“Cinta itu pembodohan !”, kalimat itu yang slalu kamu ucapkan saat bersamaku, lalu ini apa ? selama ini apa yang kita jalani jika bukan cinta ? selama ini apa yang membuat kita saling mempertahankan bila bukan sesuatu yang bernama cinta ?
Aku tak mengerti sungguh, ini karena apa ? apa karena masa lalumu yang menyakitkan itu ? yang menurut versi ceritamu masa lalu mu itu begitu berarti, hingga ketika kau terluka karnanya pun luka itu begitu membekas ?
Ya Tuhan sayang, tak bisakah kamu melihat sekarang ada aku, bukan dia, bukan dia serpihan masa lalumu yang entah kini ada dimana, bersama siapa.
Iya aku mengerti, mungkin dulu kamu terlalu mencintainya, terlalu berharap lebih padanya, tapi yang ada dia melukaimu, jauh lebih dalam dari cinta yang kamu berikan padanya.
Lalu kamu mau apa sayang ? apa kamu akan tetap menyalahkan masalalumu itu ? dan berfikir dengan begitu semua akan baik-baik saja ?
Kamu salah, dari segi manapun semuanya salah, semua yang ada di dunia ini belum tentu sama dengan semua yang ada di fikiran kamu. Kamu hanya belum bisa berdamai, belum bisa menerima segala yang pernah terjadi di lembaran hidupmu sebelum ini, sebentar saja coba kau fahami, mengerti.
Sisakan waktumu sedikit saja, ini kehidupan, tidak akan pernah berhenti selama nyawamu masih bersarang di dalam ragamu. Bilapun semua yang terjadi terasa menyakitkan, itulah seni kehidupan. Tak ada yang statis.
Apa selama ini yang kita lakukan dan kita lalui bersama tak ada artinya di matamu ? bila memang iya kenapa tak dari awal kita sama-sama melepaskannya ? sebelum semuanya terlalu jauh. Sebelum aku terlalu masuk ke dalam kehidupanmu sampai aku tak tau bagaimana caranya untuk keluar.
Aku tak ingin menyerah, tak ingin kalah dengan masa lalumu yang seharusnya tlah berlalu, sekian lama. Tapi kamu sayang, terlalu asik tenggelam dalam lukamu itu, mungkin terkadang kamu mencoba menepi, mencarai tepian. Tetap saja sayang, kenapa tak sekalian saja mengangkat dirimu dari kubangan luka itu bukan hanya sekedar menepi ?
Aku tak ingin meminta celah di hatimu untuk aku tempati, aku ingin meminta semuanya tak sekedar celah, apa itu berarti aku egois ? aku yang akan jadi masa depanmu, bukankah itu janji kita kemarin yang lalu ? dan kita tlah menjalani separuh dari cerita itu.
Tapi bila memang tak ada, aku akan mengalah, iya, aku yang akan meninggalkanmu, meski itu berat. Karna jika aku boleh meminta, aku ingin jadi yang pertama, tanpa ada satu orangpun di masa lalumu.
Jakarta, 14 Juni 2013
09 : 56
Tidak ada komentar:
Posting Komentar