Senin, 03 Juni 2013

Nira dan Niko

Cukup, ini sudah tiga tahun. Tiga tahun yang menyiksa itu. Hidup dalam bayang-bayangmu.
Konyol sekali, kamu yang dulu memintaku untuk melupakanmu, dengan mudahnya. Iya.
Seperti angin berhembus saja, tak berarti apa-apa. Sedangkan kamu tau, dalam hidupku, kamu benar-benar bukan sebuah angin dalam hidupku. Jika kamu diibaratkan seperti musim.
Setiap musim dalam hidupku itu ada kamu. Kamu Nira. Sepertinya jika bersamamu, tanpa siapapun yang ada dihidupku aku akan tetap menjalaninya, karna kekuatanku kamu.
Tiga tahun yang lalu, senja itu membawamu pergi, seandainya kamu tau, sekarang aku membencinya. Membenci senja. Karna senja tlah membawa semua yang ada dalam hidupku pergi, kamu juga telah mengetahuinya bukan, di hidupku Cuma ada namamu, Nira.
Kecelakaan itu yang menemukan takdir kita, sama-sama menjadi yang ditinggalkan, padahal kita sama-sama tau dimana-mana yang namanya ditinggalkan pasti yang paling menderita. Begitupula kamu dan aku, sedih bukan ? kita kehilangan semuanya, keluarga, orang yang disayang, tapi mengapa takdir bodoh sekali, menyisakan kita berdua dikecelakaan itu.
Kamu dan aku sama sama mencoba bertahan, menguatkan. Tapi Nira, kau lupa, apa kau memang sengaja. Bertahun-tahun kita bersama tak sedikitpun tercium sakit-sakit itu. Kau menyimpannya dengan sangat rapi, apa aku yang terlalu bodoh ? ah sungguh aku masih menyesalinya, hingga sekarang setelah tiga tahun itu berlalu.
Senja itu kamu tersenyum, menatapku seperti biasa, tak ada yang aneh, hanya wajahmu saja yang nampak layu pucat, aku tanya apa kau baik-baik saja, kau diam. Ya Tuhan bolehkah aku memakiMu, kenapa Kau ciptakan makhluk sehalus dan selembut dia, menjaga rasaku agar tak terluka. Kamu memelukku Nira, pelukan yang masih sama seperti biasa. Dan aku membalasnya, tak terlihat aneh bukan ?
Yang aneh adalah saat perlahan-lahan ada sesuatu yang hangat menempel dikemejaku, mungkin kamu menangis, tapi aku bisa apa ? memelukmu dulu mungkin itu akan menenangkan. Tapi kamu tetap bergeming, diam, bahkan perlahan pelukanmu melemah tak seerat tadi. Aku penasaran, ku angkat wajahmu yang terkulai, darah itu, menetes dari lubang hidungmu yang mungil. Mukamu pucat, benar-benar pucat. Aku tertegun, tak sadar. Sekali lagi bodohnya aku.
Ku guncangkan tubuhmu, hening. Bahkan kau tetap pejamkan mata bulatmu itu. Aku panik, pasti. Ku papah tubuhmu yang mulai membeku. Ah sial, ku harap aku tak pernah telat. Tapi nyatanya aku telat, aku telat Nira ! aku benci jam Indonesia yang selalu membuatku telat. Dan sekarang dampaknya apa ? kau pergi, benar-benar pergi. Tanpa mampu aku cegah. Semuanya pias. Senja mulai berakhir, matahari pun dengan egoisnya meninggalkanku. Ah Tuhan 15 Mei 2010, aku sangat membenci tanggal itu, sungguh.
Aku menangisimu, sekeras yang aku bisa, yang aku mampu, tapi kamu apa ? kamu jahat Nira, di wajahmu malah tersungging senyum, apa kamu bahagia meninggalkan aku seorang diri ? apa kamu puas ? sekarang aku yang ditinggalkan (lagi). Dan pelakunya adalah kamu, orang yang paling berati dalam hidupku. Tetangga mendatangi rumah kita, memandikanmu, mengafanimu, sedangkan aku masih turgugu dalam tangis di pojok ruangan tempat kita biasa bercengkrama. Hingga tiba saatnya itu, jasadmu dibaringkan, apa kamu kuat tinggal di dalam ruangan sempit itu sendirian, gelap, sedangkan aku tau sekali kamu sangat takut gelap.
Aku melepasmu, meski dengan hati yang tak yakin. Meninggalkanmu di dalam sana ruang 2x1 meter yang sempit dan pengap. Di rumah kutemukan catatan-catatanmu. Aku kesal ! kesal padamu yang memiliki hati terlalu lembut ! beralih ingin menjaga hatiku, menjaga perasaanku, cuih ! sekarang apa ? aku lebih hancur berkeping-keping Nira. Aku melepasmu, tanpa aku tau kamu menyimpan sakit itu bertahun-tahun.
Dan sekarang, lepas tiga tahun yang lalu, aku mulai muak, muak bermimpi kamu akan kembali lagi, meski itu hanya reinkarnasimu saja, bagiku tak apa. Tapi faktanya, kamu memang tak akan pernah kembali Nira.
Lihat aku mengunjungimu sekarang, di samping makammu, memberimu bunga, romantis bukan ? membawa sehelai kertas terakhir, tulisan tanganmu yang masih aku simpan, ini aku kembalikan. Aku lelah Nira. Menyimpannya membacanya berulang-ulang, hingga kertasnya mulai kumal bercampur air mata pecundang. Dipecundangi oleh takdir dan kematian.
Kamu mau membacanya ulang ? nih buat kamu. Aku selipkan diantara batang-batang buket bunga. Kamu, terimakasih untuk segalanya Nira. Aku menyayangimu, bahkan saat aku mulai membencimu saat ini, aku masih menyayangimu dengan sepenuh hatiku. Semoga Tuhan tidak jahat pada kita nanti di hari kiamat, aku berharap di sana aku bisa menggenggam tanganmu lagi. Konyolkah aku ? semoga Dia mendengar, semoga.
Jakarta, 15 Mei 2013
aku mencintaimu, ini lukaku, luka yang aku harap bisa aku hadapi dan aku selesaikan sendiri, tapi nampaknya aku salah, aku terbiasa menyelesaikan semuanya bersamamu. Tapi yang ini, aku tak ingin kau tau. Maaf. Aku mencintaimu, menjaga hatimu yang lembut itu yang mencintaiku dengan sepenuhnya.
Maaf aku meninggalkanmu, tanpa pesan terakhir, tanpa kata-kata. Tapi inilah takdir, sayang. Tuhan mungkin lebih inginkan aku disisiNya. Aku mencintaimu, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu, tapi untuk abadi bersamamu.
Kamu tetap jadi yang terbaik, dan akan slalu jadi yang terbaik.
Dariku yang menyayangimu Niko,
Nira”

Tidak ada komentar: