Cukup,
ini sudah tiga tahun. Tiga tahun yang menyiksa itu. Hidup dalam
bayang-bayangmu.
Konyol
sekali, kamu yang dulu memintaku untuk melupakanmu, dengan mudahnya. Iya.
Seperti
angin berhembus saja, tak berarti apa-apa. Sedangkan kamu tau, dalam hidupku, kamu
benar-benar bukan sebuah angin dalam hidupku. Jika kamu diibaratkan seperti
musim.
Setiap
musim dalam hidupku itu ada kamu. Kamu Nira. Sepertinya jika bersamamu, tanpa
siapapun yang ada dihidupku aku akan tetap menjalaninya, karna kekuatanku kamu.
Tiga
tahun yang lalu, senja itu membawamu pergi, seandainya kamu tau, sekarang aku
membencinya. Membenci senja. Karna senja tlah membawa semua yang ada dalam
hidupku pergi, kamu juga telah mengetahuinya bukan, di hidupku Cuma ada namamu,
Nira.
Kecelakaan
itu yang menemukan takdir kita, sama-sama menjadi yang ditinggalkan, padahal
kita sama-sama tau dimana-mana yang namanya ditinggalkan pasti yang paling
menderita. Begitupula kamu dan aku, sedih bukan ? kita kehilangan semuanya,
keluarga, orang yang disayang, tapi mengapa takdir bodoh sekali, menyisakan
kita berdua dikecelakaan itu.
Kamu dan
aku sama sama mencoba bertahan, menguatkan. Tapi Nira, kau lupa, apa kau memang
sengaja. Bertahun-tahun kita bersama tak sedikitpun tercium sakit-sakit itu.
Kau menyimpannya dengan sangat rapi, apa aku yang terlalu bodoh ? ah sungguh
aku masih menyesalinya, hingga sekarang setelah tiga tahun itu berlalu.
Senja itu
kamu tersenyum, menatapku seperti biasa, tak ada yang aneh, hanya wajahmu saja
yang nampak layu pucat, aku tanya apa kau baik-baik saja, kau diam. Ya Tuhan
bolehkah aku memakiMu, kenapa Kau ciptakan makhluk sehalus dan selembut dia,
menjaga rasaku agar tak terluka. Kamu memelukku Nira, pelukan yang masih sama
seperti biasa. Dan aku membalasnya, tak terlihat aneh bukan ?
Yang aneh
adalah saat perlahan-lahan ada sesuatu yang hangat menempel dikemejaku, mungkin
kamu menangis, tapi aku bisa apa ? memelukmu dulu mungkin itu akan menenangkan.
Tapi kamu tetap bergeming, diam, bahkan perlahan pelukanmu melemah tak seerat
tadi. Aku penasaran, ku angkat wajahmu yang terkulai, darah itu, menetes dari
lubang hidungmu yang mungil. Mukamu pucat, benar-benar pucat. Aku tertegun, tak
sadar. Sekali lagi bodohnya aku.
Ku
guncangkan tubuhmu, hening. Bahkan kau tetap pejamkan mata bulatmu itu. Aku
panik, pasti. Ku papah tubuhmu yang mulai membeku. Ah sial, ku harap aku tak
pernah telat. Tapi nyatanya aku telat, aku telat Nira ! aku benci jam Indonesia
yang selalu membuatku telat. Dan sekarang dampaknya apa ? kau pergi,
benar-benar pergi. Tanpa mampu aku cegah. Semuanya pias. Senja mulai berakhir,
matahari pun dengan egoisnya meninggalkanku. Ah Tuhan 15 Mei 2010, aku sangat
membenci tanggal itu, sungguh.
Aku
menangisimu, sekeras yang aku bisa, yang aku mampu, tapi kamu apa ? kamu jahat
Nira, di wajahmu malah tersungging senyum, apa kamu bahagia meninggalkan aku
seorang diri ? apa kamu puas ? sekarang aku yang ditinggalkan (lagi). Dan
pelakunya adalah kamu, orang yang paling berati dalam hidupku. Tetangga
mendatangi rumah kita, memandikanmu, mengafanimu, sedangkan aku masih turgugu
dalam tangis di pojok ruangan tempat kita biasa bercengkrama. Hingga tiba
saatnya itu, jasadmu dibaringkan, apa kamu kuat tinggal di dalam ruangan sempit
itu sendirian, gelap, sedangkan aku tau sekali kamu sangat takut gelap.
Aku
melepasmu, meski dengan hati yang tak yakin. Meninggalkanmu di dalam sana ruang
2x1 meter yang sempit dan pengap. Di rumah kutemukan catatan-catatanmu. Aku
kesal ! kesal padamu yang memiliki hati terlalu lembut ! beralih ingin menjaga
hatiku, menjaga perasaanku, cuih ! sekarang apa ? aku lebih hancur
berkeping-keping Nira. Aku melepasmu, tanpa aku tau kamu menyimpan sakit itu
bertahun-tahun.
Dan
sekarang, lepas tiga tahun yang lalu, aku mulai muak, muak bermimpi kamu akan
kembali lagi, meski itu hanya reinkarnasimu saja, bagiku tak apa. Tapi
faktanya, kamu memang tak akan pernah kembali Nira.
Lihat aku
mengunjungimu sekarang, di samping makammu, memberimu bunga, romantis bukan ?
membawa sehelai kertas terakhir, tulisan tanganmu yang masih aku simpan, ini
aku kembalikan. Aku lelah Nira. Menyimpannya membacanya berulang-ulang, hingga
kertasnya mulai kumal bercampur air mata pecundang. Dipecundangi oleh takdir
dan kematian.
Kamu mau
membacanya ulang ? nih buat kamu. Aku selipkan diantara batang-batang buket
bunga. Kamu, terimakasih untuk segalanya Nira. Aku menyayangimu, bahkan saat
aku mulai membencimu saat ini, aku masih menyayangimu dengan sepenuh hatiku.
Semoga Tuhan tidak jahat pada kita nanti di hari kiamat, aku berharap di sana
aku bisa menggenggam tanganmu lagi. Konyolkah aku ? semoga Dia mendengar,
semoga.
Jakarta,
15 Mei 2013
“aku mencintaimu, ini lukaku, luka yang aku
harap bisa aku hadapi dan aku selesaikan sendiri, tapi nampaknya aku salah, aku
terbiasa menyelesaikan semuanya bersamamu. Tapi yang ini, aku tak ingin kau
tau. Maaf. Aku mencintaimu, menjaga hatimu yang lembut itu yang mencintaiku
dengan sepenuhnya.
Maaf aku meninggalkanmu, tanpa pesan
terakhir, tanpa kata-kata. Tapi inilah takdir, sayang. Tuhan mungkin lebih
inginkan aku disisiNya. Aku mencintaimu, aku pergi bukan untuk meninggalkanmu,
tapi untuk abadi bersamamu.
Kamu tetap jadi yang terbaik, dan akan
slalu jadi yang terbaik.
Dariku yang menyayangimu Niko,
Nira”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar