Minggu, 16 Juni 2013

Dira dan Dera II


Awalnya semua biasa-biasa saja, kami saling melengkapi, dimana ada Dira pasti ada Dera, meski di tiap bulan ada keributan kecil, tapi ga pernah sampai saling mendiamkan berhari-hari, yaelah gimana mau diemin tiap hari ketemu gitu :D
Memasuki bulan 9 hubungan kami, kenaikan kelas. Dira masuk jurusan IPA, aku Bahasa. Mungkin dari sini awal kerenggangan itu. Dira mulai sibuk dengan tugas-tugasnya yang menumpuk, sedangkan aku sibuk mengikuti les bahasa apapun.
Namanya Bella, sosok baru di sekolah kami yang seketika mengubah atmosfir sekolah menuju ke arahnya, cantik, ideal, dan segala yang dia miliki sepertinya impian semua wanita. Termasuk juga aku, bukan karna aku ingin cantik atau apa, hanya saja dia menarik, menyenangkan untuk dijadikan teman, mungkin juga pacar.
Gatau kenapa Bella memilih aku untuk dijadikan temannya, well ini nasib beruntungku yang ke berapa yah ? meski lagi-lagi seperti langit dan bumi, aku ga ada apa-apanya di bandingin dia. Kita berteman cukup dekat, Bella satu kelas dengan Dira, Bella juga tau bagaimana hubunganku dengan Dira (kayaknya emang satu sekolah tau deh :D ).
Aku sering bertanya bagaimana Dira di kelas ya sama si Bella ini, maklumlah anak SMA masih sering penasaran sama apa yang dilakuin cowonya di kelas. Tapi kayanya caraku ini salah karna efeknya Dira semakin dekat dengan Bella.
Dan lihatlah, sepertinya semua isi sekolah mendukung, Dira dan Bella, bukan Dira dan Dera. Tatapan sinis mereka berubah menjadi tatapan mengejek. Ya ya aku tau sekali, bagaimana cocoknya Dira dan Bella, seperti pasangan Ken dan Barbie, Cantik dan Tampan. Sedangkan Dera ? seperti putri kutukan yang ga akan pernah sembuh dari kutukannya.
Walaupun sikap Dira masih seperti biasanya, menatapku dengan penuh cinta di matanya, tak ada yang berubah, masih ada kita, Dira dan Dera. Masih ada bera gkat dan pulang sekolah bersama, intinya masih sama seperti biasanya. Bella pun memahami hubungan aku dan Dira, tak berniat mengusik.
Tapi namanya juga manusia, aku termakan juga omongan teman-teman tentang Dira dan Bella, aku mulai terusik, dan dengan bodohnya mulai mengusik hidup Dira, satu hal yang ga pernah aku lakuin sama siapapun, aku mulai over protect sama dia, well, it’s my false.
Dira merasakan perubahan sikapku ke dia, yang terjadi selanjutnya seperti neraka. Tak ada lagi kedamaian antara aku dan Dira. Aku yang selalu memulainya, memulai kecurigaan-kecurigaan tak berujung, tak beralasan. Hampir setiap hari pertengkaran itu terjadi, sebenarnya aneh, semuanya hanya karna prasangka yang belum tentu faktanya.
Memasuki bulan ke dua belas, harusnya ini jadi bulan terindah buat aku dan Dira, tapi sepertinya semua harus berbalikan dengan hayalan indah yang slalu ada di fikiranku. Dira menjauh, menjauh dari Dera yang tak pernah bisa memahaminya, ahaha.
Apa aku bodoh ?
Aku tak mengerti, masih ada sorotan cinta di matanya untukku, kenapa harus menjauh ? bila masih ada pilihan untuk mendekat ? sepertinya Dira yang bodoh, iya terlalu bodoh ! :’(
Aku mulai menjalani hari-hari tanpa Dira, tanpa dia di sini seperti biasanya. Aku gatau mana yang harus aku salahkan, aku ? Dira ? atau Bella ? ga, Bella ga ada hubungannya dalam masalah ini. Ini sepenuhnya salahku.
Yang ada di fikiranku Cuma satu “aku harus bagaimana ?”