Awalnya
semua biasa-biasa saja, kami saling melengkapi, dimana ada Dira pasti ada Dera,
meski di tiap bulan ada keributan kecil, tapi ga pernah sampai saling
mendiamkan berhari-hari, yaelah gimana mau diemin tiap hari ketemu gitu :D
Memasuki
bulan 9 hubungan kami, kenaikan kelas. Dira masuk jurusan IPA, aku Bahasa. Mungkin
dari sini awal kerenggangan itu. Dira mulai sibuk dengan tugas-tugasnya yang
menumpuk, sedangkan aku sibuk mengikuti les bahasa apapun.
Namanya
Bella, sosok baru di sekolah kami yang seketika mengubah atmosfir sekolah
menuju ke arahnya, cantik, ideal, dan segala yang dia miliki sepertinya impian
semua wanita. Termasuk juga aku, bukan karna aku ingin cantik atau apa, hanya
saja dia menarik, menyenangkan untuk dijadikan teman, mungkin juga pacar.
Gatau
kenapa Bella memilih aku untuk dijadikan temannya, well ini nasib beruntungku
yang ke berapa yah ? meski lagi-lagi seperti langit dan bumi, aku ga ada
apa-apanya di bandingin dia. Kita berteman cukup dekat, Bella satu kelas dengan
Dira, Bella juga tau bagaimana hubunganku dengan Dira (kayaknya emang satu
sekolah tau deh :D ).
Aku
sering bertanya bagaimana Dira di kelas ya sama si Bella ini, maklumlah anak
SMA masih sering penasaran sama apa yang dilakuin cowonya di kelas. Tapi kayanya
caraku ini salah karna efeknya Dira semakin dekat dengan Bella.
Dan
lihatlah, sepertinya semua isi sekolah mendukung, Dira dan Bella, bukan Dira
dan Dera. Tatapan sinis mereka berubah menjadi tatapan mengejek. Ya ya aku tau
sekali, bagaimana cocoknya Dira dan Bella, seperti pasangan Ken dan Barbie,
Cantik dan Tampan. Sedangkan Dera ? seperti putri kutukan yang ga akan pernah
sembuh dari kutukannya.
Walaupun
sikap Dira masih seperti biasanya, menatapku dengan penuh cinta di matanya, tak
ada yang berubah, masih ada kita, Dira dan Dera. Masih ada bera gkat dan pulang
sekolah bersama, intinya masih sama seperti biasanya. Bella pun memahami
hubungan aku dan Dira, tak berniat mengusik.
Tapi
namanya juga manusia, aku termakan juga omongan teman-teman tentang Dira dan
Bella, aku mulai terusik, dan dengan bodohnya mulai mengusik hidup Dira, satu
hal yang ga pernah aku lakuin sama siapapun, aku mulai over protect sama dia,
well, it’s my false.
Dira
merasakan perubahan sikapku ke dia, yang terjadi selanjutnya seperti neraka. Tak
ada lagi kedamaian antara aku dan Dira. Aku yang selalu memulainya, memulai
kecurigaan-kecurigaan tak berujung, tak beralasan. Hampir setiap hari pertengkaran
itu terjadi, sebenarnya aneh, semuanya hanya karna prasangka yang belum tentu
faktanya.
Memasuki
bulan ke dua belas, harusnya ini jadi bulan terindah buat aku dan Dira, tapi
sepertinya semua harus berbalikan dengan hayalan indah yang slalu ada di
fikiranku. Dira menjauh, menjauh dari Dera yang tak pernah bisa memahaminya,
ahaha.
Apa
aku bodoh ?
Aku
tak mengerti, masih ada sorotan cinta di matanya untukku, kenapa harus menjauh
? bila masih ada pilihan untuk mendekat ? sepertinya Dira yang bodoh, iya
terlalu bodoh ! :’(
Aku
mulai menjalani hari-hari tanpa Dira, tanpa dia di sini seperti biasanya. Aku gatau
mana yang harus aku salahkan, aku ? Dira ? atau Bella ? ga, Bella ga ada
hubungannya dalam masalah ini. Ini sepenuhnya salahku.
Yang
ada di fikiranku Cuma satu “aku harus bagaimana ?”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar