Senin, 03 Juni 2013

ini takdir-Mu kan ?



Remang saat aku mencoba mengerti, semuanya terasa buram.Pekat. Andai Tuhan memberiku indra seperti katak, yang tetap bisa melihat meski terendap lumpur. Harusnya dari awal aku mengerti, sejak pertama kali aku menyadari, langkahku pasti akan tertahan, oleh sesuatu bernama ‘takdir’.
Daridulu aku tak pernah mencoba menahannya, tak pernah berusaha merangkai segala mimpi indah. Aku mempercayakan semuanya pada takdir,karna aku yakin kebahagiaan itu pasti ada, meski dari sudut pandang yang tak pernah aku mengerti sekalipun.
Aku mengenalnya, seperti biasa, tanpa ragu hanya sebagai teman belaka. Namun perlahan semuanya berubah, sketsa hidup yang benar-benar tidak pernah ada dalam daftar riwayat hidup. Ketika rasa sakit, gundah, krisis kepercayaan menggelayut. Membuat beban. Sosoknya hadir, tak perlu banyak kata,namun bayangnya semakin menyergap. Nyata.
Andai aku diberi kesempatan untuk bertanya, satu kalimat saja pada Tuhan. Aku ingin tau, takdir seperti apa lagi yang sedang Tuhan ciptakan untukku, apakah masih penuh suka yang berujung luka. atau bagaimana ? Aku tak mengerti,hanya menerimanya, sedikit demi sedikit. Mencoba percaya pada janji Tuhan,semua pasti akan indah pada waktunya.
Dia sosok yang biasa-biasa saja, sederhana, seperti laki-laki pada umumnya, namun entah mengapa ahir-ahir ini sosoknya menjadi istimewa. Perkenalan singkat, tak di sengaja, tapi aku tau, Tuhan punya rencana lain di setiap pertemuan, meski mungkin Tuhan juga sedang menyusun kapan perpisahan.
Dia ramah, ya lagi-lagi seperti laki-laki pada umumnya, mencoba menyapa. Aku, si pemilik hati yang sedang terluka membalas, sekedarnya saja, walaupun tetap penuh canda. Dia tersenyum, hangat, meski hanya lewat pesan singkat yang terbang melalui udara dari tempatnya. Entah berapa debu yang menempel yang jelas tulisan dilayar handphone itu membuatku tersenyum tanpa sebab.
Dan Tuhan lihatlah, perlahan aku mulai terbiasa, terbiasa dengan sosoknya yang semula hanya menjadi bayangan tak berati, biasa saja. Dia mulai meracuni hidupku entah menggunakan zat apa yang jelas aku mulai membutuhkannya. Bukankah ini memang rencanamu Tuhan ? sekarang bolehkah aku mengakuinya ? aku mulai mencintainya entah dalam artian yang bagaimana, cinta yang bisa diterjemahkan dengan bahasa apa. Yang pasti aku mulai mencintainya.
Jadi Tuhan, bolehkah aku sedikit meminta untuk takdir-takdirMu nanti yang tak pernah aku ketahui dan aku rencanakan. Aku hanya ingin musim ini, kehangatan ini, cinta ini  tak berlalu, secepat saat Kau izinkan angin meniup debu yang berlabuh di atas dedaunan. semoga Kau mendengarnya Tuhan, semoga.

Tidak ada komentar: