“Dera,
beresin tuh buku-buku kamu, udah ga kepake kan ?beresin ayo. Jangan ninggalin
sampah di rumah.” Aku bergeming, bunda ada-ada aja, gatau aku lagi asik
browsing tempat baru apa yah. Tapi bunda tetap saja dengan bawelnya manggil
namaku berulang-ulang. Ahirnya aku mengalah, bangun juga dari tempat ternyaman
disudut kamar.
Menengok
buku-buku itu, berserakan sekali. Parah banget yah aku ? haha. Malas sekali
membereskannya, terlalu banyak kertas berserakan, coretan-coretan tangan saat
merasa jenuh, sepertinya hidup terlalu banyak jenuh. Lihat saja kertas itu
menggunung, berbanding terbalik dengan tumpukan buku pelajaran. Haha
Iseng-iseng
aku baca satu persatu lembaran itu. Sudah terlalu lama sepertinya, kertasnya
saja mulai menguning. Tiba-tiba tergoda dengan satu lembar tulisan.
16 Juli 2009
Kelas ini basi
sekali ! aku seperti makhluk alien, diam menyepi. Mereka siapa ? aku tak
mengenalnya. Satu pun. Huh ! kenapa takdir membawaku ke tempat antah berantah
ini sih ! ga jelas banget -_-
Mereka
bergerombol, mungkin dulunya mereka satu sekolah, terlihat akrab. Dan lihatlah
aku seperti orang bodoh. Memakai papan nama “KAYLA ADERAINA”. hari pertama sekolah, menjadi siswa SMA. Aih ! udah tua ternyata yah
aku -_-
Eh ada yang
nyamperin aku, duduk disebelah. Siapa ya ? sok akrab banget, aku lihat
sekeliling ternyata memang hanya tempat di sebelahku saja yang kosong. Semua
mata sekarang menuju kearahku, dan pastinya gerombolan cewe-cewe cantik itu.
Dan lagi-lagi aku berasa menjadi alien yang tersesat. Sial !
Aku melirik ke
arahnya, tertidur, gila. Bisa-bisanya dia tidur di kelas baru, teman-teman
baru. Aku intip papan namanya “DIRA ARDIAN”. Pasti panggilannya Dira, iseng aku mencoba menebak. Tiba-tiba dia
terbangun. Satu kata ‘tampan’. Pantas saja cewe-cewe itu melihat aku, emm dia
tepatnya :D
Udah dulu ah. Mau
upacara nih.
Haha.
Tertawa lagi ketika membacanya, namun tiba-tiba ada yang sesak. Teringat lagi,
ya Tuhan. Kisah empat tahun yang silam.
Dira
namanya, pangeran yang tak pernah aku bayangkan akan hadir dalam cerita hidup.
Simple, mengagumkan, aku Dera, teman sebangkunya yang paling cuek di antara
teman wanitanya yang lain. Semua mata memandang ke arahnya ketika pertama kali
di empat tahun yang silam aku mengenalnya.
Fisiknya
memang di atas rata-rata, lesung pipinya itu yang menjadi sisi paling menarik
di antara kelebihan fisiknya yang lain. Satu lagi dia penebar senyum paling
menawan di antara anak-anak baru seangkatan kami, kakak senior perempuan pun
terpikat padanya. Jangan tanya bagaimana sikap kakak-kakak senior laki-laki,
mereka menjadikan Dira sebagai pesaing nomer satu selain cowok-cowok ganteng
lain di sekolah.
Aku
bisa jadi orang yang paling beruntung di sekolah ini, jelas, bagaimana tidak,
dia teman sebangku ku loh, teman sebangku, kami akan melewati waktu bersama
selama dua semester ke depan. Bolehlah aku tertawa di antara tatapan sinis
mereka yang iri dengan posisiku, dan ingat makhluk pertama kali yang dia kenal
di sekolah ini adalah aku, aku Kayla Aderaina. Siapa yang mau komentar ? sini
lihat aku :p
Dan
begitulah, semua yang kita lalui berlalu indah, seperti anak kelas satu SMA
lainnya, meski setelah beberapa bulan Dira tetap jadi incaran cewek-cewek satu
sekolah :D
Posisinya
menjadi berbeda ketika memasuki bulan ke empat, sebentar lagi tes Ulangan
Tengah Semester, oiya hampir lupa, selain tampan Dira cukup pintar dalam segala
mata pelajaran. Nilai plus untuk dia kan ?
Sedangkan
aku ? seperti langit dan bumi berbanding terbalik sangat jauh, tapi dia memang
prince charming :’) tetap menerima apapun keadaan aku. Meski hanya sebatas
teman, teman ?
Setelah
bulan keempat tak ada lagi kata teman di antara aku dan Dira J
Awal
bulan Oktober tahun itu, Dira datang ke sekolah tergopoh-gopoh dengan raut
wajah yang sulit di jabarkan dengan kata-kata. Saat melihatku dia tersenyum,
manis, di antara tatapan teman-teman kelasku yang tak mengerti, sebenernya aku
juga ga tau, aneh sekali Dira pagi ini.
terengah-engah
dia menghampiriku, masih dengan tatapan mata janggal yang tak bisa aku jabarkan
maksud dan tujuannya.
“kamu
kenapa, Ra ?”. sangkin penasarannya aku kepoin juga tuh dia.
“gak
apa-apa, Der, aku Cuma. Hahaha “. Oiya bagi yang belum tau, Dira juga aneh,
senang tertawa tanpa sebab, nilai minus buat dia.
“idih,
aneh banget sih kamu, kagak jelas deh.” Kesel karna pertanyaan aku ga di jawab,
jadi gitu deh sifat cueknya keluar, tapi Dira tau, sangat tau. Kemudian dia menggenggam
tanganku, asing, ga biasanya Dira kaya gini. “nanti aku mau ngomong sama kamu,
give me time !” lanjut Dira.
Aku
ga nyangka, iya, ga nyangka pake banget, apa yang bakal Dira omongin ke aku
ternyata hanya sebuah kepastian, kepastian dari ribuan tanda tanya yang ada di
kepala teman-teman cewe dan sebagian besar kaum hawa di sekolah.
“aku
suka sama kamu Der, dari pertama kali kita kenal, emm bukan, dari pertama kali
aku liat muka polosmu yang terlalu lugu itu lagi corat coret kertas.” Senyap.
Semua hening. “aku nyaman bisa ada di samping kamu walaupun kita sama sekali
belum kenalan, aku Cuma mau, jadi lebih dari teman di hidup kamu.”
Aku
menghela nafas, berharap ini bukan mimpi di siang bolong, tapi aku mulai sadar
ini bukan mimpi, lihat saja mereka semua yang ada di kantin pun sekarang
menatap ke arah kami, aku dan Dira.
“lalu
aku harus bilang apa ?” tanyaku polos. Hahaha mungkin semua orang akan menertawaiku
termasuk aku sendiri memaki apa yang tlah aku katakan tadi, dasar gila. Dira
butuh jawaban ‘iya’ atau ‘ga’ Dera bodoh.
Dira
tersenyum, dengan senyum malaikatnya. Yang terjadi selanjutnya sensor ya, hanya
orang-orang di atas 19 tahun yang boleh tau :p haha
Well,
setelah 4 bulan perkenalan aku dan Dira, ga ada lagi kata Dira dan Dera, adanya
kita.