Selasa, 18 Juni 2013

melepaskan bukan berarti meninggalkan


Melepaskan bukan berarti meninggalkan, terkadang aku menemukan titik jenuh itu, dimana aku merasa aku harus melepaskannya, melepaskan dia yang slama ini telah ada di sini bersamaku, memenuhi hatiku dengan cintanya.
Tapi ya itu, sekali lagi melepaskan bukan berarti meninggalkan. Aku mencintainya, dengan pandangan arti cinta entah yang bagaimana, aku menggenggam namanya dalam tiap doa, itu saja. Bila memang itu yang dinamakan cinta. Di tiap rapalan doaku tak pernah aku tinggalkan namanya. Mudah bukan ? mencintai lewat jalur Tuhan, Tuhan yang akan menentukan bukan aku.
Saat pertama kali aku memilih untuk mencintainya, aku hanya percaya satu, Tuhan punya rencana lebih indah, aku titipkan namanya dalam tiap doa, berharap ini yang terbaik. Bilapun Tuhan telah mempercayai namanya untuk tertulis di takdirku, aku bisa apa ya kan ? hanya menerimanya, meyakininya. Sekali lagi menjaganya, meski hanya lewat doa yang orang-orang tak akan mengrti.
Tapi kini, saat kejenuhan melanda, perlahan tapi menusuk, siapa yang harus aku salahkan ? apa Tuhan juga ? tidak, Ia tidak pernah memiliki sifat sebagai pihak yang bersalah, apapun yang Dia tetapkan akan slalu benar, meski tak semua orang memahami.
Aku masih mengeja namanya dalam tiap doa, dalam tiap hening antara aku dan Tuhan. Sulit memang, mengucap nama saat luka itu mulai ada. Aku tak merasa dilukai, mungkin dia pun tak merasa melukaiku, di sini ada yang aneh, itu saja. Takdir Tuhan sedang berubah, meski lagi-lagi aku harus berjuang keras untuk mengerti, menerima tak cukup dengan logika.
Mungkin Tuhan hanya sedang menguji, apa semua ini memang pantas untuk dipertahankan, aku hanya ingin bertanya, bukankah Tuhan tlah tau segala hal ? mengapa Ia masih mengujiku dengan seperti ini ? toh dari awal lafal itu slalu ku ucapkan di tiap percakapan aku dan Dia ? bila memang dia berujung denganku, maka dekatkanlah, bila tidak jauhkanlah tanpa menyakiti salah satu di antara kami.”
Lalu yang ini apa ? maksud yang ini apa ? apa ini sedang berusaha mendekatkanku ? atau menjauhkan ? bukankah jarak telah egois menjauhkanku dengan dia ? lalu yang ini apa lagi ? aku tak mengerti Tuhan.
Sedikit saja bila memang semua harus aku pertahankan, aku hanya ingin melepaskan penat bukan untuk meninggalkan, dia masih di sini, di hati yang menyimpan namanya dengan rapat, di posisi sekian setelah Tuhan, Nabi, dan keluargaku pastinya.
Aku hanya ingin melepaskan luka, bukan meninggalkan cinta.

Tidak ada komentar: