“kamu egois !” kemarin kamu datang padaku, marah-marah, menangis. Cengeng sekali. Mengatakan aku egois. Hey, lihatlah siapa kamu, bagaimana wujudmu, apa perlu ku ambilkan cermin ? tak bisakah kamu lihat sendiri, siapa sebenarnya yang egois dalam kisah ini, kamu atau aku ? kekanakkan ! menumpahkan segalanya padaku.
Ingatlah lagi, kemarin beberapa hari yang lalu. Ku temukan kamu di sana bersama dia, dia yang aku juga gatau siapa namanya, temanmu atau bukan, kamu tertawa lepas sembari sesekali bermanja-manja padanya, aku ? diam saja. Aku tak mengerti, itu dimuka umum. Kamu merangkulnya, manis sekali. Siapapun yang melihat pasti menyangka, dia kekasihmu. Dan aku ? tersenyum miris !
Ya memang kita tak pernah menunjukkan, kita ? lebih tepatnya aku dan kamu. Tak pernah memperlihatkan dimuka ‘umum’ tentang bagaimana kita, bagaimana status kita. Apakah itu penting ? itu yang dulu kamu dan aku fikirkan. Hubungan kita, 1 tahun lamanya. Aku mengerti kamu, kamu mengerti aku. Cukup kita saja yang tahu, itu katamu dulu kan ? tak perlu diumbar-umbar.
Tapi faktanya sekarang ? lihatlah sendiri orang-orang benar-benar tidak tau bagaimana hubungan kita, hanya menyangka kita sebatas ‘teman dekat’ sekali lagi ‘teman’. Dengan bodohnya kemarin mereka bertanya padaku “eh itu pacar barunya ya ? kamu ga cemburu, kan kalian ‘akrab’.” Nusuk ! iya. Sakit sekali mendengarnya, tapi ya itu aku ga bisa nyalahin mereka. Memang yang terlihat seperti itu kan ?
Sekarang kamu memohon-mohon, karna perubahan sifatku. Tak bisa mentolelir kebersamaanmu bersama ‘dia’. Aku muak, apa kamu tau ? ini bukan sekali dua kali. Entah keberapa kali. Dan aku slalu saja memaafkanmu, karna kamu bilang ‘hanya teman’. Aku mempercayainya, baik sekali kan aku ? ini yang terahir, dan itu benar-benar membuatku muak.
Aku mendiamkanmu, sepertinya aku mulai merelakan jika memang kamu ingin bersamanya, pergilah, aku tak akan pernah berusaha menahanmu. Karna menahanmu pun percuma, membuang energi dan waktu. Aku yang slalu mencoba mempertahankan, dan kamu dengan egoisnya selalu memberi celah pada mereka untuk mendekatimu. Miris sekali yah menjadi aku ?
Lalu kini, apa kamu tetap akan men’cap aku sebagai ‘egois’ ? jika memang faktanya kamu lebih menempatkan ragamu di sana bersama orang lain meski hatimu bersamaku. Kamu sakit. Iya. Pergilah, sungguh, aku tak akan mencoba menahanmu seperti yang dulu-dulu itu, aku melepaskannya dengan mudah, meski awalnya dengan payah.
Kamu mungkin butuh sedikit pengobatan untuk ‘sakit’mu itu. Dan maaf obat itu bukan aku.
*lagi rajin nulis 11:33 16052013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar