Kamis, 13 Juni 2013

senja bodoh !



aku menikmati sendu malam.
Ini belum malam, harusnya aku bisa menyadari.
Tapi apa bedanya ?
 Lihat saja di luar sana, matahari dengan angkuhnya enggan menunjukkan dirinya.
Hujan pemiliknya sekarang
Senja berlalu tanpa terlewati, dia menang
Menang karna dia tau senja kali ini aku tak usah bersusah payah berusaha memejamkan mata
Meski seharian yang aku lewati terasa penat
Senja tau, semuanya hanya manipulasi penglihatan mereka yang tak mengerti, tak memahami
Mereka tak memahami bilapun saat senja aku mampu tertidur, itu setelah sekian menit berlalu aku mencoba memejamkan mata
Mencoba menenggelamkan bayang-bayang sosoknya dalam hayalan yang absurd
Seperti dongeng sebelum tidur, melihat wajahnya dalam pejaman mata
Seakan tau, orang itu yang mampu tenangkan aku
Kemudian yang terjadi ya begitulah adanya, aku benar-benar terhanyut
Tenggelam dalam hayalan, dia ada di sini bersamaku, tak hanya bayangannya saja
Senja mengerti dengan sangat, meski tanpa kata yang sempat ku ucap
Tapi senja bodoh, menurutku
Dengan seperti ini, apalagi di tambah dengan hujan yang terlalu melankonis, menusuk
Membuat sepi ini semakin membunuhku
Aku merindukannya, tidak mengertikah senja ?
Jika mataku tetap terjaga, sepertinya di otakku hanya ada dia.
Senja bodoh !
Dia jauh senja, dia jauh
Jangan buat aku semakin tenggelam dalam kerinduan yang tak pernah mampu ku sentuh tepiannya, aku mohon !

16 : 30 13 06 2013

13062013


Aku kehilangan detik dimana kita menulis cerita, cerita tentang sebuah mimpi keabadian. Kita menulisnya, merangkainya, manis. Semuanya tertuliskan, kapan kita akan menjadi seperti ini, kapan kita akan menjadi seperti itu.

Kita menceritakan semuanya kan ? merapal tiap keinginan pada semua doa yang kita sampaikan pada pemilik keabadian. Tak perlu semua orang mengerti, cukup kita.

Ini akan jadi cerita kita, mungkin pula menjadi goresan kenangan yang tak pernah orang lain fahami.

Kita tengeelam bersama di dalamnya, dalam lamunan panjang, lalu tersenyum, aneh. Semuanya terasa indah dalam lamunan kita.

Saling menggenggam tangan erat. Tidak berusaha melepaskan, iya. Karna kita memang sama-sama tak ingin terlepas.

Rasanya bodoh sekali jika mimpi itu kita lepas tanpa kita coba wujudkannya, hanya berharap Tuhan memiliki rencana yang sama seperti punya kita.

Kita terlalu asik, hingga terkadang kita lupa, kita bukan Tuhan, segudang rencana dan angan itu hanya ada di fikiran kita, Tuhan berbicara lain lewat takdirNya.

Mungkin ini yang terasa berat, kita terlambat menyadari, Tuhan punya kuasa sendiri atas apa yang di kehendakiNya, kita hanya menjalankan sebagian rencanaNya, iya kan ?

Bahkan kebersamaan kita, mimpi-mimpi indah kita, dan segalanya tentang kita, terhempas, benar-benar terhempas hanya dengan sehentakan takdir yang Dia ciptakan.

Lalu kita bisa apa ? kita mengalah pada takdirNya bukan ? dengan sangat mudahnya, mimpi itu pun tak sanggup menyelamatkan kita.

Kamu berlalu, aku pun berlalu, dari tempat dimana kita terbiasa melewatinya bersama.

Semuanya hanya seperti hempasan debu tertiup angin, tak berbekas tak bersisa, hanya kenangan ini yang masih menyimpannya rapat.

Berharap Tuhan tak mengambil ingatanku juga seperti Dia mengambilmu dari sisiku.


Jakarta, 13 Juni 2013

14 : 25

malam minggu pertama kita ^_^

Sejuk, udara di kotaku siang ini, bagaimana di kotamu ? panas atau sama seperti kotaku sejuk ? meski biasanya kotaku memiliki udara yang terlalu ekstrim.

Bau ini, bau yang ku hirup, bau tanah basah, ahah rasanya aku mulai merindukan bau tanah basah ini yang ada di kota kelahiranku, kotamu. Lihat sayang, tanah di kotaku mulai tersiram air rezeki dari Tuhan. Damai, lama sekali aku tak merasakan kedamaian dalam tiap rintikan air Tuhan ini.

Sepertinya aku kembali ke beberapa waktu yang lalu, di pertemuan kedua kita, malam minggu pertama yang kita rencanakan, malam minggu pertama yang membuat jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya, padahal apa bedanya malam minggu itu dengan malam lainnya. Haha. Bedanya aku hanya sedang menunggumu, duduk mematung memandang langit yang sepertinya tak mendukung pertemuan kita -_-

Dari senja mulai beranjak pergi aku sudah mulai kesal, kesal pada langit yang plin-plan, perlahan awan kelabu berarak menutupi cerahnya, aih, tak mengertikah mereka, malam ini adalah malam minggu pertamaku ! aku mulai menyalahkanmu, kenapa sih kamu ga ke tempatku sejak sore, sebelum mentari senja memandangku setengah meledek, karna mungkin dia tau malam ini rencanaku akan terhambat, sial sekali !

Kamu juga mulai terbawa moodku, aneh sekali, harusnya kamu kalau mau ikut-ikut aku jangan saat situasi dan kondisi seperti ini, sehati sih sehati, tapi gausah kesel bareng juga kan ? haha. Api ketemu api, bummm ! meledaklah kita, sebenarnya apasih alasannya ? kita marah pada hujan ? hiahaha membawa kekesalan kita pada langit ke hubungan kita, kamu marah, aku marah, yasudahlah, kita sama-sama terdiam, tapi Tuhan tidak jahat sayang, tidak pernah :)

Dia hanya memastikan sejauh mana kita tahan terhadap segala hal yang menjadi keputusanNya, bahkan sesuatu yang tidak kita mengerti sekalipun, tapi benarkan ? rencan Tuhan lebih indah dari apa yang kita rencanakan.

Ahirnya malam minggu kita yang pertama kita lalui bersama, manis. Meski rasanya nano-nano. Haha. Ada rasa takut, senang, gugup, grogi, entah apapun itu namanya. Semuanya menyenangkan, iya kan ? haha. Dan mungkin disitu juga pertama kalinya kamu tertawa lepas bersama pria tertampan di mataku, ayah. :D

Dari jam setengah tujuh sampe jam berdentang sebelas kali, yeah ! ini loh malam minggu pertama kita :D lama kan ? yang pasti sih aku senang, bahagia, wahaha perasaan yang tak bisa aku jelasin dengan semua kata yang pernah aku ucapakan *ciah alay* :D

Kamu masih inget ga ? aku masih inget dong semuanya, namanya juga malam minggu pertama kita :* :D

 

Jakarta, kotaku yang jauh dari kotamu

13 : 38 13 06 2013

 


ini yang kemarin

ini bulan ke empat, bulan ke empat ada kita , ada aku dan kamu :)
walaupun belum genap annive yang ke empat, tapi bukankah ini proses menuju tanggal itu, semuanya tak slalu di ukur dengan tanggal kan ?
kalau kita ini sebagai janin, posisi kita saat ini sedang detik-detik pemberian ruh, dari sini di tulis bagaimana nasib kita nanti, takdir kita, rizki kita, jodoh kita, dan kapan kematian kita. Lalu sayang, disinilah kita, di jejak-jejak menuju 4 bulan itu. Mungkin di sini pulalah sesi terberatnya dari 3 bulan yang tlah kita lewati.
Entah siapa yang memulainya, aku atau kamu kah ? yang jelas kita sama-sama merasa, ada titik jenuh yang benar-benar seperti kabut, menutupi kebahagiaan-kebahagiaan yang pernah kita buat. Biasanya semua terlewati dengan mudahnya, masih ada canda kita, masih ada tawa terselip di antara kekesalan kita akan jarak. Tapi yang kemarin terjadi ? haha. Aku menyesalinya, harusnya kita tak perlu seperti itu, iya kan ?
Mungkin aku yang salah iya, aku melewati waktu sebelum perjalananmu bersama dia, dia yang menjadi bagian masalalu, tapi aku tak pernah berniat untuk mengulang apa yang terjadi dulu, aku memilikimu sayang, dan aku sangat bangga dengan apa yang aku miliki sekarang, tak perduli apa yang orang katakan tentangmu, tentang kita.
Dari situ awal kerenggangan kita, aku slalu berusaha memberi waktu untukmu, karna meski aku bersamanya, yang ada di fikiranku tetap kamu, bahkan seperti orang bodoh, saat dia mengajakku berbicara, aku masih membayangkan kamu yang ada di depanku, bukan dia. Tapi kamu ? kamu seperti menjaga jarak, memberi sedikit celah, entah untuk apa, mungkin hanya perasaanku saja, tapi setiap waktu celah itu semakin terlihat, dan aku berusaha menutupinya, aku tak ingin ada celah di antara kita yang di tempati orang lain.
Bahkan bila saja kau mau mengerti sayang, aku menangis saat bersamanya, aku merindukanmu, sangat. Yang aku inginkan ada di sini bersamaku adalah kamu, bukan dia. Aku merindukan candamu, tawamu, senyummu, memang dulu segala hal yang ada di dirinya sangat aku sukai, tapi itu dulu kini semuanya terasa hampa karna memang benar segalanya itu sekarang milik kamu, apa yang aku sukai pun punya kamu semua, tak pernah dan tak ingin aku temui pada orang lain selain kamu meski itu dari dia yang kamu tau dan aku tau adalah sosok yang di sebut cinta pertamaku.
Lalu perjalanan itu, seperti bumbu pelengkap di antara kerenggangan kita, kamu sibuk tenggelam dalam perjalanan antara kotamu dan kota barumu, aku merasa sesak sebenarnya, tapi aku terikat janji untuk mengertimu memahami keadaanmu di sana, selain itu aku menyayangimu, mendukung setiap hal baik yang kau lakukan untuk masa depanmu, tapi memang waktunya yang kurang tepat, lagi-lagi ini kesalahanku, bukan kesalahan kamu atau pun celah.
Aku mulai kehilangan sosokmu, aku seperti orang yang kehilangan arah, semuanya hampa. Ku biarkan saja telepon genggam itu tergeletak seperti bangkai tak bernyawa, tak berniat ku sentuh, walaupun di sudut hati yang lain aku berharap satu pesan singkat saja darimu, sekedar semangatkanku. Dan sepertinya aku mulai terbiasa, terbiasa tanpa kamu. Ah Tuhan, aku sungguh tak ingin semuanya terjadi.
Tiga hari kita berdiam diri, tenggelam dengan kesibukan  masing-masing seperti tak ada lagi kata kita, adanya aku dan kamu yang memiliki dunia sendiri-sendiri bukan dunia kita. Aku mulai terbiasa, entah apa yang kamu rasa di sana, apa sepertiku juga ? aku mengerti kamu sibuk, pasti kamu lelah, lalu aku memilih mendiamkanmu, tak bertanya apa-apa tak mencoba berkata apa-apa, meski sebenarnya banyak sekali hal-hal yang ingin aku ceritakan padamu, seperti biasanya, tapi aku tau kamu lelah, pasti tambah lelah dengan mendengar ceritaku sepanjang 3 hari tanpamu.
Puncaknya ya hari itu, hari minggu, kamu sms aku pagi hari, lalu semuanya terasa hambar, tak ada yang memulai percakapan hanya sekedar bertanya sedang apa, udah makan apa belum, udah gitu aja, tanpa membahas yang lain, kamu menghilang, aku mencoba mengerti mungkin kamu kelelahan, sehingga kamu berniat untuk menghabiskan sepanjang hari dengan bantalmu. Aku menunggu, mungkin nanti setelah beberapa jam kamu akan memberi kabar meski hanya bertanya “kamu sedang apa ?” tapi nyatanya kamu benar-benar menghilang, apa aku marah ? iya. Aku marah. Harusnya hari itu aku bisa kembali bercengkrama denganmu, seperti yang dulu-dulu itu, tapi faktanya semua jauh dari inginku. Hingga pada akhirnya, ku biarkan saja, aku tak berharap lagi ada sms kamu, aku ga berharap lagi .haha :(
Malamnya kamu sms aku, tanpa panggilan sayang, tanpa apa, aku ? hanya tertawa sekeras yang aku bisa, dasar aneh, menghilang sekian lama datang hanya menyapa seperti teman-temanku yang iseng lainnya, hmm, kamu itu pacarku atau bukan sih ? apa pacarku tertinggal di kota barunya ? haha :D
yang terjadi selanjutnya seperti episode kehambaran yang berlanjut, benar-benar tak ada kita lagi, aku menahannya, menahan emosiku. Aku mendiamkanmu, mungkin kamu merasa, sampai semuanya seperti dunia yang terbalik, kamu yang mulai kesal, kesal dengan kecuekanku, menganggap aku lelah, padahal saat itu aku mulai berfikir bagaimana caranya agar semua kembali lagi.
Tapi, semuanyaaaa aaaah. Kamu memutuskannya, memintaku berlalu darimu, meminta untuk mengahirinya, aku tertawa kan ? haha. Aku tertawa jelas, aku mencoba mempertahankamu, selalu, betapapun kesalnya aku. Tapi kamu, melepaskannya, dengan mudah, aku mengerti kamu mungkin terlalu lelah dengan kesibukanmu, apalagi di tambah aku, padahal aku tak merengek sedikitpun padamu. Aku mencoba mengerti, iya, tapi sepertinya semua salah dimata kamu :’) aku menyetujuinya, apa kamu berfikir aku sama sepertimu ? mulai lelah dengan semua ini. Tidak sayang, aku tidak lelah, betapapun semuanya terasa mengesalkan, membuat penat.
Aku mengiyakan karna aku berfikir, hidup ini simple, saat aku ingin melepaskan, aku akan melepaskan tanpa memikirkan apapun, ga ada kata menyesal, dan saat kamu ingin melepaskan, aku menurutinya iya, bukan karna aku inginkan yang sama, tapi sadarkah sayang, kata ‘melepaskan’ itu berati kamu benar-benar telah di ujung dimana kamu tak akan pernah temui jalan untuk menjadi satu lagi, tak ada jalan untuk kembali. Dan aku menghargai apapun yang kamu inginkan, tanpa berusaha menahanmu agar tetap bersamaku, bukankah sesuatu yang dipaksa itu tak baik ? haha. Aku hanya berharap semoga nanti tak ada kata penyesalan setelah ini.
Aku mencoba mengajakmu untuk berfikir, sedikit saja, aku hanya ingin tau, aku tak ingin menjadi terdakwa, karna alasanmu pergi karna kamu bilang aku lelah ? so tau sekali :p aku ingin memastikan itu saja, ternyata benar, kenyataannya berbalik dengan apa yang kamu katakan, kamu yang lelah, bukan aku. Dasar pegengsi besar yang terlalu memikirkan gengsinya, iuh :p
Aku menertawakanmu, sekali lagi, haha. Aku tau setelah ini, setelah aku mulai benar-benar melepaskannya kamu yang akan merasa kehilangan aku, bukan karna aku merasa terlalu PD atau apa, tapi faktanya gitu :p kamu hanya sedang lelah sayang, jangan terburu-buru, dan ahirnya lihatlah sendiri, kamu yang memintaku kembali, padahal belum ada sehari kita berpisah, hanya beberapa jam. Haha. Aku sayang kamu, kamu tau kan ? aku mengerti dengan sangat, aku berusaha menetralisir keadaan, kita tak harus berpisah kan ? masih ada pilihan lain ?
Dan sekarang inilah kita, kita yang di dalamnya ada kamu dan aku, ada dunia kita lagi, ada senyum kita lagi, ada sayang, rindu dan cinta kita lagi .
Jadi sayang, bolehkah aku meminta ? aku ingin merasakan jatuh cinta lagi, mencintaimu saat ini dan semoga sampai nanti, selamanya .
Jakarta, kotaku yang jauh dari kotamu
11 : 11 13 06 2013