Sabtu, 15 Juni 2013

Dira dan Dera I


“Dera, beresin tuh buku-buku kamu, udah ga kepake kan ?beresin ayo. Jangan ninggalin sampah di rumah.” Aku bergeming, bunda ada-ada aja, gatau aku lagi asik browsing tempat baru apa yah. Tapi bunda tetap saja dengan bawelnya manggil namaku berulang-ulang. Ahirnya aku mengalah, bangun juga dari tempat ternyaman disudut kamar.
Menengok buku-buku itu, berserakan sekali. Parah banget yah aku ? haha. Malas sekali membereskannya, terlalu banyak kertas berserakan, coretan-coretan tangan saat merasa jenuh, sepertinya hidup terlalu banyak jenuh. Lihat saja kertas itu menggunung, berbanding terbalik dengan tumpukan buku pelajaran. Haha
Iseng-iseng aku baca satu persatu lembaran itu. Sudah terlalu lama sepertinya, kertasnya saja mulai menguning. Tiba-tiba tergoda dengan satu lembar tulisan.
16 Juli 2009
Kelas ini basi sekali ! aku seperti makhluk alien, diam menyepi. Mereka siapa ? aku tak mengenalnya. Satu pun. Huh ! kenapa takdir membawaku ke tempat antah berantah ini sih ! ga jelas banget -_-
Mereka bergerombol, mungkin dulunya mereka satu sekolah, terlihat akrab. Dan lihatlah aku seperti orang bodoh. Memakai papan nama “KAYLA ADERAINA”. hari pertama sekolah, menjadi siswa SMA. Aih ! udah tua ternyata yah aku -_-
Eh ada yang nyamperin aku, duduk disebelah. Siapa ya ? sok akrab banget, aku lihat sekeliling ternyata memang hanya tempat di sebelahku saja yang kosong. Semua mata sekarang menuju kearahku, dan pastinya gerombolan cewe-cewe cantik itu. Dan lagi-lagi aku berasa menjadi alien yang tersesat. Sial !
Aku melirik ke arahnya, tertidur, gila. Bisa-bisanya dia tidur di kelas baru, teman-teman baru. Aku intip papan namanya “DIRA ARDIAN”. Pasti panggilannya Dira, iseng aku mencoba menebak. Tiba-tiba dia terbangun. Satu kata ‘tampan’. Pantas saja cewe-cewe itu melihat aku, emm dia tepatnya :D
Udah dulu ah. Mau upacara nih.
Haha. Tertawa lagi ketika membacanya, namun tiba-tiba ada yang sesak. Teringat lagi, ya Tuhan. Kisah empat tahun yang silam.
Dira namanya, pangeran yang tak pernah aku bayangkan akan hadir dalam cerita hidup. Simple, mengagumkan, aku Dera, teman sebangkunya yang paling cuek di antara teman wanitanya yang lain. Semua mata memandang ke arahnya ketika pertama kali di empat tahun yang silam aku mengenalnya.
Fisiknya memang di atas rata-rata, lesung pipinya itu yang menjadi sisi paling menarik di antara kelebihan fisiknya yang lain. Satu lagi dia penebar senyum paling menawan di antara anak-anak baru seangkatan kami, kakak senior perempuan pun terpikat padanya. Jangan tanya bagaimana sikap kakak-kakak senior laki-laki, mereka menjadikan Dira sebagai pesaing nomer satu selain cowok-cowok ganteng lain di sekolah.
Aku bisa jadi orang yang paling beruntung di sekolah ini, jelas, bagaimana tidak, dia teman sebangku ku loh, teman sebangku, kami akan melewati waktu bersama selama dua semester ke depan. Bolehlah aku tertawa di antara tatapan sinis mereka yang iri dengan posisiku, dan ingat makhluk pertama kali yang dia kenal di sekolah ini adalah aku, aku Kayla Aderaina. Siapa yang mau komentar ? sini lihat aku :p
Dan begitulah, semua yang kita lalui berlalu indah, seperti anak kelas satu SMA lainnya, meski setelah beberapa bulan Dira tetap jadi incaran cewek-cewek satu sekolah :D
Posisinya menjadi berbeda ketika memasuki bulan ke empat, sebentar lagi tes Ulangan Tengah Semester, oiya hampir lupa, selain tampan Dira cukup pintar dalam segala mata pelajaran. Nilai plus untuk dia kan ?
Sedangkan aku ? seperti langit dan bumi berbanding terbalik sangat jauh, tapi dia memang prince charming :’) tetap menerima apapun keadaan aku. Meski hanya sebatas teman, teman ?
Setelah bulan keempat tak ada lagi kata teman di antara aku dan Dira J
Awal bulan Oktober tahun itu, Dira datang ke sekolah tergopoh-gopoh dengan raut wajah yang sulit di jabarkan dengan kata-kata. Saat melihatku dia tersenyum, manis, di antara tatapan teman-teman kelasku yang tak mengerti, sebenernya aku juga ga tau, aneh sekali Dira pagi ini.
terengah-engah dia menghampiriku, masih dengan tatapan mata janggal yang tak bisa aku jabarkan maksud dan tujuannya.
“kamu kenapa, Ra ?”. sangkin penasarannya aku kepoin juga tuh dia.
“gak apa-apa, Der, aku Cuma. Hahaha “. Oiya bagi yang belum tau, Dira juga aneh, senang tertawa tanpa sebab, nilai minus buat dia.
“idih, aneh banget sih kamu, kagak jelas deh.” Kesel karna pertanyaan aku ga di jawab, jadi gitu deh sifat cueknya keluar, tapi Dira tau, sangat tau. Kemudian dia menggenggam tanganku, asing, ga biasanya Dira kaya gini. “nanti aku mau ngomong sama kamu, give me time !” lanjut Dira.
Aku ga nyangka, iya, ga nyangka pake banget, apa yang bakal Dira omongin ke aku ternyata hanya sebuah kepastian, kepastian dari ribuan tanda tanya yang ada di kepala teman-teman cewe dan sebagian besar kaum hawa di sekolah.
“aku suka sama kamu Der, dari pertama kali kita kenal, emm bukan, dari pertama kali aku liat muka polosmu yang terlalu lugu itu lagi corat coret kertas.” Senyap. Semua hening. “aku nyaman bisa ada di samping kamu walaupun kita sama sekali belum kenalan, aku Cuma mau, jadi lebih dari teman di hidup kamu.”
Aku menghela nafas, berharap ini bukan mimpi di siang bolong, tapi aku mulai sadar ini bukan mimpi, lihat saja mereka semua yang ada di kantin pun sekarang menatap ke arah kami, aku dan Dira.
“lalu aku harus bilang apa ?” tanyaku polos. Hahaha mungkin semua orang akan menertawaiku termasuk aku sendiri memaki apa yang tlah aku katakan tadi, dasar gila. Dira butuh jawaban ‘iya’ atau ‘ga’ Dera bodoh.
Dira tersenyum, dengan senyum malaikatnya. Yang terjadi selanjutnya sensor ya, hanya orang-orang di atas 19 tahun yang boleh tau :p haha
Well, setelah 4 bulan perkenalan aku dan Dira, ga ada lagi kata Dira dan Dera, adanya kita.

Tidak ada komentar: