From : +628564224xxxx
Kinan? Apa kabar? Sombong banget ga pernah ngasih kabar? Gue kangen lo tau..
Seketika tubuh Kinan melemas setelah membaca pesan singkat itu. Antara senang dan sedih. Senang karna Friza mengatakan dia merindukan Kinan. Sedih, karna Kinan merasa bersalah selama ini tak pernah mengabari Friza.
Ia bingung harus membalas apa. Kinan terpekur di salah satu sudut kamar.
Bayang-bayang tentang Friza mulai nampak lagi. Senyum Friza, suara Friza, tawa Friza. Kinan menggaruk rambut kepalanya yang tak gatal. Ia berfikir keras mengetik balasan untuk Friza.
Belum sempat Kinan menekan menu replay, layar handphone itu berkedip-kedip tanda panggilan masuk. Ternyata Friza yang menelepon. Gemetar jemari Kinan menekan tombol hijau di handphone itu.
"Halo, Nan."
Terdengar suara Friza dari speaker handphone. Percakapan pertama mereka setelah berbulan-bulan tanpa kabar. Hati Kinan terasa penuh sesak oleh banyak perasaan yang Kinan tak tau apa namanya.
"Nan? Hallo?" Suara Friza terdengar lagi.
"Ha.. Ha.. Hallo Za." Jawab Kinan terbata.
"Gimana kabar lo?"
"Gue baik-baik aja Za, kalo lo?"
"Gue juga baik-baik aja, Nan."
Kinan dan Friza terdiam, asik dengan fikiran masing-masing. Dari dulu mereka memang sering begini, kadang saat mereka telah membicarakan banyak hal, mereka akan terdiam. Tapi tak lama kemudian salah satu di antara mereka akan memulai pembahasan yang lain. Jadilah percakapan mereka berlanjut, sampai terkadang mereka lupa waktu.
"Nan, lo dapet salam loh dari Ipung. Dia tambah keren aja sekarang," Friza angkat bicara, memecah hening di antara mereka berdua.
"Oya? Wah.. Ipung mah emang dari kecil juga udah keren." Kinan tertawa getir. Sebenarnya dia tak ingin membahas tentang Ipung, karna yang dia rindukan adalah Friza, bukan Ipung.
"Keren gitu kenapa lo ga jadian aja sama dia?" Tanya Friza.
Kinan merasakan sesuatu yang aneh, terdengar dari intonasi Friza yang tak seperti biasanya.
"Engg.. Engga ah. Males banget gue. Hahaha." Jawab Kinan sungkan.
"Dasar lo! Hahaha"
"Yee, ngapa lo tawa gitu? Hahaha"
"Nah lo juga iye." Balas Friza tak mau kalah.
Kinan bisa membayangkan muka Friza dengan intonasi suara yang seperti itu.
"Eh, Nan. Dulu lo pernah sms gue ya? Pake nomer siapa?"
"Hah? Kapan Za?" Kinan mencoba mengingat-ingat kapan dia mengabari Friza. Sama halnya dengan yang dilakukan Kinan, Friza mencoba mengingat-ingat saat itu.
"Pas ituloh, Nan. Siang-siang kalau ga salah. Tapi handphone gue kan dibawa kaka gue semenjak lo berangkat ke asrama, abisnya gue ga ada temen smsan.hihi"
Friza memperbaiki posisi bantal di kepalanya. Lantas melanjutkan ceritanya lagi.
"Gue baru liat sms lo pas abis magrib. Sial! Gedeg banget gue pas itu sama kaka gue."
"Loh kok gitu?" Kinan menyela cerita Friza.
"Ya gimana gue ga kesel. Dia makein handphone mulu kagak diisi pulsa. Pas gue mau bales sms lo, kagak bisa. Yaudah gue terpaksa muter-muter nyari counter pulsa, Nan.."
Kinan hanya bisa tertawa geli mendengar cerita Friza. Padahal Friza menceritakannya dengan penuh emosi.
"Sabar dong Za. Buat bales sms orang cantik emang butuh kesabaran. Hahaha."
"Yee PD lo!" Maki Friza disertai tawa. "Eh, tapi emang iya perjuangan banget Nan. Giliran gue dapet pulsa, lo di telepon kagak diangkat. Kan ngeselin banget. Padahal gue kangen banget sama lo.."
Kata-kata terahir Friza nyaris tak terdengar oleh Kinan, suaranya begitu pelan. Sebenarnya Kinan mendengarnya hanya saja Ia tak yakin dengan apa yang baru saja di dengarnya.
"Lo ngomong apa, Za?"
"Engg,,engga. Lo pake handphone siapa waktu itu, Nan?" Friza mengalihkan pembicaraan.
Ada sedikit rasa kecewa di hati Kinan, kenapa Friza tak mau mengucapkan ulang kata-kata terakhirnya tadi.
"Gue pake handphone temen, Za. Mana bisa gue ngangkat telepon lo tengah malem."
"Ooo gitu, nah terus ini lo pake handphone siapa? Kok tengah malem bisa teleponan? Lo bawa handphone ya?" Selidik Friza curiga.
"Ngaco! Kagak, ini punya temen gue. Lagi ada acara di asrama jadi bebas gitu deh.."
"Emm gitu.. Eh Nan, lo tau kagak lagunya ST 12 yang baru?"
"Lagu baru? Engga Za. Emang kaya gimana?"
"Bagus tau. Gue aja sampe mewek dengernya."
"Masa? Lo lagi ga promosi kan? Hahaha."
"Enggalah. Gila aja kalo gue promosi. Bisa kaya mendadak gue. Hahaha. Tapi serius Nan. Itu lagu bener-bener bikin gue sedih."
"Ah lo mah bikin gue penasaran deh.."
"Ntar lo dengerin ya, itu ngewakilin gue banget."
"Iye ntar pasti gue dengerin."
Percakapan mereka berlanjut tanpa henti. Ada saja yang dibicarakan. Terutama soal sekolah Kinan dan soal kegiatan Kinan selama di asrama. Kinan juga menyebutkan nama teman-temannya satu persatu ke Friza. Entah apa tujuan dan maksud Kinan. Yang Kinan rasa, Friza sudah lebih dari teman, dia sahabat Kinan. Jadi tak ada satu hal pun yang ia sembunyikan dari Friza.
Sangkin asiknya bercerita panjang lebar. Kinan dan Friza sama-sama lupa waktu, dan lupa pulsa juga. Biasanya kalau pulsa Friza habis, gantian Kinan yang menelepon, begitu juga sebaliknya. Tapi sekarang berbeda, Kinan tak enak kalau harus memakai pulsa milik Ka Ilya.
Jam berdentang satu kali saat tiba-tiba sambungan telepon mereka terputus. Kinan mendengus sebal. Dia tau, pasti pulsa Friza habis.
Ditengah kekesalannya, layar handphone yang dipegang Kinan menyala. Dilihatnya ada satu pesan masuk.
From : +628564224xxxx
Nan, pulsa gue abis, pdhl gue mash kangen lo :( yaudah deh udh malem juga, tidur yuk Nan. Goodnight ya, have a nice dream, Nan :) cepet pulangnya :D
Kinan tertawa membaca pesan dari Friza. Meski ada kekecewaan yang ia rasakan, tapi tanpa membuang waktu Kinan segera membalas pesan itu, jarinya lincah menekan keypad handphone.
To : +628564224xxxx
Iya Za, gue juga :( yaudh have a nice dream too :) 20 hari lagi gue pulang! Yey! :D tunggu gue! :D
Setelah pesan terkirim. Kinan meletakkan handphone itu di sebelah kanan tubuhnya. Ada senyum tersungging di bibir Kinan. Percakapan tadi sedikit banyak mengobati kerinduannya pada Friza.
Lama kelamaan kantuk mulai menggelayut di mata Kinan, hingga tanpa sadar Kinan tertidur pulas di kamar Ka Ilya.
•••
Seminggu berlalu sejak kejadian malam itu. Kinan masih penasaran dengan lagu yang Friza sebutkan. Setiap hari dia bertanya pada teman kelas dan teman asramany, barangkali di antara mereka ada yang tau lagu itu, tapi hasilnya nihil. Tak satupun dari teman Kinan yang tau.
"Emang kaya gimana sih Nan lagunya?" Lida, teman sebangku Kinan sampai ikut penasaran dengan lagu itu.
Kinan mengangkat bahu, tanda tak tahu.
Saat itu jam istirahat pertama, Kinan dan Lida sedang memesan makanan di kantin sekolah. Seperti biasa Kinan memesan jus alpukat penuh dengan susu coklat sedangkan Lida memesan satu gelas es jeruk.
Kinan dan Lida berteman cukup akrab. Sudah dari dulu, sejak pertama kali masuk sekolah ini, mereka selalu mendapatkan kelas yang sama, apalagi dua tahun terakhir mereka memilih untuk duduk satu bangku. Jadi wajar saja kalau Kinan sering berbagi banyak hal ke Lida seperti dia berbagi ke Usi.
"Tanya aja sama anak kelas sebelah, si Zaza. Dia kan up to date banget tuh sama lagu-lagu keluaran baru."
"Oiya!" Kinan menepuk keningnya sendiri. "Kok gue ga kepikiran gitu ya? Hehe. Thanks Da."
"Iye sama-sama, tapi lo kudu bayarin es jeruk gue ini, hahaha."
"Ngeselin lo! Haha" Kinan melempar sedotan di gelasnya ke arah Lida. Untung Lida cekatan menghindar, sehingga dia semakin senang meledek Kinan.
Setelah menyelesaikan pembayaran, mereka bergegas menuju kelas karna sebentar lagi waktu istirahat habis.
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Saat akan menaiki anak tangga sekolah, berhubung kelas Kinan di lantai dua, dari arah berlawanan ada Zaza dan teman kelasnya sedang menuju ke bawah.
"Tuh dia si Zaza, Nan." Celetuk Lida.
Zaza tersenyum ke arah Kinan dan Lida, mereka pun balas tersenyum.
"Abis dari kantin ya?" Tanya Zaza saat mereka hanya berjarak satu anak tangga.
"Iya." Jawab Kinan dan Lida kompak.
"Eh Za, gue mau tanya lagu sama lo dong." Kinan langsung ke inti pembicaraan.
"Lagu? Lagu apa?" Tanya Zaza heran, tumben-tumbenan Kinan nanyain tentang lagu kepada dirinya.
"Lagunya St 12 yang baru, tau?" Giliran Lida yang bertanya.
"Emm, oh iya tau. Ntar ya pulang sekolah gue kasih tau. Gue mau ke toilet dulu, kepepet, hehe."
Kinan dan Lida langsung tertawa mendengar jawaban Zaza. Kasian Zaza, lagi buru-buru ke toilet malah diajak ngerumpi.
Tanpa menunggu jawaban Kinan dan Lida, Zaza setengah berlari meninggalkan mereka berdua yang masih menertawainya.
•••
♫ kau meninggalkanku tanpa perasaan
Hingga ku jatuhkan air mata
Kekecewaanku sungguh tak berarah
Biarkanku harus bertahan
Jangan pernah kau coba untuk berubah
Tak relakan yang indah hilanglah sudah ♫
"Ini kan Nan lagunya?" Tanya Zaza setelah lagu itu selesai diputar.
Bukannya menjawab pertanyaan, Kinan malah menangis.
"Kok lo nangis?" Tanya Zaza lagi.
"Engga kok Za." Kinan mengusap pipinya yang basah. "Makasih ya, Za. Pulang yuk."
Zaza yang masih tak mengerti hanya mengekor di belakang Kinan, menuruni anak tangga satu persatu. Setelah sampai di bawah Kinan dan Zaza berpisah, karna rute mereka berbeda.
"Gue duluan ya, Nan." Pamit Zaza.
Kinan hanya menganggukkan kepala pelan. Fikirannya masih terisi penuh dengan lagu yang tadi didengarkannya.
"Pantesan aja Friza nangis. Lagunya dia banget gitu." Gumam Kinan dalam hati.
Selama perjalanan pulang, Kinan hanya menundukkan kepala, lesu. Sampai orang-orang yang melihat Kinan pun memandang aneh ke arahnya.
Saat memasuki gerbang asrama, Kinan disapa oleh kaka seniornya di asrama. Kinan yang sedang malas, hanya tersenyum simpul. Lalu bergegas menuju kamar. Kaka senior Kinan menggelengkan kepala melihat tingkah Kinan yang mulai aneh lagi.
"Brukk!!" Kinan melempar buku sekolahnya asal di atas meja belajar sesampainya ia di dalam kamar. Tanpa mengucap salam seperti biasanya.
Usi yang sedang merapikan isi lemari tersentak kaget, lantas memandang ke arah Kinan penuh tanda tanya. "Kenapa lagi itu bocah satu?" Batin Usi.
Setelah bukunya, giliran tubuh Kinan yang di hempaskan keras di atas tempat tidur. Kinan menutupi wajah dengan bantal monokuro boo kesayangannya. Terdengar suara jeritan Kinan yang tertahan bantal.
Usi yang hawatir langsung menghampiri Kinan. "Lo kenapa Nan?"
Tak ada jawaban, yang terdengar hanya suara isakkan Kinan dari bawah bantal. Usi mencoba mengambil bantal dari wajah Kinan, tapi tangan Kinan langsung menepisnya.
"Kenapa sih lo? Aneh banget!" Usi mulai kesal melihat tingkah Kinan yang aneh.
"Gue abis dengerin lagu itu. Huaaaa, sedih banget gue!" Teriak Kinan sambil tetap menangis, untung saja wajah Kinan masih tertutup bantal. Kalau tidak, pasti sudah ada kaka senior yang menghampiri kamar mereka karna teriakan Kinan barusan.
"Diss, cengeng banget sih lo! Denger lagu aja sampe nangis bombay gitu." Usi mendengus sebal, lalu beranjak menuju lemari lagi.
"Eh Nan, dengerin gue ya. Ngapain lo nangis bombay gitu, emang si penyanyinya tau? Emang dia mau tanggung jawab sama aer mata lo yang udah kebuang percuma gitu? Jangan cengeng Nan. Dunia belom kiamat kok, lo masih punya kesempatan milikin Friza, jadi ngapain lo nangis?" Celoteh Usi panjang lebar.
Kinan mendesis kesal sembari melempar bantal yang dia gunakan menutupi wajahnya ke arah Usi. "Bawel lo!"
Karna tak sempat menghindar, kepala Usi menjadi sasaran empuk si bantal.
"Aduh! Sial lo, Nan!" Usi mengusap kepalanya yang sakit.
"Rasain! Weeek!"
"Eh Nan, keluar yuk beli makanan, laper gue."
"Emang di kantin kagak ada makanan?"
"Ada sih, tapi males gue gitu-gitu mulu masakannya."
"Ga bersyukur lo! Males ah. Gue mau tidur, bhaay." Kinan menelungkupkan badannya, bersiap untuk tidur.
Usi menggerutu kesal. Kinan memang terkadang sangat menyebalkan. Tapi tetep, mau semenyebalkan apa pun Kinan, Usi tetap menyayangi Kinan. Karna bagi Usi, Kinan tak hanya sekedar teman, dia sahabat bahkan saudara bagi Usi.
Setelah pekerjaannya selesai ahirnya Usi memutuskan pergi keluar sendirian, karna Kinan telah tertidur pulas.