Aman sedang asik memainkan robot-robotan yang baru seminggu lalu ayah belikan. "Mamah dimana dek?" Tanya Kinan.
"Ada di dapur, katanya tante Ela mau main jadi mamah sibuk masak." Jawab Aman tanpa sedikitpun menoleh ke arah Kinan.
"Tante Ela?" Kinan mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan mamah sibuk masak cuma karna Tante Ela mau main, biasanya juga engga. Kinan simpan dulu rasa penasarannya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Seusai mandi Kinan menghampiri mamah di dapur. Dilihatnya meja makan penuh berisi makanan di atasnya. "Hmmm, makan besar nih mah." Ujar Kinan sambil mengambil sepotong tempe.
"Eh, Kinan. Tante Ela mau main sama mas Anu katanya, ga enak kan kalo mamah ga nyiapin makanan." Mamah mencoba menjelaskan ke Kinan.
"Oh gitu.." Kinan melanjutkan kunyahan tempenya kembali.
Selang beberapa menit kemudian Kinan memilih pergi ke rumah Dina untuk bermain bersama.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan." Seru mamah.
"Iya, Mah. Kinan pergi."
•••
Keesokkan harinya sepulang sekolah Kinan langsung menuju rumah Tante Ela, sesuai pesan tantenya semalam. Saat memasuki ruang tamu, Kinan melihat tantenya sedang membuat bingkisan, entah bingkisan apa.
Menyadari kedatangan Kinan, tante Ela memanggil Kinan untuk segera mendekat dan membantu.
"Kado buat siapa, Tante?"
"Buat Mas Anu. Ntar Kinan yang nganterin ya.." Jawab tante Ela.
"Hah? Kinan kan ga tahu rumahnya Mas Anu." Kinan keberatan dengan permintaan tantenya.
"Ayolah Kinan, deket kok. Depan gang situ."
Ahirnya Kinan menyetujui permintaan tante Ela dan menuju rumah Mas Anu.
Sepi, kesan pertama yang Kinan dapatkan saat memasuki halaman rumah Mas Anu. Ragu-ragu Kinan melangkah, tak henti-hentinya Kinan memandang ke sekitar barangkali ada salah satu penghuni rumah yang ia temui, tapi hasilnya nihil. Ahirnya Kinan mengetuk pintu utama rumah Mas Anu.
Pelan Kinan mengetuk daun pintu. Sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap hening. Kinan hampir putus asa dan memilih pergi, namun sebelum Kinan melangkah pergi tirai jendela rumah Mas Anu terbuka. Dilihatnya bocah laki-laki seumuran dengan Kinan mencoba membukakan pintu untuk Kinan.
"Cari siapa?" Tanya bocah itu.
Kinan terkesiap, terbata-bata menjawab pertanyaan.
"Mmmm.. Mmmm.. Mas Anunya ada?"
"Mas Anunya lagi pergi."
"Yaudah, nitip ini aja deh buat Mas Anu dari Tante Ela."
Bocah itu ragu-ragu menerima bingkisan dari Kinan, tapi tak lupa mengucapkan terimakasih. Kinan mengangguk kemudian melangkah pulang.
"Bukannya itu cowo yang kemarin gue liat di sawah sama Dina ya." Kinan menggumam pelan.
Sedangkan bocah itu masih saja memandangi Kinan hingga tubuh Kinan menghilang di ujung gang.
¤¤¤
2 tahun kemudian..
Kinan sedang asik memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya depan sekolahnya saat Vika teman sebangku di kelas menghampirinya.
"Woi! Ngelamun aja lo, cepet tua baru tau rasa!"
Kinan tertawa kecil mendengar lelucon sahabatnya.
"Ngapain sih lo duduk disini?" Kinan menggeser duduknya agar Vika bisa duduk di sampingnya. "Masih penasaran sama cowo minggu lalu?"
Kinan tersenyum kecil, teringat kejadian minggu lalu. Saat itu Kinan sedang mengikuti lomba upacara yang diadakan di sekolahnya. Kinan cukup familiar di sekolah-sekolah di daerahnya, itu membuat banyak murid laki-laki menyukai Kinan, selain pintar Kinan juga lumayan cantik. Tapi ada satu orang laki-laki yang Kinan lihat acuh tak acuh terhadap dirinya, ketika teman-temannya asik menggoda Kinan dia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum kecil melihat kelakuan teman-temannya. Kinan terpesona langsung di menit dan tempat itu juga, rasa penasarannya membucah, sepertinya ada yang berbeda dari laki-laki itu, tapi Kinan tak tau apa.
"Ebuset, malah ngelamun ditanyain."
Kinan tersentak. Sadar dengan pertanyaan Vika. Dengan senyum jahil Kinan menjawab, "Iya, gue lagi nungguin dia lewat hahahaha."
"Nah, emang lo tau dia mau lewat?" Vika penasaran.
"Tau, dia kan satu sekolahan sama Dina temen rumah gue. Hari ini Dina olahraga di lapangan pasti lewat sini kan." Kinan senyam senyum sendiri membayangkan senyum laki-laki itu.
Vika hanya ber-Ooo ria dan ikut memandangi lalu lalang orang di depan mereka.
Beberapa menit kemudian..
"Eh itu dia!" Vika sumringah memandang ke arah barisan teman-teman Dina yang sedang berjalan menuju lapangan.
Kinan langsung memandangi ke arah mereka, tersenyum kecil. Seperti biasa dilihatnya teman-teman lelaki Dina teriak-teriak memanggil nama Kinan tapi laki-laki itu masih seperti minggu lalu hanya tersenyum simpul, Kinan semakin terpesona. Kinan juga melihat Dina. Terlihat Dina yang sedang tertawa, menertawai perubahan rona pipi Kinan yang bersemu merah. Dina tau Kinan naksir temannya, tapi dia belum tau siapa. Sepulang sekolah Ia akan menanyakannya langsung pada Kinan, tanpa perantara.
•••
♫ Aku berbagi untuk sahabat, kita berbagi untuk sahabat, kita bisa bila bersama.. ♫
Lirih terdengar suara Audi feat nindy, penyanyi yang duet bersama setelah audisi oleh salah satu produk kecantikan. Kinan sedang asik mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan wali kelasnya tadi pagi di sekolah.
"Kinaaaaaan!"
"Kinaaaaannn!"
"Kinaaaaaannnn!"
"Ya Tuhan, berisik banget sih itu bocah satu, tinggal naik ke atas aja pake tereak segala berasa di hutan." Kinan melempar pensil ke atas buku.
"Iyaa Din, lo naik aja sini. Gue lagi ngerjain PR." Kinan membalas teriakan Dina.
Tak lama kemudian dilihatnya muka kucel Dina berdiri di depan pintu kamarnya. Kinan terbahak melihat kondisi sahabatnya.
"Kenapa lo? Abis kena badai di luar?" Seloroh Kinan.
"Sial lo!" Dina melempar bantal ke arah Kinan. Kinan masih terbahak. "Gue abis berantem sama Kak Abel." Dina manyun semanyun-manyunnya menceritakan keributannya dengan kakak perempuannya.
Seusai bercerita panjang lebar, Dina teringat tujuan utamanya datang ke rumah Kinan. "Lo naksir temen gue ya, Nan?"
Kinan tersipu mendengarnya.
Sekarang gantian Dina yang tertawa keras. "Nyaelah lo, Nan. Hahahaha. Sama siapa? Ari atau Zidan bocah pindahan dari Bandung?"
Kinan melotot mendengar pertanyaan Dina. Mana mungkin Kinan melirik dua bocah yang walaupun fisiknya di atas rata-rata tapi tengilnya kagak nahan. No way! Fikir Kinan.
"Bukan mereka.."
"Nah, terus siapa?" Dina terkejut. Rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun.
Kinan tersipu malu, mengingat lagi dua kali pertemuan mereka. Eh bukan pertemuan, tapi curi-curi pandang yang Kinan lakukan ke sosok itu.
"Gue ga tau namanya, Din." Ucap Kinan pelan.
"Ya Tuhan, lo kagak tau namanya?!" Dina menepuk jidatnya sendiri. Lalu, "Bentar, coba lo sebutin ciri-ciri dia, gue pasti kenal."
Kinan mencoba mengingat ciri-cirinya, rambut cepak, tatapan mata tajam, senyum manis, dan alis mata yang tebal mirip semut berbaris, tinggi Kinan mungkin sedaun telinganya.
Dina berfikir keras mencoba mencari teman satu kelasnya yang memiliki ciri seperti yang Kinan sebutkan. "Oh gue tau!" Seru Dina girang. Kinan hampir tersentak dari tempat duduknya. Tapi si Dina hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.
"Namanya, Friza! Iya Friza Andromeda!" Dina berseru lagi, senang. Seolah menemukan jawaban soal teka-teki yang paling sulit.
Kinan berfikir sebentar, mencoba mengingat-ingat. "Kayanya gue ga asing deh sama nama itu.."
"Yaelah lo, Nan. Gimana ga asing. Andromeda kan nama keluarga dia. Tante lo masih pacaran sama Mas Anu, kan?"
"Ya Tuhan!" Kinan menepuk jidatnya sendiri. "Pantesan aja gue ga asing sama itu bocah! Hahaha" Kinan tertawa terpingkal-pingkal.
Mulai hari itu setiap hari yang Kinan lakukan adalah mencari tau segala hal tentang Friza. Tiada hari tanpa berita soal Friza. Sampai Dina merasa bosan sendiri menceritakan soal kegiatan Friza di sekolahan.
Dina menceritakan secara detail tentang Friza. Friza yang jarang masuk sekolah karna sakit. Friza yang hemat suara, ternyata cowo idaman Kinan termasuk cowo yang pendiam. Pantas saja Kinan penasaran setengah mati. Setiap kelas Dina ada jadwal olahraga di lapangan, Kinan orang pertama yang akan menunggu mereka lewat di depan sekolahan Kinan.
Hanya itu yang bisa Kinan lakukan.
Pernah suatu hari Dina bertanya pada Kinan, mengapa Kinan tidak langsung berterus terang pada Friza bahwa dia menyukainya. Kinan hanya tertawa menanggapinya, mana mungkin Kinan yang memulai mengajak Friza bicara, sedangkan Friza adalah orang tercuek yang pernah dia temui. Kata Kinan, dia menikmati proses ini, mengagumi dari jarak jauh lagipula usia mereka masih terlalu dini untuk sebuah kata 'cinta'. Kinan juga ga yakin apakah perasaan yang Kinan rasa saat ini beneran cinta atau sekedar rasa kagum. Yang jelas Kinan merasa senang setiap kali Dina menceritakan segala hal tentang Friza.
"Ah cinta, masa iya anak kelas 5 SD sudah jatuh cinta? Entahlah.." Kinan tertawa dalam hati menertawai kekonyolan dirinya sendiri.
"Yang mana?" Sahut Kinan.
Dina langsung menunjukkan jarinya ke satu arah, dengan malas Kinan menuruti petunjuk Dina, sejurus kemudian dilihatnya anak laki-laki seumuran mereka sedang asik bermain layangan juga sama seperti Kinan.
"Iya, dia manis."
"Ih, kok lo cuek gitu sih nanggepinnya!" Dina menggerutu, bibirnya yang tipis maju beberapa centi mirip ikan lohan.
"Lah, terus gue harus jawab apa?" Kinan sibuk menarik ulur senar layangannya. "Gara-gara lo nih gue hampir kehilangan layangan gue." Lanjut Kinan yang masih sibuk menarik ulur senar layangan. "Daripada lo ngeliatin cowo itu terus, mending lo bantuin gue ngerapihin senar layangan gue deh."
Ahirnya dengan masih menggerutu Dina membantu Kinan merapikan senar layangannya.
Sore ini seperti biasanya Kinan dan Dina bermain layangan di pematang sawah dekat rumah mereka. Kinan dan Dina bersahabat sangat akrab, meski mereka berasal dari sekolah dasar yang berbeda tapi setiap pulang sekolah atau saat liburan mereka pasti main bersama seperti sekarang ini. Mereka baru akan pulang saat matahari tinggal sepenggalah di ufuk barat.
•••
"Kinan pulang Mah.." Kinan melangkah masuk ke dalam rumah saat adiknya Aman sedang asik memainkan robot-robotan yang baru seminggu lalu ayah belikan. "Mamah dimana dek?" Tanya Kinan.
"Ada di dapur, katanya tante Ela mau main jadi mamah sibuk masak." Jawab Aman tanpa sedikitpun menoleh ke arah Kinan.
"Tante Ela?" Kinan mengernyitkan dahi. Tumben-tumbenan mamah sibuk masak cuma karna Tante Ela mau main, biasanya juga engga. Kinan simpan dulu rasa penasarannya, lalu bergegas menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Seusai mandi Kinan menghampiri mamah di dapur. Dilihatnya meja makan penuh berisi makanan di atasnya. "Hmmm, makan besar nih mah." Ujar Kinan sambil mengambil sepotong tempe.
"Eh, Kinan. Tante Ela mau main sama mas Anu katanya, ga enak kan kalo mamah ga nyiapin makanan." Mamah mencoba menjelaskan ke Kinan.
"Oh gitu.." Kinan melanjutkan kunyahan tempenya kembali.
Selang beberapa menit kemudian Kinan memilih pergi ke rumah Dina untuk bermain bersama.
"Pulangnya jangan kemaleman, Nan." Seru mamah.
"Iya, Mah. Kinan pergi."
•••
Keesokkan harinya sepulang sekolah Kinan langsung menuju rumah Tante Ela, sesuai pesan tantenya semalam. Saat memasuki ruang tamu, Kinan melihat tantenya sedang membuat bingkisan, entah bingkisan apa.
Menyadari kedatangan Kinan, tante Ela memanggil Kinan untuk segera mendekat dan membantu.
"Kado buat siapa, Tante?"
"Buat Mas Anu. Ntar Kinan yang nganterin ya.." Jawab tante Ela.
"Hah? Kinan kan ga tahu rumahnya Mas Anu." Kinan keberatan dengan permintaan tantenya.
"Ayolah Kinan, deket kok. Depan gang situ."
Ahirnya Kinan menyetujui permintaan tante Ela dan menuju rumah Mas Anu.
Sepi, kesan pertama yang Kinan dapatkan saat memasuki halaman rumah Mas Anu. Ragu-ragu Kinan melangkah, tak henti-hentinya Kinan memandang ke sekitar barangkali ada salah satu penghuni rumah yang ia temui, tapi hasilnya nihil. Ahirnya Kinan mengetuk pintu utama rumah Mas Anu.
Pelan Kinan mengetuk daun pintu. Sekali, tidak ada jawaban. Dua kali, tetap hening. Kinan hampir putus asa dan memilih pergi, namun sebelum Kinan melangkah pergi tirai jendela rumah Mas Anu terbuka. Dilihatnya bocah laki-laki seumuran dengan Kinan mencoba membukakan pintu untuk Kinan.
"Cari siapa?" Tanya bocah itu.
Kinan terkesiap, terbata-bata menjawab pertanyaan.
"Mmmm.. Mmmm.. Mas Anunya ada?"
"Mas Anunya lagi pergi."
"Yaudah, nitip ini aja deh buat Mas Anu dari Tante Ela."
Bocah itu ragu-ragu menerima bingkisan dari Kinan, tapi tak lupa mengucapkan terimakasih. Kinan mengangguk kemudian melangkah pulang.
"Bukannya itu cowo yang kemarin gue liat di sawah sama Dina ya." Kinan menggumam pelan.
Sedangkan bocah itu masih saja memandangi Kinan hingga tubuh Kinan menghilang di ujung gang.
¤¤¤
2 tahun kemudian..
Kinan sedang asik memandang lalu lalang kendaraan di jalan raya depan sekolahnya saat Vika teman sebangku di kelas menghampirinya.
"Woi! Ngelamun aja lo, cepet tua baru tau rasa!"
Kinan tertawa kecil mendengar lelucon sahabatnya.
"Ngapain sih lo duduk disini?" Kinan menggeser duduknya agar Vika bisa duduk di sampingnya. "Masih penasaran sama cowo minggu lalu?"
Kinan tersenyum kecil, teringat kejadian minggu lalu. Saat itu Kinan sedang mengikuti lomba upacara yang diadakan di sekolahnya. Kinan cukup familiar di sekolah-sekolah di daerahnya, itu membuat banyak murid laki-laki menyukai Kinan, selain pintar Kinan juga lumayan cantik. Tapi ada satu orang laki-laki yang Kinan lihat acuh tak acuh terhadap dirinya, ketika teman-temannya asik menggoda Kinan dia hanya terdiam sambil sesekali tersenyum kecil melihat kelakuan teman-temannya. Kinan terpesona langsung di menit dan tempat itu juga, rasa penasarannya membucah, sepertinya ada yang berbeda dari laki-laki itu, tapi Kinan tak tau apa.
"Ebuset, malah ngelamun ditanyain."
Kinan tersentak. Sadar dengan pertanyaan Vika. Dengan senyum jahil Kinan menjawab, "Iya, gue lagi nungguin dia lewat hahahaha."
"Nah, emang lo tau dia mau lewat?" Vika penasaran.
"Tau, dia kan satu sekolahan sama Dina temen rumah gue. Hari ini Dina olahraga di lapangan pasti lewat sini kan." Kinan senyam senyum sendiri membayangkan senyum laki-laki itu.
Vika hanya ber-Ooo ria dan ikut memandangi lalu lalang orang di depan mereka.
Beberapa menit kemudian..
"Eh itu dia!" Vika sumringah memandang ke arah barisan teman-teman Dina yang sedang berjalan menuju lapangan.
Kinan langsung memandangi ke arah mereka, tersenyum kecil. Seperti biasa dilihatnya teman-teman lelaki Dina teriak-teriak memanggil nama Kinan tapi laki-laki itu masih seperti minggu lalu hanya tersenyum simpul, Kinan semakin terpesona. Kinan juga melihat Dina. Terlihat Dina yang sedang tertawa, menertawai perubahan rona pipi Kinan yang bersemu merah. Dina tau Kinan naksir temannya, tapi dia belum tau siapa. Sepulang sekolah Ia akan menanyakannya langsung pada Kinan, tanpa perantara.
•••
♫ Aku berbagi untuk sahabat, kita berbagi untuk sahabat, kita bisa bila bersama.. ♫
Lirih terdengar suara Audi feat nindy, penyanyi yang duet bersama setelah audisi oleh salah satu produk kecantikan. Kinan sedang asik mengerjakan pekerjaan rumah yang diberikan wali kelasnya tadi pagi di sekolah.
"Kinaaaaaan!"
"Kinaaaaannn!"
"Kinaaaaaannnn!"
"Ya Tuhan, berisik banget sih itu bocah satu, tinggal naik ke atas aja pake tereak segala berasa di hutan." Kinan melempar pensil ke atas buku.
"Iyaa Din, lo naik aja sini. Gue lagi ngerjain PR." Kinan membalas teriakan Dina.
Tak lama kemudian dilihatnya muka kucel Dina berdiri di depan pintu kamarnya. Kinan terbahak melihat kondisi sahabatnya.
"Kenapa lo? Abis kena badai di luar?" Seloroh Kinan.
"Sial lo!" Dina melempar bantal ke arah Kinan. Kinan masih terbahak. "Gue abis berantem sama Kak Abel." Dina manyun semanyun-manyunnya menceritakan keributannya dengan kakak perempuannya.
Seusai bercerita panjang lebar, Dina teringat tujuan utamanya datang ke rumah Kinan. "Lo naksir temen gue ya, Nan?"
Kinan tersipu mendengarnya.
Sekarang gantian Dina yang tertawa keras. "Nyaelah lo, Nan. Hahahaha. Sama siapa? Ari atau Zidan bocah pindahan dari Bandung?"
Kinan melotot mendengar pertanyaan Dina. Mana mungkin Kinan melirik dua bocah yang walaupun fisiknya di atas rata-rata tapi tengilnya kagak nahan. No way! Fikir Kinan.
"Bukan mereka.."
"Nah, terus siapa?" Dina terkejut. Rasa penasarannya sudah mencapai ubun-ubun.
Kinan tersipu malu, mengingat lagi dua kali pertemuan mereka. Eh bukan pertemuan, tapi curi-curi pandang yang Kinan lakukan ke sosok itu.
"Gue ga tau namanya, Din." Ucap Kinan pelan.
"Ya Tuhan, lo kagak tau namanya?!" Dina menepuk jidatnya sendiri. Lalu, "Bentar, coba lo sebutin ciri-ciri dia, gue pasti kenal."
Kinan mencoba mengingat ciri-cirinya, rambut cepak, tatapan mata tajam, senyum manis, dan alis mata yang tebal mirip semut berbaris, tinggi Kinan mungkin sedaun telinganya.
Dina berfikir keras mencoba mencari teman satu kelasnya yang memiliki ciri seperti yang Kinan sebutkan. "Oh gue tau!" Seru Dina girang. Kinan hampir tersentak dari tempat duduknya. Tapi si Dina hanya cengengesan tanpa merasa bersalah.
"Namanya, Friza! Iya Friza Andromeda!" Dina berseru lagi, senang. Seolah menemukan jawaban soal teka-teki yang paling sulit.
Kinan berfikir sebentar, mencoba mengingat-ingat. "Kayanya gue ga asing deh sama nama itu.."
"Yaelah lo, Nan. Gimana ga asing. Andromeda kan nama keluarga dia. Tante lo masih pacaran sama Mas Anu, kan?"
"Ya Tuhan!" Kinan menepuk jidatnya sendiri. "Pantesan aja gue ga asing sama itu bocah! Hahaha" Kinan tertawa terpingkal-pingkal.
Mulai hari itu setiap hari yang Kinan lakukan adalah mencari tau segala hal tentang Friza. Tiada hari tanpa berita soal Friza. Sampai Dina merasa bosan sendiri menceritakan soal kegiatan Friza di sekolahan.
Dina menceritakan secara detail tentang Friza. Friza yang jarang masuk sekolah karna sakit. Friza yang hemat suara, ternyata cowo idaman Kinan termasuk cowo yang pendiam. Pantas saja Kinan penasaran setengah mati. Setiap kelas Dina ada jadwal olahraga di lapangan, Kinan orang pertama yang akan menunggu mereka lewat di depan sekolahan Kinan.
Hanya itu yang bisa Kinan lakukan.
Pernah suatu hari Dina bertanya pada Kinan, mengapa Kinan tidak langsung berterus terang pada Friza bahwa dia menyukainya. Kinan hanya tertawa menanggapinya, mana mungkin Kinan yang memulai mengajak Friza bicara, sedangkan Friza adalah orang tercuek yang pernah dia temui. Kata Kinan, dia menikmati proses ini, mengagumi dari jarak jauh lagipula usia mereka masih terlalu dini untuk sebuah kata 'cinta'. Kinan juga ga yakin apakah perasaan yang Kinan rasa saat ini beneran cinta atau sekedar rasa kagum. Yang jelas Kinan merasa senang setiap kali Dina menceritakan segala hal tentang Friza.
"Ah cinta, masa iya anak kelas 5 SD sudah jatuh cinta? Entahlah.." Kinan tertawa dalam hati menertawai kekonyolan dirinya sendiri.
Senin, 02 Juni 2014
SBMPTN
TATA TERTIB PESERTA UJIAN TERTULIS SBMPTN 2014
A. SEBELUM UJIAN DIMULAI
1. Peserta ujian harus sudah mengetahui RUANG UJIAN dan LOKASI UJIAN sehari sebelum ujian berlangsung.
2. Peserta harus membawa :
- KARTU TANDA PESERTA SBMPTN 2014 yang diperoleh pada saat menuntaskan pendaftaran online dihttp://pendaftaran.sbmptn.or.id
- Fotokopi ijazah SMA/SMK/MA/MAK atau yang setara dan sudah dilegalisasi. Untuk lulusan tahun 2014 sekurang-kurangnya harus membawa Surat Keterangan Hasil Ujian Nasional (SKHUN) dari Kepala Sekolah yang dilengkapi dengan pasfoto berwarna terbaru peserta dan harus dibubuhi cap sekolah>
- Pensil hitam 2B secukupnya
- Rautan pensil
- Karet penghapus yang bersih dan lunak
- Ballpoint hitam
3. Peserta harus berpakaian rapi dan menggunakan sepatu (tidak diperbolehkan menggunakan T-Shirt/ Kaos Oblong).
4. Peserta harus datang ke LOKASI UJIAN paling lambat 30 menit sebelum ujian dimulai.
5. Peserta tidak diperkenankan masuk ruang ujian sebelum ada tanda untuk memasuki ruang ujian.
6. Peserta harus duduk di tempat yang sudah diberi nomor ujian, tidak diperbolehkan menempati tempat duduk lain.
7. Peserta meletakkan KARTU TANDA PESERTA dengan pasfoto menghadap ke atas.
8. Peserta tidak diperbolehkan membawa daftar logaritma, segala jenis kalkulator, kertas, buku maupun catatan lain pada waktu memasuki ruang ujian.
9. Peserta tidak diperbolehkan membawa alat komunikasi. Semua alat komunikasi dimatikan dan disimpan di dalam tas.
10. Tas atau barang bawaan lainnya di letakkan di depan kelas atau ruang ujian.
11. Peserta yang kehilangan KARTU TANDA PESERTA harus segera melaporkan diri kepada Pengawas Ujian.
B. SELAMA UJIAN BERLANGSUNG
1. Peserta tidak diperkenankan membuka naskah soal ujian (NSU) sebelum diberi tanda oleh Pengawas Ujian.
2. Setelah tanda ujian dimulai, pertama peserta harus memeriksa lembar naskah ujian dengan seksama untuk melihat kelengkapan lembar NSU. Apabila ditemukan lembar naskah yang tidak lengkap segera minta diganti dengan NSU yang baru.
3. Peserta harus memeriksa kondisi Lembar Jawaban Ujian (LJU).
4. Peserta mengisi Lembar Jawaban Ujian dengan pensil 2B.
5. Menandatangani pernyataan yang ada di LJU dengan menggunakan bolpoin.
6. Selama ujian berlangsung peserta tidak diperbolehkan meninggalkan ruang ujian, kecuali seizin pengawas ujian.
7. Apabila peserta telah selesai mengerjakan ujian sebelum waktu ujian berakhir, maka peserta harus tetap duduk di tempat sampai waktu ujian berakhir.
8. Peserta tidak diperbolehkan saling meminjam alat tulis, berbicara,menggunakan catatan, serta melakukan kecurangan dalam bentuk apapun.
C. SETELAH UJIAN SELESAI
1. Peserta harus memeriksa dan memastikan NAMA, NOMOR PESERTA, TANGGAL LAHIR, KODE NSU yang ada pada LJU sudah diisi dan dihitami dengan benar serta sudah ditandatangani.
2. Peserta tidak diperbolehkan meneruskan pekerjaan serta tetap duduk di tempat pada saat bel tanda waktu ujian berakhir berbunyi.
3. Peserta baru boleh meninggalkan tempat setelah diberi tanda oleh Pengawas Ujian.
D. SANKSI
Setiap pelanggaran terhadap TATA TERTIB ini akan mengakibatkan peserta ujian tidak diikutsertakan dalam proses seleksi penerimaan mahasiswa baru.
Kamis, 22 Mei 2014
220514
Hay tan, selamat malam :)
Hari ini tanggal 22 Mei 2014, ga ada yang spesial sih, yang spesial cuma tadi dinihari pas aku abis stalkingin facebook kamu dan iseng-iseng ngelike semua status dan foto kamu langsung tidur pas terjaga ngeliat notif ada nama kamu nulis di wall facebookku, sama satu pesan singkat, makasih ya seengganya aku tau kamu ga lupa aku tan :D yaa walopun pas aku balesin lagi kamunya belum bales sampe sekarang -___- udahlah tan aku gamau galau gara-gara itu, ada yang mau aku ceritain hehe
Hari ini aku ke pondoknya agung tan, khataman dia. Pas masuk ke area situ auranya udah berasa banget tan, ya you know me so well lah gampang banget flashback kalo datengin tempat-tempat yang emang ada kenangan, apalagi di situ 3 tahun aku ada di situ. Kamu juga pasti tau apa yang pertama kali aku inget di sini :) 'kamu' iya bener kamu tan hehe inget pas mau berangkat ke situ bawaannya sedih banget takut ninggalin kamu apalagi pas kita udah deket banget :') terus inget kalo mau pulang mah bawaannya udah jangan ditanya seneng deg-degan gimana gitu, megang hp aja sampe gemeteran, langsung sms kamu, bilang aku pulang :') terus kamu langsung telpon aku tan, manis banget sih kita dulu :'D
Pas masuk ke area pesantren tan, masuk gerbangnya aja aku berasa lagi nonton putaran film masa-masa aku di sana. Ngeliat gedung sekolah aku, ngeliat aku yang lari-lari pas telat sepatu di copot biar bisa lari kenceng hihi diliatin santri putra, bodo amat yang penting aku cepet sampe kelas. Inget tiap istirahat suka duduk-duduk gaje di depan kelas ngeliatin pemandangan, yaa kamu pasti tau lah aku suka ngeliatin bukit tan pemandangannya emang keren banget di sana tuh :D kalo engga yaa curi-curi pandang ke santri putra *eh engga ding tan, yang terahir boong, serius (^▿^)♉
Terus ngeliat gedung yang di belakang, kelas sembilan A, duh kenangannya banyak banget :') ngeliat terasnya, inget 'tempura', inget becanda-becanda di teras, suka suit-suitin adek kelas unggulan yang malu-malu kucing tiap mau nongol ke luar kelas ahaha :'D ngeliat jendelanya, yaumpan tan haha aku harus cerita bagian yang mana? Aku berasa ngeliat diri aku sendiri berdiri di jendela itu ngeliat ke lapangan depan SMP ngelamun, mikirin kamu sambil ngeliatin bukit :D sampe di depan lapangan smp inget 'faisal' haha kamu ga lupa kan sama dia? Orang yang aku bilang mirip kamu tan kwkw inget dia diri di deket aku pas upacara tanggal 17 november :'D pake baju pramuka, aku sampe terpukau ngeliatnya aku kira dia kamu ternyata bukan haha LOL. Terus mulai kebiasaan aneh itu dimulai, suka banget ngeliatin dia, berasa lagi ngeliatin kamu, inget pas dia olahraga pake baju biru tua aku ngeliatin dari jendela ngobrol sama tempura kata mereka dia emang mirip kamu disitu juga aku tau faisal lagi ditaksir sama temen sekelasku :'D hihi untung aku udah punya kamu tan ya walopun ga dipungkiri tiap ngeliat dia tuh deg-degan banget berasa ngeliat kamu, apalagi pas tiap hari tiba-tiba jadi kebiasaan banget ngeliat dia terus takdir mungkin ya haha sampe aku ngitung berapa kali sehari aku ngeliat muka dia, senyum dia, yaelah =)) inget juga ngeliat dia terahir kali di sana pas pengumuman kelulusan tan, aku hampir jatoh pas jalan di belakang dia sampe dia ngelirik ke arahku, duh malunya ;;) hihi
Aku kan tadi ke gor tan, acaranya agung di situ soalnya, pas jalan aku ngeliat ke arah lantai duanya gor tan, kamu tau apa yang aku inget di situ? :'D aku inget pas aku kelompok ngerjain tugas bahasa indonesia sama tempura. Mulai sering nongkrongin perpustakaan gor, mulai sering ngeliat yang namanya 'Ulil Fahmi' haha kamu ga lupa juga kan tan sama dia? Ituloh orang yang dulu naksir berat sama temenku yang namanya nida :'D kece banget dia pas pake baju koko warna item, hahaha -heh ulil aku tau kamu ga bakal baca note ini maaf ya aku sebutin cerita kamu juga kwkw- hampir tiap sore jadi ngeliat anak ini terus tiap mau jamaah shalat ashar, gatau aja ulil disitu nida udah teriak-teriak tiap ada ulil tan, aku sih cuma ketawa geli aja ngeliatnya emang pada dasarnya ulil tuh kece imut gimana gitu =)) sayang tiap aku ngeliat dia pasti dia sendirian jalan kakinya kasian banget anak orang =D inget juga pas ulil di bustelin ibunya, ibunya nginep di ndalem abah, terus pas dia jalan berdua sama ibunya, di situ aku sama nida ngeliatin sambil ngetawain hihi lucunya :3 ah iya tan, cerita soal bocah ini juga panjang banget di al hikmah. Satu-satunya temen seangkatanku yang pernah bales-balesan surat kecil sama aku :'D yang lainnya ga ada, emang aslinya aku anak pendiem sih tan hahaha jangan protes :p
Terus tan pas di situ kan aku bbman sama ulil sama faisal juga tan, komplit lah sesi flashbacknya tan, dulu kan juga gitu ada mereka berdua ga ada kamu, kamu cuma ada di fikiran aku aja :'D hihi. Nahan diri sendiri banget tan buat ga nangis, gatau kenapa tiba-tiba pengin nangis hehe kangen masa-masa itu, kangen sensasinya, kangen susah senengnya, kangen sedih bahagianya, kangen pas ngumpul-ngumpul, kangen lah pokoknya tan. Udah gitu ujan lagi tan deres banget, inget dulu pernah ujan-ujan pulang sekolah, sambil jalan nangis inget kamu haha konyol banget, di depan wartel depan gang itu juga aku inget kamu. Inget pas aku sering nelpon kamu walopun cuma semenit biar bisa denger suara kamu hihi paket komplit banget kan tan sesi flashbacknya aku kali ini haha pokoknya di situ aku bener-bener kaya lagi diputerin kaset yang isinya kisah-kisah aku di sana. Sayangnya tan mie ayam langgananku sama nunung ga seenak dulu haha kata mamah dulu enak soalnya aku masih makannya buncis tempe doang haha ya bener juga sih =))
Apalagi ya tan yang aku inget? Engg banyak sih, cuma capek kalo mau diketik semuanya haha tau ga tan aku lelah sekali tadi di jalan ujan-ujanan sih jadinya gini deh -_- yaudah tan segini aja deh ceritanya, makasih udah mau dengerin *loh? -_- haha tapi jujur di hati aku rasanya masih campur aduk aneh kwkw udahlah haha semangat buat kerja shift malemnya tan, bye! :p
Hari ini tanggal 22 Mei 2014, ga ada yang spesial sih, yang spesial cuma tadi dinihari pas aku abis stalkingin facebook kamu dan iseng-iseng ngelike semua status dan foto kamu langsung tidur pas terjaga ngeliat notif ada nama kamu nulis di wall facebookku, sama satu pesan singkat, makasih ya seengganya aku tau kamu ga lupa aku tan :D yaa walopun pas aku balesin lagi kamunya belum bales sampe sekarang -___- udahlah tan aku gamau galau gara-gara itu, ada yang mau aku ceritain hehe
Hari ini aku ke pondoknya agung tan, khataman dia. Pas masuk ke area situ auranya udah berasa banget tan, ya you know me so well lah gampang banget flashback kalo datengin tempat-tempat yang emang ada kenangan, apalagi di situ 3 tahun aku ada di situ. Kamu juga pasti tau apa yang pertama kali aku inget di sini :) 'kamu' iya bener kamu tan hehe inget pas mau berangkat ke situ bawaannya sedih banget takut ninggalin kamu apalagi pas kita udah deket banget :') terus inget kalo mau pulang mah bawaannya udah jangan ditanya seneng deg-degan gimana gitu, megang hp aja sampe gemeteran, langsung sms kamu, bilang aku pulang :') terus kamu langsung telpon aku tan, manis banget sih kita dulu :'D
Pas masuk ke area pesantren tan, masuk gerbangnya aja aku berasa lagi nonton putaran film masa-masa aku di sana. Ngeliat gedung sekolah aku, ngeliat aku yang lari-lari pas telat sepatu di copot biar bisa lari kenceng hihi diliatin santri putra, bodo amat yang penting aku cepet sampe kelas. Inget tiap istirahat suka duduk-duduk gaje di depan kelas ngeliatin pemandangan, yaa kamu pasti tau lah aku suka ngeliatin bukit tan pemandangannya emang keren banget di sana tuh :D kalo engga yaa curi-curi pandang ke santri putra *eh engga ding tan, yang terahir boong, serius (^▿^)♉
Terus ngeliat gedung yang di belakang, kelas sembilan A, duh kenangannya banyak banget :') ngeliat terasnya, inget 'tempura', inget becanda-becanda di teras, suka suit-suitin adek kelas unggulan yang malu-malu kucing tiap mau nongol ke luar kelas ahaha :'D ngeliat jendelanya, yaumpan tan haha aku harus cerita bagian yang mana? Aku berasa ngeliat diri aku sendiri berdiri di jendela itu ngeliat ke lapangan depan SMP ngelamun, mikirin kamu sambil ngeliatin bukit :D sampe di depan lapangan smp inget 'faisal' haha kamu ga lupa kan sama dia? Orang yang aku bilang mirip kamu tan kwkw inget dia diri di deket aku pas upacara tanggal 17 november :'D pake baju pramuka, aku sampe terpukau ngeliatnya aku kira dia kamu ternyata bukan haha LOL. Terus mulai kebiasaan aneh itu dimulai, suka banget ngeliatin dia, berasa lagi ngeliatin kamu, inget pas dia olahraga pake baju biru tua aku ngeliatin dari jendela ngobrol sama tempura kata mereka dia emang mirip kamu disitu juga aku tau faisal lagi ditaksir sama temen sekelasku :'D hihi untung aku udah punya kamu tan ya walopun ga dipungkiri tiap ngeliat dia tuh deg-degan banget berasa ngeliat kamu, apalagi pas tiap hari tiba-tiba jadi kebiasaan banget ngeliat dia terus takdir mungkin ya haha sampe aku ngitung berapa kali sehari aku ngeliat muka dia, senyum dia, yaelah =)) inget juga ngeliat dia terahir kali di sana pas pengumuman kelulusan tan, aku hampir jatoh pas jalan di belakang dia sampe dia ngelirik ke arahku, duh malunya ;;) hihi
Aku kan tadi ke gor tan, acaranya agung di situ soalnya, pas jalan aku ngeliat ke arah lantai duanya gor tan, kamu tau apa yang aku inget di situ? :'D aku inget pas aku kelompok ngerjain tugas bahasa indonesia sama tempura. Mulai sering nongkrongin perpustakaan gor, mulai sering ngeliat yang namanya 'Ulil Fahmi' haha kamu ga lupa juga kan tan sama dia? Ituloh orang yang dulu naksir berat sama temenku yang namanya nida :'D kece banget dia pas pake baju koko warna item, hahaha -heh ulil aku tau kamu ga bakal baca note ini maaf ya aku sebutin cerita kamu juga kwkw- hampir tiap sore jadi ngeliat anak ini terus tiap mau jamaah shalat ashar, gatau aja ulil disitu nida udah teriak-teriak tiap ada ulil tan, aku sih cuma ketawa geli aja ngeliatnya emang pada dasarnya ulil tuh kece imut gimana gitu =)) sayang tiap aku ngeliat dia pasti dia sendirian jalan kakinya kasian banget anak orang =D inget juga pas ulil di bustelin ibunya, ibunya nginep di ndalem abah, terus pas dia jalan berdua sama ibunya, di situ aku sama nida ngeliatin sambil ngetawain hihi lucunya :3 ah iya tan, cerita soal bocah ini juga panjang banget di al hikmah. Satu-satunya temen seangkatanku yang pernah bales-balesan surat kecil sama aku :'D yang lainnya ga ada, emang aslinya aku anak pendiem sih tan hahaha jangan protes :p
Terus tan pas di situ kan aku bbman sama ulil sama faisal juga tan, komplit lah sesi flashbacknya tan, dulu kan juga gitu ada mereka berdua ga ada kamu, kamu cuma ada di fikiran aku aja :'D hihi. Nahan diri sendiri banget tan buat ga nangis, gatau kenapa tiba-tiba pengin nangis hehe kangen masa-masa itu, kangen sensasinya, kangen susah senengnya, kangen sedih bahagianya, kangen pas ngumpul-ngumpul, kangen lah pokoknya tan. Udah gitu ujan lagi tan deres banget, inget dulu pernah ujan-ujan pulang sekolah, sambil jalan nangis inget kamu haha konyol banget, di depan wartel depan gang itu juga aku inget kamu. Inget pas aku sering nelpon kamu walopun cuma semenit biar bisa denger suara kamu hihi paket komplit banget kan tan sesi flashbacknya aku kali ini haha pokoknya di situ aku bener-bener kaya lagi diputerin kaset yang isinya kisah-kisah aku di sana. Sayangnya tan mie ayam langgananku sama nunung ga seenak dulu haha kata mamah dulu enak soalnya aku masih makannya buncis tempe doang haha ya bener juga sih =))
Apalagi ya tan yang aku inget? Engg banyak sih, cuma capek kalo mau diketik semuanya haha tau ga tan aku lelah sekali tadi di jalan ujan-ujanan sih jadinya gini deh -_- yaudah tan segini aja deh ceritanya, makasih udah mau dengerin *loh? -_- haha tapi jujur di hati aku rasanya masih campur aduk aneh kwkw udahlah haha semangat buat kerja shift malemnya tan, bye! :p
220514
Hay tan, selamat malam :)
Hari ini tanggal 22 Mei 2014, ga ada yang spesial sih, yang spesial cuma tadi dinihari pas aku abis stalkingin facebook kamu dan iseng-iseng ngelike semua status dan foto kamu langsung tidur pas terjaga ngeliat notif ada nama kamu nulis di wall facebookku, sama satu pesan singkat, makasih ya seengganya aku tau kamu ga lupa aku tan :D yaa walopun pas aku balesin lagi kamunya belum bales sampe sekarang -___- udahlah tan aku gamau galau gara-gara itu, ada yang mau aku ceritain hehe
Hari ini aku ke pondoknya agung tan, khataman dia. Pas masuk ke area situ auranya udah berasa banget tan, ya you know me so well lah gampang banget flashback kalo datengin tempat-tempat yang emang ada kenangan, apalagi di situ 3 tahun aku ada di situ. Kamu juga pasti tau apa yang pertama kali aku inget di sini :) 'kamu' iya bener kamu tan hehe inget pas mau berangkat ke situ bawaannya sedih banget takut ninggalin kamu apalagi pas kita udah deket banget :') terus inget kalo mau pulang mah bawaannya udah jangan ditanya seneng deg-degan gimana gitu, megang hp aja sampe gemeteran, langsung sms kamu, bilang aku pulang :') terus kamu langsung telpon aku tan, manis banget sih kita dulu :'D
Pas masuk ke area pesantren tan, masuk gerbangnya aja aku berasa lagi nonton putaran film masa-masa aku di sana. Ngeliat gedung sekolah aku, ngeliat aku yang lari-lari pas telat sepatu di copot biar bisa lari kenceng hihi diliatin santri putra, bodo amat yang penting aku cepet sampe kelas. Inget tiap istirahat suka duduk-duduk gaje di depan kelas ngeliatin pemandangan, yaa kamu pasti tau lah aku suka ngeliatin bukit tan pemandangannya emang keren banget di sana tuh :D kalo engga yaa curi-curi pandang ke santri putra *eh engga ding tan, yang terahir boong, serius (^▿^)♉
Terus ngeliat gedung yang di belakang, kelas sembilan A, duh kenangannya banyak banget :') ngeliat terasnya, inget 'tempura', inget becanda-becanda di teras, suka suit-suitin adek kelas unggulan yang malu-malu kucing tiap mau nongol ke luar kelas ahaha :'D ngeliat jendelanya, yaumpan tan haha aku harus cerita bagian yang mana? Aku berasa ngeliat diri aku sendiri berdiri di jendela itu ngeliat ke lapangan depan SMP ngelamun, mikirin kamu sambil ngeliatin bukit :D sampe di depan lapangan smp inget 'faisal' haha kamu ga lupa kan sama dia? Orang yang aku bilang mirip kamu tan kwkw inget dia diri di deket aku pas upacara tanggal 17 november :'D pake baju pramuka, aku sampe terpukau ngeliatnya aku kira dia kamu ternyata bukan haha LOL. Terus mulai kebiasaan aneh itu dimulai, suka banget ngeliatin dia, berasa lagi ngeliatin kamu, inget pas dia olahraga pake baju biru tua aku ngeliatin dari jendela ngobrol sama tempura kata mereka dia emang mirip kamu disitu juga aku tau faisal lagi ditaksir sama temen sekelasku :'D hihi untung aku udah punya kamu tan ya walopun ga dipungkiri tiap ngeliat dia tuh deg-degan banget berasa ngeliat kamu, apalagi pas tiap hari tiba-tiba jadi kebiasaan banget ngeliat dia terus takdir mungkin ya haha sampe aku ngitung berapa kali sehari aku ngeliat muka dia, senyum dia, yaelah =)) inget juga ngeliat dia terahir kali di sana pas pengumuman kelulusan tan, aku hampir jatoh pas jalan di belakang dia sampe dia ngelirik ke arahku, duh malunya ;;) hihi
Aku kan tadi ke gor tan, acaranya agung di situ soalnya, pas jalan aku ngeliat ke arah lantai duanya gor tan, kamu tau apa yang aku inget di situ? :'D aku inget pas aku kelompok ngerjain tugas bahasa indonesia sama tempura. Mulai sering nongkrongin perpustakaan gor, mulai sering ngeliat yang namanya 'Ulil Fahmi' haha kamu ga lupa juga kan tan sama dia? Ituloh orang yang dulu naksir berat sama temenku yang namanya nida :'D kece banget dia pas pake baju koko warna item, hahaha -heh ulil aku tau kamu ga bakal baca note ini maaf ya aku sebutin cerita kamu juga kwkw- hampir tiap sore jadi ngeliat anak ini terus tiap mau jamaah shalat ashar, gatau aja ulil disitu nida udah teriak-teriak tiap ada ulil tan, aku sih cuma ketawa geli aja ngeliatnya emang pada dasarnya ulil tuh kece imut gimana gitu =)) sayang tiap aku ngeliat dia pasti dia sendirian jalan kakinya kasian banget anak orang =D inget juga pas ulil di bustelin ibunya, ibunya nginep di ndalem abah, terus pas dia jalan berdua sama ibunya, di situ aku sama nida ngeliatin sambil ngetawain hihi lucunya :3 ah iya tan, cerita soal bocah ini juga panjang banget di al hikmah. Satu-satunya temen seangkatanku yang pernah bales-balesan surat kecil sama aku :'D yang lainnya ga ada, emang aslinya aku anak pendiem sih tan hahaha jangan protes :p
Terus tan pas di situ kan aku bbman sama ulil sama faisal juga tan, komplit lah sesi flashbacknya tan, dulu kan juga gitu ada mereka berdua ga ada kamu, kamu cuma ada di fikiran aku aja :'D hihi. Nahan diri sendiri banget tan buat ga nangis, gatau kenapa tiba-tiba pengin nangis hehe kangen masa-masa itu, kangen sensasinya, kangen susah senengnya, kangen sedih bahagianya, kangen pas ngumpul-ngumpul, kangen lah pokoknya tan. Udah gitu ujan lagi tan deres banget, inget dulu pernah ujan-ujan pulang sekolah, sambil jalan nangis inget kamu haha konyol banget, di depan wartel depan gang itu juga aku inget kamu. Inget pas aku sering nelpon kamu walopun cuma semenit biar bisa denger suara kamu hihi paket komplit banget kan tan sesi flashbacknya aku kali ini haha pokoknya di situ aku bener-bener kaya lagi diputerin kaset yang isinya kisah-kisah aku di sana. Sayangnya tan mie ayam langgananku sama nunung ga seenak dulu haha kata mamah dulu enak soalnya aku masih makannya buncis tempe doang haha ya bener juga sih =))
Apalagi ya tan yang aku inget? Engg banyak sih, cuma capek kalo mau diketik semuanya haha tau ga tan aku lelah sekali tadi di jalan ujan-ujanan sih jadinya gini deh -_- yaudah tan segini aja deh ceritanya, makasih udah mau dengerin *loh? -_- haha tapi jujur di hati aku rasanya masih campur aduk aneh kwkw udahlah haha semangat buat kerja shift malemnya tan, bye! :p
Hari ini tanggal 22 Mei 2014, ga ada yang spesial sih, yang spesial cuma tadi dinihari pas aku abis stalkingin facebook kamu dan iseng-iseng ngelike semua status dan foto kamu langsung tidur pas terjaga ngeliat notif ada nama kamu nulis di wall facebookku, sama satu pesan singkat, makasih ya seengganya aku tau kamu ga lupa aku tan :D yaa walopun pas aku balesin lagi kamunya belum bales sampe sekarang -___- udahlah tan aku gamau galau gara-gara itu, ada yang mau aku ceritain hehe
Hari ini aku ke pondoknya agung tan, khataman dia. Pas masuk ke area situ auranya udah berasa banget tan, ya you know me so well lah gampang banget flashback kalo datengin tempat-tempat yang emang ada kenangan, apalagi di situ 3 tahun aku ada di situ. Kamu juga pasti tau apa yang pertama kali aku inget di sini :) 'kamu' iya bener kamu tan hehe inget pas mau berangkat ke situ bawaannya sedih banget takut ninggalin kamu apalagi pas kita udah deket banget :') terus inget kalo mau pulang mah bawaannya udah jangan ditanya seneng deg-degan gimana gitu, megang hp aja sampe gemeteran, langsung sms kamu, bilang aku pulang :') terus kamu langsung telpon aku tan, manis banget sih kita dulu :'D
Pas masuk ke area pesantren tan, masuk gerbangnya aja aku berasa lagi nonton putaran film masa-masa aku di sana. Ngeliat gedung sekolah aku, ngeliat aku yang lari-lari pas telat sepatu di copot biar bisa lari kenceng hihi diliatin santri putra, bodo amat yang penting aku cepet sampe kelas. Inget tiap istirahat suka duduk-duduk gaje di depan kelas ngeliatin pemandangan, yaa kamu pasti tau lah aku suka ngeliatin bukit tan pemandangannya emang keren banget di sana tuh :D kalo engga yaa curi-curi pandang ke santri putra *eh engga ding tan, yang terahir boong, serius (^▿^)♉
Terus ngeliat gedung yang di belakang, kelas sembilan A, duh kenangannya banyak banget :') ngeliat terasnya, inget 'tempura', inget becanda-becanda di teras, suka suit-suitin adek kelas unggulan yang malu-malu kucing tiap mau nongol ke luar kelas ahaha :'D ngeliat jendelanya, yaumpan tan haha aku harus cerita bagian yang mana? Aku berasa ngeliat diri aku sendiri berdiri di jendela itu ngeliat ke lapangan depan SMP ngelamun, mikirin kamu sambil ngeliatin bukit :D sampe di depan lapangan smp inget 'faisal' haha kamu ga lupa kan sama dia? Orang yang aku bilang mirip kamu tan kwkw inget dia diri di deket aku pas upacara tanggal 17 november :'D pake baju pramuka, aku sampe terpukau ngeliatnya aku kira dia kamu ternyata bukan haha LOL. Terus mulai kebiasaan aneh itu dimulai, suka banget ngeliatin dia, berasa lagi ngeliatin kamu, inget pas dia olahraga pake baju biru tua aku ngeliatin dari jendela ngobrol sama tempura kata mereka dia emang mirip kamu disitu juga aku tau faisal lagi ditaksir sama temen sekelasku :'D hihi untung aku udah punya kamu tan ya walopun ga dipungkiri tiap ngeliat dia tuh deg-degan banget berasa ngeliat kamu, apalagi pas tiap hari tiba-tiba jadi kebiasaan banget ngeliat dia terus takdir mungkin ya haha sampe aku ngitung berapa kali sehari aku ngeliat muka dia, senyum dia, yaelah =)) inget juga ngeliat dia terahir kali di sana pas pengumuman kelulusan tan, aku hampir jatoh pas jalan di belakang dia sampe dia ngelirik ke arahku, duh malunya ;;) hihi
Aku kan tadi ke gor tan, acaranya agung di situ soalnya, pas jalan aku ngeliat ke arah lantai duanya gor tan, kamu tau apa yang aku inget di situ? :'D aku inget pas aku kelompok ngerjain tugas bahasa indonesia sama tempura. Mulai sering nongkrongin perpustakaan gor, mulai sering ngeliat yang namanya 'Ulil Fahmi' haha kamu ga lupa juga kan tan sama dia? Ituloh orang yang dulu naksir berat sama temenku yang namanya nida :'D kece banget dia pas pake baju koko warna item, hahaha -heh ulil aku tau kamu ga bakal baca note ini maaf ya aku sebutin cerita kamu juga kwkw- hampir tiap sore jadi ngeliat anak ini terus tiap mau jamaah shalat ashar, gatau aja ulil disitu nida udah teriak-teriak tiap ada ulil tan, aku sih cuma ketawa geli aja ngeliatnya emang pada dasarnya ulil tuh kece imut gimana gitu =)) sayang tiap aku ngeliat dia pasti dia sendirian jalan kakinya kasian banget anak orang =D inget juga pas ulil di bustelin ibunya, ibunya nginep di ndalem abah, terus pas dia jalan berdua sama ibunya, di situ aku sama nida ngeliatin sambil ngetawain hihi lucunya :3 ah iya tan, cerita soal bocah ini juga panjang banget di al hikmah. Satu-satunya temen seangkatanku yang pernah bales-balesan surat kecil sama aku :'D yang lainnya ga ada, emang aslinya aku anak pendiem sih tan hahaha jangan protes :p
Terus tan pas di situ kan aku bbman sama ulil sama faisal juga tan, komplit lah sesi flashbacknya tan, dulu kan juga gitu ada mereka berdua ga ada kamu, kamu cuma ada di fikiran aku aja :'D hihi. Nahan diri sendiri banget tan buat ga nangis, gatau kenapa tiba-tiba pengin nangis hehe kangen masa-masa itu, kangen sensasinya, kangen susah senengnya, kangen sedih bahagianya, kangen pas ngumpul-ngumpul, kangen lah pokoknya tan. Udah gitu ujan lagi tan deres banget, inget dulu pernah ujan-ujan pulang sekolah, sambil jalan nangis inget kamu haha konyol banget, di depan wartel depan gang itu juga aku inget kamu. Inget pas aku sering nelpon kamu walopun cuma semenit biar bisa denger suara kamu hihi paket komplit banget kan tan sesi flashbacknya aku kali ini haha pokoknya di situ aku bener-bener kaya lagi diputerin kaset yang isinya kisah-kisah aku di sana. Sayangnya tan mie ayam langgananku sama nunung ga seenak dulu haha kata mamah dulu enak soalnya aku masih makannya buncis tempe doang haha ya bener juga sih =))
Apalagi ya tan yang aku inget? Engg banyak sih, cuma capek kalo mau diketik semuanya haha tau ga tan aku lelah sekali tadi di jalan ujan-ujanan sih jadinya gini deh -_- yaudah tan segini aja deh ceritanya, makasih udah mau dengerin *loh? -_- haha tapi jujur di hati aku rasanya masih campur aduk aneh kwkw udahlah haha semangat buat kerja shift malemnya tan, bye! :p
Rabu, 21 Mei 2014
210514
Tan aku harus gimana nih sekarang? Tiba-tiba inget kamu lagi, galau lagi, bingung lagi. Badmood loh serius kalo inget kamu secara ga enak gini, aneh. Males ngapain-ngapain lah, mau tidur aja males coba -___-
Tan, aku kangen. Gak apa-apa kan ngomong di sini sekarang? Kan kamu juga ga pernah buka blognya aku, haha. Aku juga curiga kayanya kamu malah gatau aku punya blog =)) yang kamu tau aku cuma punya 'Andry' kan? Tapi sayangnya tan, itu diary udah lamaaaa banget ga aku pake. Terahir kali aku pake pas kelas sembilan tan, pas pertama kali kita putus, dan itu bikin aku ngrasa sakit se sakit-sakitnya. Ah sudahlah tan, lupakan soal itu nyatanya sekarang jauh lebih sakit haha.
Dulu aku masih bisa nangis tiap inget kamu tan, tiap kangen kamu, atau tiap inget jahatnya kamu nyakitin aku, hehe. Aku masih bisa dan masih berani ngerajuk ke kamu, seengganya biar kamu tau, ini ada aku, aku orang yang gatau sejak kapan 'terlalu' berharap sama kamu. Kalo sekarang tan, ya ya kamu tau sendirilah. Aku juga bingung tan sama diri aku sendiri, aku ga tau harus aku sebut apa perasaan aku sama kamu sekarang ini. Yang jelas aku ga bisa ngelupain kamu tan, ga pernah bisa, walaupun sebenernya capek luar biasa udah usaha sekeras tenaga buat ngelupain kamu tan, tapi gatau kenapa mesti ada saatnya aku inget kamu terus kangen kamu deh. Bedanya sekarang aku ga bisa nangis lagi tan, antara bingung dan nahan diri sendiri, buat apa juga aku nangisin kamu ya tan emang kamu tau, engga kan? Haha sebenernya bukan masalah itu sih, cuma di sini tan di hati aku rasanya ketusuk banget, kangen sama kamu tapi ga bisa ngungkapin, ngungkapin juga percuma, cuma bikin kamu semakin jauh dari aku, iya kan tan? Hehe
Jujur tan, aku bisa ga mikirin kamu, ya ada saatnya sih aku sibuk sama dunia aku sendiri toh sekarang kita juga udah ga pernah kontakan lagi, kamu sibuk sama dunia kamu aku juga iya. Aku juga ga berusaha nyari dimana kamu lagi apa sama siapa, ga pengin tau juga keadaan kamu, yang aku yakinin kamu di sana baik-baik aja. Lucu kan tan? Aku bilang aku sayang kamu tapi kaya gini seolah-olah aku ga peduli sama kamu. Pasti kamu juga berfikir deh yang kemarin aku bilangin ke kamu cuma boongan, engga tan, kali ini aku gamau lagi boongin diri aku sendiri apalagi kamu. Aku masih di sini, masih terikat janji 5 tahun itu, ga mikirin soal cinta dulu, aku juga gatau 5 tahun yang akan datang beneran ada kita lagi atau engga, aku gatau. Yang aku tau aku konsisten megang omongan aku itu walaupun iya aku berharap banget di 5 tahun yang akan datang aku bakal ngliat kamu di sana nunggu aku, kaya aku nunggu kamu, walaupun aku sadar diri sih kemungkinannya cuma 0,000001% haha mengenaskan sekali. Aku tau di fikiran kamu sekarang aku lagi sibuk sama cowo-cowo lain kaya yang dulu sering aku lakuin. But seriously tan, aku ga gitu lagi, aku gamau boongin perasaan diri sendiri lagi, aku ga yakin bisa sayang cowo lain kaya aku sayang kamu. Kalaupun sekarang aku sering kontakan atau ngobrol sama cowo lain mereka semua cuma temen tan, ga ada yang lebih. Oke ini ga penting buat kamu tapi penting buat aku hehe
Jadi tan, yaa beginilah aku sekarang. Emang sih di setiap pilihan tuh ada resikonya, ga mungkin ga ada. Aku milih buat nutup hati aku, buat konsisten sama impian 5 tahun, efeknya gini aku malah semakin sering inget kamu ga kaya dulu pas aku maksain diri buka hati buat orang lain, selalu ada alasan buat nolak kangen ke kamu. Terus aku harus gimana dong taaaan? Duh~ sedih nih, kasian nih hati aku, ga jelas perasaannya, aku tambah jaga jarak sama kamu, soalnya kamunya juga gitu sih kaya ga ngarepin ada aku di hidupnya kamu, kan kasian banget jadi aku -_-
Aduh tan, ga lucu banget deh malem ini, masa lagi asik ngetik flashback soal kamu di radio lagu yang di play 'new eta-7 sumpah', masih inget lagu itu tan? Haha emang yah alam slalu ngedukung aku buat flashback inget kamu, sayang banget aku cuma jadi masa lalu kamu belum tentu masa depan kamu. Aku lagi seneng denger radio lagi tan, best fm, inget kan? Haha dulu sering banget aku sama kamu kirim-kiriman salam di sini. Panggilannya apa tan 'lilikqu'? Ah yaumpan manis banget kan aku sama kamu dulu tan haha.
Kamu lagi ngapain tan? Dan aku yang slama ini berharap kau untuk cepat kembali. Haha semakin ga jelas kan tulisannya. Tau ah tan, ini blog lama-lama cuma jadi tempat sampahnya aku doang kaya si andry dulu. Soalnya manusia udah ga ada yang mau dengerin cerita aku, apalagi tentang kamu hahaha. Seengganya di sini aku bisa ngeluapin semuanya. Yaudah tan, kamu ini shift malem apa siang? Kalo malem semangat kerjanya ya :) kalo siang ya selamat tidur semoga mimpi indah jangan kaya aku masa ngimpinya kamu mulu ga lucu banget -___-
Aku ngantuk tan, tidur dulu ya, gudnite (˘O˘ƪ)
Tan, aku kangen. Gak apa-apa kan ngomong di sini sekarang? Kan kamu juga ga pernah buka blognya aku, haha. Aku juga curiga kayanya kamu malah gatau aku punya blog =)) yang kamu tau aku cuma punya 'Andry' kan? Tapi sayangnya tan, itu diary udah lamaaaa banget ga aku pake. Terahir kali aku pake pas kelas sembilan tan, pas pertama kali kita putus, dan itu bikin aku ngrasa sakit se sakit-sakitnya. Ah sudahlah tan, lupakan soal itu nyatanya sekarang jauh lebih sakit haha.
Dulu aku masih bisa nangis tiap inget kamu tan, tiap kangen kamu, atau tiap inget jahatnya kamu nyakitin aku, hehe. Aku masih bisa dan masih berani ngerajuk ke kamu, seengganya biar kamu tau, ini ada aku, aku orang yang gatau sejak kapan 'terlalu' berharap sama kamu. Kalo sekarang tan, ya ya kamu tau sendirilah. Aku juga bingung tan sama diri aku sendiri, aku ga tau harus aku sebut apa perasaan aku sama kamu sekarang ini. Yang jelas aku ga bisa ngelupain kamu tan, ga pernah bisa, walaupun sebenernya capek luar biasa udah usaha sekeras tenaga buat ngelupain kamu tan, tapi gatau kenapa mesti ada saatnya aku inget kamu terus kangen kamu deh. Bedanya sekarang aku ga bisa nangis lagi tan, antara bingung dan nahan diri sendiri, buat apa juga aku nangisin kamu ya tan emang kamu tau, engga kan? Haha sebenernya bukan masalah itu sih, cuma di sini tan di hati aku rasanya ketusuk banget, kangen sama kamu tapi ga bisa ngungkapin, ngungkapin juga percuma, cuma bikin kamu semakin jauh dari aku, iya kan tan? Hehe
Jujur tan, aku bisa ga mikirin kamu, ya ada saatnya sih aku sibuk sama dunia aku sendiri toh sekarang kita juga udah ga pernah kontakan lagi, kamu sibuk sama dunia kamu aku juga iya. Aku juga ga berusaha nyari dimana kamu lagi apa sama siapa, ga pengin tau juga keadaan kamu, yang aku yakinin kamu di sana baik-baik aja. Lucu kan tan? Aku bilang aku sayang kamu tapi kaya gini seolah-olah aku ga peduli sama kamu. Pasti kamu juga berfikir deh yang kemarin aku bilangin ke kamu cuma boongan, engga tan, kali ini aku gamau lagi boongin diri aku sendiri apalagi kamu. Aku masih di sini, masih terikat janji 5 tahun itu, ga mikirin soal cinta dulu, aku juga gatau 5 tahun yang akan datang beneran ada kita lagi atau engga, aku gatau. Yang aku tau aku konsisten megang omongan aku itu walaupun iya aku berharap banget di 5 tahun yang akan datang aku bakal ngliat kamu di sana nunggu aku, kaya aku nunggu kamu, walaupun aku sadar diri sih kemungkinannya cuma 0,000001% haha mengenaskan sekali. Aku tau di fikiran kamu sekarang aku lagi sibuk sama cowo-cowo lain kaya yang dulu sering aku lakuin. But seriously tan, aku ga gitu lagi, aku gamau boongin perasaan diri sendiri lagi, aku ga yakin bisa sayang cowo lain kaya aku sayang kamu. Kalaupun sekarang aku sering kontakan atau ngobrol sama cowo lain mereka semua cuma temen tan, ga ada yang lebih. Oke ini ga penting buat kamu tapi penting buat aku hehe
Jadi tan, yaa beginilah aku sekarang. Emang sih di setiap pilihan tuh ada resikonya, ga mungkin ga ada. Aku milih buat nutup hati aku, buat konsisten sama impian 5 tahun, efeknya gini aku malah semakin sering inget kamu ga kaya dulu pas aku maksain diri buka hati buat orang lain, selalu ada alasan buat nolak kangen ke kamu. Terus aku harus gimana dong taaaan? Duh~ sedih nih, kasian nih hati aku, ga jelas perasaannya, aku tambah jaga jarak sama kamu, soalnya kamunya juga gitu sih kaya ga ngarepin ada aku di hidupnya kamu, kan kasian banget jadi aku -_-
Aduh tan, ga lucu banget deh malem ini, masa lagi asik ngetik flashback soal kamu di radio lagu yang di play 'new eta-7 sumpah', masih inget lagu itu tan? Haha emang yah alam slalu ngedukung aku buat flashback inget kamu, sayang banget aku cuma jadi masa lalu kamu belum tentu masa depan kamu. Aku lagi seneng denger radio lagi tan, best fm, inget kan? Haha dulu sering banget aku sama kamu kirim-kiriman salam di sini. Panggilannya apa tan 'lilikqu'? Ah yaumpan manis banget kan aku sama kamu dulu tan haha.
Kamu lagi ngapain tan? Dan aku yang slama ini berharap kau untuk cepat kembali. Haha semakin ga jelas kan tulisannya. Tau ah tan, ini blog lama-lama cuma jadi tempat sampahnya aku doang kaya si andry dulu. Soalnya manusia udah ga ada yang mau dengerin cerita aku, apalagi tentang kamu hahaha. Seengganya di sini aku bisa ngeluapin semuanya. Yaudah tan, kamu ini shift malem apa siang? Kalo malem semangat kerjanya ya :) kalo siang ya selamat tidur semoga mimpi indah jangan kaya aku masa ngimpinya kamu mulu ga lucu banget -___-
Aku ngantuk tan, tidur dulu ya, gudnite (˘O˘ƪ)
Senin, 12 Mei 2014
merindukanmu (shitt!!)
Hay kamu, apa kabar? Aku kangen :") ya Tuhan ternyata aku masih saja seperti ini merindukanmu terlalu dalam tanpa bisa melakukan apapun. Bodoh ya? Harusnya aku bisa, bisa mengatakannya padamu atau sekalian saja menghilangkan rinduku, tapi aku? Sayangnya aku tak pernah bisa.
Kamu tak lihat kan usahaku hampir sebulan terahir ini? 'Melupakanmu'. Ya, aku berusaha melupakanmu (lagi) entah yang ke berapa kali. Berusaha menyibukan diri sendiri, kemudian menikam hatiku tiap ada bayangmu yang hadir tiba-tiba. Aku meyakinkan diriku sendiri, aku bisa tanpamu, bisa melupakanmu, tapi nyatanya... Kamu tak pernah bisa benar-benar ku lupakan. Sepertinya memang aku tak boleh melupakanmu :')
Sekarang aku harus memaki siapa? Aku telah memaksakan diriku sendiri menghilangkan jejak rindu untuk namamu, aku membunuh hatiku sendiri agar aku tak mengharap hadirmu lagi, agar aku bisa berdamai. Hampir sebulan ini kita tak saling berbincang kan? Karna sejujurnya aku mulai lelah menunggumu. Memendam perasaan sialan yang tak kunjung hilang. Saat perlahan aku mulai bisa, entah mengapa aku tak tau darimana asalnya tiba-tiba sosokmu hadir lagi dalam mimpi di tidurku, seolah-olah hadirmu nyata. Ya Tuhan, beri tau padaku sekarang, aku harus memaki siapa? :")
Oke aku akui sekali lagi, setelah memimpikanmu biasanya aku akan segera melupakannya, sedikitpun tak mengijinkan fikiranku untuk mengingatnya meski sejujurnya mimpi itu indah sekali. Bagaimana tidak ku sebut indah, disitu ada aku dan kamu yang kembali menjadi kita. Ada senyum dan tatapan sejukmu yang ku rindukan. Ada sentuhan tanganmu menyentuh wajahku, hangat menenangkan. Ada cinta itu di matamu. Bagaimana aku bisa mengatakan itu 'bukan mimpi indah'? Itu terlalu indah, sampai rasanya sakit sekali saat aku sadar itu hanyalah mimpi, bukan nyata :")
Seperti yang terjadi semalam, setelah hampir satu bulan ahirnya aku mengakui 'aku merindukanmu sekali teramat sangat'. Rasanya ingin menangis saja. Kenapa aku harus merindukanmu lagi? Kemudian menyadari jangankan tau, kamu mengertipun tidak, karna memang kita tak saling bicara :') aku merindukanmu. Taukah? Pasti tidak. Di sini ada yang sakit, hatiku. Aku membisikkan rindu pada sosok yang terlalu jauh untuk ku sentuh, terlalu mustahil untuk bisa ku genggam. Kamu tak bisa ku rindukan seharusnya, untuk apa merindukan seseorang yang sama sekali tak merindukanku, memikirkanku pun sepertinya enggan :")
Puncaknya adalah ketika aku memaksakan mata untuk terpejam daripada sibuk merindukanmu. Kamu malah hadir dalam mimpiku, membuat luka itu semakin menganga, membawa harapan yang sudah kukuburkan. Genggaman jemari tanganmu itu :') aku tak bisa bicara apa-apa lagi, semuanya menusukku, aku tau itu mimpi dan semuanya semakin menyakitkan, aku benar-benar merindukanmu. Merindukan genggaman itu, merindukan tatapan matamu, merindukan perlindunganmu, perhatianmu, merindukan pelukanmu, sekarang tak bisakah kamu merasakannya, 'aku BENAR-BENAR MERINDUKANMU, TERAMAT SANGAT :'("
Jemariku sampai bergetar saat pagi ini aku memulai percakapan kita melalui pesan singkat. Aku ingin sekali mengetik "kamu apa kabar? AKU KANGEN :')" tapi aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku takut membebanimu. Harusnya kamu tau, aku merindukanmu :')
Aku terlambat menyadari, perpisahan kita hampir tiga tahun yang lalu, seharusnya aku sadar aku bukan siapa-siapa lagi untukmu, aku tak ada hak, tak ada.. Aku ingin menangis saja :'( aku tak menyangka aku semenyedihkan ini, setelah hampir tiga tahun aku masih merindukanmu, tiga tahun? Hampir 36 bulan berlalu. Untuk apa aku masih di sini? Merindukanmu :') seandainya aku bisa berdamai mungkin aku telah bahagia tanpamu. Aku tak usah lagi repot memikirkan keadaanmu di sana. Aku ingin berhenti, ku mohon, ajari aku caranya untuk berhenti, 3 tahun tanpa kita itu menyakitkan sekali. Aku sakit :'( aku ingin berhenti :'(
Beri aku kesempatan sekali saja, untuk memperbaiki segalanya, agar aku tau, agar setelah melepaskanmu aku tak perlu lagi merindukanmu sepahit ini...
Kamu tak lihat kan usahaku hampir sebulan terahir ini? 'Melupakanmu'. Ya, aku berusaha melupakanmu (lagi) entah yang ke berapa kali. Berusaha menyibukan diri sendiri, kemudian menikam hatiku tiap ada bayangmu yang hadir tiba-tiba. Aku meyakinkan diriku sendiri, aku bisa tanpamu, bisa melupakanmu, tapi nyatanya... Kamu tak pernah bisa benar-benar ku lupakan. Sepertinya memang aku tak boleh melupakanmu :')
Sekarang aku harus memaki siapa? Aku telah memaksakan diriku sendiri menghilangkan jejak rindu untuk namamu, aku membunuh hatiku sendiri agar aku tak mengharap hadirmu lagi, agar aku bisa berdamai. Hampir sebulan ini kita tak saling berbincang kan? Karna sejujurnya aku mulai lelah menunggumu. Memendam perasaan sialan yang tak kunjung hilang. Saat perlahan aku mulai bisa, entah mengapa aku tak tau darimana asalnya tiba-tiba sosokmu hadir lagi dalam mimpi di tidurku, seolah-olah hadirmu nyata. Ya Tuhan, beri tau padaku sekarang, aku harus memaki siapa? :")
Oke aku akui sekali lagi, setelah memimpikanmu biasanya aku akan segera melupakannya, sedikitpun tak mengijinkan fikiranku untuk mengingatnya meski sejujurnya mimpi itu indah sekali. Bagaimana tidak ku sebut indah, disitu ada aku dan kamu yang kembali menjadi kita. Ada senyum dan tatapan sejukmu yang ku rindukan. Ada sentuhan tanganmu menyentuh wajahku, hangat menenangkan. Ada cinta itu di matamu. Bagaimana aku bisa mengatakan itu 'bukan mimpi indah'? Itu terlalu indah, sampai rasanya sakit sekali saat aku sadar itu hanyalah mimpi, bukan nyata :")
Seperti yang terjadi semalam, setelah hampir satu bulan ahirnya aku mengakui 'aku merindukanmu sekali teramat sangat'. Rasanya ingin menangis saja. Kenapa aku harus merindukanmu lagi? Kemudian menyadari jangankan tau, kamu mengertipun tidak, karna memang kita tak saling bicara :') aku merindukanmu. Taukah? Pasti tidak. Di sini ada yang sakit, hatiku. Aku membisikkan rindu pada sosok yang terlalu jauh untuk ku sentuh, terlalu mustahil untuk bisa ku genggam. Kamu tak bisa ku rindukan seharusnya, untuk apa merindukan seseorang yang sama sekali tak merindukanku, memikirkanku pun sepertinya enggan :")
Puncaknya adalah ketika aku memaksakan mata untuk terpejam daripada sibuk merindukanmu. Kamu malah hadir dalam mimpiku, membuat luka itu semakin menganga, membawa harapan yang sudah kukuburkan. Genggaman jemari tanganmu itu :') aku tak bisa bicara apa-apa lagi, semuanya menusukku, aku tau itu mimpi dan semuanya semakin menyakitkan, aku benar-benar merindukanmu. Merindukan genggaman itu, merindukan tatapan matamu, merindukan perlindunganmu, perhatianmu, merindukan pelukanmu, sekarang tak bisakah kamu merasakannya, 'aku BENAR-BENAR MERINDUKANMU, TERAMAT SANGAT :'("
Jemariku sampai bergetar saat pagi ini aku memulai percakapan kita melalui pesan singkat. Aku ingin sekali mengetik "kamu apa kabar? AKU KANGEN :')" tapi aku tak pernah bisa mengatakannya. Aku takut membebanimu. Harusnya kamu tau, aku merindukanmu :')
Aku terlambat menyadari, perpisahan kita hampir tiga tahun yang lalu, seharusnya aku sadar aku bukan siapa-siapa lagi untukmu, aku tak ada hak, tak ada.. Aku ingin menangis saja :'( aku tak menyangka aku semenyedihkan ini, setelah hampir tiga tahun aku masih merindukanmu, tiga tahun? Hampir 36 bulan berlalu. Untuk apa aku masih di sini? Merindukanmu :') seandainya aku bisa berdamai mungkin aku telah bahagia tanpamu. Aku tak usah lagi repot memikirkan keadaanmu di sana. Aku ingin berhenti, ku mohon, ajari aku caranya untuk berhenti, 3 tahun tanpa kita itu menyakitkan sekali. Aku sakit :'( aku ingin berhenti :'(
Beri aku kesempatan sekali saja, untuk memperbaiki segalanya, agar aku tau, agar setelah melepaskanmu aku tak perlu lagi merindukanmu sepahit ini...
Langganan:
Postingan (Atom)