Mengertimu dalam artian yang berbeda dengan caramu
mengertiku mungkin itu yang sulit. Harusnya ini mudah, harusnya---tapi faktanya
semua terasa sulit. Baru terasa, mungkin iya aku yang terlalu banyak mengeluh,
tapi memangnya iya ? percakapan kita minim sekarang, dan aku tidak pernah
berusaha membahas hubungan kita.
Aku memberi jeda diantara keraguan dan krisis kepercayaan
itu, aku yakin tak ada siapapun di hubungan ini selain kita, tak akan ada benalu.
yang ada ini lebih dari sekedar benalu, yang ada sekarang adalah seperti sebuah
HIV, awalnya tak berasa tak Nampak, karna kita memang sama-sama menahannya, tak
usah berpura-pura, pliss. Aku mengerti. Kita rasakan yang sama, iya kan ?
Beberapa waktu terahir ini hubungan kita memang seperti
sebuah asbes yang terlalu lama terkena ribuan kubik hujan dan jutaan panas
matahari. Rapuh. Sedikit saja terinjak akan terbelah, meski pada ahirnya kita
berusaha memperbaikinya, sebisa yang kita lakukan. Tapi ini bukan masalah
memperbaiki atau mengubahnya kembali seperti sedia kala, tak ada yang kembali
sempurna setelah semuanya berubah kan ? mungkin dengan sedikit ‘pertemuan’
semuanya bisa di perbaiki, seperti sedia kala.
Pertemuan ? hal yang sangat tabu dibicarakan dihubungan
kita, bukan karna apa-apa, tapi memang iya, pertemuan itu hanya sebuah kata
yang terlalu banyak harapan dan mungkin menyisakan kekecewaan. Sulit untuk di
lakukan, dampak dari jauhnya jarak ini. Helaan nafas saja yang terdengar bila
pertemuan yang kita bahas dari sedikitnya waktu yang kita punya untuk
bercengkrama di udara.
Hampir sebulan berlalu sejak pertemuan terahir kita yang
kemarin, belum lama, tapi jarak yang tercipta lebih jauh dari jarak yang
sebenarnya ada, tertelan dengan berbedanya cara kita menyikapi jarak dan
menanti pertemuan kembali. Kamu menyikapi dengan kesibukanmu yang beruntun itu,
aku menyikapi dengan tubuh sialan ini, yang tak bisa di ajak berkompromi, ingin
sedikit meminta perhatian dari puluhan kesibukanmu, itu saja sebenarnya, tapi
aku hanya terdiam. Seperti pesakitan lainnya, tidak parah, tapi cukup
mengganggu.
Kita yang seperti apa sekarang ini ? apa masih sama seperti
di bulan awal-awal kita menjalin ‘hubungan’ ? apa tlah jauh berbeda, aku ingin
di beri sedikit waktu, aku rindu canda tawamu, apa terselip sedetik saja
kalimat seperti itu difikiranmu ?merasakan hal yang sama sepertiku ?
Aku tak ingin menjadi ‘pengeluh’ yang selalu menjadi ‘bebanmu’.
Tapi sepertinya harusnya kau mengerti, tak akan ada api bila tak ada asap,
begitu pula aku, tak akan mengeluh bila memang semuanya masih sama, biasa saja.
Mungkin situasi dan kondisinya yang mulai berbeda, harusnya kamu bisa memberiku
sedikit pengertian untuk kesibukan barumu itu, hingga aku tak perlu banyak
mengeluh, apa kamu kira mengeluh tidak sama lelahnya dengan mendengarkan
keluhan ? aku pun lelah.
Apa aku terlalu berlebihan soal ini sekarang ? ya mungkin
hanya lewat tulisan ini aku bisa menumpahkan segala koreng dihubungan kita. Rumit,
aku melihat dengan kasat mata. Entah bagaimana denganmu, aku tak pernah tau.
Beri aku sedikit waktu, bila memang iya, hatiku masih
memenangi hatimu, aku merindukanmu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar