Aku berlari. Berlari menuju tempatmu.
Aku tak perduli tatapan tatapan orang lain yang melihatku berlari-lari, aku tak peduli.
Yang ku inginkan hanya satu, aku ingin melihatmu.
Semakin jelas bayangan-bayangan siluet tentangmu, tentang kita.
Ah, ya Tuhan aku hampir menangis.. Aku tak tau apa yang harus aku lakukan.
Hanya berlari, dan terus berlari.
Kenapa tempat itu terasa begitu jauh saat ini ?
Padahal dulu aku slalu bersamamu ke tempat ini, dan semuanya terasa dekat.
Aku terengah, ini terasa sangat menyakitkan, Tuhan. Beri aku kekuatan untuk bertahan, sebentar saja.
Aku masih terus berlari, dan saat aku mengenangmu, tanpa ku sadar airmata ini tlah mengalir teramat deras.
Aku terus berlari, tanpa memikirkan yang lain, pikiranku hanya satu, kamu.
Tuhan, tolong aku, biarkan aku kehabisan nafasku, tapi nanti, setelah aku melihatnya.
Aku masih terus berlari, aku telah sampai di gedung itu.
Semakin bertambah deras airmataku saat aku menemui suster penjaga.
Ya, aku menemukan namamu di sana. Di ICU .
Aku gemetar, aku terlalu lemah melanjutkan langkah kakiku.
Perlahan, aku menuju ruanganmu.
Dengan sisa-sisa kekuatanku, aku menujumu.
Tuhan kuatkan aku sebentar saja, walau aku tau ini terasa sangat menyakitkan.
aku berjalan perlahan, di sana ada keluargamu, menangis.
aku semakin tak tahan, aku semakin tak mampu melanjutkan langkahku.
tapi aku yakin masih ada sedikit harapan untukku di sana.
aku semakin mendekat.
ada kakakmu, orangtuamu, keluargamu, dan dia kekasihmu :)
masih terus menangis.
aku mencoba menahan tangisanku, dan mendekat ke arahmu.
aku tak kuasa menahan air mataku.
aku melihatmu tersenyum.
tersenyum dengan tenang.
aku sesali diriku yang menangis.
mengapa aku menangisi senyuman terahirmu ?
senyuman kedamaianmu yang dulu begitu menghangangatkanku.
senyuman yang sangat aku rindukan.
kau tlah tenang di sana, bersama sejuta kedamaian.
di ballut selimut hangat rumah sakit.
aku masih bisa melihat ragamu yang terbujur kaku, tersenyum dengan tulus padaku :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar