Aku kehilangan
detik dimana kita menulis cerita, cerita tentang sebuah mimpi keabadian. Kita menulisnya,
merangkainya, manis. Semuanya tertuliskan, kapan kita akan menjadi seperti ini,
kapan kita akan menjadi seperti itu.
Kita menceritakan
semuanya kan ? merapal tiap keinginan pada semua doa yang kita sampaikan pada
pemilik keabadian. Tak perlu semua orang mengerti, cukup kita.
Ini akan jadi
cerita kita, mungkin pula menjadi goresan kenangan yang tak pernah orang lain
fahami.
Kita tengeelam
bersama di dalamnya, dalam lamunan panjang, lalu tersenyum, aneh. Semuanya terasa
indah dalam lamunan kita.
Saling menggenggam
tangan erat. Tidak berusaha melepaskan, iya. Karna kita memang sama-sama tak
ingin terlepas.
Rasanya bodoh
sekali jika mimpi itu kita lepas tanpa kita coba wujudkannya, hanya berharap
Tuhan memiliki rencana yang sama seperti punya kita.
Kita terlalu
asik, hingga terkadang kita lupa, kita bukan Tuhan, segudang rencana dan angan
itu hanya ada di fikiran kita, Tuhan berbicara lain lewat takdirNya.
Mungkin ini yang
terasa berat, kita terlambat menyadari, Tuhan punya kuasa sendiri atas apa yang
di kehendakiNya, kita hanya menjalankan sebagian rencanaNya, iya kan ?
Bahkan kebersamaan
kita, mimpi-mimpi indah kita, dan segalanya tentang kita, terhempas,
benar-benar terhempas hanya dengan sehentakan takdir yang Dia ciptakan.
Lalu kita bisa
apa ? kita mengalah pada takdirNya bukan ? dengan sangat mudahnya, mimpi itu
pun tak sanggup menyelamatkan kita.
Kamu berlalu, aku
pun berlalu, dari tempat dimana kita terbiasa melewatinya bersama.
Semuanya hanya
seperti hempasan debu tertiup angin, tak berbekas tak bersisa, hanya kenangan
ini yang masih menyimpannya rapat.
Berharap Tuhan
tak mengambil ingatanku juga seperti Dia mengambilmu dari sisiku.
Jakarta, 13 Juni 2013
14 : 25
Tidak ada komentar:
Posting Komentar