Aku tau ini pasti akan terjadi, cepat lambat pasti dia akan menanyakan bagaimana masalaluku denganmu. Ah, ingin sekali aku menarik nafas sepanjang yang aku bisa, sedalam yang aku mampu. Aku tlah melupakannya, bukankah kamu pun tau ? melupakan semua kenanganku denganmu tentangmu meski awalnya dengan susah payah, tapi sekarang aku mampu, aku telah melupakannya.
Aku tak mengerti, yang aku tau aku mencintainya, kamu pun tlah mengetahuinya kan ? pertama kalinya sepanjang aku mengenalmu, setelah sekian lama yang kamu tau aku hanya mencintaimu, kemarin aku mengatakannya dengan lepas tanpa beban “aku mencintainya” di depanmu. Hal yang tak pernah aku lakukan sebelum ini, kamu pun bisa melihatnya di sorot mataku; menurutmu, betapa aku mencintainya.
Dan sekarang, setelah aku yakin hatiku tlah berhenti dihatinya dia malah memintaku untuk mengingat apa yang tlah terjadi dulu dengan kita. Padahal aku tlah melupakan semuanya, apalagi harus menjelaskan semuanya secara detail, aku tak mampu lagi mengingatnya. Memori ingatanku tlah kosong dari semua ingatan tentang kamu, tentang kita dulu.
Apa kamu mau membantuku mengingat kembali semuanya ? mengeja semuanya dari awal ? kapan pertama kali kamu menyapaku ? kapan pertama kali senyum itu mengarah padaku ? kapan pertama kali sorot matamu menikam hatiku ? kapan pertama kali kamu menggenggam tanganku ? kapan pertama kali semua hal-hal gila yang tlah kita lakukan seperti sebuah rutinitas yang terlalu sulit untuk dilupakan ?
Apa harus ku katakan semuanya padanya ? betapa dulu jemari itu hangat menggenggam tanganku ? betapa dulu sorot mata itu terlalu tajam menatapku hingga ku tak mampu membalasnya ? betapa dulu aku slalu merindukan dan menunggu kapan lengan itu akan merangkulku lagi ? apa harus ?
Sekarang aku seperti melihat mimpi buruk itu terulang lagi, tereja satu persatu di ingatanku, tentang kamu yang slalu mengusik malam sepiku. Aaaa aku harus memaki siapa ? kenapa harus dia ? kenapa harus dia yang memanggil ingatanku tentangmu kembali ? kenapa harus dia yang sekarang telah memiliki hatiku seutuhnya ? kenapa harus dia, Tuhan ? :’(
Yang aku tau aku mencintainya dan dia mencintaiku, yang aku tau aku menerima dia apa adanya dia sekarang tak perduli bagaimana dengan masa lalu yang dimilikinya, yang aku tau hatinya sekarang milikku, tak perduli bagaimana dulu dia mencintai masalalunya, yang aku tau sekarang jemari tangannya hangat menggenggam tanganku tak perduli bagaimana dulu jemari tangannya menggenggam jemari milik masa lalunya. Yang aku tau sekarang sorot matanya di penuhi cinta untukku, tak peduli bagaimana dulu di matanya ada cinta untuk masa lalunya. Yang aku tau sekarang lengannya yang mampu menghangatkanku dalam peluknya, tak perduli bagaimana dulu lengan itu yang dia gunakan untuk menenangkan masalalunya dalam peluknya. Yang aku tau sekarang segala hal yang ada padanya adalah milikku :’(
Aku mencintainya, apa dia tak tau ? apa dia tak merasakan saat ini yang berarti untukku hanya dirinya ? meski satu sapaan pagi lewat pesan singkat tak berarti. Aku mencintainya, mungkin berbeda dengan caraku dulu mencintaimu, tapi tetap saja, aku mencintainya. Bahkan berharap lebih dari apa yang pernah aku harapkan padamu dulu.
Aku tlah berdamai dengan masa lalu kita, ah sial ! maaf malam ini aku membukanya lagi sedikit, maaf. Ini hanya untuk menjawab sedikit pertanyaan dari dia pemilik hatiku. Tapi efeknya aku seperti terjerembab dalam kubangan yang aku hafal sekali aku harus menghindarinya.
Aku mencintainya, harusnya ia mengerti, cinta itu menerima apa adanya sosok cinta itu sekarang tanpa mempermasalahkan masa lalu dari cinta itu sendiri, karna ya memang adanya yang cinta tau dia hidup di masa sekarang tanpa berusaha untuk menengok apa lagi kembali ke masa lalu, harusnya dia tau.
11 Juli 2013, 00 : 15