Kamis, 13 Juni 2013

13062013


Aku kehilangan detik dimana kita menulis cerita, cerita tentang sebuah mimpi keabadian. Kita menulisnya, merangkainya, manis. Semuanya tertuliskan, kapan kita akan menjadi seperti ini, kapan kita akan menjadi seperti itu.

Kita menceritakan semuanya kan ? merapal tiap keinginan pada semua doa yang kita sampaikan pada pemilik keabadian. Tak perlu semua orang mengerti, cukup kita.

Ini akan jadi cerita kita, mungkin pula menjadi goresan kenangan yang tak pernah orang lain fahami.

Kita tengeelam bersama di dalamnya, dalam lamunan panjang, lalu tersenyum, aneh. Semuanya terasa indah dalam lamunan kita.

Saling menggenggam tangan erat. Tidak berusaha melepaskan, iya. Karna kita memang sama-sama tak ingin terlepas.

Rasanya bodoh sekali jika mimpi itu kita lepas tanpa kita coba wujudkannya, hanya berharap Tuhan memiliki rencana yang sama seperti punya kita.

Kita terlalu asik, hingga terkadang kita lupa, kita bukan Tuhan, segudang rencana dan angan itu hanya ada di fikiran kita, Tuhan berbicara lain lewat takdirNya.

Mungkin ini yang terasa berat, kita terlambat menyadari, Tuhan punya kuasa sendiri atas apa yang di kehendakiNya, kita hanya menjalankan sebagian rencanaNya, iya kan ?

Bahkan kebersamaan kita, mimpi-mimpi indah kita, dan segalanya tentang kita, terhempas, benar-benar terhempas hanya dengan sehentakan takdir yang Dia ciptakan.

Lalu kita bisa apa ? kita mengalah pada takdirNya bukan ? dengan sangat mudahnya, mimpi itu pun tak sanggup menyelamatkan kita.

Kamu berlalu, aku pun berlalu, dari tempat dimana kita terbiasa melewatinya bersama.

Semuanya hanya seperti hempasan debu tertiup angin, tak berbekas tak bersisa, hanya kenangan ini yang masih menyimpannya rapat.

Berharap Tuhan tak mengambil ingatanku juga seperti Dia mengambilmu dari sisiku.


Jakarta, 13 Juni 2013

14 : 25

Tidak ada komentar: