Melepaskan bukan
berarti meninggalkan, terkadang aku menemukan titik jenuh itu, dimana aku
merasa aku harus melepaskannya, melepaskan dia yang slama ini telah ada di sini
bersamaku, memenuhi hatiku dengan cintanya.
Tapi ya itu, sekali
lagi melepaskan bukan berarti meninggalkan. Aku mencintainya, dengan pandangan
arti cinta entah yang bagaimana, aku menggenggam namanya dalam tiap doa, itu
saja. Bila memang itu yang dinamakan cinta. Di tiap rapalan doaku tak pernah
aku tinggalkan namanya. Mudah bukan ? mencintai lewat jalur Tuhan, Tuhan yang
akan menentukan bukan aku.
Saat pertama kali
aku memilih untuk mencintainya, aku hanya percaya satu, Tuhan punya rencana
lebih indah, aku titipkan namanya dalam tiap doa, berharap ini yang terbaik. Bilapun
Tuhan telah mempercayai namanya untuk tertulis di takdirku, aku bisa apa ya kan
? hanya menerimanya, meyakininya. Sekali lagi menjaganya, meski hanya lewat doa
yang orang-orang tak akan mengrti.
Tapi kini, saat kejenuhan
melanda, perlahan tapi menusuk, siapa yang harus aku salahkan ? apa Tuhan juga
? tidak, Ia tidak pernah memiliki sifat sebagai pihak yang bersalah, apapun
yang Dia tetapkan akan slalu benar, meski tak semua orang memahami.
Aku masih mengeja
namanya dalam tiap doa, dalam tiap hening antara aku dan Tuhan. Sulit memang,
mengucap nama saat luka itu mulai ada. Aku tak merasa dilukai, mungkin dia pun
tak merasa melukaiku, di sini ada yang aneh, itu saja. Takdir Tuhan sedang
berubah, meski lagi-lagi aku harus berjuang keras untuk mengerti, menerima tak
cukup dengan logika.
Mungkin Tuhan hanya
sedang menguji, apa semua ini memang pantas untuk dipertahankan, aku hanya
ingin bertanya, bukankah Tuhan tlah tau segala hal ? mengapa Ia masih mengujiku
dengan seperti ini ? toh dari awal lafal itu slalu ku ucapkan di tiap
percakapan aku dan Dia ? “bila
memang dia berujung denganku, maka dekatkanlah, bila tidak jauhkanlah tanpa
menyakiti salah satu di antara kami.”
Lalu yang ini apa ?
maksud yang ini apa ? apa ini sedang berusaha mendekatkanku ? atau menjauhkan ?
bukankah jarak telah egois menjauhkanku dengan dia ? lalu yang ini apa lagi ?
aku tak mengerti Tuhan.
Sedikit saja bila
memang semua harus aku pertahankan, aku hanya ingin melepaskan penat bukan
untuk meninggalkan, dia masih di sini, di hati yang menyimpan namanya dengan
rapat, di posisi sekian setelah Tuhan, Nabi, dan keluargaku pastinya.
Aku hanya ingin
melepaskan luka, bukan meninggalkan cinta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar